
Hari sabtu, hari audisi Melody pun tiba. Dengan ditemani oleh ayah dan ketiga kakaknya, Melody berangkat ke tempat audisi yang diadakan oleh Pentatonix Management. Terdapat lima kandidat lainnya. Kelima kandidat tersebut tampil lebih dulu sebelum Melody. Tiap kandidat harus menyanyikan tiga lagu populer dan dua lagu ciptaan sendiri menggunakan alat musik yang sudah disediakan.
Tibalah Melody tampil. Dia memilih untuk menggunakan Gita—gitar miliknya yang diberikan ibunya yang sudah meninggal. Lima juri yang salah satunya adalah Danny Arya tidak memberikan tepuk tangan pada Melody setelah dia berhasil menyanyikan lima lagu. Hal itu membuat Melody bingung dan sedikit putus asa. Ayah dan ketiga kakaknya menjadi cemas.
"Melody, nama yang bagus untuk seorang penyanyi." Ucap salah satu juri pria yang merupakan penyanyi terkenal. "Kenapa kau tidak memakai alat musik yang di sediakan dan memilih memakai gitarmu? Sedangkan jika di dengar suara gitar itu sudah mengalami banyak penurunan, kemungkinan karena usia gitar tersebit sudah terlalu lama." Tanyanya.
"Ini adalah gitar milik ibuku dulu. Walau sudah tua aku rasa suaranya masih bagus." Jawab Melody dengan gugup. "Di peraturan tidak ada yang menyebutkan harus menggunakan alat musik yang ada, jadi aku rasa aku bisa memakainya."
"Ibumu? Kau mirip seorang penyanyi dulu tapi penyanyi itu menghilang ketika sedang bersinar. Apa nama ibumu Lidya?" Tanya juri yang satu-satunya adalah seorang wanita. Dia adalah penyanyi lawas yang juga seorang diva.
"Benar, nama ibu adalah Lidya." Jawab Melody. "Gitar ini adalah peninggalannya."
"Alat musik apa saja yang kau kuasai selain gitar?" Tanya juri yang adalah seorang musisi dari band terkenal.
"Piano, Biola, dan bass, aku juga pernah belajar drum, tapi karena ayah tidak suka melihatku memukul jadi dia melarangnya." Jawab Melody membuat semua juri tertawa. "Tapi yang paling aku suka adalah gitar."
"Melody, saya suka dengan kedua lagu ciptaanmu." Ujar juri yang adalah pencipta lagu terkenal yang sudah mencetak lagu-lagu hits. "Sudah berapa lagu yang kau ciptakan?"
"Delapan belas lagu, dan ada satu lagu yang masih mentah karena aku belum mendapatkan lirik yang tepat." Ucap Melody.
"Kalau begitu bisa senandungkan satu lagu yang masih mentah itu, dengan humming??" Pinta juri pencipta lagu. "Jangan lupa mainkan gitarmu juga."
Melody mulai memetik gitarnya dan bersenandung memenuhi permintaan salah satu juri. Setelah dia mengakhiri lagunya, seluruh juri memberikan standing applause dengan sangat meriah. Melihatnya Melody meneteskan air mata merasa terharu.
Tibalah pengumuman yang lulus audisi dan yang akan mendapatkan kontrak dengan Pentatonix Management. Melody benar-benar gugup dan jantungnya berdetak cepat. Dia menahan napasnya hingga Danny Arya menyebut namanya sebagai kandidat yang lulus. Melody terharu hingga menangis, begitu pula dengan seluruh keluarganya.
Hari sudah sangat malam ketika Melody bersama keluarganya kembali pulang. Dengan perasaan senang mereka meninggalkan tempat audisi. Melody sangat merasa bahagia karena akhirnya dia mendapatkan kontrak dengan Pentatonix Management, dengan begitu mimpinya selangkah lagi menjadi kenyataan. Itu semua berkata Lion, kalau Lion tidak mengirim demo record maka semua ini tidak akan terjadi.
Di dalam mobil Melody memeriksa handphone-nya dan mendapatkan puluhan pesan dari Lion. Semua pesannya berisi pertanyaan tentang hasil audisi. Melody tidak membalas dan menutup pesan tersebut.
"Melo, kau tidak memberitahu Lion?" Tanya Prothos yang duduk di kursi depan samping Aramis yang menyetir. Prothos menoleh pada Melody. "Lion mengirim pesan pada kakak, menanyakan hasilnya. Pasti dia juga mengirimkan pesan pada kalian kan?"
