
"Tunggu aku di sini." Seru Prothos pada Mona sebelum masuk ke ruangan Athos dirawat.
Mona menurutinya dan segera duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan.
"Aku kira kau sibuk dengan café, Oto." Ujar ayah saat melihat Prothos datang.
"Aku pikir juga seperti itu." Jawab Aramis yang duduk di sofa dengan sebuah buku di tangannya, pemuda itu sedang belajar.
"Tasya, tolong keluar sebentar, ada yang ingin kami bicarakan." Pinta Prothos dan Tasya segera keluar.
"Ada apa?" Tanya ayah saat Prothos mendekatinya yang berdiri di dekat ranjang Athos berbaring.
"Café sangat kacau. Semua bahan makanan habis dan supplier tidak mau mengirimkan pasokan karena pesanan yang minggu kemarin belum dibayar, mereka meminta bayar dimuka untuk pesanan kali ini. Aku sudah mengurusnya dan membayar beberapa. Tapi aku rasa aku tidak bisa melakukannya seorang diri, aku bukan Ato." Ujar Prothos.
"Lalu apa solusimu?" Tanya ayah.
"Aku membayar orang untuk membantu membuat laporan keuangan agar semua terkontrol dan mempercayakan padanya juga untuk menarik omzet di setiap cabang tiap minggunya. Dia juga yang akan menyetornya langsung ke bank. Juga merekap absen untuk penggajian di akhir bulan."
"Jangan sembarangan memilih orang, Oto. Bisa saja orang itu kabur membawa uangnya." Seru Aramis yang langsung menyimak.
"Menurutmu Mona bisa dipercaya tidak?" Tanya Prothos.
"Mona?" Tanya Aramis. "Ya, dia memang berbeda dari adiknya. Apa dia setuju?"
"Aku sudah mengaturnya." Senyum Prothos.
"Kalau begitu lakukan saja yang menurutmu terbaik. Aku pun lemah untuk urusan penghitungan segala macamnya." Jawab ayah.
"Bagaimana untuk urusan rumah?" Tanya Prothos lagi. "Semuanya langsung berantakan karena kondisi Ato sekarang. Rumah juga tidak ada yang mengurusnya."
"Suruh saja Mona mengurusnya juga. Kita bisa membayarnya untuk melakukan pekerjaan di café dan mengurus rumah. Dia juga butuh uang untuk menghidupi dirinya dan adiknya." Ujar Aramis.
Mona yang berada di luar ruangan dihampiri oleh Tasya yang tersenyum dan langsung duduk di sampingnya dengan ramah.
Dia gadis yang sangat cantik. Aku tidak heran kenapa kembarannya sampai tidak rela dia menikah dengan tunangannya. Batin Mona.
"Kau datang bersama Oto?" Tanya Tasya dengan sebuah senyuman. "Aku Tasya, pacar kembarannya Oto. Kau pacar barunya Oto?"
"Bukan bukan, aku hanya..." Mona terdiam sesaat mencari jawaban yang tepat. "Bisa dibilang aku pekerjanya sekarang." Jawab Mona.
"Pekerja?"
"Dia memintaku mengurus beberapa keperluan café. Oh iya, namaku Mona." Ujar Mona tersenyum menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan Tasya menyambutnya dengan senyum ramah.
"Jadi seperti itu." Ucap Tasya.
"Kak Tasya..." Panggil Melody yang datang bersama Niko, langsung memeluk Tasya.
"Kalian berdua juga datang." Ucap Tasya merangkul Melody. "Mereka bertiga sedang berbicara di dalam."
"Mona, kenapa kau di sini?" Tanya Niko.
"Ceritanya panjang, aku rasa kau juga tahu kenapa aku di sini." Jawab Mona dan Niko tertawa karena dirinya dengan sengaja menaruh Mona sebagai petugas kebersihan di penthouse lamanya. .
"Kalian juga saling kenal?" Tanya Tasya.
"Dia dan Lion teman adikku." Jawab Mona.
Pintu ruangan terbuka dan Prothos beserta Leo keluar dari ruangan tersebut.
"Apa dia?" Tanya Leo.
"Ya, dia." Jawab Prothos. "Aku akan mengatakan padanya. Aku pergi dulu."
"Kakak sudah mau pergi?" Tanya Melody menghampiri Prothos.
"Kakak harus mengantarnya ke terminal." Jawab Prothos.
"Mona bisa pergi naik taksi ke terminal." Ujar Melody membuat semua orang tahu kalau Melody tidak suka dengan Mona.
"Kau tidak perlu mengantarku. Aku bisa ke terminal sendiri." Seru Mona yang langsung mengerti bagaimana perasaan Melody kepadanya. .
"Ayo jalan." Seru Prothos yang langsung berjalan pergi tanpa memedulikan perkataan adiknya, Mona langsung berjalan mengikutinya.
Melody melihat kakaknya Prothos tidak mendengarkan perkataannya, itu membuatnya sedikit kecewa. Namun dia tidak bisa berbuat apapun.
