MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
057. MERASA KETAKUTAN



Sepeninggalan yang lainnya, Aramis keluar dari kamar dan segera turun hendak ke rumah Anna. Ronald sedang duduk di ruang tamu, sibuk dengan handphone-nya.


"Kau tidak ke rumah sakit, paman?" Tanya Aramis berdiri tidak jauh dari sofa yang diduduki pamannya. "Akhirnya kau libur, setelah lebih dari sebulan kau tidak pernah di rumah."


"Ars, aku rasa kau harus melanjutkan kuliah saat lulus. Ambilah jurusan kesenian, itu sesuai dengan bakatmu dan kau pun bisa dengan mudah—"


"Untuk apa aku kuliah lagi kalau aku sudah berbakat?" Sambar Aramis. "Aku tidak akan mengubah rencanaku. Lebih baik di hari libur ini, pergilah berkencan. Kau harus mulai memperhatikan masa tuamu. Siapa yang akan mengurusmu saat tua nanti?" Tawa Aramis mengejek pamannya dan setelah itu berjalan keluar.


Paman Ronald hanya diam memandang kepergian Aramis yang keluar dari rumah dengan wajah yang datar.


Aramis mencoba membuka pintu rumah Anna, namun pintunya tidak terbuka. Anna mengganti kuncinya.


"Ars, mulai sekarang kau tidak bisa datang seenaknya ke rumahku." Seru Anna yang berada di dalam rumah.


"Kenapa, bodoh?" Tanya Aramis kesal. "Kenapa kau ganti kuncinya? Cepat buka!!"


"Pergilah dulu, nanti aku ke rumahmu. Aku sedang mengerjakan tugas sekolah."


"Kau bilang akan menemaniku belajar. Ayo kita belajar bersama."


"Setelah ini aku ke rumahmu, pergilah."


"Bagaimana? Kau sudah mencobanya? Apa kau suka?" Aramis menunggu jawaban Anna dari luar pintu namun Anna tak menjawab. "Baiklah, kalau sudah selesai hubungi aku ya, aku ingin ke tempat Lion bermain games dulu."


Aramis melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Anna menuju rumah Lion. Ketika dia membuka pintu kamar Lion, sahabatnya itu masih tidur.


Anehnya, sahabatnya itu tertidur di bawah lantai tanpa alas, meringkuk kedinginan tanpa alas dan dengan suhu kamar yang sangat dingin.


"Ya ampun, apa ini kutub utara?" Gumam Aramis merasa kedinginan saat berada di kamar Lion. "Kenapa kau tidur di bawah lantai, bodoh?" Tanya Aramis sambil mematikan pendingin ruangan kamar Lion. "Heh, kau tidak mati kan? Bangunlah, ini sudah jam sepuluh."


Lion tidak bergeming dan masih tertidur pulas. Dia baru saja pulang pagi tadi jam lima setelah menemui Duarte untuk berlatih capoeira lagi.


"Kau sudah mati ya?" Aramis menyenggol tubuh Lion dengan kakinya.


"Jangan ganggu tidurku!!" Seru Lion kesal. "Aku baru bisa tidur jam tujuh tadi!!" Lion berguling masuk ke kolong tempat tidur yang sempit.


Aramis menggeleng heran pada sahabatnya itu sambil duduk di kursi meja dimana komputer Lion berada.


"Kau punya game baru? Aku bosan dengan game jenis RPG, apa ada game baru dengan jenis lainnya?" Aramis menghidupkan komputer Lion.


"Diamlah, Ars!! Kenapa kau matikan AC-nya?" Protes Lion. "Aku sangat lelah karena berlatih capoeira semalaman."


"Tidurlah di tempat tidur, bodoh!! Dasar aneh!!" Ujar Aramis. "Lion, ini waktu yang tepat untukmu. Maksudku kau harus meminta Melo agar tidak setuju untuk bertunangan dengan Niko, hanya kau yang bisa mencegahnya. Mumpung Melo sedang seperti sekarang ini."


Lion membuka matanya mendengar perkataan Aramis. Rasa mengantuknya hilang seketika dengan pembahasan Aramis saat ini.


"Melo sudah bilang pada ayah kalau dia akan ikut ke Rusia dengan Niko untuk menikah dan tinggal disana. Kami semua tidak bisa mencegahnya. Bahkan ayah tidak akan melarangnya. Sepertinya hanya kau yang bisa mengubah keputusan Melo."


"Apa yang harus aku katakan?" Tanya Lion. "Niko terus memintaku membantunya. Aku tidak bisa berbuat apapun." Lion keluar dari kolong tempat tidur dan naik ke tempat tidur, berbaring. "Sudahlah, ini semua salahmu."


