
Aramis dan Anna berjalan-jalan di mall. Seperti biasanya Anna selalu merangkul Aramis setiap kali mereka berjalan di keramaian. Hal itu semakin dibuatnya karena banyak sekali orang-orang yang memperhatikan mereka.
Anna yang hanya memakai hoodie dan penutup kepala yang menutupi kepalanya yang tak memiliki rambut semakin terlihat seperti seorang pria. Entah kenapa hal itu semakin membuatnya merasa senang.
"Mereka semua pasti mengira kita pasangan gay, Ars." Bisik Anna pada Aramis yang pundaknya dirangkul olehnya.
Aramis tertawa mendengarnya. Namun Aramis mengangkat tangannya dan memutar untuk menyingkirkan lengan Anna yang merangkul pundaknya, berganti menjadi dirinya yang merangkul pinggang Anna.
"Dia ini wanita." Ujar Aramis pada orang-orang yang memperhatikan mereka berdua. "Dia wanita asli, bukan pria."
"Hah, kau ini." Gumam Anna menjauh dari Aramis.
Aramis menarik tangan Anna segera dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah toko. Dia langsung menuju ke tempat topi-topi dipajang.
"Bagaimana bagus tidak?" Tanya Aramis memakai salah satu topi berwarna putih dengan inisial A. "Aku juga akan membelinya untukmu." Aramis membuka penutup kepala Anna dan memakaikan topi yang sama dengan topi yang dipakainya. "Inisial nama kita sama."
"Kita jadi semakin seperti pasangan gay." Gumam Anna.
"Ya sudah, kalau begitu tidak jadi saja."
"Jangan, aku terlihat sangat keren pakai topi ini. Aku yakin sekali kalau akan ada wanita yang mendekatiku."
"Anna!!" Protes Aramis dengan ucapan Anna. "Jangan bicara seperti itu!!"
Anna tersenyum menggoda Aramis. Setelah itu merangkul pundaknya lagi.
"Ayo kita beli topi ini, Ars." Ucap Anna.
"Baiklah, aku ke kasir dulu." Aramis melepaskan topi pada Anna dan memasang penutup kepada di hoodie-nya lagi, lalu setelah itu berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Tidak berapa lama Aramis selesai membayar dan berjalan kembali ke tempat dimana Anna sebelumnya berdiri menunggunya, namun pemuda itu tidak melihat Anna di sana. Aramis mencoba mencari di sekitar sambil meneleponnya. Akan tetapi Handphone gadis itu tidak aktif. Aramis menjadi panik jika sesuatu terjadi pada Anna ataupun Anna pergi meninggalkannya.
Dengan sangat panik dan takut, Aramis mencari Anna ke sekeliling mall. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anna ataupun Anna meninggalkan dirinya. Dengan perasaan yang takut bercampur kesedihan Aramis tak berhenti mencari Anna.
Hingga akhirnya pencariannya berakhir, dia melihat Anna berdiri di tengah-tengah tampak kebingungan dengan memegang kepalanya.
Secepatnya Aramis menghampirinya dan melihat keadaannya. Anna tampak terkejut melihat kehadiran Aramis. Aramis pernah melihat tatapan Anna seperti sekarang ini, ketika sebuah motor hampir menabrak Anna tempo hari. Saat itu Anna bertanya siapa dirinya, dia tidak mengenali Aramis. Itu semua pasti karena penyakitnya.
"Anna, ini aku Ars, aku Aramis." Ujar Aramis memegang wajah Anna yang tampak bingung.
"Ars." Ucap Anna tersenyum. "Tiba-tiba tadi aku bingung dengan keadaan sekitar. Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan disini. Untung saja kau datang."
Aramis menarik Anna ke pelukannya tak memedulikan orang-orang di sekitarnya. Tanpa sadar Aramis mengeluarkan air matanya karena sebuah kesedihan bercampur rasa leganya menemukan Anna.
"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Ucap Aramis menghapus air matanya saat memeluk Anna karena tidak ingin gadis itu melihatnya.
...***...
Lion dan Karen berada di sebuah restoran makanan Jepang. Seperti biasa Lion memesan ramen makanan kesukaannya.
"Lion, kapan-kapan kau berangkat ke sekolah lagi dengan seekor kuda seperti waktu itu, aku akan ikut bersamamu." Ujar Karen.
"Kalau aku melakukannya si botak itu akan mengeluarkan aku dari sekolah. Apalagi ketua OSIS juga sudah ganti." Jawab Lion sambil menyeruput mie ramennya.
"Botak? Maksudmu kepala sekolah?"
"Siapa lagi?"
"Dia ayahku."
Lion terkejut hingga batuk-batuk dan mengeluarkan mie yang ada di mulut ke mangkuknya. Dia sama sekali tidak tahu akan hal itu.
Lion yang sedang minum kembali batuk-batuk mendengar ucapan Karen yang kesal padanya.
"Kau benar-benar sangat jorok." Gumam Karen karena Lion memuncratkan sedikit air dari mulutnya.
