
Aramis dan Anna berada di ruangan Anna dirawat. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam saat ini. Anna bisa melihat kesedihan Aramis dari wajahnya.
"Kau baik-baik saja, Ars?" Tanya Anna yang berbaring di ranjang rumah sakit. "Kemarilah." Anna bangkit duduk.
Aramis yang semula duduk di kursi mendekati Anna. Anna langsung memeluknya. Gadis itu tahu bagaimana kesedihan Aramis saat ini, setelah apa yang terjadi pada dirinya sekarang kembaran pemuda itu masih dalam masa kritis.
"Bagaimana kalau Ato tidak bisa bertahan, Anna?" Tanya Aramis dengan suara gemetar dalam pelukan Anna. "Kenapa ini terjadi pada kami? Padahal kau baru saja tersadar, sekarang malah Ato yang mengalaminya. Aku harus bagaimana agar dia selamat, Anna?"
"Percaya saja dia akan selamat." Ujar Anna mengusap punggung pemuda yang dicintainya. "Ars, dalam minggu ini aku akan melakukan operasi."
Aramis melepas pelukannya dan menatap Anna, dirinya terkejut mendengar ucapan gadis itu.
"Kenapa minggu ini? Minggu depan aku akan ujian kelulusan. Bagaimana ini?"
"Paman Ron bilang kalau harus segera dioperasi karena ini semakin menyebar, takutnya akan menyebar ke organ lainnya." Jawab Anna. "Aku akan pergi sendiri, Ars. Kau harus disini untuk menemani Ato, dia lebih membutuhkan dirimu. Kau adalah kembarannya, dukunganmu sangat dibutuhkan olehnya."
Aramis terlihat sangat kacau, dia terlihat menahan air matanya karena kebingungan melanda dirinya saat ini. Di satu sisi dia sangat ingin pergi bersama Anna untuk selalu ada di sisi gadis yang sangat dicintainya itu namun di sisi lain kembarannya masih terbaring koma dalam masa kritis, apalagi minggu depan dia juga harus mengikuti ujian kelulusan.
"Kau tidak perlu bingung. Aku akan baik-baik saja. Ato lebih membutuhkanmu..."
"Tidak, aku akan bersamamu. Aku akan pergi menemanimu. Hanya aku yang kau punya saat ini." Jawab Aramis menahan air matanya agar tidak keluar.
Anna memegang wajah Aramis dengan lekat.
"Dengar Ars, kau harus ikut ujian dan lulus dengan nilai yang bagus. Kau juga harus kuliah di jurusan kesenian. Aku ingin kau mendengarkan kata-kataku."
"Tidak, Anna. Aku akan ikut bersamamu. Aku tidak ingin kita berpisah lagi." Akhirnya Aramis mulai mengeluarkan air matanya. "Saat melihatmu terbaring saja rasanya aku tidak kuat apalagi jika harus berpisah denganmu."
"Kau meremehkan aku, Ars." Ujar Anna menghapus air mata Aramis yang membasahi pipinya. "Aku akan memperlihatkan padamu betapa kuatnya aku dibanding kalian bertiga. Aku akan sembuh dan menemuimu lagi. Aku akan datang padamu dan mengerjaimu lebih parah lagi. Saat itu aku akan mengerjaimu habis-habisan hingga kau tidak akan bisa menahan rasa kesalmu dan menangis sampai matamu seperti mata udang seperti dulu."
...***...
Tasya yang berada di kamarnya membuka kotak hadiah yang dibawa Athos saat penusukan itu terjadi. Sebuah gaun berwarna merah muda warna kesukaan dirinya ada di dalam kotak tersebut. Tasya mengambil surat yang ditulis tangan oleh Athos yang ada di dalam kotak tersebut.
Apakah ini akan menjadi hadiah terakhir dariku?
Tasya menangis membaca pesan yang tertulis tersebut. Dia sangat bersedih dengan apa yang terjadi pada pemuda yang sangat dicintainya itu. Keadaan Athos yang kritis membuatnya terus menangis tanpa bisa menghentikan air matanya.
"Ato, kenapa kau harus mengalami ini semua?" Tangis Tasya memeluk gaun pemberian Athos.
...***...
"Kau baik-baik saja?" Tanya Prothos pada Melody yang masih berbaring di ranjang setelah pingsan. "Kau belum makan, Melo. Kakak ambilkan makanan ya?" Tanya Prothos.
Melody menggeleng, gadis itu kembali mengeluarkan air matanya. Prothos hanya bisa memeluk adiknya itu.
"Kakak juga sama sedihnya denganmu, tapi Ato pasti ingin agar kita tidak terus menangisinya, itu sama saja kalau kita tidak yakin dengan perjuangannya." Ucap Prothos. "Jangan menangis lagi." Prothos menghapus air mata Melody.
Niko masuk ke ruangan Melody. Itu membuat Melody terkejut karena dia berpikir kalau Niko sudah pulang karena ini sudah lewat beberapa jam dari dirinya tak sadarkan diri.
