
Mona yang kembali masuk setelah membuang sampah melihat ke arah kamar mandi di mana Prothos sedang berada di dalamnya. Dia merasa aneh karena sudah hampir satu jam Prothos berada di dalam dan tidak keluar sedangkan dirinya harus membersihkan kamar mandi itu sebelum keluar dari penthouse.
"Sepertinya hari ini aku tidak usah membersihkannya." Ucap Mona hendak berjalan keluar area kamar.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara keran air bersamaan suara gemericik air yang jatuh ke lantai. Mona merasa curiga tentang keadaan Prothos saat ini. Ditambah sikapnya tadi yang terus melamun dengan tatapan kosong.
Dengan ragu Mona memegang kenop pintu kamar mandi dan berharap kalau pintu tidak terkunci karena suara air yang terdengar seperti mengisi bak yang sudah penuh dan terdengar semakin keras. Harapan Mona benar, pintunya tidak terkunci.
Gadis itu terkejut ketika melihat Prothos membenamkan dirinya ke dalam bath up dan terlihat menutup matanya. Tanpa pikir panjang Mona berlari, menarik tangan Prothos dan menggapai tubuh pemuda itu, tidak memedulikan seragam kerjanya yang basah. Di saat yang bersamaan Prothos membuka matanya, dan menyebut nama Widia.
Mona menariknya keluar dari bath up, mendudukinya di bawah lantai, lalu mematikan keran dan langsung mengambil handuk yang tergantung tidak jauh dari sana untuk menutup bagian bawah Prothos yang tak memakai apapun.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Mona tidak habis pikir dengan tindakan Prothos. "Kau ingin mati?"
"Ya, aku ingin mengakhirinya, aku pantas mati." Ucap Prothos dengan mata yang memerah.
Mona membantu Prothos segera keluar dari kamar mandi, dan didudukinya di atas tempat tidur. Gadis itu bisa merasakan suhu tubuh Prothos yang panas saat ini.
"Kau sedang sakit?" Tatap Mona. "Berpakaianlah, aku akan mencari obat untukmu."
...***...
Anna duduk di meja belajarnya. Hari ini gadis itu tidak ke sekolah karena Aramis memintanya untuk beristirahat. Sejak beberapa jam yang lalu gadis itu sibuk menulis sesuatu di sebuah buku.
Sebuah jurnal pribadinya. Dia menuliskan semua hal yang dilakukannya bersama dengan Aramis. Dia terus mengingat-ingat semuanya dan tidak ingin satu pun hal terlewatkan. Dia harus menuliskannya segera karena akhir-akhir ini dirinya mulai melupakan sesuatu hal. Anna tidak ingin satupun momen saat bersama pemuda yang sangat dicintainya itu hilang dari ingatannya. Jurnal tersebut juga akan dibawanya saat melakukan operasi di Jerman. Saat dia kehilangan ingatannya dia akan membacanya agar dia bisa mengenali Aramis. Setidaknya itu satu-satunya cara agar dirinya merasa tenang dan tidak takut melupakan pemuda tersebut.
Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dia sama sekali tidak ingin melupakan semua kenangan yang dilewatinya bersama Aramis. Semua saat-saat bersama pemuda itu adalah momen yang sangat indah dan membahagiakan dalam hidupnya. Dia tidak ingin melupakan satu momen pun.
Handphone Anna bergetar di atas meja. Anna menghapus air matanya dan mencoba menghentikan tangisnya sebelum menjawab telepon dari Aramis. Sudah kesekian kalinya Aramis meneleponnya hari ini.
"Kau sudah makan?" Tanya Aramis di ujung telepon.
"Setengah jam yang lalu kau meneleponku dan menanyakan hal yang sama. Aku juga sudah menjawabnya." Ucap Anna sambil menghapus air mata di sudut matanya.
"Jawab saja."
"Sudah." Jawab Anna untuk membuat Aramis tenang. "Kau fokus belajar saja dulu. Nanti sebelum ke rumah sakit, aku ingin makan sesuatu yang manis. Temani aku—"
"Ya pasti akan aku temani." Potong Aramis. "Apa kepalamu terasa sakit sekarang? Apa ada yang sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Senyum Anna mendengar kecemasan Aramis.
"Tidurlah dulu, jangan melakukan apapun yang membuat kepalamu sakit. Pulang sekolah aku akan langsung terbang menemuimu." Seru Aramis membuat Anna tertawa.
"Cepatlah pulang... Aku merindukanmu." Ucap Anna setelah itu menutup teleponnya.
Air matanya mengalir kembali. Kepalanya saat ini terasa sakit dan dia berbohong pada Aramis. Gadis tidak ingin Aramis langsung pulang meninggalkan pelajarannya saat dia bilang yang sebenarnya.
