MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
061. MENELAN PECAHAN KACA



Minggu pagi Prothos melajukan mobil milik ayahnya ke kota yang kemarin dia datangi juga. Dia membawa banyak pakaian yang dimasukannya di dalam koper miliknya. Sejak pagi-pagi sekali dia keluar dari rumah menuju hotel tempatnya menginap kemarin.


Prothos masuk ke dalam kamar yang kartu aksesnya diberikan Niko kemarin. Kamar yang bertipe Presidential Room atau Penthouse yang berada di lantai teratas hotel terbesar di negara tersebut.


Melihatnya Prothos tertawa tidak percaya. Itu adalah kamar yang sangat mewah dengan berbagai macam fasilitas dan pemandangan yang sangat indah.


"Niko, aku yakin kau akan membuat adikku bahagia." Ucap Prothos berdiri memandang keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan yang sangat indah. "Berada di kamar semewah ini hanya sendiri akan kurang seru."


...***...


Jam sebelas siang Aramis masuk ke rumah Anna. Anna masih berada di kamarnya karena masih tertidur. Namun pemuda itu tidak berniat membangunkannya.


Aramis menggunakan hoodie yang menutupi kepalanya. Dia memukul paku dengan palu di tembok belakang sofa ruang tamu. Setelah itu memasang sebuah lukisan di tembok tersebut.


Anna yang terbangun karena suara hentakanan palu menuruni tangga. Dia melihat Aramis berdiri memandangi sebuah lukisan yang baru saja dipasangnya.


"Bagaimana? Terlihat bagus kalau dipasang di sini kan?" Tanya Aramis tanpa menoleh pada Anna dan tatapannya mengarah pada lukisan yang tergantung.


Anna tidak bisa melihat Aramis karena kepalanya tertutup oleh penutup kepala di hoodie-nya. Anna menoleh dan melihat lukisan yang dipasang Aramis adalah lukisan yang seharusnya diikutsertakan dalam kompetisi melukis. Lukisan sepasang harimau.


"Bukankah seharusnya lukisan itu ada di—"


"Pemandangan sungai di penghujung hari, langit senja yang terlihat muram, seekor harimau yang memunggungi harimau pasangannya dan pantulan siluet di atas sungai dari harimau yang terlihat mustahil. Itu semua terlihat seperti duka yang mendalam bagi sepasang harimau itu."


Aramis mengulangi perkataan Anna tempo hari saat menggambarkan lukisannya.


"Anna, aku akan membaliknya. Pantulan siluet itu bukanlah sesuatu yang mustahil karena itu adalah pantulan asli dari harimau betina itu. Harimau betina itu adalah wanita yang cantik karena itu pantulan dirinya melukiskan seperti itu. Lalu seekor harimau yang memunggungi harimau pasangannya, itu tidak seperti itu. Harimau jantan itu menatap pasangannya untuk menjaganya, sekalipun dia tidak pernah berpaling dari pasangannya itu untuk menjaganya. Dan langit senja yang terlihat muram, sepasang harimau itu siap menghadapi kegelapan karena mereka selalu bersama dan tidak akan meninggalkan satu dan yang lainnya hingga kegelapan itu memudar."


Aramis menoleh menatap Anna yang berdiri di sampingnya di jarak tiga meter.


"Kesetiaan sepasang harimau, itu judul lukisan ini." Ucap Aramis menatap Anna.


Anna tersenyum menanggapinya. Namun fokusnya teralih pada Aramis. Dia bisa melihat kalau Aramis mencukur habis rambutnya juga.


"Bagaimana? Aku semakin keren kan?" Tanya Aramis dengan senyum sambil membuka penutup kepalanya dan menunjukan gaya rambut barunya.


Anna terkejut sekaligus merasa tersentuh dengan yang dilakukan Aramis. Secepatnya dia berjalan mendekati Aramis dan menarik tengkuknya untuk mencium pemuda itu. Mereka berciuman dengan penuh makna, menunjukan rasa cinta mereka yang satu dengan yang lain.


Aku sangat mencintaimu, Ars. batin Anna.


"Hari ini, ayo kita pergi jalan-jalan." Ucap Aramis menatap Anna yang ada di dekatnya. Tangannya merengkuh pinggang gadis itu. "Sepertinya hari ini hari bebasku sebelum ujian kelulusan."


"Bagaimana dengan kompetisi melukisnya?"


"Aku rasa lukisan itu lebih bagus dipajang di sini dari pada harus disimpan oleh mereka." Jawab Aramis. "Aku tidak jadi ikut kompetisi dan mengundurkan diri. Aku membuat lukisan itu untukmu bukan untuk mereka."


Anna ingin marah mendengar keputusan Aramis namun dia juga merasa senang karena perhatian pemuda itu padanya. Anna menidurkan kepalanya yang tertutup hoodie ke pundak kanan Aramis, dan memeluknya.


"Kau memang bodoh, Ars." Ucap Anna membuat Aramis tertawa kecil.


...***...


Tidak butuh waktu lama untuk Prothos menemukan seorang gadis yang mau bercinta dengannya. Gadis tersebut dibawanya ke penthouse yang sekarang menjadi miliknya.


