
Lion duduk di salah satu kursi di meja restoran ramen langganannya sepulang sekolah. Dia menikmati semangkok ramen yang dipesannya seorang diri. Headphone terpasang di telinganya. Saat makan sesekali dia bernyanyi mengikuti lagu yang di dengarnya tak memedulikan sekitarnya. Untung saja saat ini pengunjung restoran itu hanya dua meja lainnya yang terisi selain dirinya.
"Umai sugi, rāmen wa sekaiichi no tabemono. Mechamecha oishi.(Enak sekali, ramen adalah makanan terlezat di dunia. Sangat lezat)." Ucap Lion setelah memakan habis ramennya hingga kuahnya pun tak bersisa.
"Kau bilang akan menghubungiku setelah pulang sekolah."
Lion terkejut ketika melihat Karen berdiri di hadapannya. Dengan segera dia melepas headphone dari telinganya dan menatap gadis itu. Dia sedikit bingung karena gadis itu bisa tahu dia ada dimana. Padahal setelah bel sekolah berbunyi dia langsung lari untuk menghindari bertemu dengan Karen.
"Maaf Keren, aku lupa." Jawab Lion.
"Karen, kenapa kau tidak ingat namaku?" Tanya kesal Karen sembari duduk di kursi di hadapan Lion. "Apa selama ini kau tidak tahu siapa aku?"
"Karen kan namamu? Aku tahu." Jawab Lion berbohong karena sebenarnya dia tidak tahu. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Aku mencari tahu semua tentangmu selama ini." Jawab Karen tersenyum.
"Penguntit." Celetuk Lion namun langsung tersenyum karena merasa tidak sopan berkata seperti itu pada seorang gadis. "Kar... en... begini aku jelaskan sesuatu padamu ya. Semalam aku tidak mendengar apa yang kau katakan padaku. Aku sedang bermain game menggunakan headset dan fokusku sedang ada di game tersebut jadi aku tidak menyimak pembicaraan kita. Biar teleponnya segera berakhir aku mengiyakan ucapanmu, aku pikir kau menelepon untuk menawarkan kartu kredit padaku. Padahal aku masih anak sekolah tapi kenapa aku sering dapat tawaran macam itu? Intinya terjadi salah paham."
"Aku tidak menerima jawaban yang diralat. Bagaimana pun kau sudah setuju semalam. Aku punya rekaman percakapan kita." Seru Karen menghidupkan rekaman yang dimaksud.
Lion tak bisa berbuat apapun karena dalam rekaman tersebut dirinya berkata ya baiklah. Setelah berurusan dengan Sandra sekarang dia harus terjebak lagi dalam situasi dengan gadis yang menyukainya. Dia terpikirkan sesuatu, cara yang digunakan saat menghadapi Sandra.
"Ka..." Ucapan Lion terhenti karena dia lupa lagi dengan nama gadis di depannya. "Maksudku, kau harus tahu sebuah rahasia terbesar dalam diriku." Bisik Lion mencondongkan tubuhnya ke arah Karen yang duduk dihadapannya.
"Rahasia apa?" Karen ikut berbisik menanyakannya.
"Aku ini gay. Aku penyuka sesama jenis." Jawab Lion dengan berbisik dan mencondongkan badannya ke arah Karen.
Lion menunggu reaksi Karen dengan penuh keyakinan kalau gadi itupun akan segera pergi seperti Sandra.
"Benarkah?" Selidik Karen dan Lion mengangguk dengan senyum manja agar semakin meyakinkan. "Aku rasa itu hal yang bagus."
"Apa? Apa maksudnya?" Lion tampak terkejut mendengar reaksinya. "Apa yang bagus dari seorang gay?"
"Kau tidak akan berselingkuh dengan seorang wanita." Jawab Karen. "Aku lebih tidak suka jika pacarku selingkuh dengan wanita lain dari pada dengan sesama pria."
Lion sangat terkejut mendengar perkataan Karen. Dia merasa kalau Karen gadis yang aneh dengan pemikirannya. Namun yang pasti Lion bingung karena cara tersebut tidak mempan pada gadis itu.
"Aku juga jadi tertantang untuk membuatmu sembuh dan menyukai wanita. Dan itu jadi suatu kebanggaan buatku kalau aku jadi wanita pertama yang akan kau suka."
Lion terdiam memikirkan berbagai cara. Dari semua situasi yang dihadapinya dengan berbagai macam orang yang dia temui, situasi bersama seorang wanita yang menyukainya adalah situasi yang selalu ingin dia hindari.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, aku bayar dulu." Ujar Lion bangkit berdiri sambil mengambil uang di saku celananya.
Dia terus memperhatikan Karen saat membayar. Ketika Karen tidak melihatnya, dengan segera Lion berlari keluar restoran. Karen yang melihatnya mengejarnya keluar restoran juga.
"Kau mau kemana?" Ujar Karen pada Lion yang berlari pergi menghindarinya.
Lion tak menggubrisnya dan segera berlari dengan cepat untuk menghindari situasi yang paling dirinya benci itu.
...***...
Anna memasuki sebuah bengkel yang tidak jauh dari komplek rumahnya. Dia pernah ke bengkel tersebut sebelumnya saat menjual motornya dulu.
"Hansen, kau masih ingat aku?" Tanya Anna saat masuk ke dalam bengkel dan bertemu seorang montir yang merupakan pemilik bengkel.
