MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
174. MELODY SANG SINGA



"Twinkle twinkle little star, How I wonder what you are. Up above the world so high. Like a diamond in the sky. Twinkle twinkle little star. How I wonder what you are."


Melody membuka matanya ketika mendengar Lion bernyanyi. Lion yang masih duduk di kursi di samping ranjang yang dirinya tiduri tersenyum padanya.


"Aku membangunkanmu ya?" Ucap Lion.


"Kau bisa tidur Lion, ini sudah lewat tengah malam." Ujar Melody heran. "Kenapa kau malah bernyanyi?"


Lion menggelengkan kepalanya tidak mau menjawab. Dia tidak ingin mengatakan bahwa dirinya bingung saat ini. Namun tidak bisa dipungkiri kalau dirinya merasa senang juga.


"Aku tidak ingin tidur, aku tidak ingin malam ini berlalu dengan cepat." Jawab Lion menatap Melody.


...***...


Pagi pun tiba, Lion benar-benar tidak tidur semalam. Dirinya terus memikirkan apa yang harus dia lakukan, dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Seharusnya dirinya sudah bersiap-siap saat ini karena nanti jam delapan pagi pesawatnya ke Jepang akan berangkat. Tapi bahkan dirinya belum mempersiapkan segalanya. Sedangkan saat ini sudah pukul lima pagi.


Melody yang memintanya untuk tidak pergi kemanapun mengurungkan niatnya. Hal itu juga membuat dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Niko. Niko yang tidak ada sejak mengantar Melody ke rumah sakit menjadikan Lion berpikiran kalau dirinya sudah melanggar kesepakatan mereka.


Akan tetapi terdapat rasa marah di dalam diri Lion pada Niko karena pemuda itu membiarkan hal buruk terjadi pada calon tunangannya sendiri. Karena itu dirinya tidak menyesali telah melanggar kesepakatan mereka.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Suara Leo—ayah Melody membangunkan putrinya yang masih tertidur. Leo masuk ke dalam ruangan VIP tersebut dengan rasa khawatir.


"Ayah." Panggil Melody dengan tangisnya saat melihat ayahnya.


Lion yang bangkit berdiri dari kursinya, dan agak menyingkir untuk membiarkan Leo mendekat pada putri tercintanya yang sedang bersedih. Ditatapnya wajah Melody yang kembali berlinang air mata ketika melihat kehadiran ayahnya. Seharusnya hari ini dirinya dan gadis itu berpisah untuk selamanya.


"Leo, aku minta maaf." Ucap Lion pada ayah Melody. "Yang terjadi padanya semua adalah salahku."


"Karena itu aku akan memberikan hukuman padamu, Lion!!" Kesal Leo berbalik menoleh pada Lion yang berdiri di belakangnya.


"Ya baiklah, kau bisa menghukumku. Aku akan menerima semua hukuman darimu, apapun itu." Jawab Lion dengan menunduk. "Aku akan keluar—"


"Tidak, Lion!!" Seru Melody yang tidak ingin Lion pergi kemanapun. Dia takut kalau Lion akan jadi pergi dari negara ini. "Kau sudah bilang tidak akan pergi kalau aku minta kan?!"


"Apa aku juga tidak boleh pergi untuk sekedar sarapan?" Ujar Lion menatap pada Melody.


Pikirannya masih memenuhi benaknya saat Lion berjalan menuju kantin rumah sakit. Dia masih belum memutuskan apakah akan menelepon Niko atau pergi langsung menemuinya. Dirinya yang tidak jadi pergi ingin agar tidak ada pertunangan itu nanti malam. Namun pemuda itu tidak ingin memintanya langsung pada pemuda yang sudah dirinya anggap saudara itu.


"Kau akan menabrak sesuatu kalau berjalan menunduk seperti itu, idiot!!" Terdengar suara Liam dari dalam kantin rumah sakit.


Lion segera mengangkat kepalanya dan melihat Liam melambaikan tangannya bersama ketiga Musketeers duduk di satu meja dengan sepupunya tersebut.


Melihat mereka semua, kepala Lion terasa mendidih. Pemuda itu langsung berjalan cepat, masuk ke dalam kantin.


Ketiga Musketeers dan Liam menyambut kehadiran Lion dengan bangkit berdiri, siap menerima amarah pemuda itu.


Tanpa basa basi Lion mendaratkan pukulannya kepada mereka berempat yang hanya diam saja tidak membalas. Malah mereka semua tertawa kecil melihat apa yang dilakukan Lion hingga orang-orang di sekitar mereka memperhatikan kelima pemuda itu dengan heran.


"Kalian semua benar-benar gila!! Kalian akan membuat trauma Melon semakin parah, apa kalian tidak memikirkan hal itu?!" Geram Lion meradang. "Kenapa kalian menyetujui ide gila dari manusia laknat ini? Aku tidak habis pikir pada kalian bertiga."


