MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
143. MALAIKAT PELINDUNG



Juan keluar dari mobil dengan perasaan kesal, Mona pun mengikutinya. Sedangkan Prothos masih duduk santai di dalam mobil dan hanya membuka kaca jendela mobil.


"Sialan kau, cepat menyingkir!!" Seru Juan dengan sangat marah.


"Tenanglah, Juan." Ujar Mona menghampiri Juan yang mendekati Prothos. "Kenapa kau di sini?" Tatap Mona heran.


"Kenapa kau tidak bilang jika memasak cumi asam manis untuk makan malam? Jika tahu seperti itu aku akan pulang cepat tadi. Tapi karena kau tidak mengabariku Ars sudah menghabiskan semuanya tanpa sisa." Ucap Prothos pada Mona.


"Apa maksudnya? Kau mengenalnya Mona?" Tanya Juan menatap Mona. "Aku baru ingat kau dari ketiga Musketeers itu kan?"


"Kau kesini hanya karena makanan?" Mona heran pada Prothos.


"Ya, kau tahu kan itu makanan kesukaanku?" Ujar Prothos. "Ayo pulang, kau harus membuatnya lagi untukku!!"


"Apa maksudnya ini, Mona?" Tanya Juan kebingungan. "Kenapa dia mengajakmu pulang? Kalian tinggal bersama?"


Tiba-tiba handphone Mona berbunyi, gadis itu menjawab telepon dari Melody. Sedangkan Juan masih menatap Prothos dengan sangat kesal.


"Mona, apa kau tahu dimana seragam olahragaku?" Tanya Melody. "Di lemari pakaianku tidak ada. Besok ada pelajaran olahraga."


"Aku akan pulang untuk mencarinya." Jawab Mona. "Juan, maaf ya, aku tidak bisa ikut pergi denganmu."


Setelah berkata demikian Mona langsung naik ke mobil Prothos. Juan menjadi sangat kesal pada apa yang terjadi. Sedangkan Prothos hanya menyunggingkan senyum mengejek pada Juan sambil melajukan mobilnya.


"Kau pasti menemuiku bukan karena cumi asam manis kan?" Ujar Mona menoleh pada Prothos dengan kesal. "Pasti kau hanya ingin menggangguku saja kan?"


Prothos tak menjawab. Pemuda itu hanya diam saja sambil menyetir. Dia tidak mungkin bilang mengenai rencana Juan pada Mona karena pasti gadis itu tidak akan mempercayainya.


Tiba-tiba Mona berteriak kesal karena sebenarnya dirinya sangat senang ketika Juan mengajaknya makan malam. Bagaimana tidak, Juan adalah idolanya, dia adalah tipe pria yang sangat disukai Mona.


"Kenapa kau harus menggangguku? Astaga seharusnya saat ini aku bersama dengannya. Kenapa juga Melody harus meneleponku tadi?"


Handphone Mona berdering kembali dan Melody juga yang meneleponnya.


"Mona, aku sudah menemukan seragamku. Kau tidak perlu buru-buru pulang. Oh iya, jika kau pulang apa aku bisa minta tolong dibelikan marshmallow?"


Mona membuang napasnya dengan kesal setelah Melody menutup teleponnya. Seharusnya dia tidak langsung ikut pulang bersama Prothos tadi. Dia sangat menyesal saat ini.


Tiba-tiba Prothos membelokan mobilnya memasuki sebuah restoran seafood. Mona menjadi bingung karena awalnya Prothos meminta Mona pulang untuk menyuruhnya masak di rumah, tapi kenapa sekarang pemuda itu masuk ke dalam restoran?


"Kenapa kita malah ke sini?" Tatap Mona pada Prothos. "Pulang saja, aku bisa memasaknya untukmu."


"Aku sudah sangat lapar." Jawab Prothos sambil turun dari mobil.


Mona hanya bisa membuang napasnya sambil mengikuti Prothos masuk ke dalam restoran. Dia hanya duduk diam melihat Prothos yang duduk di hadapannya sedang memesan makanan pada seorang pramusaji.


Tidak berapa lama makanan tersedia di meja. Cumi asam manis, udang saus tiram, kerang saus mentega dan sayur capcay seafood. Prothos langsung memakannya sedangkan Mona hanya diam saja sambil memainkan handphone-nya.


"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Prothos menatap Mona. "Kau belum makan kan? Cepat makan."


"Aku akan makan di rumah saja." Jawab Mona. "Melo meminta tolong untuk dibelikan Marshmallow, aku akan ke supermarket di sebelah sebentar. Tunggu aku ya, kau makan saja di sini dulu."


Tanpa menunggu jawaban Prothos, Mona langsung membawa tasnya meninggalkan pemuda itu. Prothos hanya mendelik tidak percaya karena Mona meninggalkannya sendirian. Prothos ingin berteriak memanggil gadis itu, tapi sejak dirinya masuk ke restoran, beberapa wanita memperhatikannya sehingga dia harus menjaga sikapnya di mata mereka.


Dengan kesal Prothos membuka handphone-nya dan hendak menghubungi Mona agar gadis itu segera kembali, namun tiba-tiba seseorang bertopi menghampirinya. Orang itu langsung duduk di hadapan Prothos dan menatapnya dengan tatapan kesal.


