MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
118. BERLIBUR BERSAMA



Pagi-pagi sekali Mona membantu Melody mengemasi pakaian yang akan dibawanya pergi berlibur. Hari ini Melody akan berlibur bersama Niko berserta Lion dan Karen.


"Kakakmu memintaku memastikan agar kau tidak membawa pakaian yang terbuka." Ujar Mona melipat pakaian Melody dan menyusunnya di koper ketika Melody sedang bersiap-siap sehabis mandi. "Kalian akan ke laut akan aneh jika memakai pakaian tertutup."


"Aku juga tidak akan masuk ke laut, aku hanya akan duduk di pinggir pantai. Pundak kiriku ada bekas luka jadi aku tidak akan memperlihatkan bekas lukaku pada siapapun." Jawab Melody sambil membaca pesan yang dia terima dari Niko.


"Bekas luka karena ulah adikku ya?" Tanya Mona. "Aku meminta maaf sekali lagi padamu."


"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Bekas luka ini bisa tertutup dengan pakaian." Ucap Melody menoleh pada Mona yang berada di sisi tempat tidur.


"Aku perhatian sudah beberapa hari ini ada plester di lehermu, memang karena apa lehermu bisa terluka, Mel?"


Melody terkejut mendengar pertanyaan Mona mengenai bekas gigitan Niko yang belum juga hilang sepenuhnya di lehernya.


"Apa kau lihat bekas lukaku ini?" Tanya Melody mengalihkan pertanyaan Mona.


Mona menghampiri Melody yang duduk di kursi yang menunjukan bekas luka di bawah dagunya


"Ini bekas luka yang sudah lama aku dapat. Aku tidak ingin bekas luka ini hilang." Ujar Melody.


"Sebelumnya aku tidak tahu kalau ini bekas luka karena posisinya di bawah dagu. Tapi jika diperhatikan ini memang terlihat bekas luka. Kenapa kau tidak ingin bekas luka ini hilang?" Mona menatap Melody aneh.


"Aku selalu menganggap setiap bekas luka memiliki sebuah kenangan, sehingga aku tidak ingin kenangan tersebut hilang." Jawab Melody.


"Kenangan apa dari bekas luka itu?"


Tiba-tiba pintu kamar Melody terbuka sebelum Melody menjawab pertanyaan Mona. Niko muncul di balik pintu kamar, membuat kedua gadis itu terkejut karena tidak ada siapapun di rumah selain mereka berdua.


"Niko? Kenapa kau di sini?" Tanya Mona heran.


"Aku sudah menunggu beberapa menit di luar, tapi kau tidak menjawab pesanku, Melody." Ujar Niko. "Ternyata kau keluar dari pekerjaanmu karena ke rumah ini, Mona?"


"Ya, aku bekerja di sini sekarang." Jawab Mona.


"Padahal aku berharap tak ada siapapun." Gumam Niko dan Mona menangkap maksudnya. "Cepatlah, kita harus segera pergi." Setelah berkata demikian Niko menutup pintu kamar dan pergi.


Mona menoleh pada Melody yang terlihat masih terkejut pada kehadiran Niko yang secara tiba-tiba membuka pintu kamarnya.


"Kau harus mendengar perkataan kakak-kakakmu." Seru Mona. "Jangan pernah sendirian saat di sana."


Melody mengangguk dengan wajah yang tegang.


...***...


Sebuah pesawat pribadi yang mengangkut keempat muda-mudi lepas landas ketika memasuki pukul sembilan pagi. Melody duduk di kursi di hadapan Niko, sedangkan Lion dan Karen duduk di seberang mereka berdua saling berhadapan juga.


Niko terus saja memperhatikan gadis yang duduk di hadapannya sambil meminun segelas anggur. Pemuda ini memperhatikan cincin pemberiannya yang tersemat di jari manis Melody. Sejak dirinya memintanya untuk terus memakainya, Melody menurutinya. Itu membuatnya senang.


Melody hanya menatap ke luar jendela pesawat melihat ke awan-awan yang terlihat sangat dekat di pandangannya, dia tahu kalau saat ini Niko terus saja menatap padanya, hal itu membuatnya sedikit takut.


"Lion, lihat itu ada kawanan burung yang terbang."


Seruan Karen membuat Melody menoleh pada pasangan tersebut. Lion beranjak dari tempatnya dan mendekati Karen untuk melihat yang ditunjuk Karen.


"Aku tidak melihatnya." Jawab Lion.


"Responmu telat, mereka sudah ada di belakang." Jawab Karen. "Naik pesawat pribadi memang paling menyenangkan. Niko, kau benar-benar sangat kaya. Aku beruntung punya pengalaman seperti ini." Seru Karen pada Niko.


Niko hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Ini tidak sekeren itu sampai kau sangat senang." Gumam Lion beranjak bangun dan berjalan ke toilet.


"Mel, ayo sini, duduk di sini saja, kita harus merencanakan apa saja yang akan kita lakukan nanti." Karen berbicara pada Melody dan dengan gerakan tangannya meminta Melody duduk di tempat Lion.