Anna menoleh ke sebuah kantong yang berada di sudut meja belajarnya. Gaun dan sepatu pemberian Aramis berada di dalamnya. Dia belum sempat mencobanya karena dirinya merasa akan aneh jika memakainya dengan kepala yang tidak berambut.
Namun gadis itu segera mengambilnya dan dikeluarkan gaun merah tersebut. Dia berdiri di depan cermin memandangi gaun tersebut yang direntangkannya ke depan tubuhnya.
Anna berbalik untuk mengambil sepatu yang ditaruhnya di meja belajar, namun pandangannya tiba-tiba kabur.
Aramis yang masih mengikuti pelajaran berjalan keluar kelas setelah ijin ke toilet. Dia ingin menelepon Anna lagi karena saat ini dirinya sangat mengkhawatirkan gadis itu.
Beberapa kali Aramis menelepon, Anna tidak menjawab. Rasa cemasnya semakin menyelimuti diri Aramis. Dengan sangat cepat pemuda itu berlari meninggalkan sekolahnya, tidak memedulikan jam pelajaran yang sedang berlangsung.
...***...
Mona masuk kembali ke ruangan dimana Prothos berada dengan membawa makanan dan obat-obatan untuk pemuda itu. Prothos yang sudah berpakaian duduk bersandar di atas tempat tidur dengan tatapan kosong lagi.
"Makanlah dulu habis itu minum obat. Kau butuh tenaga dan badan yang sehat untuk meratapi nasibmu." Sindir Mona meletakan semua yang dibawanya ke meja samping tempat tidur.
"Kenapa kau menarikku keluar?" Tatap Prothos.
"Karena rasa kemanusiaan. Aku tidak akan membiarkan seseorang mati di depan mataku. Lagi pula aku tidak ingin seseorang mati di tempat aku bekerja. Itu akan jadi menyeramkan." Jawab Mona. "Sudahlah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sekarang."
Mona langsung berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkannya.
"Apa itu sangat memalukan? Apa tindakanku sangat memalukan?" Tanya Prothos masih berada di tempatnya. "Aku sudah tidak kuat lagi dengan rasa sakit ini. Ini sangat menyakitkan untukku. Walau setiap malam aku bercinta dengan para gadis... tapi hanya ada dia dibenakku. Seolah-olah setiap malam aku menari dengan bayangannya. Dia pergi membawa hatiku, dan sekarang diriku terasa hampa, karena itu ini sangat menyiksaku."
Mona tak bicara namun gadis itu mendengarkan curahan hati Prothos tersebut di dalam kamar mandi.
"Dia pergi tanpa aku sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Dia meninggalkan rasa bersalah yang sangat besar di dalam diriku." Ujar Prothos dengan air mata yang mengalir. "Aku berkhianat padanya, walau aku tidak sengaja melakukannya tapi aku tetap berkhianat. Para pengkhianat tidak pantas mendapatkan kebahagiaan sekecil apapun."
Mona menghentikan kegiatannya dan berdiri di ambang pintu kamar mandi menatap Prothos yang hanya menatap lurus ke depan dan tidak menoleh ke arahnya yang ada di arah jam sembilan dari Prothos.
"Lalu siapa yang pantas mendapatkan kebahagiaan?" Tanya Mona dengan wajah kesal.
Prothos menoleh pada gadis itu. Pertanyaan sederhana itu membuat Prothos tertegun.
...***...
Aramis membuka pintu rumah Anna dan langsung mengarungi tangga, berlari sangat cepat lalu membuka pintu kamar Anna. Dia melihat Anna berbaring di lantai dengan gaun pemberiannya berada didekatnya. Kecemasannya benar, Anna tidak baik-baik saja.
"Anna, bangunlah!! Kau dengar aku?" Aramis memegang wajah Anna yang sangat tampak pucat.
Dengan segera Aramis mengangkat tubuh Anna dan dibawanya keluar. Aramis memasukan Anna ke dalam mobil untuk membawanya segera ke rumah sakit. Di perjalanan pemuda itu tidak bisa menahan air matanya lagi melihat gadis yang dicintainya terbaring di kursi belakang tak sadarkan diri.
"Anna, dengarkan aku, kau harus baik-baik saja!! Aku tidak akan memaafkan diriku kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu!! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian!! Jangan mengerjaiku seperti ini, Anna. Kau boleh mencoret-coret wajahku, menendang atau membantingku tapi jangan mengerjaiku seperti ini. Aku mohon!!"
Kesedihan Aramis sudah sampai puncaknya. Pemuda yang terkenal sangat kuat itu sampai terisak menangisi kondisi gadis yang dicintainya.
"Anna, hentikan, jangan mengerjaiku lagi!!" Aramis mengerang dengan sebuah kesedihan yang teramat sangat besar.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.