MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
049. KALIAN BEREMPAT SANGAT MENYEDIHKAN



Lion sontak terkejut mendengar ucapan Karen. Dia sama sekali tidak mengira jika seseorang yang meneleponnya semalam memintanya untuk berpacaran. Dia menjadi bingung dengan situasi sekarang yang dihadapinya.


"Kau tidak akan menarik kata-katamu kan?" Tatap Karen. "Aku sudah lama memperhatikanmu, tapi karena kau dekat dengan Melody jadi aku salah menduga selama ini. Setelah kabar kalau Melody dan Niko akan bertunangan beredar aku jadi memberanikan diri mengatakannya padamu. Semalampun aku juga sudah bilang begitu 'kan?"


"Karin."


"Karen, namaku Karen." Ujar Karen.


"Ah iya maaf, Karen, sebenarnya yang ter..." perkataan Lion terhenti ketika melihat Melody di balik pintu yang tidak tertutup rapat.


Melody yang masih mencuri dengar tidak menyadari kalau Lion bisa melihatnya ddposisinya saat ini.


Lion membuang napasnya dan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan permen lolipop dan menyodorkannya pada Karen. Karen menatapnya bingung.


"Aku akan menghubungimu nanti. Sebagai gantinya, ini untukmu." Lion menyerahkan permen lolipopnya ke tangan Karen langsung, Melody menyaksikannya.


"Baiklah." Jawab Karen tersenyum senang. "Sepulang sekolah aku menunggu kau menghubungiku ya."


Melody segera bersembunyi saat melihat Karen berjalan ke arah pintu dengan senyum merona di wajah manisnya.


"Keluarlah, aku tahu kau disana." Seru Lion menunggu Melody muncul.


Melody segera berjalan masuk ke atap setelahnya. Dia mencoba fokus pada tujuannya menemui Lion, dan tidak ingin memikirkan apa yang diucapkan Karen tadi. Walau hal itu sangat mengganggunya saat ini.


"Sudah aku bilang jangan menemuiku disini." Ucap Lion.


"Aku sudah tahu arti yang kau dan Niko katakan. Apa maksudnya mengenai sumpah itu? Kenapa kau bersumpah padanya seperti itu?"


"Agar Niko mau membuat perjanjian itu dengan kakakmu."


"Seberapa kuat sumpah itu?"


"Itu tidak usah dibahas lagi—"


"... Kau fokus saja pada rencana kalian..." Ucap Melody menebak apa yang ingin dikatakan Lion padanya. "Kau tenang saja, aku akan mengikuti perkataanmu waktu itu. Aku sudah membiarkan Niko mendekatiku, bahkan kami sudah berencana bertunangan dan segera menikah setelah dia membawaku ke Rusia. Semuanya berjalan dengan lancar seperti yang kau kehendaki. Aku mengikuti semua perkataanmu hingga aku membuang mimpiku. Semuanya sudah aku buang untuk mendengar ucapanmu." Melody mulai mengeluarkan air matanya. "Sekarang pasti kau senang kan? Apalagi kau sudah punya pacar semanis Karen yang populer itu sekarang."


Kesedihan juga meliputi Lion saat ini namun dia berusaha tidak menunjukannya pada Melody. Dia sudah sangat merasa bersalah pada gadis itu. Dia menyesali semua perbuatannya yang tidak mendengarkan ucapan siapapun sebelumnya.


"Kau dan kakakku sama saja. Kalian sama-sama bodoh. Aku sangat membencimu sekarang, seharusnya aku menyadari itu lebih cepat." Ujar Melody menghapus air matanya. "Selamat ya, kau dan kakakku memang sama. Semua hal berjalan dengan baik dihidup kalian. Bisa melakukan apa yang kalian suka dan bersama dengan orang yang kalian cinta. Mulai sekarang aku dan Niko akan mencari kebahagiaan kami bersama."


...***...


Langkah Athos dihadang oleh beberapa wanita di salah satu cabang café miliknya yang dia kunjungi sepulang sekolah.


"Ato, kau dan Tasya sudah putus?" Tanya salah seorang dari lima orang wanita yang menghampirinya.


"Kau menyerah, Ato? Apa karena Tasya akan segera menikah? Kabar itu sudah beredar luas. Unggahanmu yang terakhir membuat semua orang mencari tahu apa yang terjadi hingga kabar itu beredar."


"Kami pikir kau tidak akan menyerah."


"Aku bisa apa?" Athos memasang wajah menyedihkan. "Aku sudah merelakannya. Biarkan dia hidup dengan tunangannya. Ini juga bukan hal yang aku mau."


Athos langsung masuk ke ruang ganti. Dia meninju loker sangat keras. Dia sangat kesal saat ini. Walau dia banyak mendapatkan dukungan dari komentar-komentar yang diunggahnya namun kenyataannya takdir yang akan berkehendak pada semua rencana yang sudah dia persiapkan dengan matang.


"Aku sudah siap walau takdir tak memihakku!!"


