MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
088. HIDUP DI MIMPI



Prothos duduk di kursi tunggu di depan ruang ICCU dimana Athos dirawat. Saat ini pukul dua malam, dan dirinya tidak tidur. Semenjak perpisahannya dengan mantan kekasihnya, hidup Prothos sangat kacau.


Biasanya dia mengatur semuanya dengan baik, waktu makan dan waktu tidurnya serta olahraga yang dilakukannya setiap hari, namun sekarang semuanya berantakan. Semua sudah tidak teratur karena kepergian Widia masih menyisakan luka untuknya. Setiap malam rasa sakit itu masih melanda dirinya, dan membuat kemelut dalam benaknya.


Dia masih tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Perkataan Mona menurutnya tidak mudah untuk dilakukan. Dia tidak ingin menemui Widia karena takut itu akan membuatnya semakin merasa bersalah.


Prothos berjalan mendekati jendela ruangan Athos. Dia menatap kembarannya itu yang masih berjuang agar tetap hidup. Saat ini dia merasa membutuhkan Athos, dia ingin menceritakan segalanya pada kembarannya itu dan meminta pendapatnya seperti biasanya. Tapi sekarang tak ada yang bisa dilakukan olehnya, Athos pun masih terbaring tak berdaya dengan meninggalkan kesedihan bagi siapapun. Tasya tak jadi menikah tetapi bahkan Athos tidak bisa bersama dengan gadis itu sekarang.


"Selama ini Ato tidak membiarkan kita tahu rencananya." Seru Aramis yang datang. "Dia menanggung semuanya sendiri, dan sekarang pun dia berjuang sendirian di dalam sana. Aku tidak tahu di antara kita bertiga nasib siapa yang lebih baik. Kadang aku iri padanya karena dia selalu terlihat tenang walau tahu Tasya akan menikah. Saat tahu penyakit Anna akupun jadi merasa iri padamu. Setidaknya gadis yang kau cintai baik-baik saja walau tak bersamamu."


Prothos hanya diam memunggungi Aramis yang baru saja datang. Dia terus menatap Athos di dalam sana.


"Aku sangat ingin menemani Anna tapi aku pun tidak bisa meninggalkan kalian berdua di saat seperti ini. Kalau saja Ato baik-baik saja, semuanya akan lebih mudah." Lanjut Aramis. "Oto, aku merindukan kebersamaan kita bertiga di meja makan. Sejak kau menghilang Ato selalu sendiri di pagi hari, karena aku juga jarang menemaninya. Kita berdua terlalu egois dan selalu menganggap Ato bisa melakukan segalanya tanpa kita. Dia memang bisa, tapi itu pasti terlalu berat untuknya. Ayah meneleponku setelah Athos meneleponnya untuk memintanya pulang. itu pertama kalinya Ato meminta bantuan pada orang lain. Tapi tetap saja aku telat menyadarinya."


"Aku yang paling keterlaluan, Ars." Seru Prothos tanpa menoleh. "Aku bahkan tetap pergi saat tahu Anna sakit parah, dan tidak menghiburmu. Dan aku juga tidak memedulikan saat Niko datang untuk menyuruhku pulang atas permintaan Ato. Parahnya lagi, aku mengabaikan mimpi-mimpi itu. Aku pasti tidak akan memaafkan diriku kalau Ato tidak selamat."


Aramis tak berkata apapun, dia bisa melihat dari pantulan di kaca jendela kalau saat ini kembarannya itu mengeluarkan air mata kesedihannya.


...***...


Lion duduk di beranda kamarnya ketika jam tiga pagi. Sudah dua jam dua berada disana, hanya duduk menatap arah jendela kamar Melody yang kamarnya sudah gelap karena saat ini gadis itu sudah tidur.


Dia dikejutkan ketika mendengar suara Melody yang seperti berteriak.


Melody yang tertidur menjadi gusar ketika di dalam mimpinya melihat kembali penusukan yang terjadi pada Athos. Gadis itu terbangun dengan berteriak. Tidak berapa lama ayahnya masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa, Melo?" Tanya ayahnya panik saat menghidupkan lampu kamar.


Lion melihat kehadiran ayah Melody dari tempatnya karena tirai jendela kamar gadis itu tidak pernah tertutup. Dia tahu pasti saat ini Melody mengalami mimpi buruk mengenai penusukan Athos yang dilihatnya.


"Ayah, bagaimana kondisi kak Ato? Aku ingin melihatnya." Ucap Melody dengan menangis. "Aku bermimpi melihat saat kak Ato ditusuk kemarin. Aku ingin melihat kak Ato. Antarkan aku ke rumah sakit, ayah."


"Tenang sayang, kakakmu baik-baik saja, dia sedang tidur, kalau kau datang tidurnya akan terganggu." Jawab ayah memeluk Melody.


"Aku merindukan kak Ato, ayah. Kapan dia akan bangun?"


Ayah tak menjawab dan hanya memeluk putrinya yang menangis ketakutan.