Melody menoleh pada Niko sesaat sebelum mengikuti keinginan Karen untuk duduk di hadapan Karen. Niko hanya diam menatap gadis itu berpindah dari hadapannya.


"Saat di sana aku ingin surfing, Lion akan mengajariku katanya. Kau juga harus belajar, Mel. Niko apa kau bisa surfing?"


"Ya, walau tak semahir Lion." Jawab Niko. "Kalian berdua lakukan saja yang ingin kalian lakukan, Melody tidak bisa berenang, dia tidak akan belajar surfing seperti yang kau bilang."


"Kalau begitu nanti kita naik sepeda berkeliling pantai saja ya, pasti akan sangat menyenangkan." Ucap Karen.


"Sepeda?" Tanya Melody.


"Bersepeda di pinggir pantai pasti akan sangat menyenangkan." Jawab Karen.


"Tidak aku tidak bisa naik sepeda." Seru Lion yang kembali.


"Apa? Kau tidak bisa naik sepeda?" Tanya Karen terkejut mendengar ucapan Lion. "Jangan bercanda Lion. Kau bisa melakukan banyak hal, masa naik sepeda saja tidak bisa?"


Melody tahu hal itu. Sejak kejadian waktu mereka kecil dimana mereka berdua terjatuh dari sepeda, Lion langsung membuang sepeda miliknya dan selama itu juga dia tidak pernah naik sepeda lagi. Ketika waktu itu saat Melody bertanya kenapa alasannya Lion membuang sepedanya, Lion hanya menjawab dengan satu kalimat, aku tidak bisa naik sepeda lagi. Sepertinya pemuda itu mengalami ketakutan setelah mereka berdua terjatuh dari sepeda hingga membuatnya trauma naik sepeda.


"Apa mungkin kau tidak bisa naik sepeda?" Tatap Niko heran.


"Ya, aku tidak bisa." Jawab Lion. "Apa sangat memalukan jika tidak bisa naik sepeda?"


"Iya benar, itu sangat memalukan Lion!" Seru Karen. "Aneh sekali, kau yang bisa ini itu, naik sepeda saja tidak bisa. Mel, apa benar dia tidak bisa naik sepeda?"


Melody menoleh pada Lion yang duduk di arah jam sembilannya. Melody melihat bagaimana Lion mengalihkan pandangannya segera ke luar jendela ketika mata mereka bertemu.


"Ya, sepertinya dia jadi tidak bisa naik sepeda karena dulu kami pernah terjatuh berdua ketika kami naik sepeda bersama." Jawab Melody.


"Benarkah?" Tanya Karen, wajahnya terkejut. "Kau lemah sekali Lion, hanya karena terjatuh jadi tidak bisa naik sepeda lagi."


"Bagaimana kalau nanti kita panjat tebing saja, Key?" Lion menoleh pada Karen mengalihkan pembicaraan. "Aku akan melakukannya tanpa pengamanan nanti."


"Itu sangat berbahaya. Kau akan jatuh nanti." Seru Karen. "Mel, apa yang akan kau lakukan nanti saat di sana?"


"Aku belum terpikirkan apapun." Jawab Melody.


"Kalian berdua lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Aku dan Melody akan berjalan-jalan berdua." Seru Niko.


"Key, kita juga bisa naik paralayang nanti." Seru Lion tersenyum. "Aku jadi ingin terjun bebas dari pesawat ini, apa ada parasut di pesawat ini, Niko?"


"Kenapa yang kau rencanakan sangat berbahaya semua, Lion?" Seru Karen kesal. "Kalau begitu kita juga akan ikut jalan-jalan saja dengan Melody dan Niko."


"Kau sangat tidak asyik, Key." Ujar Lion. "Ya sudah, aku akan melakukan semuanya sendiri nanti."


"Sana lakukan semuanya sendiri!! Mel, kita pergi berbelanja saja ya, membeli cenderamata khas pulau itu, aku akan memborong banyak nanti."


"Ya, baiklah." Jawab Melody.


Setelah menempuh dua jam perjalanan udara dan lima belas menit perjalanan darat, akhirnya mereka semua sampai di mansion milik Niko. mansion yang sangat megah dengan banyak kamar yang ada di dalamnya.


"Bawa koperku ke kamar utama." Seru Niko pada pekerja yang mengurus mansion keluarganya itu. "Kalian bebas mau pakai kamar mana saja."


Niko menatap pada Melody yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kamar di sebelah kamar utama view-nya sangat bagus, kau bisa memakainya, sayang." Ucap Niko pada Melody.


"Benarkah?" Tanya Karen mendekati Melody. "Kalau begitu kita di kamar itu saja, Mel."


"Kau bisa pakai kamar yang di sebelahnya lagi, Karen." Ujar Niko.


"Aku tidak berani jika tidur sendirian, apa lagi di tempat asing. Di rumah aku selalu tidur dengan adikku. Karena itu aku tidur denganmu ya, Mel."


"Kau bisa tidur dengan Lion." Seru Niko.


Karen menatap Niko kesal, setelah itu menarik Melody menuju kamar mereka. Sedangkan Lion segera membawa kopernya ke salah satu kamar.


Niko melihat mereka dengan mendengus kesal.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......