MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
086. KITA SANGAT MIRIP



Prothos duduk di kantin rumah sakit seorang diri menonton dirinya yang baru saja menemui beberapa media yang mewawancarainya. Sebuah televisi yang berada di sana menampilkan dirinya yang hanya mengatakan beberapa kalimat. Hal itu membuat beberapa orang yang berada di kantin rumah sakit itu juga berbisik melihat padanya.


'Athos masih berada di ruang intensif, dia masih belum melewati masa kritisnya. Kami membutuhkan dukungan kalian untuk melewati ini semua. Hanya itu saja yang bisa aku sampaikan.' Ujar Prothos di dalam televisi.


Prothos mengalihkan pandangannya seketika ketika banyaknya notifikasi yang dia dapatkan dari aku sosial media yang dia buka di handphone milik Mona. Dalam sekejap Prothos mendapatkan banyak sekali pengikut di akunnya, hingga hampir mencapai satu juta pengikut.


"Ini sangat melelahkan." Gumam Prothos mengusap-usap wajahnya seperti kebiasaannya.


Prothos menutup akun sosial media miliknya dan teralihkan dengan folder galeri yang berada di handphone Mona. Dengan sedikit keraguan Prothos membukanya. Dia melihat-lihat ratusan foto yang terdapat di galeri tersebut.


"Saat memakai pakaian biasa dan rambutnya terurai, dia lumayan juga." Komen Prothos ketika melihat beberapa foto diri Mona. "Gaya berpakaiannya boleh juga, dia punya gaya yang unik. Selama ini aku hanya melihat dia memakai seragam hotel dan rambut yang terikat. Sayangnya karena cara bicaranya seperti itu, dia sama sekali bukan tipeku."


Prothos menurunkan kursornya untuk melihat foto yang diambil lebih lama dan melihat foto Mona bersama seorang pria. Prothos tahu kalau pria tersebut adalah mantan kekasih Mona yang membuat Mona menjadi selingkuhannya.


"Seharusnya dia menghapus foto-foto ini." Ujar Prothos hendak menghapusnya namun berhenti karena dia menyadari akan sesuatu hal.


Bahkan dirinya tidak memiliki kenangan bersama Widia saat ini. Prothos yang tidak memiliki handphone membuatnya tidak menyimpan satupun foto kebersamaan dirinya dengan Widia. Rasa penyesalannya di dalam dirinya mulai muncul kembali.


Tiba-tiba handphone Mona menerima panggilan telepon, dan nama Vino Ex muncul di layar. Melihatnya membuat Prothos tahu kalau dia adalah mantan kekasih Mona.


"Mona, aku dengar kau pindah kerja? Kau tinggal di mana sekarang?" Tanya pria di ujung telepon. "Aku ingin bertemu denganmu."


"Saat ini dia sedang bekerja jadi kau jangan mengganggunya." Ucap Prothos menjawabnya.


"Siapa kau?"


"Aku majikannya." Jawab Prothos


Pria bernama Vino langsung menutup teleponnya tanpa mengatakan apapun lagi. Baru kali ini Prothos menjawab panggilan yang masuk di handphone Mona, biasanya Prothos tidak pernah menjawabnya sekalipun kecuali jika nama teman Mona yang muncul kemarin.


Prothos melihat-lihat kembali galeri milik Mona, dan melihat sebuah foto ketika gadis itu merayakan ulang tahun yang ke 18 bersama mantan kekasihnya di tanggal 31 Desember.


"Ternyata perbedaan usia aku dan dia tidak sampai dua bulan." ujar Prothos melihat foto-foto tersebut.


Lalu Prothos melihat sebuah video yang diambil bulan September tahun lalu. Video memperlihatkan Mona yang sedang belajar di dalam kamarnya.


"Ternyata kuliah itu sangat berat, kalau bukan karena ingin menjadi seorang guru, aku tidak akan kuliah." Gumam Mona di dalam video berbicara pada dirinya sendiri. "Aku berencana menjadi guru killer biar tidak akan ada yang berani membantah perkataanku!! KALIAN SEMUA AKAN MATI ANAK-ANAK NAKAL!!" Teriak Mona di dalam video.


Tanpa sadar Prothos tertawa melihatnya.


...***...


Leo menyambut kepulangan putrinya dari rumah sakit ketika sore menjelang. Niko mengantar Melody pulang, sedangkan Lion menumpang bersama mereka di mobil Niko.


"Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Leo dan Melody mengangguk. "Masuklah, kakek juga sudah menunggu. Niko masuklah dulu, makanlah cemilan bersama Melo dan temani kakek sebentar."


"Baiklah." Jawab Niko.


"Lion, tunggu dulu!!" Seru Leo saat Lion hendak berjalan menuju rumahnya.


Melody memperhatikannya dan ingin tahu kenapa ayahnya memanggil Lion. Begitu juga dengan Niko.


"Aku masih kenyang, aku tidak ingin cemilan." Ujar Lion.


"Temani aku ke binatu untuk mengambil cucian." Seru Leo.