"Besok aku akan memberitahunya." Jawab Melody sambil memeluk ayah yang duduk disamping kirinya.
"Jangan di jawab! Biarkan Melo yang memberitahu Lion!!" Seru Athos yang duduk di samping kanan Melody. "Semua ini berkat bocah itu."
...***...
Langkah ringan Melody terhenti di depan pintu ruangan Lion saat mendengar suara seorang wanita di dalam ruangan tersebut. Melody tahu kalau suara itu adalah suara ibunya Lion, tante Stella. Dia mengurungkan niatnya masuk karena mendengar percakapan mereka. Stella sedang berteriak pada Lion saat ini.
"Tidak ada tawar menawar lagi! Empat tahun yang lalu kau bilang setelah lulus SMP tapi mommy sudah membiarkanmu tetap disini sampai sekarang. Setelah yang terjadi padamu ini, ibu tidak akan mengalah lagi!!" Seru Stella—ibu Lion dengan nada kesal. "Kau harus ikut ke Amerika! Ayahmu juga ingin hidup bersamamu!!"
"Memangnya mommy kurang apa lagi? Kau adalah anak mom, tapi selama ini tidak pernah tinggal bersama mom! Jadi mommy mohon padamu agar mendengarkan kata-kata mom! Ikutlah ke Amerika dan tinggal bersama-sama Dad and mom!"
Melody gemetar mendengar percakapan itu. Jantungnya serasa ingin lari keluar meninggalkan tubuhnya, kelu dan terasa memanas di punggungnya. Pandangannya menjadi kabur karena manahan air mata yang meronta keluar. Bagaimana kalau Lion akan pergi ke Amerika dan tinggal disana? Itu berarti dia tidak akan bertemu lagi dengan pemuda yang dicintainya tersebut.
"Melo, ada apa?" Tanya Athos yang baru datang setelah memarkirkan mobil. "Kenapa tidak masuk?"
Melody terdiam dan tidak tahu harus bicara apa. Dia menundukan kepalanya dan menghapus air mata yang ada di pelupuk matanya.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
"Kalian datang menjenguk El?" Ayo masuk." Seru Stella tersenyum.
Athos menunggu Melody berjalan masuk namun Melody tetap diam karena itu dia berjalan lebih dulu. Namun tiba-tiba Athos merasa kalau Melody berjalan di belakangnya dengan memegang kaosnya. Dia tahu kalau itu adalah kebiasaan Melody saat merasa takut.
"Melon, kenapa tidak menjawab pesanku? Aku mengirimimu banyak pesan sejak kemarin. Kau keterlaluan sekali. Padahal aku sangat penasaran dengan hasilnya." Seru Lion. "Bagaimana audisinya? Apa tidak berhasil? Kalau dilihat dari ekspresimu, pasti begitu ya?"
"Kau tidak ingin memberitahunya?" Tatap Athos pada Melody yang tertunduk disampingnya. Melody masih memegang kaosnya.
"Kau Melody yang tinggal di samping rumah kami?" Tanya Stella. "Kau sudah besar juga ya, tentu saja kau dan El seusia. Kau jadi gadis cantik sekarang, pantas saja El sering bercerita tentangmu."
Melody mengangkat kepalanya dengan mata yang memerah, dia menatap pada Lion. "Apa kau akan pergi?" Tanya Melody dengan suara gemetar.
Lion tidak menjawab karena hal itu benar.
"Apa kau akan ke Amerika?" Tanya Melody lagi.
"Benar." Jawab Stella. "Lion akan tinggal di Amerika. Kakinya akan diobati disana agar dapat sembuh total seperti dulu—"
"Mom!!"
"Sebenarnya sudah lama tante memintanya untuk tinggal bersama tante dan ayahnya di Amerika tapi karena dia tidak bisa meninggalkan neneknya makanya dia terus berada disini." Lanjut Stella tidak menghiraukan Lion. "Tapi karena kakinya sudah seperti itu, maka tante akan menyeretnya."
"Will you shut up, mom?" Seru Lion dengan kesal dan sedikit kasar.
Leher Melody tercekat sehingga tidak bisa mengeluarkan suara. Dia dapat merasakan air matanya sudah tidak mampu dibendung lagi. Tanpa sepatah katapun Melody langsung berlari keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan air mata yang mulai berlinang.
...–NATZSIMO–...