...***...


"Kau suka padaku 'kan?" tatap Prothos lekat, tangannya merengkuh wanita itu. "Kau bisa melakukan apapun pada wajah dan tubuhku, tapi aku tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu. Apa kau mau?"


"Kenapa? Aku ingin kita pacaran."


"Aku tidak memiliki hati lagi untuk mencintai gadis lainnya. Kalau kau setuju kita lanjutkan tapi kalau kau tidak mau, silakan kau boleh pergi."


"Baiklah, aku setuju, aku ingin bercinta denganmu."


Prothos langsung menjatuhkan wanita itu ke tempat tidur dan menciuminya sambil membuka pakaian gadis tersebut satu persatu.


"Aku mencintaimu, Widia." bisik Prothos pada wanita yang namanya pun tak dia ketahui itu.


...***...


Di rumah sakit, Anna yang baru selesai melakukan kemoterapi, masuk ke ruangan Ronald yang sudah menunggunya. Tidak seperti biasanya yang hanya berdiri, saat ini gadis itu duduk di kursi yang ada di hadapan seberang meja kursi Ronald.


"Aku sudah mengundurkan diri sebagai ketua OSIS paman. Aku akan lebih banyak istirahat sekarang. Aku berharap agar aku segera sembuh. Apa kau bisa menyembuhkan aku? Aku ingin sembuh paman. Kau sudah tahu kan mengenai rencana Ars padaku satu tahun lagi? Dia juga bilang akan menikahiku saat rambutku sudah sangat panjang. Aku ingin memanjangkan rambutku setelah pengobatan ini. Tapi sebelum itu karena efek pengobatan ini Ars pasti akan salah mengira, berjanjilah padaku apa yang dikatakan Ars padaku kau tetap tidak boleh mengatakan tentang penyakitku padanya." Anna menahan air matanya agar tidak mengalir keluar. "Aku tidak ingin dia mengetahuinya. Apa kau mengerti paman?"


"Anna, bagaimana kalau kita lakukan operasi kraniotomi?" Tanya Ronald. "Penyebarannya semakin cepat, aku takut stadiumnya semakin bertambah dan semakin sulit melakukan pengangkatannya."


"Apa efek samping dari pasca operasi yang paling buruk?"


"Memorimu akan terganggu, kau akan amnesia atau bahkan akan kehilangan ingatanmu selamanya. " Jawab Ronald. "Atau yang terburuk kau tidak akan selamat."


...***...


Anna memikirkan opsi lain dari pengobatan penyakitnya. Dia ingin segera sembuh namun efek samping dari pasca operasi membuatnya sangat takut. Apalagi jika operasi tidak berjalan dengan lancar. Dia tidak ingin meninggalkan Aramis. Dia ingin selalu bersama dengannya.


Diambilnya handphone yang ada di saku celana denim selututnya, dan segera menelepon Aramis saat dirinya berada di toilet rumah sakit.


"Kau dimana? Bukankah sudah tidak ada rapat OSIS?" Tanya Aramis. "Kau tidak sedang pergi dengan pria lain kan?"


"Ars, kau sudah mendapatkan judul lukisanmu?" Tanya Anna.


"Aku bingung. Ini tidak seperti biasanya. Biasanya saat melukis aku memberinya judul terlebih dahulu baru memulai melukis. Tapi kali ini tidak seperti itu." Jawab Aramis.


"Duka sepasang harimau." Ujar Anna. "Itu judulnya."


"Ke—kenapa terdengar sangat menyedihkan?" Tanya Aramis heran. "Cari judul lainnya, aku tidak suka."


"Itu judul yang terlintas saat aku pertama melihatnya." Jawab Anna. "Itu lukisan yang bagus tapi latar belakang lukisanmu membuat kesan yang menyedihkan. Pemandangan sungai di penghujung hari, langit senja yang terlihat muram, seekor harimau yang memunggungi harimau pasangannya dan pantulan siluet di atas sungai dari harimau yang terlihat mustahil. Itu semua terlihat seperti duka yang mendalam bagi sepasang harimau itu."


"Kau ini bicara apa?" Aramis terdengar tertawa heran dengan mendengus. "Hari minggu ini akan diumumkan pemenangnya. Hari sabtu penyerahan judulnya, jadi pikirkan judul lainnya!!" Setelah berkata demikian Aramis menutup teleponnya.


Anna membuka topi yang selalu digunakannya sekarang ketika berada di toilet di rumah sakit. Dia menatap dirinya di pantulan cermin, dan melihat rambutnya yang semakin menipis. Bahkan akhir-akhir ini dia menggunakan riasan agar wajahnya tak terlihat semakin tirus.


Dia mulai mengeluarkan air matanya menatap dirinya. Dia mengingat kembali perkataan Melody kemarin.


"Melo, perkataanmu salah. Kakakmu Ars juga akan menderita karena aku." Ucapnya dengan lirih. "Kalian berempat sangat menyedihkan."


...–NATZSIMO–...