Melihat kehadiran pria di depannya membuat Prothos mendengus dengan sebuah senyuman karena tidak mengira jika orang itu akan mengikutinya, apalagi sampai menghampirinya.


Prothos hanya menyunggingkan senyumnya dengan tatapan meremehkan pada Juan. Dia sama sekali tidak ingin menanggapi perkataan artis tersebut. Prothos tidak ingin bermasalah dengan pria itu, dia hanya ingin menyelamatkan Mona dari pria seperti Juan.


"Sepertinya dari ketiga Musketeers, kau yang paling percaya diri karena tampangmu."


"Tidak, kau tidak mengenal kami. Jangan berkata seperti kau mengenal kami bertiga karena kami bertiga sama." Jawab Prothos sedikit tertawa karena yang dikatakan Juan sangat salah. Baginya dirinya dan kedua kembarannya sama saja.


"Kenapa kau menghalangiku?" Tanya Juan. "Kau tahu, sepertinya kita bisa berteman. Aku juga sudah mendengar mengenai dirimu yang sering bercinta dengan para wanita. Jadi sebaiknya kau tidak menggangguku. Kita bisa saling berbagi."


Mendengar perkataan Juan, Prothos sedikit terpancing emosi. Dia tidak bisa menerima kalimat terakhir dari pria itu. Juan ingin Prothos membiarkan dirinya bercinta dengan Mona.


"Aku hanya ingin bilang, targetmu kali ini adalah gadis yang salah." Jawab Prothos. "Aku tidak akan menggangguku jika bukan gadis itu yang jadi targetmu."


"Apa hubunganmu dengan Mona? Apa kalian berpacaran?" Tanya Juan penasaran.


"Tidak, kau salah." Jawab Prothos. "Kau bisa mencari gadis lain untuk bahan taruhanmu dengan teman-temanmu, aku tidak akan mengganggumu."


"Kalau kalian tidak berpacaran aku rasa tidak masalah, Mona akan tetap menjadi targetku." Jawab Juan dengan senyum angkuh.


Prothos menahan emosinya dengan membuang napas. "Aku rasa ini peringatan terakhirku sebelum aku buat karirmu hancur."


Juan tertawa mendengar ancaman Prothos. Dia sama sekali tidak takut dengan ancaman seseorang yang baginya bukan siapa-siapa.


"Apa hubunganmu dengannya sampai kau berani mengancamku?"


"Anggap saja aku malaikat pelindungnya." Jawab Prothos dengan senyum simpul.


Sekali lagi Juan tertawa dengan jawaban Prothos.


"Baiklah, kau malaikat pelindungnya... Kita lihat saja sampai kapan kau bisa menjadi malaikat pelindungnya. Ini menjadi semakin menarik. Aku jadi semakin tertantang untuk menjadikan Mona targetku." Seru Juan. "Anggap saja aku iblis pengintainya."


"Ayolah, kawan. Pastinya kau tidak ingin karirmu hancur kan hanya karena gadis biasa sepertinya?" Tatap Prothos dengan kesal. "Ini peringatanku yang terakhir, pergilah cari gadis lain sebagai targetmu atau aku akan menyingkirkanmu secepat mungkin."


"Si Tampan dari Musketeers... Aku akan menunggu bagaimana caramu menyingkirkan aku." Ujar Juan tersenyum skeptis pada Prothos. "Ah, satu hal lagi yang sepertinya si malaikat pelindung ini tidak tahu. Tampaknya kau tidak tahu kalau gadis yang kau lindungi alergi makanan seafood."


Juan tertawa sambil beranjak berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Prothos.


Mendengar perkataan terakhir Juan membuat Prothos mengerti kenapa Mona tidak ikut makan bersamanya. Dia memang tidak tahu kalau Mona alergi dengan makanan yang sangat dirinya suka itu. Itu membuat Prothos sedikit tertawa dengan perbedaan mereka berdua.


"Kenapa belum selesai makannya? Ah, kau lambat sekali." Ucap Mona yang baru saja kembali dengan plastik bawaannya berisi marshmallow titipan Melody.


Prothos menatap Mona kesal. Pemuda itu merasa seharusnya Mona mengatakan padanya kalau dirinya memiliki alergi pada seafood. Tapi gadis itu diam saja dan tidak berkata apapun saat Prothos menyuruhnya makan tadi.


"Aku sudah kenyang." Jawab Prothos sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju kasir.


"Tunggu dulu, aku akan meminta dibungkus saja makanannya." Seru Mona sambil memanggil pramusaji dan meminta agar makanan yang masih banyak itu dibungkus segera. "Dia memakannya hanya sedikit. Sayang sekali kalau ditinggalkan."


Prothos berjalan keluar dari restoran menuju mobil setelah membayar, membiarkan Mona menunggu makanan yang sedang dibungkus seorang diri.


"Dia tidak pernah mengatakan apapun tentangnya. Kenapa juga aku harus melindunginya?!" Kesal Prothos saat berada di dalam mobil setelah itu mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


...–NATZSIMO–...