MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
077. YANG TERAKHIR KALI



Lion berada di rumahnya saat pulang sekolah. Dia masih memikirkan bagaimana caranya dia mencari Prothos. Bahkan dirinya sudah meminta teman-temannya yang memiliki beberapa hotel untuk meminta daftar penyewa di hotel milik keluarga Niko, namun mereka pun tidak diberikan.


Aramis masuk ke kamar Lion untuk menanyakan pada sahabatnya itu mengenai keberadaan Prothos.


"Maaf Ars, aku belum bisa menemukannya." Jawab Lion duduk di kursi menatap Aramis yang baru masuk.


"Tidak mungkin kau tidak bisa menemukannya." Ucap Aramis.


Lion diam saja, dia tidak mau bilang kalau saat ini Prothos ada di salah satu hotel milik keluarga Niko. Dia tidak ingin hubungan Aramis dan Jiko menjadi tidak baik lagi.


"Apa yang direncanakan Ato?"


Lion menggeleng, dia sudah berjanji untuk tidak memberitahu pada siapapun mengenai rencana Athos.


"Aku akan mencari Oto lagi." Hanya itu yang bisa diucapkan Lion.


"Aku punya firasat buruk pada Ato. Aku sudah bilang padanya agar tidak melakukan hal yang berbahaya tapi kau tahu sendiri kan bagaimana Ato? Hanya Oto yang bisa memaksanya untuk menghentikannya."


"Kau tenang saja Ars, besok aku ada di sana. Aku akan memastikannya agar dia bisa bertahan." Jawab Lion. "Aku yakin Ato juga sudah mempersiapkan semuanya dan memprediksi apa yang akan terjadi padanya. Walaupun pada akhirnya kita hanya bisa berserah pada takdir."


...***...


Melody melambaikan tangannya dengan senyum gembira pada ayah yang sudah sangat dirindukannya, Niko berdiri di sampingnya memperhatikan gadis itu.


Sang ayah yang sudah lama pergi dan tidak bertemu putri kesayangannya itu langsung melebarkan langkahnya menghampiri Melody, lalu memeluknya. Niko langsung mengambil alih koper bawaan Leo yang ukurannya sangat besar.


"Aku sangat merindukan ayah." Ucap Melody dalam dekapan ayahnya.


"Ayah yang lebih merindukanmu, kau selalu menangis saat menelepon ayah. Membuat ayah jadi sangat khawatir." Jawab Leo sambil mengusap kepala Melody. "Kenapa kalian yang menjemputku? Di mana Ato dan Oto?"


"Kak Ato masih mengurus pembukaan cabang café besok." Ucap Melody.


"Oto?" Tanya Leo.


"Sebaiknya kita segera pulang, jalanan pasti macet." Seru Niko mengalihkan perhatian Leo karena Melody bingung harus menjawab apa mengenai kakaknya, Prothos.


Melody dan Niko serta bersama Leo berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah. Jalanan lumayan padat karena saat ini adalah akhir pekan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai.


"Ada apa dengan tanganmu, Niko?" Tanya Leo yang duduk di kursi samping Niko yang menyetir.


"Hanya terkena pisau." Jawab Niko ringan.


"Balutannya terlalu berlebihan untuk luka terkena pisau." Komen Leo dengan tawa melihat perban yang membalut tangan Niko sangat tebal. Leo tidak tahu kalau yang dimaksud adalah tertusuk pisau hingga menembus.


Niko hanya tertawa mendengar komentar dari ayah gadis yang dicintainya. Sedangkan Melody yang duduk di belakang Leo hanya memperhatikan mereka berdua.


"Jadi bagaimana, Niko?" Tanya Leo.


"Sebenarnya aku berniat membicarakannya ketika sampai. Tapi karena kau sudah bertanya aku akan mengatakan mengenai rencanaku sekarang saja." Jawab Niko.


Di kursi belakang Melody menjadi sangat tegang. Niko akan mengatakan semua rencana yang sudah dibuatnya sekarang. Mengenai pertunangan dan rencana membawa dirinya ke Rusia untuk menikah di sana. Melody mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hal yang bagus karena dirinya juga sudah menyetujui akan hal itu namun tetap saja itu tidak mudah untuknya. Dirinya menjadi sedih sekarang.


"Mungkin Melody juga sudah bilang padamu mengenai semuanya. Aku akan memperjelas sekarang padamu." Ujar Niko sambil menyetir. "Aku sangat mencintai putrimu ayah, sejak pertama melihatnya aku langsung menyukainya. Karena itu aku berencana menikah dengannya dalam waktu yang sangat dekat ini."