"Kenapa tiba-tiba membahasnya? Tidak ada hubungannya aku yang tidak tahu siapa ayahmu dengan Melon." Seru Lion kesal. Namun setelah itu mengatur napasnya karena tidak ingin Karen mengira dirinya sedang marah. "Dengarkan, sekarang kita akan lebih sering bersama, jangan bahas apapun yang tidak ada sangkutpautnya."
"Ini terasa aneh." Gumam Karen. "Aku tahu kau tidak menyukaiku. Apa kau menjadikan aku pelarianmu, Lion?"
"Apa maksudnya pelarian? Aku tidak sedang jogging atau olahraga." Ucap Lion kembali makan.
"Sudahlah, malas bahas hal itu lagi." Seru Karen kesal. "Tapi apa Melody akan menikah dengan Niko? Apa mereka sudah merencanakan sejauh itu? Kau ini kan teman mereka makanya aku bertanya padamu."
"Jangan bergosip saat makan!! Dan jangan disaat apapun juga. Intinya jangan bergosip!!" Seru Lion lagi setelah itu meminum jus melon miliknya lagi.
Karen hanya membuang napas melihat pada Lion.
...***...
Sepeninggalan Athos, Melody bersama Niko berada di rumah Niko. Mereka berdua sedang makan malam. Menu makan malam mereka adalah steak, makanan favorit Niko.
"Maaf ya, biasanya aku yang memotongnya untukmu." Senyum Niko saat Melody yang memotong daging steak miliknya.
Karena tangan kiri Niko masih sakit akibat tertusuk pisau, sehingga Melody yang memotongi steak milik Niko. Padahal kalau biasanya, pemuda itu yang selalu melakukannya untuk Melody. Namun tangan kirinya masih belum bisa digunakan untuk apapun karena masih terasa sangat sakit.
"Tidak masalah." Jawab Melody meletakkan steak milik Niko yang sudah selesai dipotong-potong olehnya. "Tanganmu pasti masih terasa sangat sakit."
"Sejak tadi kau tidak menatap padaku. Apa agar kau tidak takut?" Tanya Niko.
Melody mengangguk tipis menjawabnya setelah itu memasukan potongan kecil daging ke dalam mulut.
"Ketika pertama kali melihatmu di bandara saat kita semua menghentikan kepergian Lion, aku rasa aku langsung menyukaimu. Karena itu aku datang ke acara pembukaan cabang café Musketeers. Aku ingin melihatmu disana. Aku berharap kau akan menghubungiku setelah aku memberikan nomer handphone-ku padamu waktu itu. Tapi sepertinya aku tidak berpikir lebih dulu saat aku memberikan nomer handphone-ku padamu. Seharusnya aku tahu kalau kau tidak akan pernah membutuhkan bantuan dari orang asing karena kau memiliki ketiga kakak yang selalu membantumu. Dan kau juga memiliki Lion, walaupun dia bilang dirinya hanya anjing penjagamu tapi dia yang selalu ada di dekatmu. Entah kenapa setiap kali aku memikirkan hal itu, aku jadi merasa menyesal karena tidak bertemu denganmu sejak dulu. Aku juga berharap kalau aku yang lebih dulu bertemu denganmu dan bukan Lion, agar hanya aku yang selalu datang menolongmu. Aku berharap kalau aku yang menolongmu dari kejadian yang membuatmu trauma itu, agar kau tidak takut padaku seperti kau tidak takut pada Lion." Ucap Niko panjang lebar.
"Niko, kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu, yang bisa kita lakukan memperbaikinya sekarang." Jawab Melody. "Aku minta maaf karena waktu itu aku tidak menyimpan nomermu. Aku juga minta maaf karena takut padamu setelah kejadian itu. Mulai sekarang aku hanya akan menghubungimu untuk meminta bantuan apapun."
"Tidak, jangan menghubungiku hanya karena ingin meminta bantuanku saja. Aku ingin kau selalu menghubungiku bahkan walau tak ada apapun yang ingin dibicarakan. Kau harus tetap menghubungiku walau kita baru bertemu atau hanya sekedar bertanya hal yang tidak penting."
"Ya, baiklah." Jawab Melody melihat Niko dengan senyum. "Aku juga tidak ingin kau bertindak nekat seperti membiarkan tanganmu tertusuk pisau."
Niko tersenyum mendengarnya. Dia merasa senang karena Melody memberikan senyumnya, karena hampir tidak pernah gadis itu tersenyum, apalagi di saat menatapnya.
"Ayahku akan pulang jumat ini." Ujar Melody menatap ke steak yang belum habis dimakannya.
"Itu kabar bagus." Jawab Niko. "Setelah aku bicara padanya, kita bisa memulai mempersiapkan acara pertunangan kita. Lalu setelah itu persiapan kau pindah bersamaku ke Rusia."
Melody menatap Niko.
"Dan terakhir... sebaiknya kau pilih dari sekarang negara mana yang kau inginkan menjadi tempat berbulan madu kita?!"
Melody membeku mendengar ucapan Niko.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Jangan lupa juga ikutan giveaway dengan masuk ke grup chat author.
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.