Lion menatap punggung Aramis. Dia berpikir kalau sepertinya pun perkataan Melody tidaklah benar mengenai kakaknya itu. Bahkan sekarang sahabatnya itu sudah menerima akibat kesalahannya di masa lalu pada Niko. Orang yang dicintainya harus menanggung rasa sakit dan akan segera meninggalkan dirinya, bahkan kemungkinan terburuk dia akan kehilangan Anna untuk selamanya.


"Ars, kau harus menjaga Anna." Ucap Lion.


"Apa maksudmu?" Tanya Aramis. "Aku sedang membicarakan kalian, kenapa kau mengalihkan pembicaraan?"


Aramis menoleh pada Lion dan disambut Lion dengan lemparan bantal yang mengenai wajah Aramis. Lion tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Aramis mengenai Anna.


"Kau ingin mati ya?" Geram Aramis menatap tajam Lion.


...***...


Melody duduk di sebuah sofa panjang, dan di hadapannya duduk seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan membawa papan kertas. Dia adalah seorang psikolog bernama Irene Frahesti.


"Melody, namaku Irene, aku akan mendengarkan semua yang akan kau ceritakan padaku. Agar aku bisa membantumu, ceritakan semua yang kau rasakan dan yang ada di benakmu."


Ketegangan terlihat dari wajah Melody saat ini. Dia merasa tidak nyaman bersama dengan seseorang yang baru ditemuinya itu.


"Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Aku hanya akan mendengar semua yang kau katakan tanpa melakukan apapun. Kau harus merasa rileks saat bercerita. Sebaiknya kau berbaring dan menutup matamu."


...***...


Pukul satu siang, Niko datang ke rumah Melody, dan hanya Ronald yang menyambut kehadirannya karena yang lainnya tidak ada saat ini.


"Masuklah, Melo sedang diantar Oto menemui psikolog saat ini." Ujar paman Ronald duduk di sofa ruang tamu.


Niko menurutinya dan duduk di sofa satu seat di dekat pintu. Melody tidak memberitahu Niko kalau dia akan pergi menemui psikolog hari ini.


"Paman, aku minta maaf pada kalian semua, aku salah bicara hingga membuatnya takut kemarin." Ucap Niko.


"Melo bilang itu bukan salahmu. Kau tidak perlu minta maaf." Jawab Ronald. "Niko, sejujurnya aku masih tidak terlalu menyukaimu. Secara tiba-tiba kau datang di hidup Melo, dalam sekejap Melo berubah, dia setuju dengan semua yang kau inginkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dengannya, dan pada ketiga kakaknya. Bahkan mereka bertiga pun seperti tidak bisa melakukan apapun padamu, padahal aku tahu kalau kau itu musuh mereka sebelumnya."


"Walau aku musuh mereka, tapi mereka tahu kalau aku pria baik-baik, aku juga sangat menyukai Melody, mereka yakin aku tidak akan menyakitinya, mungkin karena itu mereka membiarkan kami dekat." Jawab Niko. "Aku tahu Melody sangat berharga untuk keluarga ini, kau tenang saja, aku akan menjaganya sebaik mungkin. Karena itu aku serius ingin menikahinya."


"Kakakku tidak akan melarang semua keputusan anak-anaknya. Tapi dia selalu menekankan agar semua anak-anaknya lulus sekolah. Sebaiknya kau tidak membawa Melo ke Rusia untuk menikah dengannya disana. Kalian bisa menikah saat lulus sekolah."


"Melody sudah menyetujuinya, dan paman tidak perlu khawatir, kami tetap akan melanjutkan sekolah kami hingga lulus di Rusia." Jawab Niko meyakinkan.


"Kau baru berusia 18 tahun, bahkan Melo belum genap 16 tahun. Dia masih terlalu muda untuk menikah, di tambah traumanya saat ini." Lanjut Ronald. "Kau mengerti kan maksudku?"


Niko mengangguk. "Kau tenang saja paman, aku tidak akan memaksanya untuk hal apapun. Aku akan berhenti kalau dia menolaknya. Aku juga tidak akan menyentuhnya selama dia masih mengalami trauma itu."


Prothos membuka pintu masuk, Melody berada di sampingnya. Gadis itu melihat Niko yang langsung menoleh padanya. Dengan cepat Melody mundur selangkah ke belakang Prothos dan mencengkram baju Prothos karena keberadaan Niko.


Gadis itu masih merasakan ketakutan pada pemuda itu.


...–NATZSIMO–...