MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
084. TARING RAJA HUTAN



Leo dan Ronald meminta Aramis datang pagi-pagi sekali ke kantor Ronald. Ada hal yang ingin Leo sampaikan pada Aramis saat ini. Sesuatu mengenai Anna yang akan pergi ke Jerman dalam minggu ini.


"Apa Anna sudah memberitahumu mengenai operasinya?" Tanya Ronald yang duduk di kursi kerjanya.


Aramis hanya mengangguk menjawabnya.


"Dengar Ars." Seru Leo yang hanya berdiri di hadapan Aramis yang juga berdiri tidak jauh dari pintu masuk. "Aku tidak akan melarangmu jika kau ingin pergi menemani Anna. Kau bisa pergi. Aku juga tidak masalah jika kau tidak ikut ujian kelulusan."


Aramis mendengus dengan senyum sarkastis mendengarnya.


"Anna tidak ingin aku ikut." Jawab Aramis.


"Lalu apa keputusanmu?" Tanya Ronald.


"Aku selalu mendengarkan kata-katanya." Jawab Aramis setelah itu berbalik dan keluar dari ruangan itu.


Aramis berjalan menuju ruangan intensif dimana Athos masih dalam monitoring disana. Dia hanya bisa melihat Athos melalui jendela ruangan yang memang dibuat agar keluarga bisa melihat pasien yang dirawat, karena saat ini siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk menjenguknya.


Dengan kesal Aramis meninju tembok sangat keras. Dia tidak bisa menahan rasa kesalnya yang harus mendengarkan kata-kata Anna, dan ditambah dengan posisinya yang tidak bisa memilih untuk meninggalkan kembarannya tersebut.


"Aku harus bagaimana, Ato? Bangunlah dan katakan padaku apa yang harus aku lakukan!!" Tatap Aramis dari jendela ruangan.


...***...


Dia harus mendapatkan keadilan. Pelaku penusukan harus dihukum!!


Orang itu pasti sudah merencanakannya, makanya dia membawa pisau itu padahal dia akan menikah. Dia harus dihukum seberat-beratnya.


Kalau terbukti dia merencanakannya maka dia harus kena pasal pembunuhan berencana dan hukumannya adalah mati!!


Aku sangat bersedih dengan kondisinya. Semoga dia bisa selamat.


Kami semua berdoa untuk keselamatannya.


Ya Tuhan, tolong biarkan Ato hidup biar dia bisa bersama dengan gadis yang dicintainya.


Oto, kami bersamamu, kami yakin Ato akan sembuh.


Padahal minggu depan dia harus ikut ujian kelulusan. Kasihan sekali dia.


Prothos membaca beberapa komentar dari foto Ato yang sedang terbaring di ruang intensif. Foto tersebut diunggahnya semalam di akun sosial media miliknya yang sudah memiliki lima ratus ribu lebih pengikut dan jumlah itu semakin hari semakin meningkat tajam.


"Kak Oto tidak tidur?" Melody membuka matanya dan melihat Oto yang duduk di kursi samping ranjangnya berbaring.


"Kau sudah baikan, Melo?" Tanya Prothos.


Melody mengangguk.


"Apa pelakunya sudah ditangkap?" Melody bangun dari posisi tidurnya dan duduk.


"Masih belum. Kau tahu sendiri mengenai keluarga orang itu kan? Mereka pasti akan melindunginya." Jawab Prothos. "Tapi tenang saja, dia akan menerima hukumannya."


"Dia harus dihukum karena membuat kakakku seperti sekarang ini." Ujar Melody.


Tiba-tiba Lion masuk dengan membawa dua buah kotak donat.


"Kalian belum sarapan kan? Ini untuk kalian." Ujar Lion memberikan satu kotak donat pada Prothos. "Bagaimana keadaanmu, Melon?"


Melody tidak menjawabnya.


Pintu terbuka lagi dan kali ini Niko yang datang. Niko datang juga membawa makanan.


"Aku akan memberikan ini pada Ars, dan Anna." Ucap Lion.


"Lion, aku titip juga untuk mereka." Seru Niko memberikan satu kantong pada Lion.


"Ini makanan terlalu berat untuk sekedar sarapan." Prothos melihat isi makanan yang dibawa Niko adalah steak. "Aku akan keluar untuk sarapan."


"Kenapa kau datang sepagi ini? Bahkan ini belum jam tujuh, aku tahu kau sering bergadang dan tidak tidur, pasti semalam kau pun seperti itu." Ujar Melody. "Tanganmu apa sudah tidak sakit?"


Tanpa diduga, Niko memegang tangan kanan Melody dengan tangan kirinya yang berbalut perban.


"Tidak apa-apa kan kalau aku memegang tanganmu dengan tangan ini? Kita tidak bersentuhan langsung, karena itu kau selalu memegang tanganku yang ini kan?"


