MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
165. MELODY PATAH HATI



Mona yang sudah kembali ke rumah keluarga Sanzio, berada di kamar Melody untuk mendandani gadis itu. Pertemuan dengan kedua orang tua Niko jam tujuh malam di restoran yang berada di dalam Grand Hevvit Hotel. Sedangkan saat ini sudah hampir jam enam sore.


"Aahhh, kau cantik sekali Melo... dengan wajah seperti ini aku pasti akan membuat banyak pria patah hati kalau aku menikah sangat cepat." Ucap Mona seperti ciri khasnya yang selalu berbicara terdengar menyindir. Dia sedang memoles lipstik berwarna merah muda ke bibir Melody. "Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihat bagaimana wajah ibu kalian, Melo. Kenapa tidak ada satu pun fotonya di rumah ini?"


"Ayah tidak ingin membuat aku bersedih. Aku selalu bersedih kalau melihat foto ibuku, karena itu tidak ada satupun foto yang dipajang." Jawab Melody. "Kau ingin melihatnya?"


"Boleh aku melihatnya?" Mona balik bertanya.


Melody langsung membuka laci meja belajar dan mengambil sebuah album foto. Dibukanya sebuah halaman di mana ada foto seorang wanita cantik didalamnya.


"Astaga, Prothos?" Komen Mona saat melihat wajah ibu Melody sangat mirip dengan Prothos. "Ini Prothos versi wanita. Ah, tidak, kakakmu yang versi pria dari ibumu."


Melody tersenyum mendengar perkataan Mona. Dari semua anak-anak ibunya, memang Prothos yang tampak mirip dengan sang ibu.


"Melihat kak Oto, aku seperti melihat ibuku." Ujar Melody dengan senyum. "Kadang aku ingin melihat kak Oto dengan rambut yang panjang. Dia pasti akan sangat mirip seperti ibu."


"Kalau begitu, kita akan menyuruhnya memanjangkan rambutnya." Seru Mona membuat mereka berdua tertawa bersama. "Tapi sangat aneh, padahal mereka bertiga kembar kan, tapi kenapa wajah mereka bertiga tidak mirip? Aku memang pernah baca mengenai hal seperti itu. Tapi tidak aku sangka memang ada hal yang seperti itu di dekatku."


"Ya, aku senang mereka bertiga tidak mirip, kalau mereka mirip aku akan susah membedakannya." Ujar Melody.


"Tapi aku kagum dengan ayahmu. Dia membesarkan keempat anaknya dengan sangat baik. Aku saja yang mengurus satu adik sangat bingung, bagaimana keempat anak. Sepertinya memiliki anak kembar itu sangat merepotkan."


"Ya, aku juga berpikir hal yang sama. Aku tidak ingin memiliki anak kembar nanti. Apalagi jika mereka seperti ketiga kakakku." Jawab Melody. "Ayah selalu menahan emosinya setiap kali menghadapi mereka bertiga yang sulit diatur."


"Aku rasa kau juga termasuk dalam kategori sulit diatur." Timpal Mona. "Sudah ayo, yang lainnya pasti sudah tidak sabar menunggumu."


...***...


Lion masuk ke sebuah tempat, dan langsung ke meja di mana dua orang pekerja wanita menyapa dirinya yang baru saja datang. Saat ini tempat yang pemuda itu kunjungi adalah tempat karaoke.


"Aku pesan ruangan yang small untuk dua jam... ahh tidak, tiga jam saja." Ujar Lion setelah melirik jam tangannya yang hampir menunjukan jam tujuh malam saat ini.


"Lion?" Tiba-tiba seseorang memanggil Lion dari arah pintu masuk.


"Kevin?" Lion menoleh dan melihat Kevin baru saja masuk ke tempat itu seorang diri juga. "Sedang apa kau di sini?"


"Kau sendiri sedang apa? Apa kau sendirian atau datang bersama teman-temanmu?" Kevin balik bertanya.


"Aku datang sendiri." Jawab Lion sedikit malu. "Eh, tapi kau juga sendirian kan?"


"Ya, aku sendirian. Aku datang ke sini ingin melampiaskan rasa kesalku karena tidak memenangkan kompetisi kemarin." Jawab Kevin dengan kesal.


"Aiihh, jangan bilang kalau kau ingin melampiaskan rasa sedihmu ya? Kasihan sekali kau ini." Ujar Lion meledek Kevin.


...***...


Melody bersama keenam anggota keluarganya yang semua adalah laki-laki memasuki Grand Hevvit Hotel. Karena keenam anggota keluarganya itu memiliki tubuh yang tinggi sehingga mereka semua menjadi pusat perhatian. Ditambah ketiga kakaknya yang berjalan berdampingan di belakang gadis itu sedang berbincang dengan asyiknya tanpa memedulikan sekitar yang memperhatikan mereka.


Hal tersebut yang membuat Melody sering merasa tidak nyaman jika harus pergi bersama dengan mereka ke tempat umum, karena mereka akan selalu menjadi pusat perhatian.


"Baru kali ini aku masuk ke hotel ini. Si tengik itu memang sangat kaya." Ujar Aramis dengan nada bicara yang cenderung keras seperti kebiasaannya. "Ato, kenapa kau tidak memintanya agar acara perpisahan di hotel ini?"