"Ya ampun, Anna. Tidak mungkin aku lupa." Jawab Hansen menghampiri Anna. "Gadis keren sepertimu siapapun akan ingat walau sekali bertemu."
Anna tersenyum sambil menyenggol lengan Hansen dengan kepalan tangannya.
"Ada apa kau kesini? Kau ingin menjual motormu lagi?" Tanya Hansen.
"Aku sudah tidak punya motor." Jawab Anna. "Justru sebaliknya, apa ada motor yang bisa aku sewa? Aku ingin memakainya untuk ke rumah lamaku di luar kota."
"Kau pasti kenal Musketeers kan? Aku pindah ke depan rumahnya, sebenarnya dulu waktu kecil aku tumbuh disana." Jawab Anna.
"Ya, tidak ada yang tidak kenal mereka bertiga." Ujar Hansen sibuk dengan pekerjaannya.
Anna memperhatikan ke sekeliling bengkel dan matanya tertuju pada sebuah motor putih yang tampak tak asing di matanya, apalagi plat nomernya tertulis L10N.
"Bukankah ini motor Lion?" Anna mendekatinya dan menatap Hansen yang menoleh padanya. "Bukannya motornya dicuri?"
"Sudah lama ketemu. Dia menitipkannya disini. Entah kenapa dia tidak ingin mengambilnya padahal motor itu sudah rapi."
Anna mengerti kenapa Lion melakukannya. Semua itu agar dia memiliki alasan ketika bersikap aneh.
"Kau juga kenal dengan Lion?" Tanya Hansen.
"Tidak ada yang tidak kenal bocah aneh sepertinya. Dia salah satu manusia langka yang hidup di jaman ini." Jawab Anna tertawa heran memikirkan tingkah Lion.
"Anna, kau bisa pakai motorku." Hansen memberikan sebuah kunci motor pada Anna. "Tidak usah sewa, pakai saja. Kau temannya Lion kan? Lion pernah mengeluhkan seorang gadis yang mencuri perhatian sahabatnya hingga dia sering merasa bosan. Pasti itu kau kan yang mencuri perhatian Ars dari Lion?"
Anna tertawa mendengar keluhan Lion padanya. Sepertinya Anna mulai mengerti dengan cara kerja Lion. Dia mengeluh untuk memberitahu teman-temannya tentang Anna, agar kejadian seperti dengan Ryan tak terulang lagi padanya.
...***...
Lion hanya memakai celana panjang putih dan bertelanjang dada sambil berduel dengan orang asing berkulit agak hitam, terdengar sebuah lagu berbahasa Portugis mengiringi duel mereka yang gerakannya seperti sebuah dance.
Saat ini dia sedang berlatih capoeira, seni bela diri yang berasal dari Brazil. Seni bela diri yang mengutamakan kekuatan di kakinya. Lion sudah menguasainya sejak kecil, namun dia sempat berhenti berlatih hampir dua tahun.
Pemuda itu sedang berduel melawan instruktur sekaligus temannya yang asli orang Brazil. Duel tersebut berakhir setelah Lion terhantam tendangan yang membuatnya tersungkur keras ke atas matras.
"Desisto, Duarte (Aku menyerah, Duarte)." ucap Lion bangkit berdiri di bantu oleh Duarte. "Não pratico há muito tempo, eu esqueci muito (Sudah lama tidak berlatih, banyak yang aku lupakan)."
"Kenapa kau tiba-tiba ingin berlatih lagi?" Tanya Duarte dengan aksen yang masih terdengar aneh. "Com quem você quer lutar? (Siapa yang ingin kau lawan?)"
"Aku hanya ingin cari kesibukan. Aku akan lebih sering datang kesini, Mr. Duarte Dos Santos." Senyum Lion.
...***...
Jam tiga pagi Aramis memapah Prothos masuk ke kamarnya, setelah menjemputnya dari klub malam dalam kondisi mabuk parah.
"Kembaranku Ars yang keren dan paling bahagia. Aku sangat iri padamu, kau tahu?" Prothos meracau saat Aramis membaringkannya ke tempat tidur.
"Iya aku tahu." Jawab Aramis kesal menanggapi celotehan Prothos.
Athos masuk ke kamar Prothos untuk melihat apa yang terjadi. Lagi-lagi dia melihat kembarannya itu mabuk berat.
"Kau tahu, Ato? Lion meneleponku setelah dia dapat kabar dari temannya tentang kembaranmu ini. Dan kau tahu apa yang terjadi saat aku datang menjemputnya? Beberapa gadis menggerayanginya sedangkan dia hanya diam saja." Ujar Aramis.
Athos pun tahu karena sebelumnya dia juga melihat hal yang sama dengan yang dilihat Aramis hari ini.
"Kau sangat menyedihkan, Oto!!" Seru Aramis kesal.
...–NATZSIMO–...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih untuk pembaca setia yang masih terus ngikutin kisah panjang ini. Jangan lupa terus baca hingga akhir dan dukung selalu ya dengan meninggalkan jejak terbaik kalian setelah membaca.
Karena sudah akhir tahun, author mau ngadain giveaway untuk ucapan terimakasih pada para pembaca setia. Yuk gabung di grup chat author untuk ikut giveaway.
Jangan lupa bahagia karena kebahagiaan diciptakan untuk semua orang.
YA Tebya Lyublyu 😘😘😘