
Selama ujian berlangsung Melody yang tidak satu kelas dengan Niko, tidak bertemu dengan pemuda itu. Gadis itu hanya ingin fokus pada pelajaran terlebih dahulu walau sehari setelah ujian kenaikan kelas dirinya akan bertunangan.
Berbeda dengan ujian semester sebelumnya, di mana Melody dan Lion tidak sekelas, kali ini mereka berdua mendapatkan kelas yang sama karena abjad nama mereka yang jika di absen berada bersebelahan. Dan kursi ujian mereka pun berjajar ke belakang, di mana Lion duduk di belakang Melody.
Hal tersebut yang membuat pemuda itu menjadi sedikit tidak fokus saat mengerjakan ujiannya. Ditambah kebiasaannya yang menjawab soal dengan berurutan dan tidak mengerjakan yang lebih mudah terlebih dahulu membuat Lion menyisakan banyak soal yang tidak sempat dikerjakannya.
"Nilaiku akan sangat buruk, Susu." Ucap Lion ketika di sela waktu istirahat ujiannya.
Pemuda itu membawa teman barunya bahkan ke sekolah dengan memasukkannya ke tas miliknya yang tidak ditutupnya dengan rapat. Dan saat ini Lion bersama Susu berada di atap sekolah duduk di tempat favoritnya.
"Aku ingin ini semua cepat berlalu, aku ingin pergi secepatnya." Lion mengelus Susu yang terus dipegangnya. "Melon terlihat sudah mulai berubah, dia bisa menyelesaikan soal-soalnya dengan cepat. Itu berarti dia menikmati hidupnya saat ini... Berbeda denganku."
Lion menghela napas panjangnya.
"Sekarang aku benar-benar tersingkirkan." Ucap Lion dengan raut wajah murung.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi, muncul nama Ivan di layar ponsel miliknya.
"Ivan, aku tidak akan naik kelas. Dari lima puluh soal aku hanya bisa mengerjakan tidak lebih dari tiga puluh soal." Ujar Lion dengan tidak semangat yang langsung berkata seperti itu untuk menjawab telepon temannya.
"Aku meneleponmu bukan ingin tahu mengenai masalah hidupmu itu, bodoh!" Seru Ivan. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Bertanya apa?" Lion bertanya dengan tidak bersemangat.
"Apa kau tahu mengenai seseorang yang mendapat julukan WizardLine?" Tanya Ivan. "Kau sudah membuka website rumus pertemanan?"
"Aku hampir tidak pernah membukanya. Itu kan kau yang buat, bahkan aku tidak tahu apa saja isi di dalamnya selain forum pertemanan yang kau buat." Jawab Lion.
"Orang bernama WizardLine itu meretasnya Lion, dan dia mengacak-acak website kita dengan mengatakan anti Lion. Bahkan dia juga menulis sebuah pesan. Sepertinya dia orang yang memimpin orang-orang yang tidak menyukaimu."
Lion malah tertawa mendengar yang dikatakan oleh Ivan. Untuknya hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Dia tidak ingin menanggapi orang iseng yang hanya ingin mencari perhatian dirinya. Sudah terlalu sering juga pemuda itu mendapatkan pesan tidak jelas seperti itu di pesan yang dirinya dapatkan.
"Sialan, kenapa kau malah tertawa?!" Kesal Ivan pada Lion.
"Memang apa pesannya?" Tanya Lion setelah menahan tawanya.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Seru Ivan yang masih kesal pada Lion dengan menutup teleponnya langsung.
"Ya ampun, kenapa setelah aku ingin pergi dia jadi sering kesal padaku? Jangan bilang kalau kau tidak ingin aku pergi." Gumam Lion mengenaj Ivan yang selalu dipercaya olehnya.
Lion membuka website yang dibuat temannya itu melalui handphone-nya, dan halaman pertama langsung muncul sebuah pesan bertuliskan.
Seliar apapun seekor singa, dia akan tunduk ketika aku menjentikkan jari. –WizardLine–
Namun yang menjadi fokus Lion adalah di sekeliling pesan itu terdapat simbol musik dengan tangga nada not balok.
"Sialan!!" Lion tampak kesal.
...***...
Ketika ujian hari itu berakhir, Lion berjalan keluar dengan memasukan Susu ke dalam jaketnya dan berusaha menutupi anjing kecil itu di balik jaket yang dikenakannya.
"Kau sudah melihatnya?" Tanya Niko yang melihat Lion melintas di depannya.
"Itu hanya kerjaan orang iseng." Jawab Lion berhenti di depan Niko. "Kau harus menjaga calon tunanganmu."
"Lion." Panggil David yang menghampiri mereka berdua. "Keluarlah, banyak sekali teman-temanmu yang menunggu di depan sekolah dan membuat murid lainnya ketakutan karena mereka berpikir akan terjadi tawuran."
Secepatnya Lion bersama dengan Niko menuju gerbang sekolah. Dan benar saja, puluhan anak sekolah yang semuanya adalah pria berdiri di depan sekolah untuk menemui Lion setelah melihat website mereka yang di obrak-abrik.
