MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
186. ANCAMAN DAN PERINGATAN



Hari ini juga Lion keluar dari rumah sakit. Setelah mendapat paksaan dari ibunya untuk tinggal di Amerika, Lion terus memikirkannya. Selama ini dia selalu menolak dan mencari alasan agar tetap berada di sini. Tapi kali ini Ibunya sangat memaksa, di tambah lagi dia ingin kakinya yang patah sembuh secara total agar dapat melakukan semua hobinya. Namun ada satu hal yang lebih membuat Lion merasa bingung, yaitu adalah Melody.


Melody adalah salah satu alasan sejak dulu baginya untuk bertahan di sini, dia tidak ingin berpisah dengan gadis yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu. Apa lagi setelah melihat sikap Melody ketika tahu dirinya akan pergi, itu semakin membuatnya bimbang.


"Masih siang kenapa melamun?" Aramis masuk ke dalam kamar Lion. "Aku dengar kau akan ke Amerika, apa benar?" Tanya Aramis sambil menghidupkan PC untuk bermain game. Kapan? Akhirnya kau tetap akan pergi."


"Seminggu lagi. Nyonya besar ingin segera membawaku ke sana. Kami berangkat hari sabtu." Jawab Lion berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. "Aku tidak ingin pergi. Apa yang harus aku lakukan?"


"Kenapa? Wanita disana pasti cantik-cantik, kau tidak akan menyesal!" Ujar Aramis menggoda Lion. "Dada dan bokong mereka besar semua."


"Bagaimana agar aku tidak pergi?"


"Kenapa tanya? Kalau tidak ingin, ya tidak usah pergi." Ujar Aramis ringan.


"Tidak semudah itu." Ucap Lion di balik selimutnya. "Aku ingin kakiku sembuh seperti dulu. Aku ingin melakukan semua yang aku suka tapi... Lion berhenti bicara. Ada hal lain yang membuatku tidak ingin pergi."


"Apa?" Tanya Aramis sambil bermain game sendiri. "Aku juga ingin kau tetap di sini."


Lion tidak menjawab dan tetap berada di balik selimut.


"Oh iya, kau bilang hari sabtu kau pergi? Hari itu juga Melo akan menandatangani kontrak. Aku dengar kalau kau yang mengirim demo record-nya ya?"


"Itu berarti dia lulus audisi?" Tanya Lion.


"Bermain sendiri membosankan!!" Seru Aramis mematikan permainannya lalu bangkit berdiri. "Apa kau akan kembali lagi?" Tatap Aramis pada Lion yang menutupi dirinya di tempat tidur.


"Aku tidak tahu." Jawab Lion.


Aramis berjalan hendak keluar kamar Lion. Saat membuka pintu dia berhenti dan kembali menatap Lion yang masih tidak membuka selimut yang membungkus dirinya.


"Lion, kau masih ingat dengan perintahku waktu itu kan? Jika kau tidak menjalankannya aku akan mencarimu walau ke ujung dunia sekalipun. Aku akan membunuhmu, kau dengar?!" Seru Aramis. "Pergi sana, tapi kembalilah untuk menjalankan perintah itu!!"


Sepeninggalan Aramis Lion tetap membiarkan dirinya dalam posisi itu. Dia memikirkan kata-kata Aramis. Perintah itu, dia ingin menjalaninya tetapi dia tidak tahu apa akan bisa. Bahkan dia tidak tahu akan sampai kapan dia pergi.


Perintah yang di maksud adalah perintah Aramis yang menyuruh Lion untuk menjaga Melody sewaktu mereka berdua hendak ke taman hiburan.


...***...


Makan malam keluarga di rumah Melody. Gadis itu tidak napsu makan dan hanya memainkan makanannya saja. Ketiga kakaknya tahu apa sebab dirinya seperti itu namun mereka hanya memperhatikan adik mereka tersebut.


"Ars, Lion sudah pulang dari rumah sakit kan?" Tanya Prothos.


"Ya tadi sore." Jawab Ars. "Hari sabtu dia akan berangkat. Disana kakinya yang patah akan di obati agar dapat kembali seperti semula."


"Berangkat ke Amerika? Kenapa cepat sekali?" Tanya Athos sambil memperhatikan Melody yang tidak bereaksi dan hanya menundukan wajahnya.


"Hari sabtu berarti di hari yang sama dengan Melo menandatangani kontrak ya?" Ucap Prothos. "Melo, berarti tidak bisa mengantar Lion pergi ya?"


Melody tetap bungkam dan tidak berkata apapun.


