MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
120. SETELAH KAU MENGGIGITKU



Niko masuk ke kamar dimana Melody berada. Melody yang berada sendirian di dalam kamar menjadi semakin takut. Namun ketika Niko menutup pintunya, seseorang menahannya dari luar, membuat Melody sedikit lega.


"Niko, kau mau apa di kamarku?" Tanya Karen yang muncul dari luar. "Sebaiknya kita jalan sekarang, karena nanti sore kita akan ke pantai. Ayo Mel."


Melody langsung segera berjalan melewati Niko dan menghampiri Karen yang berada di ambang pintu. Gadis itu merasa sangat bersyukur dengan kehadiran Karen. Sedangkan Niko, lagi-lagi pemuda itu merasa kesal karena tidak punya kesempatan mendekati Melody.


...***...


Sepulang sekolah, kedua Musketeers bersama ayah mereka datang ke sidang gelar perkara untuk kasus penusukan Athos yang dilakukan Dion. Dion dijerat dengan pasal penganiayaan berat dengan hukuman maksimal delapan tahun penjara.


Sidang dilakukan secara tertutup dan hanya di datangi oleh beberapa orang saja, termasuk Tasya yang diminta menjadi saksi, karena motif penusukan yang dilakukan Dion berhubungan dengan dirinya.


"Kami sudah berpisah dua minggu sebelum acara pernikahan itu. Walau sulit, kami berpisah secara baik-baik, karena itu aku memberinya undangan karena aku pikir aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali sebelum aku menikah." Ucap Tasya dengan air mata yang mengalir. "Tapi aku tidak menyangka kalau kedatangannya malah akan membuat dirinya dalam bahaya. Aku tahu kalau selama ini terdakwa sangat membencinya karena korban pernah memukulinya. Dia pasti sudah merencanakan penusukan itu."


"SIALAN KAU TASYA!!" Teriak Dion yang merasa dipojokkan dengan perkataan Tasya. "KAU IKUT-IKUTAN MENJEBAKKU!! WANITA MURAHAN!! KAU DAN SI SIALAN ITU SUDAH MERENCANAKAN INI SEMUA!!"


"TUTUP MULUTMU PECUNDANG, SIALAN!! KAU SUDAH BUAT KEMBARANKU KOMA, DAN KAU MASIH MENUDUHNYA ATAS PERBUATANMU, BRENGSEK!!" Seru Aramis yang terpancing emosi hingga beranjak berdiri hendak menghampiri Dion jika tidak Prothos dan ayahnya menahannya. "BERANI SEKALI KAU BICARA BEGITU!!


Hakim memukul palu untuk menenangkan keributan yang terjadi.


"Tolong jaga ketenangan saat sidang berlangsung, atau kau akan dikeluarkan dari ruang sidang!!" Seru hakim pada Aramis. "Jaga ucapanmu juga terdakwa kalau tidak ingin dijerat pasal lainnya."


"Kapan terakhir kali anda bertemu korban?" Tanya Jaksa pada Tasya.


"Tepat satu minggu sebelum acara, aku menemuinya di salah satu café miliknya untuk memberikan undangan tersebut. CCTV di café juga menunjukan kalau aku masuk ke ruang ganti menyusulnya, aku memberikan undangan tersebut padanya. Sayangnya di ruangan itu tidak ada CCTV."


"Lalu kapan terakhir kalinya kau saling kontak dengan korban?" Tanya Jaksa lagi.


"Setelah kami berpisah dua minggu sebelum acara pernikahan, setelah itu kami tidak berhubungan lagi, kami juga berhenti komunikasi sampai aku memberinya undangan tersebut, hanya itu saja." Jawab Tasya.


"Benar yang mulia. Dicatatan telepon di handphone korban tidak ada history telepon ataupun pesan selama dua minggu dengan saksi." Ujar Jaksa menunjukan handphone milik Athos yang menjadi bukti lain.


Pada akhirnya sidang pertama selesai dan akan dilanjutkan ke sidang berikutnya dengan jadwal yang menyusul, untuk pengumpulan bukti dan saksi yang ada.


"Sialan dia, dia masih berani berteriak seperti itu!! Kalau dia sampai bebas atau hukumannya ringan aku sendiri yang akan membunuhnya!!" Geram Aramis saat dalam perjalanan pulang.


"Tenanglah, Ars." Seru Prothos yang menyetir pada Aramis yang duduk di sampingnya. "Biarkan sidangnya berjalan, Ato juga tidak ingin pecundang itu dihukum berat. Dia hanya ingin Tasya tidak menikah dengannya."


"Apa-apaan Ato? Seharusnya dia dituntut dengan pasal pembunuhan berencana, bukan penganiayaan berat. Pisau itu sengaja dibawanya!!"


"Ars, hentikan ocehanmu!! Kepalaku sakit mendengarnya." Ucap ayah yang duduk di kursi belakang Aramis.


"Ars, kau tahu sejak kapan Ato memiliki dua handphone? Dia benar-benar mempersiapkan semuanya, bahkan handphone-nya yang ini di daftarkannya dengan data diriku." Ucap Prothos memperlihatkan handphone milik Athos yang ada padanya.


