
Anna duduk di atas ranjangnya sambil bermain handphone. Dia membuka kabar berita mengenai penusukan Athos yang masih jadi pemberitaan saat ini. Aramis sedang terlelap dengan menidurkan kepalanya di sisi kanan ranjang Anna.
Sejenak Anna mengubah fokusnya menjadi menatap Aramis, dan tersenyum padanya. Anna memperhatikan rambut Aramis yang cepat sekali memanjang padahal belum lama ini dia baru saja mencukur habis semuanya.
Aku beruntung sebelum penyakit ini muncul aku lebih dulu menemuimu.
Anna tersenyum kembali manatap Aramis yang tertidur.
Tiba-tiba Aramis membuka matanya dengan terkejut dan mengangkat kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Anna.
"Ato..." Ucap Aramis dengan pandangan menerawang. "Aku harus melihat keadaannya."
Aramis langsung berlari keluar. Barusan saja dia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada kembarannya. Perasaannya menjadi tidak enak mengenai Athos.
Langkahnya terhenti ketika berada di ujung koridor melihat Tasya yang menangis di pelukan Prothos berdiri memandang ke dalam ruangan Athos dirawat. Dengan langkah ragu Aramis mendekati mereka.
Prothos menoleh padanya, dan membuat Aramis mengetahui sesuatu yang buruk terjadi pada kembarannya yang terbaring di dalam ruangan tersebut.
"Mereka sedang berusaha mengembalikan jantungnya berdetak lagi, Ars." Ucap Prothos dengan air mata. "Dia akan pergi."
Aramis melangkah maju dan melihat ke dalam ruangan melalui jendela. Dokter sedang berusaha menyelamatkan Athos dengan alat pacu jantung, sedangkan suara mesin rekam jantung sudah berdengung panjang.
"Dia akan selamat." Ujar Aramis, tangan kirinya yang terkepal menyentuh jendela. "Ato, kau dengar aku? Aku dan Oto disini, kau harus bangun!! Kau tidak boleh meninggalkan kami." Aramis sedikit memukul kaca jendela dengan tangan kirinya.
Prothos memegang pundak Aramis untuk menghentikannya namun kembarannya itu mengabaikannya.
"Kau selalu bilang tak ada yang tak bisa kau lakukan saat kau sudah bersungguh-sungguh. Kali ini pun kami percaya kau akan sungguh-sungguh berjuang. Kau harus bangun! Jangan tinggalkan kami berdua, bodoh!!" Dengan suara bergetar Aramis semakin keras memukul kaca jendela.
Seketika terdengar suara dari mesin rekam jantung yang berubah. Athos kembali mendetakan jantungnya lagi.
Tim medis keluar ruangan setelah berhasil mengupayakan Athos tetap hidup.
"Walau masih harus dalam pemantauan, dia sudah baik-baik saja." Ucap dokter yang menangani Athos setelah itu pergi.
Tasya melihat kembali pada Athos. Gadis itu tidak percaya dengan keajaiban yang terjadi. Athos mendengarkan perkataan Aramis yang menyemangatinya. Tasya langsung memeluk Aramis untuk mengucapkan rasa syukurnya pada kembaran kekasihnya itu.
"Untung kau datang, Ars." Tangis Tasya dengan terisak di pelukan Aramis.
"Oto, kita harus percaya pada kemampuannya. Kita harus mendukung Ato, jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi, dia akan tahu dan itu sangat membuatnya kecewa. Yakin saja dia akan bangun." Tatap Aramis pada Prothos. "Saat ini dia tahu apa yang kita berdua rasakan, kita hanya perlu mendukungnya. Kau paham?"
"Maafkan aku." Ucap Prothos.
Aramis memegang pundak Prothos.
"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba paman Ronald datang. "Bagaimana keadaan Ato? Aku dapat kabar—"
"Dia sudah baik-baik saja paman." Jawab Tasya.
"Ato hanya ingin mengerjai kita semua." Tambah Aramis. "Saat ini dia pasti tertawa senang melihat kepanikan kita semua."
Prothos menatap kembali pada Athos melalui jendela, dia merasa bersalah karena sempat berpikir kalau Athos tidak akan bisa selamat. Yang dikatakan Aramis benar, mereka hanya harus mendukung perjuangan kembaran mereka dan berhenti berpikiran yang tidak-tidak. Perkataan Mona pun benar, dia menyadari memang sifatnya selalu pesimis pada segala hal.
...***...
Melody duduk di kursinya di dalam kelas saat istirahat. Sejak dia masuk sekolah kemarin banyak sekali murid lain menanyakan tentang kabar Athos, termasuk para guru. Melody hanya sesekali menjawabnya dan selebihnya Niko membantunya menjawab.
Dia sendiripun masih sangat mengkhawatirkan kakaknya itu ditambah semalam dia mencuri dengar ketika ayahnya menerima telepon dari paman Ronald kalau jantung Athos sempat berhenti berdetak.
