
"Bagaimana kak? Apa kakak sudah lebih baik?" Tanya Melody duduk di kursi di meja belajar dalam kamarnya. Saat ini dia sedang menelepon kakaknya, Athos. "Apa kakak di sana dengan kak Oto? Sepertinya dia belum pulang, padahal ini sudah jam sepuluh lewat."
"Kakak sudah baik-baik saja sekarang. Tasya menjaga kakak dengan baik. Oto tidak di sini. Apa Mona sudah pulang?" Tanya Athos "Tadi mereka ke café dulu bersama."
"Mona bilang kalau dia akan menginap di rumahnya." Jawab Melody. "Nomer handphone kak Oto tidak aktif."
"Apa ayah ada di rumah?"
"Ya, dia ada di rumah, paman dan kakek juga ada." Ujar Melody. "Besok kak Ato pulang kan?"
"Sepertinya begitu." Jawab Athos. "Tidurlah, kau tidak usah memikirkan Oto, Melo. Maafkan kakak sudah membuatmu khawatir."
"Yang terpenting kak Ato sudah baik-baik saja, aku tidak masalah."
Setelah menutup telepon dari Athos, handphone Melody bergetar sekali lagi. Kali ini Niko meneleponnya.
"Ada apa Niko? Ini sudah malam, kau tidak bisa tidur?" Tanya Melody.
"Kenapa teleponmu sibuk? Kau menelepon siapa malam-malam begini?" Nada suara Niko terdengar kesal.
"Aku habis menelepon kak Ato. Kenapa kau kesal? Ada apa denganmu?" Tanya Melody heran.
"Maafkan aku." Ucap Niko setelah membuang napasnya. "Besok datanglah ke rumahku, kita kerjakan tugas sekolah bersama."
"Aku sudah mengerjakan semuanya." Ujar Melody. "Besok kak Ato pulang, aku ingin tetap di rumah, Niko. Datanglah ke rumahku, aku akan membantumu mengerjakan tugas sekolah."
"Baiklah, sayang." Jawab Niko.
"Niko..."
"Ada apa?" Tanya Niko.
Melody diam sejenak karena ada yang ingin dia tanyakan. Dia ingin menanyakan hal yang dibicarakannya dengan Mona kemarin mengenai Niko dan mantan tunangannya, Emma.
"Kenapa kau diam?"
"Ah, tidak. Besok saja saat kita bertemu." Jawab Melody. "Sebaiknya kau tidur dan tidak bergadang, Niko. Aku akan tutup teleponnya."
"Oke." Ucap Niko.
Melody menghela napas sesaat setelah menutup telepon Niko. Gadis itu menoleh ke arah jendela kamar melihat ke arah beranda kamar Lion yang tirainya tertutup. Saat ini lampu kamar Lion belum menyala sehingga dia berpikir kalau pemuda itu belum pulang. Dia mengingat kejadian tadi pagi ketika dirinya melihat Lion keluar ke beranda kamarnya membawa kucingnya, Mimi.
Melody mengambil Mimi yang tertidur di atas tempat tidur dan meletakannya di atas meja belajar. Gadis itu mengelus dengan lembut kucing kesayangannya itu.
"Kau pasti merindukannya kan sampai kau datang menemuinya?" Tanya Melody pada kucingnya. "Sekarang aku tidak boleh merindukannya. Aku iri padamu, Mimi. Aku juga ingin menemuinya sepertimu."
Sedangkan tanpa disangka Melody, sebenarnya Lion berada di dalam kamarnya tanpa menghidupkan lampu kamar. Sejak meninggalkan rumah sakit, Lion langsung kembali pulang dan berada di kamar. Pemuda itu duduk di depan laptop sedang melakukan pertemuan bersama beberapa temannya yang berada di beberapa negara.
"Next holiday I will visit all of you, guys." Ucap Lion menggunakan headset di kepalanya.
...***...
Pagi-pagi sekali Mona menunggu di depan hotel untuk menjemput Prothos. Waktu sudah menunjukan pukul enam pagi ketika Mona menelepon Prothos kalau dirinya sudah sampai.
Dengan kesal Prothos masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Mona telat satu jam dari waktu yang diminta Prothos untuk menjemputnya.
"Sudah aku bilang jemput aku jam lima. Ini sudah jam enam. Kau telat satu jam." Seru Prothos dengan kesal.
"Maaf, aku bangun kesiangan." Jawab Mona sambil melajukan mobilnya. "Seharusnya tadi malam kau bawa saja mobilnya, kenapa memintaku menjemputmu?"
"Kita sarapan dulu saja. Aku harus sarapan sebelum jam tujuh." Ucap Prothos tanpa menghiraukan perkataan Mona. "Kita ke restoran cepat saji yang buka 24 jam saja."
"Seharusnya kau sarapan di restoran hotel." Gumam Mona.