"Aku hanya tidak mau seseorang memanfaatkan kak Oto ataupun mendekatinya hanya karena wajahnya lagi. Aku tidak mau kak Oto terluka lagi. Dia sudah terlalu sering terluka karena wanita." Jawab Melody.
"Mona tidak seperti itu, Melody." Seru Niko. "Dia sepertimu yang tidak mudah tergoda dengan fisik. Kalau dia hanya melihat pria dari fisik saja, aku yakin sejak dulu dia sudah menggodaku. Apalagi dengan kekayaanku pasti dia akan mendekatiku. Tapi bahkan aku harus memaksanya agar mau bekerja di salah satu hotelku agar dia bisa mencukupi hidupnya bersama adiknya yang masih kecil."
...***...
"Kenapa sekarang kau yang menyetir?" Tanya Mona saat berada di mobil. "Seharusnya aku naik taksi saja seperti yang adikmu bilang."
"Ada yang ingin aku tawarkan padamu karena itu aku mengantarmu." Jawab Prothos sambil menyetir sedangkan Mona duduk di kursi sampingnya.
"Tawaran apa lagi?" Tanya Mona.
"Selain urusan café yang berantakan karena kondisi Ato saat ini, urusan rumah yang biasanya dipegang Ato juga ikut berantakan."
"Apa? Ato kembaranmu juga yang mengurus rumah kalian selama ini? Hebat! Dia bukan saja keren dia juga hebat! Tasya sangat beruntung."
Prothos tertawa mendengarnya. "Kau sudah mengertikan kenapa harus berhenti menyukai kembaranku? Kau bukan tandingan wanita secantik Tasya."
Mona memicingkan matanya pada Prothos karena pemuda itu masih menganggap dirinya menyukai kembarannya.
"Seperti aku bilang visual fisik akan kalah dengan sesuatu yang ada di dalam diri seseorang. Sepertinya kau masih belum mengerti juga."
"Jadi maksudmu, kau bisa mengalahkan gadis secantik Tasya dengan sesuatu yang ada di dalam dirimu itu?"
"Aku tidak bilang begitu." Jawab Mona. "Aku yakin pria sepintar kembaranmu mencintai Tasya juga bukan karena fisiknya saja. Dia pasti melihat hal lain pada Tasya yang tak bisa dilihat siapapun selain dirinya."
"Apa maksudmu?"
"Kecantikan atau ketampanan akan lekang oleh waktu, karena itu jika seseorang mencintaimu hanya karena fisikmu saja itu sama saja dengan orang itu mencintaimu hanya sesaat. Kau juga pasti mengerti, karena itu juga terjadi padamu. Kau tidur dengan banyak wanita karena wajahmu tapi tak ada yang benar-benar mengisi hatimu. Hanya wanita yang bernama Widia yang mengisi hatimu karena dia mencintai kepribadianmu bukan wajahmu."
"Jangan mengatakan hal apapun seolah-olah kau tahu dengan apa yang terjadi."
"Kau berpacaran dengan gurumu tapi karena seorang murid perempuan mengetahuinya kalian terancam dikeluarkan dari sekolah. Lalu entah bagaimana murid itu membuatmu bercinta dengannya hingga akhirnya pacarmu itu berkorban untukmu dengan mengatakan ke sekolah kalau dia merayumu karena murid itu mengancam pacarmu akan mengeluarkanmu." Ujar Mona.
Prothos diam saja karena semua ucapan Mona benar.
"Itu cerita novel yang aku pernah baca. Apa benar seperti itu?" Tanya Mona. "Karena itu juga kau merasa bersalah hingga saat ini karena pengorbanannya membuatnya tidak bisa menjadi seorang guru lagi. Namanya sudah tercoreng sebagai guru. Sejujurnya kau sangat memalukan, kau tidak menyelesaikan masalah yang kau hadapi tapi kau terus saja merasa bersalah. Sayangnya kau merasa bersalah pada dirimu sendiri bukan pada wanita bernama Widia itu."
"Sudah cukup!" Seru Prothos. "Jangan mengajariku tentang masalahku."
Mona menutup mulutnya setelah Prothos berkata dingin padanya. Dia juga merasa kelewatan karena kata-katanya hingga saat ini dia merasa bersalah.
"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak ikut campur masalah orang lain." Ucap Mona. "Kau tenang saja, aku tidak suka pada kembaranmu. Aku tidak pernah berpikir untuk mendekati siapapun dan hanya ingin fokus mencari banyak uang untuk membiayai adikku hingga dia dewasa. Kau bisa hentikan mobilnya sekarang."
Prothos menghentikan mobilnya dengan kesal. Mona membuka kunci mobilnya secara manual tetapi Prothos menguncinya lagi.
"Seharusnya kau menghajar mantan pacarmu karena dia menipumu selama berhubungan denganmu, gadis bodoh!!" Seru Prothos menatap kesal Mona.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......