
Prothos membuka matanya ketika seseorang mengecup bibir tipisnya. Sejenak dia mengira kalau orang itu adalah Widia, mantan kekasihnya.
"Widia..." Ucap Prothos.
"Kau terus memanggilku dengan nama itu." Ujar gadis yang bermalam dengan Prothos. "Siapa dia?"
Prothos tersadar dan hanya tersenyum menjawabnya ketika melihat yang mengecupnya adalah gadis lain, bukanlah Widia.
"Kau sudah ingin pergi? Ini baru jam lima pagi." Ujar Prothos mengambil jam tangannya di meja samping tempat tidur. "Padahal aku ingin mengajakmu melakukannya di kamar mandi, tapi kau sudah rapi."
"Orang tuaku mencariku. Mereka menelepon dan memintaku segera pulang. Aku pasti kena marah karena tidak pulang." Jawab gadis itu sambil merapikan seragam yang dikenakannya. "Kau tidak ingin tahu siapa namaku? Aku ingin tahu siapa namamu."
Prothos bangkit duduk dan bersandar memperhatikan gadis yang sedang merapikan pakaiannya.
"Akan ku beritahu di pertemuan kita selanjutnya, kau juga bisa memberitahuku namamu saat itu."
"Berapa nomer handphone-mu? Sepertinya aku tidak melihat kau membawa handphone." Gadis itu sibuk merapikan rambutnya yang masih setengah basah dengan jari tangannya sambil bercermin di cermin besar di samping pintu masuk kamar hotel. "Kau sangat misterius."
Prothos hanya tertawa saja menanggapinya.
"Ini nomer handphone-ku. Kau harus menghubungi aku segera." Seru gadis itu menuliskan nomer handphone-nya ke sebuah kertas yang tersedia di meja di hadapan tempat tidur.
Prothos turun dari tempat tidur dan memakai celananya lalu menghampiri gadis yang berdiri baru saja menuliskan nomer handphone-nya. Dia memeluk gadis itu dari belakang dan mencium lehernya.
"Aku harus segera pergi." Ujar gadis yang tak diketahui namanya itu sambil berbalik menatap Prothos yang memeluknya. "Aku menantikan pertemuan kita selanjutnya. Kita bisa melakukannya di kamar mandi nanti."
Prothos tersenyum menanggapi perkataannya.
"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa." Gadis itu mengecup bibir Prothos dan setelahnya berjalan keluar.
Prothos memperhatikan kertas yang berada di atas meja. Kertas itu tertulis nomer handphone gadis tadi. Dengan segera Prothos mengambilnya, namun tanpa berpikir lagi kertas itu disobeknya sebelum dimasukkannya ke tempat sampah dengan tatapan dingin.
...***...
Athos dan Aramis berada di meja makan sedang sarapan berdua. Kedua kembar itu sedang membicarakan kembaran mereka yang satunya yang sejak kemarin pagi pergi tanpa ada kabar.
"Sudah jam delapan pagi dan dia belum pulang. Aku yakin sekali dia menginap di hotel bersama seorang gadis." Ujar Aramis dengan mulut penuh dengan makanan. "Hidupnya sudah benar-benar kacau sekarang."
"Sebelum ini dia selalu belajar untuk ujian, tapi bahkan sekarang dia terus menerus membolos sekolah. Jika ayah tahu dia pasti akan kena marah habis-habisan." Timpal Athos yang duduk di hadapan Aramis.
"Oto tidak pulang?" Tanya Ronald yang berjalan turun. "Kenapa kali ini dia sampai seperti itu?" Tatap Ronald pada Athos yang berseberangan dengannya.
"Dia sangat tergila-gila pada mantan pacarnya itu." Jawab Aramis menoleh pada Ronald.
Pintu masuk terbuka dan muncul Prothos yang baru saja mereka bicarakan. Semua langsung menatap kehadirannya.
"Dari mana kau?" Tanya Ronald.
Prothos tidak menjawab, dia hanya berjalan membuka kulkas dan mengambil sekotak besar susu dan langsung meminumnya saat itu juga.
"Oto, kau sudah melewati batas!!" Seru Ronald.
"Diamlah paman!! Jangan ikut campur masalah dosaku!! Aku yang menanggungnya sendiri, itu bukan urusan siapapun. Selama gadis-gadis itu tidak keberatan dan aku tidak menghamili mereka aku rasa tidak ada salahnya aku menikmati masa mudaku." Ujar Prothos secara terang-terangan.
"Apa kau bilang?" Ronald tidak percaya pada perkataan Prothos yang blak-blakkan. "Jadi karena itu kenapa Melo seperti kemarin. Adikmu yang menanggung akibat perbuatanmu pada gadis-gadis yang kau rayu!!"
