MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
177. KEPANIKAN MUSKETEERS



Hari minggu pagi, Melody membuka mata. Segera dirinya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum turun untuk sarapan. Waktu sudah lewat pukul tujuh pagi, namun tidak biasanya jika dirinya terlambat bangun, Mona tidak membangunkannya.


Setelah itu dirinya berjalan keluar dari kamarnya, hendak ke meja makan. Keadaan rumah sangat sepi, biasanya ketiga kakaknya berada di meja makan sedang bercengkrama setelah mereka selesai sarapan tapi saat ini tidak ada suara siapapun yang terdengar.


Ketika dirinya menuruni tangga, aroma lezat yang sejak Melody keluar kamar tercium lebih kuat. Dia tersentak kaget saat melihat seseorang berpakaian serba putih berdiri di meja dapur memunggungi kehadirannya.


Lion berada di depan kompor sedang memasak sesuatu dengan apron terpasang di tubuhnya. Melihatnya, Melody tidak mengerti kenapa pemuda itu berada di rumahnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Melody.


Lion menoleh pada Melody. "Kau sudah bangun?" Ujar Lion. "Aku sedang memasak."


"Kenapa kau memasak?" Tanya Melody lagi heran.


"Untuk membuat makan siang. Kau baru bangun jadi belum sarapan kan? Sarapan saja dulu. Aku harus segera menyelesaikan ini." Jawab Lion fokusnya terbagi antara masakan dan Melody.


"Kemana yang lainnya? Kenapa bukan Mona yang memasak? Kenapa kau—"


"Mereka semua pergi, dan aku diminta untuk membuatkan makan siang. Kebetulan seminggu lalu aku ikut kursus memasak." Ujar Lion masih sibuk.


"Maksudku kenapa kau mau disuruh memasak? Siapa yang menyuruhmu?" Suara Melody terdengar kesal karena Lion menjawabnya dengan bertele-tele.


"Ayah yang menyuruhnya." Seru Leo yang tiba-tiba datang setelah keluar dari kamarnya. "Itu hukuman untuknya. Berhubung Mona akan sibuk sekarang, jadi kita manfaatkan saja orang yang menganggur. Kalian akan libur selama hampir sebulan kan?"


Melody hanya duduk di kursi meja makan untuk memakan roti panggang yang sudah disediakan. Sedangkan ayahnya duduk di sofa menonton televisi. Gadis itu cukup lega karena ternyata ayahnya berada di rumah juga dan tidak hanya dirinya saja bersama Lion.


"Melon, ini aku buatkan telur gulung kesukaanmu." Seru Lion sambil membawa sebuah piring berisi telur gulung buatannya.


Melody melihatnya dengan sedikit canggung. Setelah kemarin mereka berdua bersikap jauh sekarang Lion kembali lagi menjadi dirinya dulu yang bersikap santai pada gadis itu. Untuk Melody itu membuat dirinya menjadi sedikit bingung harus bersikap seperti apa pada Lion karena perasaan cintanya pada pemuda itu.


"Kenapa? Cepat makan." Seru Lion yang masih berdiri di samping Melody seperti menunggu gadis itu memakan apa yang dibuatnya.


Melody segera memakan telur gulung buatan Lion.


"Bagaimana?" Tanya Lion penasaran.


"Tidak seenak buatan kak Ato ataupun Mona." Jawab Melody yang baru memakan sesuap telur gulung. "Tidak enak!"


"Ternyata begitu. Ya sudah." Seru Lion yang langsung mengambil sisa telur gulung yang masih banyak itu dan langsung melahapnya semua.


"Kenapa kau makan?!" Tanya Melody menengadah melihat Lion dengan kesal karena pemuda itu memakan semua sisa telur gulungnya.


"Kau bilang tidak enak, makanya aku makan saja." Jawab Lion setelah menelan semua yang ada di mulutnya.


"Aku bilang tidak enak, bukan berarti aku tidak mau. Bodoh!" Kesal Melody hingga tanpa sadar memukul Lion sedangkan pemuda yang berdiri di sampingnya itu tertawa.


Tiba-tiba handphone Lion berbunyi, pemuda itu langsung merogoh saku celana putihnya untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


Melody menekuk wajahnya karena tahu pasti salah satu teman Lion yang menelepon dan setelah ini pasti pemuda itu akan pergi menemui temannya itu.


Setelah menerima telepon, Lion melepas apron di tubuhnya dan mencuci tangan. Melody merasa sepertinya benar kalau dia akan pergi setelah ini. Sejujurnya gadis itu tidak ingin Lion pergi dan masih ingin bersama dengannya namun dia tidak mungkin memintanya untuk tidak pergi.


"Leo, aku sudah membuat sayur capcay dan menggoreng ayam, bahkan aku juga sudah membuat sambalnya." Seru Lion yang berjalan mendekati ayah Melody yang sedang duduk menonton televisi. "Aku harus pergi sekarang."