"Aku sangat beruntung bertemu denganmu." Ucap gadis itu berbaring di dekapan Prothos setelah melakukan aktivitas terlarang mereka.


"Kau sudah punya pacar kan? Kenapa mau denganku?" Tanya Prothos. "Pasti kau juga sudah sering melakukannya dengan pacarmu."


"Kalau kau mau aku bisa putus dengan pacarku sekarang juga, lalu berpacaran denganmu."


"Di awal sudah aku bilang, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu." Jawab Prothos setelah itu memasang posisi di atas gadis itu. "Kau sudah sangat mahir hingga membuatku ketagihan sekarang. Ayo kita lakukan lagi."


...***...


Dion bersama dua orang temannya sedang menikmati makan siang mereka. Tiba-tiba Athos memegang tangan Dion dan meletakannya ke meja lalu dengan cepat mengambil pisau dan di layangkannya ke arah tangan Dion. Karena sangat cepat Athos melakukannya, membuat Dion dan dua orang temannya terkejut. Namun pisau itu menancap di sela jari tengah dan jari manisnya.


"Aku tidak akan tinggal diam kalau kau menyakiti Tasya lagi." Seru Athos. "Kau akan menikah dengannya tapi jangan harap itu akan berjalan dengan lancar saat kau melihatku berjalan ke arahmu. Aku pasti akan menghentikannya."


Athos menarik pisau yang masih menancap, dan membuat Dion ketakutan hingga beranjak dari duduknya, begitu juga dengan kedua temannya. Namun Athos memberikan pisau tersebut pada Dion dengan menyunggingkan bibirnya.


"Silakan nikmati makan siang kalian." Setelah berkata demikian Athos berjalan pergi.


"Sialan sekali dia." Kesal Dion. "Aku pasti akan membunuhnya kalau sampai dia mengganggu pernikahanku!!"


"Sepertinya kau harus melakukannya." Seru salah seorang temannya. "Dia selalu mengolok-olokmu. Kau selalu dibuatnya malu, Dion."


"Dia tidak tahu siapa dirimu, makanya dia begitu. Singkirkan dia sebelum mengganggu pernikahanmu." Timpal yang satunya.


...***...


Niko menemui Athos setelah janjian di sebuah restoran Italia yang terletak tidak jauh dari restoran Prancis dimana Athos menemui Dion.


Athos sudah duduk di salah satu kursi di mana mejanya sudah terisi beberapa piring makanan yang sudah dipesannya untuk makan siang.


"Maaf ya aku tiba-tiba minta bertemu." Ucap Niko duduk di kursi di hadapan Athos.


Athos tidak menanggapinya dan masih menikmati makan siangnya sepiring Risotto dan Ravioli dengan Spagetti yang dilengkapi oleh ayam Parmigiana.


"Itu terlalu banyak untuk kau makan sendiri." Ujar Niko.


"Aku memesannya untukmu juga. Makanlah bersamaku." Jawab Athos.


Niko tersenyum dan mulai ikut makan siang bersama Athos.


"Kau tahu, kakek buyut ayahku adalah orang Italia, tapi sebenarnya aku tidak menyukai makanan ini." Ucap Athos.


"Lalu kenapa kau memakannya?"


"Aku tidak memakannya, aku hanya menelannya tanpa memikirkan rasanya. Otak manusia yang mempengaruhi segala sesuatu di dalam tubuhnya, karena itu aku selalu membuat otakku bekerja seperti yang aku inginkan. Jika terpaksa aku bahkan siap menelan pecahan kaca dan memikirkan kalau itu hanya sebuah permen."


"Kau memang yang paling menakutkan di antara kalian bertiga."


"Lalu kenapa kau meminta bertemu denganku?" Tatap Athos.


"Mengenai Tasya, pamanku menerima undangan pernikahannya dan memintaku mewakilinya datang ke acara itu." Jawab Niko. "Apa kau butuh bantuanku untuk menghentikan pernikahan itu?"


Athos tertawa mendengar tawaran Niko.


"Aku tidak butuh bantuan berupa kekayaan atau kekuasaan apapun yang kau miliki. Aku bukan Oto yang bisa kau dekati dengan menggunakan itu semua." Ujar Athos yang mengetahui pemberian Niko pada Prothos. "Sudah aku katakan otak manusia yang mempengaruhi segala sesuatu, aku lebih membutuhkan itu. Tapi sepertinya itu tidak kau miliki."


"Ayolah, Ato, jangan berkata hal-hal seperti itu."


"Izvinite, ne obizhaytes' na to, chto ya skazal. Spasibo za vashe predlozheniye. (Maaf, jangan tersinggung dengan ucapanku. Terimakasih untuk tawaranmu)." Seru Athos. "No ya uzhe govoril vam raneye, chto yesli by mne prishlos', ya by dazhe byl gotov proglotit' bitoye steklo i podumat', chto eto prosto shokoladnyy batonchik (Tapi sudah ku katakan padamu tadi, jika terpaksa aku bahkan siap menelan pecahan kaca dan memikirkan kalau itu hanya sebuah permen)."


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.


Jangan lupa juga ikutan giveaway dengan masuk ke grup chat author.


Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.