"Sepertinya Melo benar-benar mengalami trauma karena perbuatan Felix. Kemarin tiba-tiba dia berteriak di kelas dan ketakutan saat melihat Niko." Jawab Athos.
"Niko? Apa yang dilakukan Niko padanya?" Prothos langsung bergegas menaiki tangga dan membuka kamar Melody.
Melody terbangun dari tidur saat Prothos datang. Hari ini dia malas bangun untuk melakukan hal yang lainnya karena itu sudah jam segini Melody masih tertidur. Melody melihat kehadiran Prothos yang tampak khawatir menatapnya.
"Melo, kau baik-baik saja? Apa yang dilakukan Niko padamu?" Tanya Prothos duduk di sisi tempat tidur, tangan kanannya memegang wajah Melody yang masih mengumpulkan kesadaran. "Kau harus mengatakan semuanya pada kakak!!"
"Kak Oto dari mana saja? Selama beberapa hari ini aku tidak pernah melihatmu, kak." Ujar Melody sambil menggenggam tangan Prothos yang tadi memegang wajahnya. "Kakak sudah baik-baik saja kan? Sudah tidak bersedih lagi, kan?"
"Kakak yang mencemaskanmu, kau tidak perlu cemas pada kakakmu ini." Ucap Prothos. "Kenapa Niko membuatmu takut? Apa yang dilakukannya padamu? Apa kau ingin kakak menghajarnya?"
Melody menggeleng.
"Bukan salah Niko, aku saja yang berpikir terlalu jauh dan tiba-tiba aku mengingat kembali kejadian itu. Lalu tanpa sadar aku menganggap Niko menakutkan." Jawab Melody. "Semua terjadi begitu cepat tanpa aku bisa menahannya. Tapi Niko tidak salah, aku tidak ingin siapapun menyakitinya."
"Lalu apa kau masih menganggap Niko menakutkan sekarang?"
"Aku tidak tahu, tapi aku tidak ingin menganggapnya seperti itu. Kami sudah merencanakan pertunangan, aku tidak akan membatalkannya."
Prothos menatap adiknya dengan heran. Kenapa Melody masih saja ingin bertunangan dengan Niko, padahal saat ini dia menganggap pemuda itu menakutkan.
"Oto, keluarlah sebentar." Seru Ronald.
"Ada apa?" Tanya Prothos saat di luar.
"Bujuklah Melo agar mau konsultasi ke psikolog. Aku sudah bilang kemarin agar dia mau menemui temanku tapi dia menolak." Jawab Ronald.
Prothos kembali masuk ke kamar Melody untuk membujuk adik kesayangannya itu agar mau konsultasi ke psikolog seperti yang diucapkan pamannya.
"Kau mau tetap bertunangan dengan Niko?" Tanya Prothos. "Kalau begitu, kakak akan menemanimu konsultasi ke psikolog. Kau harus menghilangkan trauma itu secepatnya, Melo."
...***...
Athos memasuki ruang ganti di salah satu cabang café miliknya. Namun tak berapa lama pintu ruangan itu terbuka dan muncul Tasya berjalan masuk mendekati Athos dan langsung memeluk pemuda itu.
"Ta—Tasya?"
"Ato, aku sangat merindukanmu." Ucap Tasya. "Acara pernikahanku seminggu lagi, tapi kenapa kau malah meninggalkan aku? Apa kau benar-benar ingin agar aku menikah dengan pria jahat itu?" Tanya Tasya dengan menangis dipelukan Athos. "Kau tahu? Setelah kabar kita berpisah beredar, dia kemarin datang padaku. Dia menertawakan aku dan mengolok-olokku. Dia bilang setelah kami menikah dia akan membuatku seperti hidup di dalam neraka. Lalu dia menamparku. Aku harus bagaimana kalau kami sampai menikah, Ato? Aku lebih baik mati saja dari pada harus menikah dengan pria jahat itu."
Athos menarik Tasya yang memeluknya untuk menatap gadis itu. Dia terkejut mendengar ucapan Tasya yang diiringi tangisan.
"Benarkah? Apa kau serius? Dia berani menamparmu?" Tatap Athos dengan wajah yang dipenuhi emosi.
"Aku takut, Ato, aku tidak ingin menikah dengannya. Aku akan bunuh diri saja jika harus menikah dengannya!!" Tasya menangis tampak putus asa.
"Dengarlah Tasya, kau jangan berkata hal buruk seperti itu." Seru Athos memegang wajah Tasya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ingin menikah kalau bukan denganmu, apa lagi dengan pria jahat seperti Dion, lebih baik aku mengakhiri hidupku!!"
"Sshhhhttt!! Jangan berkata seperti itu!!" Athos langsung memeluk Tasya. "Kau harus mendengar kata-kataku, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan si pecundang itu. Walau aku harus kehilangan nyawaku sendiri."
...–NATZSIMO–...