
Jam enam pagi Prothos membuka pintu penthouse saat seseorang menekan bel. Dia baru saja menghubungi resepsionis untuk meminta kamarnya segera dibersihkan. Sepeninggalan gadis yang bermalam dengannya dia ingin melanjutkan tidurnya namun seprei yang kotor selalu membuatnya tidak nyaman.
"Dimana Mona?" Tanya Prothos saat membuka pintu. Yang datang bukanlah Mona melainkan orang lain yang juga seorang housekeeper.
"Dia sedang libur." Jawab gadis pengganti Mona dengan tatapan terpesona pada ketampanan Prothos.
"Kenapa sudah libur? Padahal baru masuk bekerja." Gumam Prothos berjalan masuk. "Bersihkan semuanya jangan sampai ada debu atau kotoran lainnya."
Setelah berkata demikian Prothos keluar penthouse menuju restoran untuk sarapan.
"Dia sangat tampan." Ucap wanita petugas kebersihan.
...***...
"Ato, sebenarnya dimana Oto?" Tanya Leo saat menghampiri Athos yang sedang di dapur membuat sarapan pagi. "Sejak kemarin dia tidak ada, dan dia tidak pulang. Kemana dia? Jangan menyembunyikan sesuatu tentangnya padaku."
"Ini masih pagi dan kau juga baru pulang, jangan marah-marah seperti itu." Seru Athos mencuci tangannya dan melepaskan apron yang dipakainya. "Aku juga masih merasa lelah saat ini ayah, jadi jangan marah-marah dulu." Athos duduk di hadapan ayahnya.
"Ya ampun, tumben sekali kau mengeluh. Kau baik-baik saja kan? Kau sedang sakit atau akan mati hari ini?"
Athos tertawa mendengar ocehan ayahnya.
"Oto sedang dalam masalah, kau jangan memarahinya ayah, dia akan semakin jauh kalau kau melakukannya. Dia itu sangat sensitif apalagi saat dalam masalah. Sudah dua minggu dia tidak masuk sekolah, dan sejak hari minggu kemarin dia tidak pulang." Ucap Athos setelah itu meminum kopi yang dibuatnya.
"Anak itu memang paling menyusahkan. Dia yang paling membuat aku khawatir dari kalian bertiga. Aku tidak tahu apa yang dia minati dalam hidupnya. Kau dan Ars sudah jelas arah tujuan hidup kalian, tapi Oto, bahkan aku tidak tahu bakatnya. Tidak ada hal yang benar-benar dia minati dalam hidupnya." Ujar Leo dengan sangat kesal. "Jika nilainya buruk aku akan membunuhnya langsung. Dia tidak akan bisa hidup hanya dengan berwajah tampan."
"Kau salah ayah. Sejak awal Oto yang paling terlihat jelas masa depannya, hanya karena egomu yang selalu ingin kami semua unggul di akademis dan bakat kami, kau tidak melihat sesuatu yang Oto punya."
"Diamlah, jangan mengajariku!" Seru Leo kesal. "Aku memberikan tanggungjawab padamu untuk mengurus kedua kembaran dan adikmu. Tapi saat ini sepertinya masalahmu sendiri membuat kau tidak bisa mengurus mereka. Tidak biasanya kau memintaku pulang seperti itu. Kau baru sadar kan betapa susahnya mengurus kalian semua dengan watak keras kepala dan susah diatur kalian?!"
Athos menjadi diam. Pemuda itu tahu yang diucapkan ayahnya benar. Dia sendiri yang meminta agar ayahnya cepat pulang karena semua yang terjadi membuat dirinya tidak mampu mengurus semuanya sendirian.
"Aku sudah dengar kalau Tasya akan menikah hari ini. Kau jangan bertindak bodoh, sebaiknya kau tidak perlu datang dan lebih baik urus saja café yang akan buka hari ini."
"Sudah sering aku bilang padamu ayah, jangan melarangku untuk semua hal yang sudah aku mulai. Aku tidak akan mendengarkan siapapun." Jawab Athos dengan tatapan tajam bercampur kekesalan pada ayahnya itu. "Hari ini bantulah aku menangani café yang akan buka, aku akan pergi ke pernikahan Tasya. Kau bilang sendiri pada kami kalau kami harus terus berusaha lakukan yang terbaik untuk hubungan kami, dan aku ingin melakukannya agar aku tidak menyesali semua yang akan terjadi nanti."
Leo menatap dalam-dalam putra tertuanya yang mengatakan semua itu dengan penuh keyakinan. Dia tahu siapapun tak akan ada yang mampu melarang anaknya itu untuk tidak melakukan semua hal yang ingin dilakukannya.
