MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
154. PASANGAN GAY



"Mel, keluarlah, Lion dan Karen sedang berbincang mengatakan sesuatu hal yang aneh. Semua anak memperhatikan mereka." Seru Rinka pada Melody yang duduk di dalam kelas bersama Niko.


Melody menoleh pada Niko sesaat, namun setelahnya mengikuti Rinka keluar kelasn. Dia melihat Lion yang menatap kehadirannya ketika dirinya keluar kelas.


"Karena aku gay." Ucap Lion.


Semua yang mendengar menjadi terkejut dan banyak yang tidak mempercayai pengakuan Lion barusan. Begitu juga dengan Melody. Gadis itu tidak ingin mempercayainya walau jika dipikirkan itu mungkin saja benar, karena Lion selalu menghindari setiap gadis yang mencoba mendekatinya.


Niko yang baru saja datang mendengar perkataan Lion juga. Namun pemuda itu terlihat tidak bereaksi apapun karena dia tahu hal yang sebenarnya.


"Lion—"


Tiba-tiba suara bel berbunyi menghentikan perkataan Karen.


"Sebaiknya kita semua masuk ke kelas." Ucap Lion melangkah ke arah kelas dimana Melody dan Niko berdiri di depan pintu kelas.


Semua mata masih menatap pada Lion walau pemuda itu sudah bergegas masuk ke kelas. Sedangkan Karen menjadi tampak kesal karena jawaban Lion tadi. Gadis itu tidak habis pikir kalau Lion akan berbohong segitu parahnya hanya karena tidak ingin mengakui tentang perasaannya pada Melody.


"Jangan dengarkan apa katanya, dia berbohong." Seru Karen pada semua murid yang masih memperhatikannya.


...***...


Mona memperhatikan maps di handphone-nya ketika menyetir. Gadis itu merasa bingung karena sepertinya dia mengambil jalan yang salah saat mobilnya memasuki jalan yang sangat sepi. Rasa lelah karena sudah menyetir hampir lima jam membuat dirinya sudah tidak fokus.


"Turunlah, biar aku yang menyetir." Seru Prothos yang langsung turun dari kursi belakang. "Cepat turun!!" Prothos membuka pintu kursi menyetir dimana Mona berada.


Mona segera turun dan langsung berpindah ke kursi di samping sedangkan Prothos langsung mengambil alih setir.


"Kenapa wanita sangat payah membaca maps? Bahkan tidak bisa membedakan kanan dan kiri." Gumam Prothos sambil memutar balik mobilnya.


"Aku sudah lelah mungkin karena itu aku salah membaca maps-nya." Jawab Mona.


"Kenapa kita tidak naik pesawat saja?" Tanya Prothos dengan pandangan sesekali ke handphone Mona yang sedang membuka maps. Handphone tersebut diletakkan di holder di tengah-tengah. "Ini masih setengah perjalanan."


"Aku sudah mencari tiket pesawat tapi ternyata sudah habis semua. Kita pergi dengan mendadak sedangkan bisa dibilang saat ini sudah mulai libur anak sekolah yang selesai mengikuti ujian kelulusan." Ujar Mona berbohong karena sebenarnya dirinya takut naik pesawat. "Aku akan tidur satu jam, bangunkan aku nanti ya, biar aku yang menyetir lagi."


Prothos tidak menjawab dan hanya fokus pada jalanan saja. Dirinya merasa aneh pada Mona mengenai perkataannya barusan. Tidak mungkin jika semua tiket pesawat habis namun dia tidak berniat berdebat dengan gadis itu karena tahu Mona sudah lelah menyetir hampir lima jam tanpa berhenti.


...***...


Beberapa murid yang mempercayai perkataan Lion berbisik-bisik ketika Lion berjalan keluar gerbang sekolah setelah bel pulang berbunyi. Dia tidak memedulikan mereka semua, selama dia hidup pemuda itu tidak pernah mau memikirkan ucapan semua orang yang tidak mengenalnya dengan baik. Baginya kebenaran yang ada jauh lebih penting dari pada kebohongan yang dibuatnya sendiri.


"El." Panggil seseorang berambut pirang yang berada di dalam mobil, orang itu datang menjemput Lion setelah menghubungi Lion beberapa menit lalu sebelum jam pulang sekolah.


Dengan segera Lion masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya, tidak memedulikan beberapa orang yang berbisik mengenai orang tersebut yang menyangka kalau pemuda yang menjemputnya itu adalah pasangan gay-nya.


"Apa yang mereka bisikan?" Pemuda yang menjemput Lion melihat aneh pada beberapa murid yang menatap pada mereka berdua dengan berbisik.


"Jalankan saja mobilnya, Liam." Seru Lion.