Niko melihat reaksi Melody melalui spion di depannya. Melody hanya melihat keluar jendela pintu mobil, namun Niko bisa melihat Melody yang mengusap air mata di pipinya.


"Kami berencana bertunangan setelah ujian kenaikan kelas. Setelah itu aku akan bawa Melody ke Rusia dan menikah disana." Lanjut Niko menoleh pada Leo karena mobil mereka terkena macet saat ini.


"Kalian masih sangat muda untuk menikah. Aku tidak yakin dengan keputusanmu." Ucap Leo saling bertatapan dengan Niko. "Aku tidak ingin putriku menderita karena keputusannya yang terburu-buru. Apa lagi kalian baru kenal, dan ini terasa agak aneh. Aku tidak mengerti kenapa putriku setuju dengan semua itu."


"Apa itu tandanya kau tidak setuju?" Tanya Niko.


"Kau tenang saja, kami tetap akan melanjutkan sekolah kami setelah menikah." Tambah Niko untuk meyakinkan ayah gadis yang dicintainya. "Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu."


Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu jam, mereka sampai di rumah. Melody langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Niko bersama ayahnya.


Niko mengambil koper milik Leo di bagasi belakang mobil, dan Leo menghampirinya untuk mengatakan sesuatu pada pemuda itu.


"Kau tidak perlu khawatir, seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak pernah melarang anak-anakku dengan keputusannya sendiri. Begitu juga dalam masalah ini." Ucap Leo. "Tapi karena semua yang kau katakan menyangkut harta yang paling berharga bagiku, aku akan memikirkannya dengan banyak pertimbangan dari semua yang mengenal putriku."


...***...


Aku merindukanmu setiap waktu bahkan ketika kau ada di hadapanku.


Aramis membuka matanya saat mendengar suara gadis itu dalam benaknya. Dia terdiam sesaat, dan mencoba sadar bahwa dirinya saat ini tertidur di kamar Anna. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air.


Ditatapnya dirinya di dalam pantulan cermin. Dia baru menyadari kalau gadis itu sudah sangat membuat kacau dirinya saat ini.


"Aku pasti tidak akan mengampunimu, Anna."


Aramis masuk ke dalam rumahnya saat pukul sembilan malam. Dia berniat mengganti pakaiannya sebelum pergi kembali ke rumah sakit menemui Anna.


Leo melihat kehadirannya ketika Aramis memasuki kamarnya. Dengan segera Leo menyusulnya karena ada hal yang ingin dia katakan pada salah satu putra kembarnya itu.


"Kau sudah makan?" Tanya Leo saat masuk, Aramis sedang membuka kaos yang dipakainya.


"Kau sudah pulang? Maaf, aku tidak bisa menjemputmu." Ujar Aramis sambil memakai kaos yang baru diambilnya dari lemari.


"Makanlah dulu sebelum kembali ke rumah sakit." Seru Leo. Dia melihat kalau anaknya itu sedang sangat kacau saat ini.


Aramis tidak menjawab, dia mengambil handphone beserta dompetnya, sudah siap untuk pergi kembali ke rumah sakit.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini karena aku pun pernah mengalaminya." Ucap Leo membuat Aramis menatapnya.


...***...


Athos berada di café hanya bersama Sandy. Café sudah tutup satu jam yang lalu. Athos sedang membaca sebuah artikel mengenai anatomi tubuh di handphone-nya.


"Besok Tasya akan menikah, kau serius akan membiarkannya begitu saja?" Tanya Sandy yang duduk di hadapan Athos. "Padahal semua persiapan mengenai produk itu sudah hampir rampung. Minggu depan aku rasa kita sudah bisa memproduksinya, hanya saja jaman sekarang untuk memasarkan semua itu harus menggunakan media yang tepat agar pasar melihat produk tersebut."


Athos diam saja dan masih sibuk membaca. Sandy merasa heran karena Athos bersikap santai saat ini padahal dia tahu bagaimana selama ini Athos memperjuangkan Tasya hingga menguras waktu dan pikirannya.


"Kau dengarkan, Ato?" Tanya Sandy. "Tasya akan menikah, semua usahamu akan sia-sia."


"Aku mendapat undangan ke pernikahannya." Jawab Athos meletakan handphone-nya dan menatap Sandy.


"Apa kau akan hadir?"


"Aku harus hadir, aku ingin melihatnya karena mungkin saja itu menjadi yang terakhir kalinya aku melihat Tasya."


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.


Kalau berkenan kasih vote dan gift yang banyak ya...


Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.


Author baru ngeluarin karya baru, yuk dibaca dan kasih komen karena karya tersebut hanya cek ombak di NovelToon dan akan dipindah ke platform lainnya.