"Aku butuh dukungan darimu, ayah."
...***...
Lion terbangun dari tidur saat handphone-nya berdering. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Dengan mata tertutup dia meraba-raba mencari letak handphone yang diletakan di dekat kepalanya. Sejak semalam Lion masih berusaha mencari keberadaan Prothos hingga meletakan handphone-nya di dekat dirinya ketika tertidur.
"Lion, kami sudah berhasil meretasnya." Ujar Ivan.
"Benarkah?" Lion langsung beranjak duduk dan rasa mengantuknya hilang seketika. "Lalu apa kau melihat namanya di daftar penyewa?"
"Sayangnya tidak ada." Jawab Ivan. "Tapi aku baru dapat kabar kalau Mona bekerja di hotel tempat dulu Niko tinggal."
"Astaga, aku baru ingat. Mona bilang padaku mengenai hal itu sebelumnya." Ucap Lion. "Aku yakin sekali kalau Oto ada di penthouse Niko tinggal dulu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Jarak dari sini ke sana membutuhkan waktu paling cepat tiga jam di hari kerja, saat ini akhir pekan jalanan pasti padat dan membutuhkan waktu lama pulang pergi dari sini ke sana dan dari sana ke sini, sedangkan pernikahan itu jam satu siang ini. Tidak mungkin juga kita meminta bantuan teman-teman kita yang ada di sana tanpa bilang pada Niko lebih dulu." Ujar Ivan di ujung telepon.
"Aku akan menghubungi Mona, semoga saja dia bisa menemui Oto dan bilang padanya untuk segera menemui Ato agar melarangnya melakukan rencana nekat itu. Berikan aku nomer handphone Mona."
Lion langsung menghubungi Mona, namun Mona yang sedang libur dan tidak bekerja mematikan handphone-nya. Gadis itu berniat beristirahat saja seharian di kamar asrama karyawan hotel tempatnya bekerja.
"Arrgghh sial, handphone-nya tidak aktif." Gumam Lion.
Lion segera mengirimkan pesan pada Mona untuk segera menghubunginya setelah gadis itu membaca pesan tersebut.
...***...
Melody masuk ke kamar Athos untuk mengatakan sesuatu pada kakaknya itu namun Athos tidak berada di kamarnya. Tatapan Melody melihat sebuah kotak yang berada di atas meja belajar Athos.
"Ada apa Melo?" Tanya Athos yang tiba-tiba datang dari bawah tangga melihat Melody berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kak, aku dan Niko akan datang ke pernikahan—"
"Ya, kau datang saja. Kakak juga akan datang ke sana." Sambar Athos.
"Apa sebaiknya kakak tidak usah datang?" Tanya Melody.
Athos hanya tersenyum menanggapi perkataan adik perempuannya. Melody segera memeluk kakaknya itu dengan perasaan sedih.
"Baiklah, kakak harus ke café dulu sebentar." Ucap Athos setelah itu masuk ke dalam kamar untuk meletakan handphone-nya dan berjalan kembali keluar kamar.
"Apa aku harus pergi bersamamu dan mendampingimu saja ke pesta itu kak? Niko pasti akan mengerti." Tanya Melody.
Athos kembali tersenyum untuk menolaknya setelah itu masuk ke kamar mandi.
Melody menoleh ke dalam kamar Athos saat mendengar suara getaran dari handphone Athos. Lalu berjalan mendekati meja belajar kakaknya dan melihat nama Tasya muncul di layar handphone itu. Tasya menelepon Athos berkali-kali setelah pemuda itu tidak lagi memblokir nomernya.
"Kak Tasya, ini Melody." Jawab Melody.
"Melody, syukurlah kau angkat." Jawab Tasya. "Aku terus menerus menelepon tapi sekalipun Ato tak menjawabnya. Aku harus apa sekarang? Aku sangat mencintai kakakmu, dan tidak ingin menikah tapi kakakmu malah menghindari aku."
"Kak Ato juga akan ke pernikahanmu, kak." Jawab Melody. "Dia tidak akan membiarkanmu menikah. Sepertinya aku merasakan hal itu saat melihat senyumnya tadi."
Melody mengakhiri telepon dari Tasya. Dia melihat ke arah kotak yang ada di atas meja belajar dan segera membukanya. Di dalamnya terdapat gaun merah muda yang dibuat sendiri oleh Athos dan sepucuk surat. Dengan ragu Melody mengambil surat tersebut dan membukanya.
Melody menitihkan air matanya saat membaca satu kalimat yang ada di pesan dari kakaknya itu untuk gadis yang dicintainya.
Apakah ini akan menjadi hadiah terakhir dariku?
...–NATZSIMO–...