"Semua teman-temannya pasti akan merasa kehilangan bocah itu. Kapan dia akan kembali?" Tanya Mona.


Semua yang berada di meja makan terus memperhatikan Melody yang hanya memainkan makanannya dengan wajah yang tertunduk murung.


...***...


Setelah makan malam Melody masuk ke dalam kamarnya. Duduk di atas tempat tidur sambil menatap jendela kamarnya. Tidak lama lagi Lion akan pergi, hal itu terus mengganggu pikirannya. Dia segera turun dari tempat tidur mendekati jendela, menatap sesaat ke kamar Lion. Namun tiba-tiba Lion muncul, dengan cepat Melody menutup tirai jendela kamarnya. Dia merasa tidak ingin melihat Lion lagi karena sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Kenapa kau akan pergi disaat seperti ini?" Tanya Melody dengan air mata mengalir.


Lion yang melihat Melody menutup tirai jendela kamarnya, hanya bisa diam saja karena semua sudah tidak lagi sama seperti dulu. Dia tidak bisa berteriak pada Melody lagi agar gadis itu membuka tirainya. Lion tahu apa yang dirasakan Melody saat ini sehingga dia tidak bisa bersikap sama lagi padanya.


"Semuanya jadi buruk kembali." Ucap Lion.


...***...


Lion berdiri di depan jendela kamar, bertumpu dengan satu tongkat yang membantunya berdiri. Terhitung sejak hari minggu hingga hari ini, sudah tiga hari Melody menutup tirai jendela kamarnya. Sejak itu Lion terus menerus memperhatikan jendela kamar Melody. Sejak hari senin kemarin, dia sudah mengundurkan diri dari sekolah, sisa tiga hari lagi waktu keberangkatannya ke Amerika. Sejak Melody meninggalkan ruangan rumah sakit, dia belum berbicara dengannya. Walaupun Lion tahu bagaimana perasaan gadis itu tetapi dia tidak bisa berkata apapun pada Melody.


"Lion." Panggil Prothos tiba-tiba masuk ke kamarnya. "Aku baru saja ke tempat Hans untuk memodofikasi motor yang baruku beli. Dia bilang motormu sudah selesai diperbaiki. Besok kalau mau akan aku membawanya untukmu ke sini." Lanjut Prothos sambil berjalan masuk.


"Kau baru membeli motor?" Tanya Lion segera duduk di sisi tempat tidur.


"Ya, sudah lama aku ingin membelinya." Jawab Prothos.


"Oto, sepertinya aku tidak membutuhkan Megan lagi." Ucap Lion menatap Prothos yang berdiri di hadapannya. "Aku akan tinggal lama di Amerika, jadi kau bisa menjaganya... ah tidak, aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku akan memberikan Megan padamu." Lanjut Lion sambil membenarkan posisi kakinya yang masih terbungkus gips.


"Jangan bercanda! Megan... kau bilang dia pacarmu dan lebih berharga dari apapun?" Ujar Prothos dengan mendengus.


"Jangan bicara hal seperti itu lagi. Kau bisa memilikinya sekarang." Jawab Lion tersenyum. "Tolong jaga Megan dengan lembut."


"Kau ini! Awas ya kalau kau memintanya lagi!! seru Prothos membalas senyum Lion. "Baiklah kalau begitu."


"Sepertinya karirmu mulai meningkat pesat, Oto. Apa aku harus meminta tandatanganmu? Ya ampun kau dan Melon akan jadi sangat terkenal. Aku harus meminta tandatangan kalian sebelum pergi." Seru Lion dengan tawa kecil.


Prothos hanya mendengus dengan menyunggingkan bibir mendengar ocehan Lion tersebut. Ada hal lain yang ingin dia katakan pada pemuda itu.


"Lion." Panggil Prothos yang bersandar di pintu.


"Hhmm..." Jawab Lion mengerti apa yang hendak dikatakan Prothos padanya.


"Kau harus menikahi Melo!!" Seru Prothos menatap Lion.


"Apa? Kenapa tiba-tiba—"


"Kau sudah memberikan Megan padaku, jadi kau bisa menikah dengan Melo." Prothos menyunggingkan bibirnya lagi. "Kau masih ingat kan pembicaraan waktu itu? Pembicaraan yang sudah lumayan lama. Jadi kembalilah dan menikahi Melo, kalau tidak maka aku akan menuntutmu ke pengadilan!!" Setelah berkata seperti itu Prothos keluar dari kamar Lion.


Lion menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan membuang napas panjang.


"Kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini?"


...–NATZSIMO–...