"Dia benar-benar berniat melakukan semuanya." Gumam Aramis.


"Kalian diamlah, jangan mengatakan hal apapun kalau tidak ingin masalah ini makin rumit. Oto, handphone itu adalah milikmu, bukan milik Ato, kau ingat itu!!"


"Kau tenang saja ayah, Ato sudah mencatat semuanya di handphone ini. Aku sudah mengerti. Yang jadi masalah dia harus sadar!!" Ujar Prothos.


Leo hanya menyandarkan kepalanya ke jok mobil dan menutup matanya untuk tidak memikirkan apa yang terjadi pada anak-anaknya.


"Ayah, kenapa kau tenang saja disaat putri tercintamu pergi berlibur dengan seorang pria?" Tanya Prothos yang menatap Leo dari spion. "Seharusnya kau tidak mengijinkannya sampai mereka benar menikah!!"


"Aku akan menghajarmu ayah kalau Melo sampai kenapa-kenapa!!" Ancam Aramis pada ayahnya.


"Mereka tidak pergi berdua saja." Jawab Leo masih pada posisinya. "Aku yang akan mengotori tanganku sendiri dengan darah bocah itu kalau sampai menyentuh putriku!!"


...***...


Paman Ronald sedang menyuntikan obat ke infusan Athos.


"Hari ini sidang perdananya, kau malah enak-enakan tidur di sini." Ujar Ronald menyuntikan obat dengan perlahan ke infusan Athos. "Kau memang paling pintar dari kedua kembaranmu, tapi dalam masalah percintaan kau paling bodoh Ato. Hanya orang bodoh yang melakukan hal gila seperti yang kau lakukan demi seorang gadis seperti ini. Tapi jujur saja, aku iri padamu karena kau bisa melakukan semua itu demi gadis yang kau cintai."


"Kalau saja dulu aku sepertimu, mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama Laura. Dan kembaranmu Ars tidak akan menderita karena Anna. Karena pasti aku akan mempunyai anak laki-laki bukan perempuan, dan anakku pasti jauh melebihi kalian bertiga, pintar, tampan dan kuat. Ya, dia Anna versi laki-laki."


Ronald tersenyum melihat pada Athos yang berbaring.


"Bukalah matamu!! Kau mendengar aku kan?!" Seru Ronald dengan nada kesal.


...***...


Melody duduk di pinggir pantai memperhatikan Lion yang sedang meluncur dengan papan peluncurnya di laut, mengarungi ombak besar dengan kelihaiannya dalam keseimbangan tubuhnya.


Karen yang ada di bibir laut berteriak menyemangati Lion, dia memakai pakaian renang yang menutupi seluruh tubuhnya karena baru saja dia menyerah ketika Lion mengajarinya surfing. Begitu juga dengan Melody, walau dia tidak berencana untuk masuk ke laut, gadis itu tetap memakai pakaian renang panjang khusus untuk menyelam yang menutupi seluruh tubuhnya, karena pakaian itu yang disiapkan Mona atas perintah Prothos, kakaknya.


Melody memperhatikan Lion yang terus saja mengikuti arus ombak di atas papan seluncur, walau sudah jatuh berkali-kali Lion terus mengulanginya tanpa lelah. Lion hanya memakai celana pendek sehingga matahari membakar kulitnya.


"Dia sangat senang..." Gumam Melody.


Niko yang baru saja menerima telepon berjalan mendekati Melody dan duduk di samping gadis itu di atas pasir. Saat sampai di sana, Niko langsung berbicara di telepon sangat lama karena menerima beberapa telepon.


"Di laut seharusnya kau tidak memakai pakaian renang tertutup seperti itu, itu dipakai kalau kau ingin menyelam. Padahal aku berharap kau memakai bikini." Seru Niko membuat Melody menggeser duduknya agar menjauh darinya.


Niko tertawa melihat reflek Melody padanya.


"Kau tahu, baru saja ayahmu meneleponku. Dia bilang akan membunuhku kalau aku macam-macam padamu." Ujar Niko. "Sejujurnya aku tidak takut dengan ancamannya, tapi aku hanya takut kehilanganmu."


"Kau juga sama, kenapa di pantai tapi memakai pakaian tertutup?" Seru Melody mencoba mengalihkan topik.


Niko tertawa mendengar perkataan Melody, dia tahu Melody sedang mengalihkan pembicaraan dengan membahas pakaian yang dia kenakan. Walau tidak memakai mantel, Niko masih memakai pakaian biasa serba panjang dan sudah memakai sarung tangan di tangan kirinya lagi. Bahkan saat ini Niko memakai topi.


"Kau tahu kan aku vampir?" Gurau Niko dengan tawa kecil. "Aku tidak ingin jadi abu karena terbakar matahari."


"Kalau begitu kita sama." Jawab Melody. "Aku rasa sekarang aku adalah vampir setelah kau menggigitku."


"Apa maksudmu, sayang?"


"Tidak ada vampir yang saling menggigit kan?" Jawab Melody dengan tatapan dingin pada Niko.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......