"Ivan, apa yang kau lakukan? Kenapa mereka semua ke sekolahku?" Lion langsung menghubungi Ivan dengan kesal.
"Apa? Aku tidak tahu mengenai hal itu." Jawab Ivan di ujung telepon.
"Sebaiknya bawa mereka ke pabrik dan katakan sesuatu." Niko berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada, meninggalkan Lion.
Dengan berdecak kesal Lion berjalan keluar pintu gerbang. Saat yang bersamaan Melody juga berjalan di belakang Lion.
Gadis itu melihat para murid laki-laki dari berbagai sekolah lain berdiri di depan sekolahnya, namun dia tahu kalau mereka semua adalah teman-teman Lion sehingga dirinya tidak memedulikannya.
Ketika Lion menghampiri para teman-temannya, Aramis yang datang menjemput Melody menghentikan mobilnya, dan keluarlah Liam dari mobil bersama Aramis. Melihatnya Melody menahan langkahnya dulu dan berdiri dari kejauhan ketika kakaknya ikutan menghampiri kerumunan para pria itu.
"Ada apa ini? Kau ingin tawuran Lion?" Tanya Liam yang langsung merangkul adik sepupunya.
Susu yang ada di dalam jaket Lion mengeluarkan kepalanya melihat Liam, dan itu membuat Liam langsung menyingkir ketakutan.
"Aku rasa kau tidak sebodoh itu sampai membuat mereka datang ke sekolah, Lion." Seru Aramis menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah melihat website itu?" Tatap Lion pada Aramis.
"Website apa? Kalau tidak ada kaitannya denganku aku tidak peduli." Ujar Aramis berjalan kembali ke pintu mobil. "Melo." Panggil Aramis pada adiknya yang berdiri masih di dalam pintu gerbang sekolah.
Melody melangkah keluar dan saat yang bersamaan melintas mobil Niko keluar pintu gerbang sekolah. Pemuda itu tersenyum pada Melody dengan membunyikan klakson untuk semua orang yang mengenalnya yang berada di depan sekolah.
Lion melihat Melody yang berjalan masuk dan melihat ke arahnya sesaat. Sejenak pemuda itu memikirkan pesan yang dituliskan orang yang menyebut dirinya WizardLine, hal itu membuatnya langsung melirik pada Liam.
"Ada apa? Ayo pulang bersama Ars." Ujar Liam.
"Pulanglah, aku ada urusan." Jawab Lion. "Oh iya, aku titip Susu padamu ya, dan berikan Susu susu setiap dua jam sekali." Ujar Lion yang terdengar membingungkan.
Lion mengeluarkan peliharaannya dan menyodorkannya pada Liam, namun pemuda itu langsung berlari masuk ke dalam mobil karena merasa takut pada binatang kecil itu. Sehingga Lion mengetuk jendela mobil Aramis, namun bukannya jendela Aramis yang terbuka melainkan Aramis membuka kaca jendela di mana Melody duduk.
Melody yang sejak tadi sibuk dengan handphone-nya menjadi bingung kenapa kaca jendela-nya terbuka, namun gadis itu langsung melihat Lion yang memasukan anak anjing miliknya untuk diberikan padanya. Mau tidak mau Lion memberikan Susu pada gadis itu.
"Aku titip ya, tolong berikan susu setiap dua jam sekali." Ujar Lion.
Melody tidak menjawab, fokusnya sudah langsung pada anak anjing yang menggemaskan itu. Tapi gadis itu menjadi tidak mengerti kenapa Lion membawanya, jika seperti itu berarti saat di sekolah tadi anjing itu bersama dengannya juga.
"Sepertinya akan seru." Ucap Aramis pada Liam yang duduk di kursi sampingnya ketika melajukan mobil.
"Semua film dengan ending yang bahagia memang akan seru." Jawab Liam. "Berbeda jika pemeran utamanya kalah."
"Siapa namamu anjing kecil?" Tanpa sadar Melody yang merasa gemas pada Susu, bertanya seperti itu pada anak anjing tersebut.
"Si idiot itu menamainya Susu. Dia memang anak yang idiot. Jelas-jelas bulunya hitam kenapa dia tidak memberinya nama Kopi?" Seru Liam.
"Dia tidak suka kopi." Jawab Melody masih mengelus Susu dengan mengangkatnya dan menempelkannya ke pipi.
"Susu? Bukankah nama itu jadi seperti kucingmu, Melo?" Tanya Aramis.
Melody tidak menjawab, dia hanya jadi teringat pada kucingnya Mimi karena sebenarnya Mimi adalah kucing yang diberikan Lion padanya dan namanya semula adalah Milk. Agar lebih mudah dipanggil, gadis itu memanggilnya dengan Mimi, yang lambat laun menjadi melupakan nama awalnya.
"Semua akan berjalan seperti yang sudah aku ramalkan." Gumam Liam yang hanya dimengerti oleh Aramis.
...–NATZSIMO–...