
Athos membuka pintu ruangan dimana Anna dirawat. Anna masih belum terbangun dari komanya saat ini. Hanya ada Ronald yang duduk di kursi menunggu Anna sedangkan Aramis diminta pamannya itu agar pulang untuk beristirahat.
"Dimana Ars?" Tanya Athos.
"Aku menyuruhnya pulang agar dia beristirahat." Jawab Ronald. "Bagaimana keadaan café yang akan buka besok? Apa semua persiapan sudah siap?"
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah mempersiapkannya dengan sangat baik." Jawab Athos yang masih berdiri di depan pintu. "Bagaimana keadaan Anna, paman? Ars terlihat sangat kacau memikirkannya."
"Dia harus segera dioperasi. Setelah dia sadar aku akan membawanya ke Jerman untuk operasi. Tampaknya itu tidak bisa ditunda lebih lama lagi."
"Apa ada kemungkinan dia tidak akan sadar?"
"Semua hal selalu ada kemungkinan. Kita hanya bisa berserah pada takdir." Jawab Ronald. "Ato, ayahmu sudah pulang?"
"Ya, dia sudah di rumah kata Melo."
"Tolong jaga Anna sebentar, aku ingin menghubungi ayahmu."
"Baiklah."
Athos mendekati ranjang Anna setelah Ronald keluar ruangan. Pemuda itu sejenak menatap gadis yang dicintai salah satu kembarannya. Gadis yang terkenal pintar dan kuat sedang terbaring tak sadarkan diri.
Dia sangat tahu seberapa besar Aramis mencintai Anna. Karena itu dia ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu untuk membuatnya terus berjuang, seperti dirinya yang akan terus berjuang untuk cintanya.
"Anna, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Akhir-akhir ini semuanya terasa berat untuk kami semua. Untuk Oto, Melo, bahkan Ars, begitu juga untukku. Kau tahu Anna, aku selalu memikirkan semua rencana yang sudah aku buat. Semakin dekat waktunya akan tiba, aku semakin takut, tapi aku harus melakukannya tanpa keraguan. Aku tidak akan pernah menyerah pada takdir, hingga takdir itu yang menyerah padaku. Aku akan melakukannya besok, semua akan berjalan sesuai dengan rencanaku."
Athos terdiam sesaat mengatur napasnya yang terasa berat.
"Semua akan aku lakukan agar Tasya tidak menikah dengan si pecundang itu. Aku bahkan rela kehilangan diriku sendiri asal Tasya tidak menikah dengannya." Lanjut Athos. "Apa kau tahu sesuatu rahasia Anna? Sebelum bersama dengannya aku sudah jatuh cinta padanya sejak lama, bahkan sebelum aku mengenalnya. Aku juga tahu kalau seseorang selalu menyiksanya dengan kekerasan, karena itu aku tidak ingin Tasya menikah dengan si pecundang itu setelah tahu dia yang menyiksanya selama ini."
"Anna, mungkin saja besok aku tidak akan selamat, karena itu setidaknya bangunlah, kesedihan Ars akan berkali-kali lipat ketika kita berdua tidak ada. Dia mungkin akan hancur seperti Oto. Kau tidak boleh menyerah pada takdir hingga takdir yang menyerah padamu."
...***...
Melody berjalan keluar rumah setelah bersiap-siap menuju acara pernikahan Tasya. Dia hendak pergi bersama Niko yang mewakili pamannya yang menerima undangan acara tersebut.
"Seperti biasa penampilanmu selalu mengagumkan, Melody." Ucap Niko yang keluar mobil saat Melody keluar rumah.
Melody melihat ke dalam mobil Niko. Tidak biasanya Niko memakai seorang supir untuk mengantarnya pergi.
"Tanganku terasa sakit sejak semalam. Lebih aman aku tidak menyetir dulu saat ini." Ujar Niko yang mulai mengerti dengan tatapan Melody.
"Sebaiknya periksakan kembali saat pulang nanti. Kau juga semakin terlihat pucat. Kau baik-baik saja?" Tanya Melody tampak khawatir pada Niko.
Niko malah tersenyum melihat kekhawatiran Melody padanya saat ini. "Apa aku harus sakit terus biar kau selalu mengkhawatirkan aku?" Ucap Niko. "Aku baik-baik saja. Ayo kita berangkat." Niko membukakan pintu untuk Melody.
Melody duduk di samping kiri Niko di dalam mobil. Dia hanya menatap keluar jendela pintu mobil seperti kebiasaannya ketika berada di dalam mobil.
"Apa pemandangan di luar sana lebih menarik dari penampilanku?" Tanya Niko membuat Melody menoleh padanya. "Kau tidak pernah memuji penampilanku, padahal aku berharap kau sedikit memujiku."