Melody membuang napasnya karena menahan rasa kesalnya setelah mendengar perkataan Lion yang akan pergi. Gadis itu berharap kalau ayahnya menahan Lion dan tidak memberikannya ijin.


"Ya sudah, sana." Jawab Leo tanpa menoleh pada Lion yang berdiri di belakang sofa yang dia duduki.


Mendengar jawaban ayahnya, Melody membuang napasnya lagi.


Karena merasa malas, Melody memilih beranjak dari duduknya dan hendak kembali ke kamar. Gadis itu menaiki tangga segera.


"Melon." Panggil Lion bangkit berdiri setelah berbicara dengan Leo. "Kau mau tidur lagi? Kau akan gemuk kalau habis makan langsung tidur."


Melody tidak berkata apapun. Gadis itu hanya berhenti menaiki tangga dan berdiri mendengarkan ocehan Lion yang memanggilnya.


"Karena besok kita libur, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang?" Tanya Lion dengan wajah yang terlihat senang. "Kau tidak harus terus berada di rumah saat liburan kan? Itu sangat membosankan. Ikut denganku berjalan-jalan, bagaimana?"


Dalam hati Melody merasa sangat senang namun gadis itu tidak ingin menunjukkannya pada Lion. Dia kembali menaiki tangga.


"Aku akan bersiap-siap dulu." Ujar Melody sambil masuk ke kamarnya.


"Lebih baik pakai mobil, Lion." Seru Leo yang masih menatap layar kaca yang sedang memutar sebuah berita.


"Ya baiklah." Jawab Lion sambil mengambil kunci mobil di tempatnya. "Kau tenang saja, kami akan pulang hari ini juga. Kami tidak akan menginap."


"Ya terserah saja. Menginap juga tidak masalah. Aku yakin kau pun tidak akan macam-macam." Ucap Leo.


"Justru aku yang takut sebaliknya." Seru Lion dengan tawa kecil sambil berjalan keluar rumah.


Lion menunggu Melody di dalam mobil milik ayah gadis itu. Dalam hati kecilnya dirinya pun merasa senang saat ini. Setelah beberapa bulan terakhir hubungannya dengan Melody tidak baik karena kehadiran Niko, sehingga dirinya berencana menebusnya. Dia tahu bagaimana Melody menyukainya dan begitu juga sebaliknya.


"Kenapa dia lama sekali?" Gumam Lion yang merasa tidak sabar. "Sepertinya dia sangat senang sampai selama ini."


Tidak berapa lama Melody muncul dengan membawa tas yang ukurannya cukup besar. Lion langsung keluar mobil untuk mengambil tas itu dengan tatapan heran.


"Kenapa kau membawa tas sebesar ini? Apa saja yang kau bawa?" Tanya Lion.


"Bukankah kita akan menginap?" Melody balik bertanya. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya karena dirinya menjadi malu setelah menyadari kalau dia salah dengan berpikiran kalau mereka akan pergi berlibur sampai besok atau selama beberapa hari. "Kau bilang kita akan bersenang-senang." Gumam Melody sambil masuk ke dalam mobil dengan menahan rasa malu bercampur kesal pada dirinya sendiri karena tidak menanyakannya terlebih dahulu pada Lion tadi.


Lion hanya menyembunyikan tawa kecilnya sambil memasukan tas Melody ke bagasi mobil.


Ketiga Musketeers pulang setelah mereka pergi ke gymnasium. Mobil mereka sampai bersamaan dengan mobil Lion dan Melody yang pergi meninggalkan rumah ke arah sebaliknya.


"Bukankah itu Lion dan Melo? Mau kemana mereka?" Tanya Athos yang duduk di kursi belakang.


Aramis langsung berlari turun menemui ayah mereka yang masih asyik menonton televisi. Kedua kembarannya berada di belakangnya.


"Ayah, Melo dan Lion mau kemana?" Tanya Aramis heran.


"Liburan." Jawab Leo dengan santai.


"Liburan?" Kali ini Prothos tampak heran. "Kemana?"


"Kemana ya tadi? Aku lupa Lion bilang mau kemana." Jawab Leo berpura-pura lupa. Dia hanya tidak ingin memberitahu ketiga anak laki-lakinya karena tahu mereka pasti akan mengikuti kemana adik perempuan mereka pergi.


"Kenapa kau mengijinkannya? Seharusnya kau melarang bocah itu pergi dengan Melo!!" Seru Athos sangat kesal.


"Bagaimana kalau dia macam-macam pada Melo?" Tanya Prothos.


"Aku pasti akan langsung membunuhnya." Geram Aramis.


"Hanya kau ayah yang mengijinkan anak perempuannya pergi dengan seorang pria." Kesal Arhos.


"Sebaiknya berharap saja agar adik kalian yang tidak melakukannya lebih dulu." Jawab Leo sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


...–NATZSIMO–...