MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
184. MINTA DITEMANI



Melody terkejut ketika masuk ke ruangan kelas dua dimana Lion dirawat. Lion tidak ada di sana dan ranjangnya juga sudah rapi seperti baru saja dirapikan. Melody menjadi bingung harus bagaimana.


Kenapa dia tidak ada? Tanyanya dalam hati.


Melody segera menuju tempat informasi untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Lion, kenapa dia tidak ada di tempatnya sedangkan tempatnya sudah rapi.


"Pagi tadi Lionel di pindahkan ke ruang VVIP." Jawab petugas informasi.


Setelah mendapat informasi di kamar nomer berapa Lion dirawat, Melody segera bergegas ke ruangan tersebut.


Lion sedang tertidur dengan headphone terpasang di telinganya ketika dia masuk ke dalam ruangan yang hanya ada satu ranjang pasien yang cukup besar. Setelah meletakan semua yang di bawanya Melody duduk di kursi dekat ranjang. Dia hanya diam sambil memperhatikan Lion yang terlelap.


Kedua orang tuanya memang masih ada, tapi selama ini dia hanya tinggal bersama neneknya. Pasti dia sangat kesepian. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Walaupun ibu sudah tidak ada, tapi ayah selalu menunjukan kasih sayangnya padaku, bahkan ketiga kakakku, paman Ron, dan kakek, selama ini mereka bersama-sama denganku hingga aku tidak pernah merasa kesepian. Lion yang malang.


"Astaga." Ucap Lion terbangun dan langsung melepas headphone-nya. Dia terkejut ketika melihat Melody duduk menatapnya. "Ternyata Melon, aku pikir hantu. Mengejutkan aku saja. Kenapa tidak membangunkan aku?" Ujar Lion bangkit duduk. "Datang dengan siapa?"


"Aku membawa pakaian dan makanan untukmu." Jawab Melody sambil mengeluarkan tempat makan yang berisi donat.


"Donat?!" Lion langsung mengambil tiga donat lalu menumpuknya ke jari telunjuk dan segera memakannya. "Untung kau membawa ini kalau tidak aku akan mati kelaparan. Makanan disini sangat tidak enak, padahal aku tidak sakit seharusnya mereka tidak memberiku makanan orang sakit. Donat buatan nenek memang yang terbaik." Gumam Lion sambil mengunyah donat. "Kau datang sendiri?"


"Kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan jadi aku ke sini sendirian." Jawab Melody. "Kenapa kau pindah ruangan?" Tanya Melody.


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba mereka membawaku ke ruangan ini. Mungkin ada orang baik hati yang membayar mahal tempat ini untukku." Jawab Lion asal bicara sambil mengunyah. "Sejujurnya aku juga tidak ingin pindah ke ruangan ini karena di ruangan ini hanya ada aku sendirian. Ya ampun, bagaimana kalau malam nanti ketika aku tidur tiba-tiba muncul hantu. Aku harus bagaimana kalau hanya seorang diri disini?"


"Jangan bicara sembarangan. Tidak akan ada hantu."


"Setahu aku di rumah sakit itu banyak hantu. Apa selama kau berada di rumah sakit kau tidak pernah melihatnya?" Ujar Lion.


"Diamlah, tidak usah bicara hal aneh. Aku tahu kau tidak serius—"


"Kau saja yang menemani aku malam ini." Potong Lion.


"Apa? Aku?" Melody terkejut. "Kenapa aku harus melakukannya?"


"Kemarin saat kau di rumah sakit aku menemanimu terus. Bahkan kau tidak ingin aku meninggalkanmu sedikitpun." Ucap Lion.


"Tapi aku tidak memintamu menemaniku kemarin." Seru Melody dengan sedikit malu.


Lion hanya menghela napas panjang dan langsung mengambil handphone di meja samping ranjang tempatnya berada.


Sejenak Melody menatap Lion yang sedang sibuk dengan handphone-nya. Sejujurnya dia mau menemani Lion namun lagi-lagi dirinya tidak bisa mengungkapkan hal yang sesungguhnya pada Lion. Tapi Gadis itu berpikir ini adalah kesempatan untuknya agar bisa lebih lama bersama dengan pemuda yang dia cintai.


"Baiklah, aku akan bilang pada ayah dulu—"


"Dia sudah mengijinkan." Lion menunjukkan handphone-nya pada Melody dengan sebuah senyum menghiasi wajahnya.


Melody merasa bingung karena ternyata Lion sudah meminta ijin pada ayahnya. Padahal dirinya belum setuju tadi.


"Kenapa kau sudah meminta ijin pada ayahku? Aku kan belum setuju menemanimu?!" Seru Melody dengan mengernyitkan dahinya.


"Tapi tadi kau juga sudah setuju kan?" Lion masih tersenyum dan itu semakin membuat Melody kesal.


Melody menjadi diam saja dengan ucapan Lion padanya. Meski begitu, dirinya senang karena Lion lebih dulu meminta ijin pada ayahnya.


"Melon, aku ingin buang air kecil." Ujar Lion.


"Ya sudah sana." Jawab Melody.


"Aku tidak bisa turun dari tempat tidur, tolong ambilkan pispot di toilet." Pinta Lion dengan wajah menahan senyum.


Melody mengernyitkan dahinya namun setelahnya melakukan permintaan Lion dan memberikan sebuah pispot pada pemuda itu.


"Berbaliklah dulu, dan jangan mengintip." Seru Lion.