Melody mulai memperhatikan Niko yang memang hari ini tampak berbeda. Dia memakai jas hitam sedangkan mantel panjang yang biasa dikenakannya hanya di sangkutkan ke pundaknya saja.
"Kau sangat tampan Niko, semua murid perempuan di sekolah selalu berkata seperti itu mengenaimu." Jawab Melody setelah itu memalingkan wajahnya lagi dari Niko dan kembali melihat ke luar jendela mobil.
Niko terdiam, sejujurnya dia kecewa karena bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Melody tidak memberikan opininya sendiri dan hanya mengatakan apa yang murid perempuan di sekolahnya katakan mengenai dirinya. Namun Niko tidak bisa berkata apapun lagi karena dia sendiripun tahu kalau ketampanannya tidak membuat gadis itu tertarik padanya.
"Aku mengerti kenapa aku tidak membuatmu tertarik dengan ketampananku." Gumam Niko dengan suara perlahan, dia tidak berharap Melody mendengarnya. "Ketiga kakakmu tampan dan bahkan salah satunya jauh lebih tampan dariku." Niko sedikit menghibur dirinya agar tidak terlalu kecewa pada jawaban Melody tadi.
Melody menoleh kembali pada Niko yang saat ini juga melihat keluar jendela pintu mobil. Gadis itu jadi sadar kalau apa yang dikatakan dirinya tadi salah. Dengan spontan Melody memegang tangan kiri Niko yang masih berbalut perban untuk membuat pemuda itu tidak tampak bersedih dengan jawabannya tadi.
Niko terkejut dan segera menoleh, karena Melody memegang tangannya dan itu adalah hal yang tidak mungkin setelah gadis itu merasa takut pada Niko. Walaupun Melody memegang tangannya yang berbalut perban namun itu sangat membuat Niko senang.
"Apa tanganmu masih sakit?" Tatap Melody menggenggam tangan kiri Niko dengan sedikit mengusapnya.
"Seketika sakitnya sudah hilang." Jawab Niko.
"Pulang dari sana aku akan menemanimu memeriksakannya lagi. Aku ingin tanganmu segera sembuh sebelum acara pertunangan kita."
"Ya, baiklah." Jawab Niko sedikit berbisik, dia terus menatap wajah Melody yang menatapnya. Kebahagiaan terpancar dari matanya tersebut.
...***...
Tasya duduk di kursi di depan meja rias. Dirinya sudah siap dengan semua riasan dan gaun pengantin yang dipakainya. Wajahnya yang sudah sangat cantik semakin bersinar dengan riasan saat ini. Namun apa daya, gadis itu tidak bisa menghentikan air mata kesedihan yang terus mengalir ke luar.
Sebentar lagi dia akan menikah dengan Dion, namun Athos sama sekali tidak menjawab semua pesan ataupun telepon darinya. Dia menjadi ragu mengenai perkataan Melody saat di telepon. Dia ingin Athos segera datang dan membawanya pergi dari sana. Akan tetapi tampaknya itu tidak akan terjadi. Itu semua membuat Tasya merasa kecewa pada Athos.
"Riasannya menjadi berantakan kalau terus menangis." Seru Keke sambil menghapus air mata gadis itu.
"Aku tidak ingin menikah, aku tidak peduli dengan riasannya." Jawab Tasya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncul Dion berjalan menghampiri Tasya. Tasya langsung beranjak dari duduknya.
"Lihat Tasya, tidak ada yang bisa dilakukan kekasihmu itu. Aku tidak melihatnya berada di sini. Pasti dia sudah menyerah karena dia tahu dia tidak akan bisa berbuat apapun." Seru Dion berdiri di hadapan Tasya. "Dia itu hanya bisa menggertak. Sebenarnya dia pengecut."
"Kau yang pengecut, Dion!!" Tasya menatap Dion dengan penuh kebencian. "Dia bukan pengecut. Dia pasti akan menghentikan pernikahan ini. Aku sangat yakin."
Dion tidak memedulikan keberadaan beberapa juru rias dan Keke yang ada disana. Pemuda itu menampar wajah Tasya sangat keras, namun Tasya menatap wajah Dion dengan sangat tajam lagi hingga Tasya mendapatkan tamparan sekali lagi.
"Hentikan!!" Keke mencoba menghentikan tindakan Dion.
"Kau memang pengecut, Dion. Kau hanya berani menyakiti seorang wanita." Ucap Tasya dengan tangisnya.
Kali ini Dion mengepalkan tangannya dan memukul wajah Tasya hingga wajah cantik itu menjadi lebam. Gadis itu hanya bisa menangis dengan kekerasan yang didapatnya.
"Ini tidak seberapa, Tasya. Kau akan menerimanya lebih dari ini setelah pernikahan kita." Seringai Dion dengan licik.
"Dia akan datang, aku yakin itu." Tasya menahan rasa sakitnya dan menatap Dion dengan sangat yakin.
...–NATZSIMO–...