Tidak berapa lama mereka sampai di sebuah restoran cepat saji. Prothos duduk di kursi di salah satu meja sedangkan Mona memesankan makanan untuk mereka berdua.
"Kau?" Tiba-tiba Sally salah satu sahabat Widia yang baru masuk ke dalam restoran melihat Prothos.
Sally dan Prothos berbicara berdua. Sedangkan Mona yang selesai memesan makanan memilih duduk di meja lain yang selang beberapa meja dari mereka berdua, menunggu hingga perbincangan tersebut berakhir.
"Sepertinya kau baik-baik saja." Ujar Sally. "Ya, itu bagus untukmu. Widi pasti juga ingin kau baik-baik saja. Kau juga sudah selesai ujian kan?"
Prothos hanya mengangguk sedikit menjawabnya tanpa melihat ke arah Sally.
"Kau tidak ingin tahu kabar Widi?"
Pertanyaan Sally membuat Prothos menatapnya.
"Bagaimana kabarnya? Dia baik-baik saja?"
"Ya, semakin hari dia semakin baik-baik saja." Jawab Sally. "Walau dia sudah bukan lagi menjadi seorang guru seperti dulu, tapi dia masih bisa mengajar."
"Saat ini dia mengajar di taman kanak-kanak. Itu membuat dia lebih cepat melupakan masalahnya disini." Jawab Sally. "Kau tidak ingin tahu di mana dia sekarang? Apa kau tidak ingin menemuinya?"
Prothos menggeleng. "Jika dia sudah baik-baik saja itu bagus. Aku tidak ingin mengganggunya lagi."
"Dia juga tidak ingin kau menemuinya lagi." Ujar Sally. "Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu."
Sepeninggalan Sally, Prothos sempat melamun sesaat. Mona yang duduk di meja lain memperhatikan wajah sedih Prothos saat ini.
"Makanannya jadi tidak hangat lagi." Ucap Mona meletakan nampan berisi makanan ke meja dengan kasar lalu duduk di hadapan Prothos. "Ini masih terlalu pagi untuk bersedih. Makanlah dulu sebentar lagi jam tujuh."
Prothos langsung mengambil burger miliknya dan memakannya sambil mencoba menghilangkan Widia di benaknya saat ini.
"Sebaiknya kau menemuinya dan minta maaf padanya." Ujar Mona membuat Prothos menatapnya. "Kau menghukum dirimu karena rasa bersalah. Minta ampun padanya, dia akan mengampunimu dan kembalilah bersamanya. Kau menghancurkan hidupmu setelah berpisah darinya kan?"
"Dia bilang aku cahaya matahari yang membuatnya terbakar hingga tak tersisa apapun di dirinya. Dia tak akan mau kembali padaku." Jawab Prothos kembali dengan wajah bersedih. "Aku tidak ingin menemuinya lagi, mendengar dia baik-baik saja itu sudah cukup untukku."
"Jadi kau akan tetap menghukum dirimu? Kau bilang hatimu menghilang dibawa pergi olehnya kan? Sampai kapan kau membiarkannya membawa hatimu itu?"
"Selamanya." Jawab Prothos singkat.
...***...
"Melo, kau di rumah saja kan?" Tanya Leo ayah Melody menuruni tangga dan berbicara pada Melody yang sedang bermain piano. "Kakakmu Ato akan pulang, Oto sedang menjemputnya. Tapi nanti siang ayah harus pergi, kemungkinan kau sendirian di rumah untuk beberapa saat karena paman membawa kakek berobat tadi."
"Aku menyuruh Niko datang nanti, apa tidak masalah kalau tidak ada siapapun di rumah saat dia di sini?" Tanya Melody. "Kami hanya akan mengerjakan tugas sekolah."
"Ya, ayah rasa tidak masalah. Dia akan mendengarkan perkataanmu." Jawab Leo.
Tiba-tiba handphone Leo berdering, dia segera menjawab nomer asing yang meneleponnya.
"Halo." Ucap Leo menerima telepon.
"Apa kau benar Leonard Sanzio?" Tanya seseorang di ujung telepon. "Atasanku ingin berbincang denganmu, apa bisa datang menemuinya? Alamatnya akan segera dikirimkan."
"Maaf, siapa atasanmu yang ingin berbincang denganku? Dan mengenai hal apa?" Leo tampak bingung karena merasa tidak mengenali suara orang yang meneleponnya.
"Presdir Robert Praja Janitra ayah dari Natasya Janitra, ingin berbincang mengenai anakmu Athos Uno Sanzio." Jawab Benny di ujung telepon.
...–NATZSIMO–...
Baca cerita author yang lain juga ya.
Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.
Baca juga karya baru author di sana dengan judul "I AM A BUTTERFLY" dengan genre Fiksi Remaja, Romansa, Psychological.
Kedua itu ada di F*z*o.
❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤
Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......