"Tidak, acara perpisahan akan dilaksanakan di Fourth Harrison Hotel. Tadi pagi mereka sudah setuju dengan harga yang sekolah inginkan." Jawab Athos.


"Fourth Harrison Hotel?" Tanya Prothos yang berdiri di tengah-tengah kembarannya. "Aku rasa hotel itu juga tidak kalah dari hotel ini. Kemarin aku dan Mona menginap di hotel itu yang ada di kota yang kami datangi."


Melody menoleh pada ketiga kakaknya dengan tatapan kesal karena suara mereka bertiga terdengar sangat jelas ketika berjalan di dalam hotel sehingga siapapun memperhatikan mereka.


"Kalian bertiga diamlah!!" Seru Melody.


Tidak berapa lama mereka memasuki restoran. Seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah ruangan di mana di dalamnya sudah ada keluarga Niko yang menunggu mereka.


Melody hanya tersenyum membalasnya. Gadis itu menatap Niko yang juga memulas senyum padanya. Selain kedua orang tua Niko yang hadir paman Niko dan istrinya juga datang.


"Maaf, kami sedikit terlambat. Jalanan sedikit macet karena hujan." Ucap Leo yang langsung duduk bersama yang lainnya.


Sedangkan ketiga Musketeers yang berjalan agak melambat karena Melody meminta mereka diam baru saja muncul dari pintu.


"Oh my God, apa mereka kakak-kakakmu Melody?" Tatap Nausha yang baru melihat ketiga Musketeers. "Neudivitel'no, chto ty yemu ne interesen, Niko. Tri yego starshikh brata takiye krasivyye. (Pantas saja dia tidak tertarik padamu, Niko. Ketiga kakaknya sangat tampan seperti itu)." Bisik Nausha pada adiknya.


Niko tidak memedulikan perkataan Nausha dan hanya fokus menatap Melody yang malam ini terlihat sangat cantik melebihi sebelum-sebelumnya dimatanya.


"Izvinite, my troye starshikh brat'yev i sester Melody (Maaf, kami adalah ketiga kakak Melody)." Ujar Athos sambil duduk di hadapan ayah Niko yang merupakan asli orang Rusia. Dirinya diminta ayahnya untuk mewakili ayahnya berbincang dengan ayah Niko, karena hanya Athos yang bisa berbahasa Russia di keluarganya.


"On mozhet govorit' po-russki? (Dia bisa berbicara bahasa Rusia?)" Nausha tampak terpukau pada Athos.


"Jadi kau adalah Melody?" Tanya ibu Niko yang duduk di sebelah putranya itu. "Kau gadis yang sangat cantik." Ibu Niko tersenyum pada Melody.


Melody hanya membalasnya dengan senyuman kaku karena seperti itulah gadis itu. Bahkan Dia tidak berani menatap mata ibu dari pemuda yang akan bertunangan dengannya.


Niko membisikan pada ibunya dengan bahasa Rusia mengenai sifat Melody yang pendiam dan kaku agar ibunya itu mengerti.


"Maaf, dia gadis yang kaku dan jarang tersenyum." Seru Leo yang duduk di samping Melody.


"Tidak masalah, bahkan orang Rusia juga tidak suka tersenyum." Jawab Ibu Niko.


...***...


Kevin mendengus tidak percaya ketika melihat Lion sedang bernyanyi. Pada akhirnya kedua pemuda itu memutuskan untuk bernyanyi bersama di tempat karaoke.


Lion yang sedang menyanyikan sebuah lagu patah hati terlihat sangat serius dan menghayati lagunya bahkan matanya saat ini berkaca-kaca.


Melihatnya beberapa kali Kevin mendengus tidak percaya karena sebelumnya Lion yang meledeknya yang ingin melampiaskan rasa sedihnya setelah kalah dari kompetisi dengan datang ke tempat itu.


"Sialan, dia meledekku... padahal dia sendiri yang sedang sedih." Ujar Kevin ketika Lion bernyanyi dengan sangat menghayatinya.


...–NATZSIMO–...


PROMO NOVEL BARU



Kisah ini hanya dibuat dengan keisengan belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama dan segala macam sesuatunya, harap maklum.


***


Tristan Alistair S, merupakan pria yang baru saja mengalami sebuah musibah besar di mana dirinya kehilangan wanita yang dicintainya.


Selama hampir dua bulan dirinya mengurung diri di kamar dengan melakukan Hikikomori. Tenggelam dalam kesedihannya dan merasa kehilangan hasrat untuk hidup.


Satu-satunya orang yang mendukungnya adalah sang adik Trisha Adelaine S atau yang dipanggil Sasha. Wanita berusia 24 tahun tersebut berusaha membuat kakaknya untuk menemukan semangat hidupnya yang sudah hilang.


Tinggal hanya berdua di rumah yang di beli Tristan membuat kakak beradik itu terus saja mengalami pergesekan-pergesekan dalam kesehariannya. Banyak kejadian aneh, lucu, absurd dan ajaib yang terjadi antara kakak beradik yang selalu tidak akur namun kompak itu.


Apakah akhirnya dengan semangat yang diberikan Sasha, Tristan akan bangkit dari keterpurukan?


Yuk dibaca dan kasih dukungannya.


Follow IG author juga untuk Visual Character-nya.


@natzsimo.author & @lion.el.911