"Pakaiannya banyak, tangan Niko masih seperti itu. Sekarang kau juga berani menolak permintaanku ya Lion. Padahal aku ingin memberikan oleh-oleh dari Italia padamu."


"Oleh-oleh?" Lion langsung berlari masuk ke halaman rumah Melody dengan senyuman.


Melody langsung masuk ke dalam rumah dengan diikuti Niko dibelakangnya. Niko merasa kalau Lion sudah sangat dekat dengan ayah Melody, itu membuat dirinya menjadi cemburu saat ini.


...***...


Lion memasukkan pakaian yang sudah dicuci dan disetrika ke dalam bagasi mobil. Jumlahnya memang sangat banyak hingga Lion harus berkali-kali bolak-balik mengangkutnya, sedangkan ayah Melody, Leo, hanya memerintahkan Lion sambil bersandar ke mobilnya.


"Kau keterlaluan ayah, kau memperbudak anak kecil sedangkan kau hanya berdiri saja." Keluh Lion setelah memasukan semuanya ke dalam mobil. "Aku menyesal karena sudah terpedaya karena diiming-imingi oleh-oleh dari Italia yang hanya sekedar cokelat, padahal aku berharap kau akan memberiku jam Panerai. Aku juga yakin kau membeli cokelat tersebut di bandara, kan?!"


Leo, ayah Melody tidak menghiraukan celoteh Lion dan langsung masuk ke dalam mobil. Dengan kesal Lion juga masuk ke kursi setir.


"Kalian memang keluarga yang suka sekali menyiksa aku." Gumam Lion sambil menjalankan mobil.


"Lion, apa tanggapanmu dengan rencana Niko yang ingin menikahi Melo?"


Akhirnya yang dikira Lion benar, ayah Melody mengajaknya pergi pasti karena ingin membahas masalah itu dengannya.


"Kau temannya Niko 'kan? Dia orang seperti apa? Apa Melo akan bisa hidup bersama dengannya?" Tanya Leo lagi karena Lion belum menjawab pertanyaannya di awal.


"Niko itu orang yang sangat baik, dia selalu jujur, makanya kadang dia terdengar seperti suka pamer. Melon pasti juga sudah tahu itu makanya dia setuju kan?" Ujar Lion fokus melihat ke arah jalan depan.


"Sifat Melo itu sama persis dengan ibunya, tidak ada bedanya sama sekali. Melo pernah bilang padaku kalau dia akan menikah dengan pria yang mirip seperti aku, itu pasti karena dia merasa hanya pria yang seperti ayahnya yang bisa membuatnya nyaman. Sifat Melo itu sangat dingin dan keras kepala pada apapun, hanya pria yang bersikap hangat yang mampu melunakannya. Aku rasa bukan Niko."


"Paman, apa maksud dari perkataanmu?"


"Lion, kita memiliki banyak persamaan. Selain arti nama kita dan tanggal lahir kita sama, kau juga selalu bisa menangani sifat dan sikap Melo. Hanya kau yang selama ini bisa melunakan Melo."


"Tidak paman, aku hanya mencoba mengalah saja karena takut pada kalian jika Melon sampai marah." Sanggah Lion.


"Jadi kau tidak masalah kalau Melo menikah dengan temanmu Niko?" Tatap Leo pada Lion yang tak sekalipun melihat kearahnya.


"Melon juga sudah setuju kan? Ya, walaupun aku merasa sedikit masalah karena mereka masih sangat muda. Aku hanya kasihan pada Melon yang tidak bisa mewujudkan mimpinya karena menikah di usia yang sangat muda bahkan dia belum berusia enam belas tahun."


"Baiklah, aku sudah menangkap perkataanmu." Ujar Leo. "Tidak sampai dua bulan lagi ulang tahun Melo yang ke enam belas, aku akan meminta Niko agar menikah setelah Melo berusia enam belas tahun."


Lion memegang setir mobil dengan sangat kuat dengan kedua tangannya, dia menahan rasa kesalnya pada dirinya yang tidak bisa berbuat apapun.


"Ini terlalu sangat cepat. Akhirnya putri kesayanganku harus aku relakan pada seorang pemuda, bahkan dia akan pergi meninggalkan aku dan tinggal di tempat yang sangat jauh. Ini jadi terasa sangat menyedihkan." Ucap Leo bersandar ke jok mobil dan membuang napasnya. "Benarkan, Lion?"


"Ya ampun, kalau begitu kau ikut pindah saja ke Rusia, ayah!!" Lion menoleh pada ayah Melody.


"Jangan panggil aku ayah!!" Seru Leo kesal melirik pada Lion. "Kau bukan anakku!! Kau bukan siapa-siapa!! Mulai sekarang jangan panggil aku ayah!!"


"Baiklah, Leo." Ucap Lion dengan tawa.


Ayah Melody hanya ikut tertawa mendengar Lion memanggilnya dengan namanya.


Kita sangat mirip. Batin Leo.


...–NATZSIMO–...