Melody terkejut karena Niko menyadarinya. Selama ini Melody memang hanya memegang tangan kiri Niko karena alasan itu, tangan kiri Niko yang selalu memakai sarung tangan dan sekarang berbalut perban.


"Tidak Niko, aku juga pernah memegang tanganmu ketika kau tidak memakai sarung tangan." Jawab Melody mengingatkan Niko pada saat Melody membangunkannya untuk memberitahunya kalau gadis itu setuju menikah dengannya. Namun itu hanya sebuah pengalihan karena pada saat itu Melody merasa kasihan pada Niko saat tahu tangan itu dibakar oleh kakaknya.


Niko tersenyum walau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia terus menggenggam tangan kanan Melody walau saat ini tangannya itu terasa sakit.


"Dengarkan aku Melody, aku yang akan mengkhawatirkanmu mulai sekarang, kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Karena itu aku tidak masalah kalau kau merepotkan aku. Kau harus tahu, kita akan menikah, kau bisa merepotkan aku setiap saat, aku tidak masalah dengan itu." Ujar Niko dengan genggaman tangan kirinya semakin kuat menggenggam tangan kanan Melody.


"Niko, kau menggenggamnya sangat kuat." Keluh Melody agar Niko melepaskan genggamannya.


"Maafkan aku." Jawab Niko menarik tangannya dari tangan Melody. "Tanpa sadar aku terlalu kuat menggenggamnya."


"Baiklah, aku akan berusaha merepotkanmu mulai saat ini." Melody tersenyum pada Niko.


Niko sedikit tertawa karena yang diucapkan Melody terdengar aneh.


"Kenapa tertawa?" Tanya Melody bingung.


Niko hanya menggeleng dengan sebuah senyuman.


...***...


Lion yang baru saja keluar dari ruangan Anna dirawat, mendapatkan telepon dari nomer tak dikenalnya. Akan tetapi pemuda itu bisa menebak siapa yang menghubunginya.


"Ada apa, Dion?" Tanya Lion langsung menebak.


"Lion, bantu aku." Pinta Dion.


"Aku tidak bisa membantumu. Kau tidak mendengar kata-kataku sebelumnya. Aku sudah memperingatkanmu agar tidak terpancing dengan beberapa kalimat. Maaf Dion, kita bukan teman lagi."


"Berengsek kau Lion!! Aku tahu kau pun turut membantunya kan?"


"Itu juga sudah aku katakan padamu. Tapi kau terlalu bodoh untuk menyadarinya." Ujar Lion dengan tawa. "Sudah aku bilang kalau kau tidak akan bisa mengalahkannya."


Dion tertawa di ujung telepon.


"Apa yang bisa dilakukan olehnya? Bahkan untuk bernapaspun dia membutuhkan selang oksigen dari mulutnya." Ucap Dion tertawa.


"Posisimu tidak bagus Dion, berharaplah dia tetap hidup agar kau bisa bebas." Seru Lion. "Dia tidak berniat membuatmu membusuk di penjara, dia hanya ingin agar pernikahan itu tidak ada. Tapi jika dia mati maka kau akan membusuk di penjara."


"Apa?"


"Lebih baik kau serahkan dirimu agar kau tidak terjerat pasal pembunuhan berencana. Ato bilang padaku, dia akan meringankan hukumanmu jika dirinya selamat dan jaksa penuntut umum hanya akan mendakwamu untuk kasus penganiayaan saat ini."


"Benarkah seperti itu?"


"Jika saja dia selamat. Itu akan berbeda jika dia kehilangan nyawanya, maka selain penganiayaan kau juga akan dituntut atas pembunuhan." Jawab Lion. "Kau tahu Dion? Sebenarnya aku yang sangat ingin membuatmu membusuk di penjara. Ato terlalu baik membiarkan orang sepertimu menikmati hidup setelah apa yang kau lakukan pada kekasihnya."


Lion menutup teleponnya dengan sangat kesal. Lalu kembali membuka daftar telepon dan menghubungi Ivan, teman sekaligus orang yang sangat dia percaya.


"Ivan, lacaklah keberadaan nomer yang barusan aku kirimkan padamu. Jika 1 x 24 jam dia tidak meninggalkan tempat itu, maka beri pengumuman bahwa aku sudah memutus pertemanan dengannya dan sebar lokasinya pada semuanya. Dia harus merasakan akibatnya karena tidak mendengarkan perkataanku. Sebelum aku melaporkannya pada polisi mengenai keberadaannya, dia harus sangat menderita karena pernah meremehkan aku."


"Apa kau serius, Lion?"


"Ya, kalau perlu aku akan menunjukan taringku."


...–NATZSIMO–...