Pemuda yang dipanggil Liam oleh Lion itu menjalankan mobilnya dengan menghidupkan musik yang sangat keras. Pemuda yang berambut pirang dan memakai tiga anting di telinga kirinya itu bernyanyi dengan suara keras mengikuti lagu sambil menggerakkan badannya mengikuti irama.


Lion hanya diam saja dengan malas melihat tingkah pemuda disampingnya. Dia jadi mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang selama ini melihat tingkahnya yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemuda itu.


Ya, Liam atau William adalah kakak sepupu Lion yang tinggal di Amerika. Pagi ini dia baru datang dari Amerika. Sifatnya tidak beda jauh dengan Lion malah bisa dibilang kegilaannya lebih parah dari Lion, semua itu karena sejak lahir dia tinggal di Amerika. Usianya 20 tahun dan merupakan seorang mahasiswa Psikologi.


"Apa sekarang kau lagi mengalami pubertas makanya kau jadi pendiam, El?" Liam mencondongkan badannya ke arah Lion yang duduk meringkuk di kursinya. "Come on, boy. Take it easy!!" Liam menyenggol Lion dengan lengannya.


Lion tetap diam dan tidak mau menggubrisnya. Dia sedang malas, malah sejujurnya dia tidak ingin Liam datang ke negara ini. Ibunya pasti yang menyuruh Liam datang setelah waktu itu Lion bilang akan pergi jauh.


Tiba-tiba Liam membuka kaca jendela di pintu dimana Lion duduk. Pemuda itu mencondongkan badannya keluar jendela dan bersiul pada dua orang wanita yang sedang menaiki motor dan berhenti di samping mobilnya.


"Hello, ladies. You are so beautiful." Ucap Liam.


Melihatnya Lion mendorong Liam dan menutup kaca jendela secepatnya. Dia tidak habis pikir karena kakak sepupunya itu menggoda wanita seperti itu.


"Jangan seperti itu saat disini. Ini bukan Amerika." Seru Lion dengan tatapan kesal. "Jalankan mobilnya!!"


Liam tertawa mendengar kemarahan Lion dan langsung menjalankan kembali mobilnya karena lampu lalu lintas sudah kembali hijau.


"Kau membuat aku malu." Gumam Lion. Hanya bersama dengan Liam, Lion bisa menjadi malu karena biasanya dirinya yang membuat malu orang yang berjalan bersama dengannya. "Kenapa kau datang ke sini? Seharusnya kau tidak menuruti perkataan nenek sihir itu."


"Bukan nenek sihir yang memintaku ke sini, tapi si raja iblis. Karena itu tidak mungkin aku menolaknya." Jawab Liam. "Kau ingin pergi kemana? Katakan padaku!! Aku akan menemanimu."


"Kembalilah ke Amerika, aku tidak butuh ditemani." Jawab Lion melihat keluar jendela mobil.


"Pasti karena seorang gadis kan?" Liam mencondongkan badannya melihat pada Lion padahal saat ini mobil sedang melaju membuat beberapa mobil membunyikan klakson karena mobilnya menjadi bergerak mengarah ke kiri jalan.


"Apa yang kau lakukan?" Ujar Lion dengan kesal menatap Liam yang terkekeh dan kembali mengendalikan kemudi. "Dasar bodoh!!"


"Gadis yang membuatmu tidak pernah mau pindah ke Amerika, kan? Siapa namanya?" Liam tampak berpikir dengan menyipitkan matanya dan berdesis. "Mel—Melanie?"


"Jangan memancingku untuk menyebutkan namanya. Aku tahu kau ingat siapa namanya." Sahut Lion datar.


"Jadi benar karena gadis itu?" Tanya Liam dengan sebuah senyuman. "Kasihan sekali adikku tercinta ini. Apa Niko membuatmu takut? Apa aku yang harus menghajarnya untukmu?"


"Siapa mata-matamu?" Tanya Lion karena Liam mengetahui semua yang terjadi pada dirinya padahal sepupunya itu tinggal jauh di Amerika.


"Secret." Liam tersenyum lebar. "Ayolah El, aku akan lebih senang jika kau dan Niko bunuh-bunuhan untuk mendapatkan gadis itu."


"Jangan memanas-manasiku. Aku tidak akan terpancing dengan semua perkataanmu." Jawab Lion dingin. "Sepertinya aku tahu siapa mata-matamu."


"Itu tidak penting. Yang penting kau bisa bersama dengan gadis itu, kan? Melody."


"Musketeers. Mereka yang memberitahumu, kan?" Tatap Lion.


...–NATZSIMO–...


Yuk kenalan dengan kakak sepupu Lion. Salah satu karakter penting yang akan mengakhiri jilid kedua ini.


William Fleecysmith. Untuk Visualnya ada di IG ya


@natzsimo.author