Dengan wajah tertekuk Melody berjalan menutup tirai yang menutupi ranjang Lion berbaring dan berdiri di luar tirai tersebut untuk menunggu.


"Jangan mengintip ya!!"


"Diamlah!" Kesal Melody.


"Baiklah, sudah selesai." Ujar Lion.


Melody membuka kembali tirainya dan Lion segera menyodorkan pispot berisi urinnya dengan sebuah senyum agar Melody membuangkannya ke kamar mandi.


"Terimakasih, Melon." Ucap Lion saat Melody menerimanya dan bergegas ke kamar mandi. "Huh, lega sekali sekarang. Ada seseorang yang menemani memang bagus, jadi ada yang bisa membantuku dan tidak selalu harus memanggil suster."


Setelah selesai Melody keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil tisu basah dari tasnya. Dia memberikan tisu tersebut pada Lion agar pemuda itu membersihkan tangannya. Namun sebelum sempat gadis itu menyodorkan padanya, Lion lebih dulu mengambil satu donat dan memakannya.


"Kenapa kau tidak membersihkan tanganmu dulu?" Tanya Melody heran sedangkan Lion menatap gadis itu bingung. "Kau jorok sekali!!"


"Tidak masalah, aku sendiri yang makan." Jawab Lion menunjukkan senyumnya.


Melody meletakkan tisu basah ke pangkuan Lion tanpa kata agar pemuda itu membersihkan tangannya terlebih dulu.


"Baiklah, akan aku bersihkan." Jawab Lion langsung memasukan semua donat ke dalam mulutnya dan langsung membersihkan tangannya. "Besok lusa kau audisi kan?"


"Ya, apa kau akan pergi bersamaku?" Tanya Melody. "Maksudku, kau kan yang membuatku mendapatkan undangan tersebut. Aku ingin kau juga di sana."


"Sebentar akan aku pikirkan." Ucap Lion langsung memperlihatkan gestur tubuh sedang berpikir. "Saat kau audisi bagaimana kalau tiba-tiba aku ingin buang air kecil? Tidak mungkin kan aku memintamu yang sedang bernyanyi untuk mengambilkan pispot?"


Sebenarnya, Melody pun sudah tahu kalau Lion tidak mungkin bisa menemaninya. Walaupun begitu dia tetap ingin mengatakan hal tersebut pada Lion. Gadis itu sangat ingin Lion berada di sana ketika dirinya sedang mengikuti audisi.


"Kau tenang saja, aku sangat yakin kau yang akan lulus audisi tersebut." Ujar Lion dengan penuh keyakinan. "Jadi saat kau lulus dan menjadi penyanyi terkenal kau tidak boleh melupakan jasaku ya! Akulah orang yang membuatmu berada di posisi tersebut. Kau mengerti?"


Melody tidak menjawab. Gadis itu hanya diam saja menatap Lion.


"Kalau kondisiku tidak seperti sekarang ini, aku pasti akan menemanimu, Melon." Ucap Lion dengan wajah serius.


"Memang siapa juga yang ingin ditemani olehmu?" Sahut Melody menunjukkan wajah dinginnya pada Lion.


Melihatnya Lion kembali tersenyum pada Melody.


...***...


Keesokannya Melody yang terus saja menemani Lion dikejutkan dengan kedatangan Aramis yang diminta Ayahnya untuk menjemput adik perempuannya itu.


"Kenapa kau menginap di sini? Untuk apa kau menemaninya?" Saat masuk Aramis langsung menghardik adiknya itu.


Melody yang melihat kedatangan kakaknya itu hanya diam saja dengan kebingungan sedangkan Lion tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya.


"Ars, malam ini kau yang temani aku ya." Ucap Lion. "Melon hanya diam saja, bahkan dia tidak menggubris semua perkataanku. Itu jadi membosankan."


Melody melihat pada Lion dengan tatapan kesalnya. Namun Lion yang tersenyum padanya membuat rasa kesalnya tertahankan.


"Baiklah, ngomong-ngomong malam ini pertandingan Final Liga Champion, kau tidak lupa kan? Kita harus menonton bersama." Jawab Aramis.


"Siapa yang akan bertanding? Sudah sejak perempat final aku tidak menontonnya." Ujar Lion.


"Real Madrid dan Barcelona, El Clasico." Jawab Aramis.


“El Clasico? Real Madrid yang akan menang! Ayo kita bertaruh, Ars!!" Lion bangkit duduk kembali dengan penuh semangat.


"Melo, mana yang kau pilih yang akan menjuarai Liga Champion?" Tanya Ars pada Melody. "Barcelona atau Real Madrid?"


"Pasti Barcelona, kak Ars sering bilang kalau Real Madrid tidak pernah menang dari Barcelona. Jadi kali ini pasti begitu juga." Ujar Melody.


"Percaya diri sekali. Bola itu bundar jadi tidak bisa dipastikan." Gumam Lion kesal. "Kau kan tidak mengerti tentang sepak bola, Melon."


"Kalau begitu kali ini kau akan bertaruh dengan Melo. Yang kalah harus memberikan sesuatu pada yang menang." Ucap Aramis.


"Ke—kenapa dengan Melon?" Tatap Lion heran dan melirik pada Melody setelahnya. "Baik, aku setuju."


"Tenang saja, Melo, Barcelona yang akan menang." Ujar Aramis yang masih berdiri sejak datang. "Jika Lion tidak memberimu sesuatu bilang padaku. Aku adalah saksinya."


Lion mendengus mendengarnya dengan sebuah senyum tipis.


...–NATZSIMO–...