Melody membuang napas menahan rasa sedihnya.
"Pulang nanti kita ke rumah sakit, aku akan bilang pada ayahmu untuk mengijinkanmu melihat kakakmu." Ucap Niko.
"Kalau begitu, kita bisa pergi mempersiapkan segala sesuatu untuk pertunangan kita." Ujar Niko. "Kau bisa membeli semua yang kau inginkan."
"Baiklah." Ucap Melody.
"Minggu depan bagaimana kalau kita pergi berlibur, saat ujian kelulusan kelas dua belas, kita libur kan?"
"Apa? Niko, kakakku sedang sakit apa mungkin aku akan pergi berlibur?" Tanya Melody sedikit heran.
"Aku hanya tidak suka melihatmu selalu bersedih. Aku akan meminta ijin ayahmu. Kalau kau mau, aku akan ajak Lion juga, agar kau yakin aku tidak akan macam-macam padamu."
"Apa maksudmu, Niko?"
"Aku tahu kau lebih merasa aman saat bersama Lion dari pada bersama aku." Ujar Niko. "Aku tidak masalah dengan itu. Kalian sudah bersama sejak kecil dan sekalipun Lion tidak pernah macam-macam padamu, karena itu kau mempercayainya. Aku akan mengajaknya juga. Kita akan berlibur bersama berempat."
Melody memikirkan kata berempat yang diucapkan Niko dan mengerti kalau Lion akan pergi bersama Karen juga.
...***...
Niko mengajak Melody pergi ke mall yang merupakan milik pamannya. Mall itu menyatu dengan cabang Grand Havvit Hotel di kota tersebut yang juga milik pamannya.
"Pilihlah pakaian yang kau inginkan, ambil semua yang kau mau. Aku akan membelikan semuanya untukmu agar kau senang." Ucap Niko dengan menatap Melody. "Tunggu aku sebentar, ada yang harus aku beli."
Melody hanya menatap Niko dan tidak merespon.
"Tolong bantu dia mengambil semua yang dia mau." Seru Niko pada seorang pramuniaga yang melayani mereka di toko tersebut.
Niko langsung berjalan meninggalkan Melody sambil mengeluarkan rokok elektrik dari sakunya, dan menghirupnya.
Melody sempat terdiam dan bingung harus apa. Pramuniaga yang bersama dengannya langsung mengambilkan beberapa pakaian untuk Melody.
"Pakaian ini edisi terbaru musim ini, sangat cocok untuk kulitmu." Ujar Pramuniaga tersebut. "Yang ini juga sedang trend akhir-akhir ini."
"Carikan pakaian yang berbahan tebal saja, atau jaket juga boleh. Aku berencana pergi ke Rusia dan harus membawa pakaian yang tebal." Jawab Melody.
Pramuniaga tersebut mengantarkan Melody ke tempat pakaian tebal atau jaket. Melody mengingat pesan Lion sehingga hanya itu yang ingin dibelinya saat ini. Selama beberapa saat Melody sudah mendapatkan beberapa sweater dan jaket.
"Melody?" Tiba-tiba Kevin menghampiri Melody.
Melody melihat kehadiran Kevin yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Ucap Kevin. "Kau sendirian? Aku dengar dari Monik kalau kau akan bertunangan."
"Ya, itu benar." Jawab Melody. "Monik bilang minggu ini kau akan ke Paris untuk perlombaan Seriosa."
"Benar sekali, karena itu aku sedang sibuk mempersiapkan segalanya." Jawab Kevin. "Ngomong-ngomong kau akan bertunangan dengan siapa? Aku kira kalau kau akan bersama dengan Lion akhirnya. Siapa pria itu? Monik juga bilang kalau kau akan langsung menikah. Aku tidak menyangka kalau kau akan secepat itu menikah. Kau tidak ingin menjadi penyanyi lagi?"
"Semuanya terjadi begitu cepat. Aku rasa pilihan terbaikku adalah menikah." Ucap Melody. "Semoga di perlombaan itu kau menang ya, Kevin."
Tiba-tiba Niko datang dan dengan cepat Niko mendorong Kevin karena tidak suka calon tunangannya itu berbicara dengan pria lain. Kevin terdorong dan hampir jatuh untung saja masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Niko, hentikan!" Seru Melody menarik Niko.
"Jangan dekati calon tunanganku!!" Geram Niko yang saat ini merasa sangat cemburu.
Kevin hanya terkejut dan menatap kehadiran Niko yang tiba-tiba, dengan Kebingungan. Dia mengerti kalau pria yang baru saja mendorongnya adalah calon tunangan Melody, gadis yang dulu pernah dia suka.
"Pergilah!!" Tatap Niko tajam pada Kevin.
...–NATZSIMO–...