Ketiga Musketeers tidak berkata apapun, mereka hanya tetap memberikan tawa kecil mereka pada perkataan Lion.


"Aku menyesal selalu berada di belakang kalian. Sekarang kalian malah mempermainkan aku." Kesal Lion mendengus.


"Tidak ada yang mempermainkanmu, Lion." Ujar Athos mengeluarkan suaranya.


"Benar, kami hanya menyadarkanmu." Tambah Prothos.


"Tapi kalian membahayakan adik kalian sendiri!!" Lion masih terlihat sangat kesal. "Kalian seharusnya... Felix itu... Melon pasti... arrgghh!!" Lion menggeram karena kata-katanya kacau karena terlalu emosi.


Lion menahan napasnya untuk meredamkan emosinya agar bisa berkata dengan teratur.


"Kalian tahu kan Felix itu bagaimana? Dia sangat membenciku setelah menghajarnya dulu. Bagaimana kalau dia benar-benar menyakiti adik kalian kemarin?"


Mendengar ucapan Lion, ketiga Musketeers hanya tersenyum. Mereka sudah tahu sesuatu sehingga yakin Felix tidak akan berani benar-benar menyakiti adik mereka. Dan mengenai trauma Melody, mereka tidak masalah bahkan mereka hanya ingin agar Lion menjadi satu-satunya pria yang tidak ditakuti Melody.


"Akan aku beritahu sesuatu padamu adikku yang manis." Ucap Liam berjalan lebih mendekati Lion. "Kau memiliki rumus pertemanan, tetapi akupun memiliki formula persaudaraan, musuh dari saudaraku adalah budakku!!" Setelah berkata seperti itu Liam tertawa terbahak-bahak.


Lion semakin tidak habis pikir pada kakak sepupunya itu yang dia rasa sifatnya seperti seorang psikopat asli, melebihi dirinya.


"Kau tahu Lion, kau tidak memiliki musuh di dunia ini selain satu orang." Ujar Liam dan mendapat tatapan sinis dari Lion. "Yaitu dirimu sendiri."


Mendengarnya Lion mendengus kesal.


"Untuk bocah sepertimu kau tidak pernah bersikap egois. Kau selalu memikirkan orang lain dari pada dirimu sendiri. Itu memang terdengar bagus, tapi ada kalanya kau pun harus memikirkan dirimu sendiri dan melakukan apapun yang kau suka. Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan sedikit egois, itu tidak masalah, semua itu untuk menghargai dirimu sendiri." Lanjut Liam.


"Lalu apa? Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Aku tidak jadi pergi tapi aku juga tetap tidak ingin menghentikan pertunangan itu. Itu tidak adil untuk Niko." Ucap Lion masih kesal.


"Karena itu aku bilang kau juga harus bersikap sedikit egois bodoh!!" Seru Liam sangat kesal. "Sudahlah, kau memang tidak pernah memikirkan keinginanmu sendiri."


"Lion, Niko akan pergi kembali ke Rusia beberapa jam lagi." Ujar Aramis.


"Apa maksudmu, Ars?" Lion terlihat terkejut.


"Sepertinya dia menyadari kalau tidak seharusnya dirinya bersikap tidak adil padamu." Jawab Prothos. "Dia menghentikan semua rencananya."


"Niko sudah membatalkan pertunangan itu dan akan kembali ke Rusia tanpa memberi tahumu dan Melo." Tambah Athos.


Lion berjalan kembali ke ruangan Melody dirawat. Kabar mengenai Niko yang membatalkan pertunangan dan berencana pergi, membuat dirinya semakin bingung. Namun dia akan memberikan semua keputusan pada Melody aaat ini.


Pemuda itu membuka pintu dan melihat Leo serta Ronald yang baru saja melepaskan infusan di tangan Melody.


"Kenapa dilepas infusannya?" Tanya Lion pada Ronald.


"Melo sudah boleh pulang." Jawab Ronald.


"Benarkah?" Lion menoleh pada Melody yang sudah duduk di atas ranjang.


Melihat gadis itu membuat Lion teringat untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan mengenai Niko.


"Melon..." Ucap Lion mengawali perkataannya dengan tatapan serius.


Leo dan Ronald sudah mengetahui mengenai kabar yang hendak dikatakan Lion pada Melody sehingga mereka berdua bergegas keluar ruangan.


Melody menatap pada Lion. Dari wajahnya gadis itu tahu jika hal serius ingin dikatakan pemuda itu padanya.


"Niko akan kembali ke Rusia pagi ini." Ucap Lion.


Melody tampak terkejut mendengar ucapan Lion.


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa follow IG author @natzsimo.author & @lion.el.911