"Kakak akan ambilkanmu makanan." Ujar Prothos setelah itu berjalan keluar meninggalkan Melody bersama Niko.
"Apa kau keberatan aku ada disini?" Tanya Niko duduk di kursi tadi Prothos duduk. "Aku tidak bisa menghiburmu dengan kata-kata yang bagus tapi aku hanya tidak ingin kau bersedih terus."
Melody mengangkat kepalanya dan menatap Niko. Melody teringat mengenai perkataan Niko kalau tangan kiri Niko yang tertusuk pisau terasa sakit kembali.
"Bagaimana tanganmu? Maaf, aku jadi melupakan mengenai itu. Kau harus memeriksanya segera."
"Tidak, perlu. Ini tidak penting dibanding rasa sedihmu. Aku akan di sini menemanimu." Jawab Niko dengan tatapan lekat pada Melody. "Apa kau keberatan?"
"Pulanglah Niko, kau harus istirahat. Kak Oto akan menjagaku disini. Aku tidak ingin merepotkanmu." Ujar Melody.
Niko terdiam dengan rasa kecewa dengan ucapan Melody. Dia sangat ingin Melody berkata agar dirinya menemaninya di saat seperti ini, bahkan perkataan Melody yang menyebutkan tidak ingin merepotkannya membuat dirinya merasa kalau bukanlah dia yang dibutuhkan oleh gadis itu dalam kondisi seperti ini.
"Baiklah, ada kakakmu disini, aku tidak perlu khawatir. Besok aku akan datang ke sini lagi menemuimu."
Niko segera bangkit berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Melody sendirian.
Melody berbaring dengan rasa sedihnya mengingat kakaknya yang masih terbaring dalam masa kritis saat ini. Dia tidak bisa menahan rasa sedihnya, bagaimana dirinya bisa tidak sedih dengan semua yang terjadi? Bahkan dia melihat kejadian di saat kakaknya itu ditusuk. Itu sangat membuatnya ketakutan.
"Kau baik-baik saja, Melon?"
Melody menoleh pada kehadiran Lion yang membuka pintu ruangan, dan berjalan masuk. Melody segera bangun dari posisi berbaring dan duduk, namun gadis itu menjadi menangis dengan terisak tidak bisa menahan rasa sedihnya saat ini.
"Jangan menangis terus, kakakmu akan sembuh, kau harus yakin padanya. Dia itu orang yang sangat mengerikan, dia tidak akan kalah dari ini semua." Seru Lion yang masih berdiri.
Namun Melody masih terus menangis dan tidak mampu menahan rasa sedihnya. Lion segera mendekati Melody dan memegang Melody agar bersandar ke dadanya, memeluknya.
"Kau sangat cengeng, dan merepotkan." Gumam Lion mengusap kepala Melody. "Baiklah, kau boleh menangis, siapapun tidak akan bisa menahan rasa sedihnya. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah apa yang akan terjadi pada kakakmu."
Melody masih terisak dalam dada Lion, bahkan gadis itu mencengkram punggung kaos Lion untuk menahan rasa sedihnya.
Namun siapa sangka kalau ternyata Niko berada di balik pintu yang tidak tertutup rapat. Pemuda itu melihat bagaimana Lion menghibur Melody, gadis yang akan dinikahinya dan bagaimana Melody dengan mudah meluapkan rasa sedihnya pada Lion. Hal tersebut yang tidak bisa dia lakukan maupun dia dapatkan dari Melody. Itu membuatnya menjadi bersedih dan gusar mengenai posisi dirinya untuk gadis itu.
Niko membalikan badan untuk pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin melihatnya lebih lama karena dia takut akan menjadi membenci Lion, yang sudah sangat dianggapnya seperti saudara. Namun dia terkejut ketika melihat Prothos berdiri tidak jauh di belakangnya.
Tak ada yang ingin dikatakan Niko saat ini sehingga dia lebih memilih melangkah pergi melewati Prothos yang tahu apa yang terjadi.
"Mereka sudah sejak lama bersama jadi mereka sudah terbiasa mengerti satu dengan yang lainnya." Ucap Prothos pada Niko.
Niko menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Prothos. Sejenak dia menatap Prothos dengan tatapan yang berubah menjadi tajam lalu berjalan mendekatinya.
"Kau bicara apa? Aku tidak masalah dengan apapun. Kami tetap akan menikah, tidak akan ada yang bisa menghentikan aku menikahi adikmu." Ujar Niko dengan senyum skeptis. "Tidak akan ada yang bisa, baik itu kau, ataupun orang lain yang menghalangiku!!"
Setelah berkata demikian Niko berjalan pergi. Prothos melihat perubahan ekspresi yang signifikan dari Niko, itu membuat dirinya mulai mengerti mengenai pemuda yang terkenal karena tak memiliki rasa takut itu.
"Tidak akan ada yang bisa menghentikanmu..." Gumam Prothos dengan senyum sarkastis. "Kau sendiri yang akan menghentikannya!!"
...–NATZSIMO–...