"Seharusnya aku tidak membiarkanmu berada disana." Ucap Lion. Dirinya berpikir seharusnya tidak membiarkan Melody berada di acara pernikahan itu, waktu penusukan Athos terjadi.


...***...


Lion masuk ke dalam ruangan dimana Anna dirawat setelah sepulang sekolah. Dia membawakan makanan untuk Aramis dan Anna.


"Dimana Ars?" Tanya Lion saat tidak melihat keberadaan Aramis di ruangan itu.


"Aku memintanya membelikan makanan manis. Aku sedang ingin makan makanan manis." Jawab Anna yang duduk di atas ranjangnya.


"Bagaimana kabarmu, Anna?" Lion meletakkan makanan yang dibawanya di meja yang berada di samping pintu masuk. "Kapan kau akan pergi?" Tanya Lion berdiri di samping ranjang kanan Anna di jarak dua meter dari Anna.


"Tentunya, kau tahu sendirikan kalau aku paling bisa diandalkan." Senyum Lion. "Apa yang harus aku lakukan untukmu?"


"Kemungkinan aku akan lama berada di sana. Setelah operasi, aku juga masih harus melakukan pemulihan. Kau juga tahu efek dari operasi itu jika aku selamat, karena itu aku akan kembali ketika berhasil mengumpulkan puing-puing ingatanku dan menyatukannya seperti semula."


Anna mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Lion.


"Aku ingin setiap hari kau melaporkan apa yang terjadi dengan sahabatmu padaku. Apa yang dilakukannya, bagaimana perasaannya saat itu, bahkan kebodohan apa yang dilakukannya." Ujar Anna dengan diiringi tawa. "Aku ingin kau menjadi mata-mataku."


Lion tersenyum, "Baiklah, aku akan jadi mata-matamu. Aku akan mengintai kemanapun si bodoh itu pergi dan melaporkan semuanya padamu."


"Kau juga harus berjanji padaku satu hal." Ucap Anna lagi. "Karena mungkin saja aku akan melupakan semuanya termasuk tentangmu, aku ingin mulai sekarang kau berkata jujur padaku, Lion."


Lion membuang napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Ya, baiklah."


"Aku mendengar kalau paman Leo juga akan menyetujui rencana Niko. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu saat ini? Kau baik-baik saja? Apa saat ini kau sedih?" Tatap Anna.


Lion memasukkan kedua tangannya ke kantong celana dan setelah itu tersenyum dengan arti.


"Biasa saja... Tidak ada yang aku rasakan. Aku tidak sedih ataupun merasa senang." Jawab Lion dengan tatapan sayu. "Maksudku... seperti biasanya aku selalu tertawa dan membuat lelucon sepanjang hari, namun semuanya berbeda ketika aku sendirian di malam hari, perasaanku jadi tak bisa aku kendalikan. Dan aku tidak tahu karena apa. Aku pun tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Setiap malam aku selalu terjaga dan tidak bisa tidur... aku selalu meyakinkan diriku baik-baik saja tapi ketika matahari menjelang aku menjadi menyesal. Seharusnya aku tidur karena kenyataan yang harus aku hadapi membuat aku menyadari kalau aku tidak baik-baik saja. Saat menyadari itu, aku jadi ingin tertidur sepanjang waktu, tapi semuanya terus berulang tanpa bisa aku ubah."


"Kenapa kau berpikir tidak bisa mengubahnya?"


"Karena selain aku siapapun lebih berhak menjalani kehidupan yang baik-baik saja." Jawab Lion.


"Maksudmu Niko?" Tanya Anna.


"Ya, aku akan tidur sepanjang waktu dan hidup di dalam mimpiku ketika akhirnya mereka berdua menikah." Senyum Lion dengan menggambarkan sebuah senyuman kesedihan.


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Prothos yang mendengarkan percakapan mereka berdua sejak awal.


"Lalu bagaimana dengan Melo?" Prothos tampak kesal. "Apa dia juga harus tidur sepanjang waktu dan hidup di dalam mimpinya?"


"Tidak, dia akan memiliki kehidupan yang lebih indah dari pada mimpinya. Saking indahnya dia tidak akan melewatkannya dengan menahan rasa mengantuknya. Dia tidak akan rela untuk tidur karena tidak ingin melewatkan kebahagiaannya di dunia yang nyata."


Prothos mendengus kesal mendengar jawaban Lion.


"Bagaimana kalau dugaanmu salah? Bagaimana kalau Melo pun lebih memilih tertidur sepanjang waktu?"


"Aku mengenal adikmu, dia tidak akan tertidur sepanjang waktu. Hal ini lebih mudah untuknya dibanding untukku." Ucap Lion dengan mata berkaca-kaca. "Kau tahu? Sudah berapa lama aku ingin hidup di mimpiku? Yang pasti jauh lebih lama dari sebelum Niko hadir, ah tidak, maksudku... sangat jauh lebih lama saat adikmu menyukai Felix."


Setelah berkata demikian Lion berjalan meninggalkan Prothos dan Anna.


"Bahkan saat ini untuk memejamkan mata dan bermimpi pun sangat sulit untukku." Gumam Lion saat di luar.


...–NATZSIMO–...