MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
093. MENIKAH HARI INI



"Tapi aku akan skip bagian itu" Senyum Niko yang berhenti mendekati Melody.


Melody yang masih terkejut dan sedikit takut menarik tatapannya dari Niko dan langsung segera turun.


"Tunggu sebentar!" Niko ikut turun membuat Melody menghentikan langkahnya.


Niko mengambil semua belanjaan Melody yang ada di bagasi belakang dan langsung memberikannya pada gadis itu yang sudah berada di dalam halaman rumahnya.


"Aku senang kau sudah mempersiapkan kepindahanmu ke Rusia dengan membeli semua baju tebal itu." Senyum Niko setelah itu berjalan ke mobilnya.


Melody berjalan masuk ke rumahnya sambil berpikir alasan dia membelinya hanya karena Lion yang mengatakan dirinya harus selalu memakai pakaian tebal saat di Rusia.


"Apa aku keterlaluan pada Niko?" Gumam Melody saat masuk ke dalam rumahnya di sela membuang napas.


...***...


Lion masuk ke salah satu café The Three Musketeers dan langsung menuju dapur di mana Sandy berada. Ada tujuan penting yang ingin dirinya bicarakan dengan Sandy saat ini.


"Sandy, semua perijinan sudah selesai." Ujar Lion.


"Benarkah?" Tanya Sandy berjalan mendekati Lion. "Lalu bagaimana? Apa kita harus menunggu Ato sampai dia sembuh?"


"Tidak perlu, dimana Wisnu?" Tanya Lion.


"Di cabang lain." Jawab Sandy.


"Kau dan Wisnu tolong urus selanjutnya, kita akan mulai produksi. Ato pasti juga ingin agar semua diproduksi secepatnya." Ujar Lion. "Kita produksi masing-masing sepuluh ribu produk dulu."


"Kau serius Lion? Sebanyak itu? Bagaimana cara pemasarannya? Dan biayanya bagaimana? Ato pun tidak punya uang sebanyak itu." Ujar Sandy tidak percaya dengan perkataan Lion.


"Berapa kira-kira yang dibutuhkan untuk memproduksi sebanyak itu?"


"Jika tiga produk diproduksi masing-masing sepuluh ribu, kita membutuhkan lebih dari satu miliyar. Dari mana uang sebanyak itu? Ato saja selalu berpikir bagaimana dia mendapatkan uang yang banyak untuk produksinya nanti."


Lion tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir, kau urus saja produksinya. Sudah saatnya membongkar celengan ayamku." Lion berjalan keluar dari dapur.


"Celengan ayam?" Tanya Sandy bingung. "Hah, dia anak yang gila. Dia dan Ato sama gilanya." Keluh Sandy sepeninggalan Lion. "Dia juga belum menjawab bagaimana cara pemasaran produknya saat semuanya sudah diproduksi. Sebanyak itu jika tidak laku akan sangat buang-buang uang. Kenapa Ato menyerahkan project ini pada bocah sepertinya? Kapan dia akan sembuh?" Sandy terlihat sangat kesal sendiri.


...***...


Aramis dan Anna berjalan menuju dimana Athos dirawat. Malam ini mereka akan pulang dari rumah sakit karena besok Anna akan berangkat ke Jerman. Prothos dan Tasya yang duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan ICCU beranjak melihat kehadiran mereka.


"Kalian akan pulang?" Tanya Prothos.


"Ya, untuk mempersiapkan segalanya sebelum besok aku berangkat." Jawab Anna. "Aku ingin melihat Ato sebelum berangkat." Ucap Anna sambil merangkul Tasya dan berjalan mendekati jendela ruangan Athos dirawat.


Tasya menangis dirangkulan Anna ketika mereka melihat Athos.


"Tenang saja Tasya, Ato akan segera bangun. Dia tidak akan menyerah pada takdir buruk." Ujar Anna mengusap kepala Tasya yang bersandar ke pundak Anna. "Saat dia bangun, tolong bilang padanya kalau aku pun tidak akan menyerah pada takdir, takdir yang akan menyerah padaku. Seperti dirinya."


Prothos memegang pundak Aramis untuk memberikan kekuatan pada kembarannya itu dalam kesedihannya akan penyakit Anna dan pada kepergiaan Anna besok.


"Anna, kami menunggumu kembali." Ujar Prothos.


"Saat aku kembali, aku ingin kita berlibur lagi seperti waktu itu, tapi kali ini dengan seseorang yang kau cintai, Oto." Jawab Anna setelah itu memeluk Prothos sebagai salam perpisahan.


...***...


Aramis membantu Anna memasukan semua pakaian dan semua barang-barang yang diperlukan Anna ke koper besar. Aramis menyuruh Anna duduk saja di sofa di ruang tamu sedangkan dirinya yang melakukan semuanya.


"Kau harus selalu menghubungiku saat di sana." Seru Aramis sibuk menyusun semuanya di koper. "Aku sudah menyetel alarm jam berapa saja kau harus menghubungiku setiap hari, dan kau harus melakukannya. Beritahu juga beberapa nomer handphone perawat dan dokter yang akan merawatmu di rumah sakit."


"Untuk apa? Kau pun tidak bisa bahasa Jerman. Bahasa Inggrismu juga payah." Tawa Anna.


"Aku akan mulai belajar bahas Jerman kalau perlu." Tatap Aramis.


"Setelah ujian aku akan menyusulmu, semoga saja Ato sudah sembuh." Ujar Aramis duduk di lantai dan menatap Anna. "Aku tidak ingin kau pergi sendiri. Aku pasti sangat merindukanmu nanti, bahkan saat ini pun aku sudah merindukanmu."


"Sudahlah Ars, jangan berkata seperti itu. Aku akan segera kembali saat sembuh."


"Kau harus kembali Anna. Berusahalah untuk sembuh, berusahalah untuk tidak melupakanku. Kalau kau melupakan aku, berusahalah mengingat apa yang sudah kita lalui bersama, baik itu saat-saat bahagia atau pun saat-saat menyedihkan. Aku ingin kau mengingat semuanya dan tak ada yang tidak kau ingat, karena aku mau kau melihatku seperti sekarang kau melihatku. Aku tidak ingin ada yang berubah."


"Ya, aku akan berusaha. Aku pasti akan mengingatmu kembali jika saja aku melupakanmu. Aku pasti akan mengingat seberapa bodohnya dirimu, Ars." Jawab Anna dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kau harus berjanji padaku, di saat aku berhenti menghubungimu kau tidak perlu menghubungiku, karena mungkin saja saat itu aku sudah melupakanmu."


Anna menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Tapi kau tenang saja, Ars, aku punya cara sendiri untuk mengingatmu kembali." Tatap Anna dengan air mata. "Tunggulah aku hingga aku mengingatmu lagi. Kau juga tidak perlu menemuiku karena aku yang akan datang kembali padamu. Dan kalau ternyata operasi itu tidak berhasil..."


"Tidak Anna, jangan berkata seperti itu." Seru Aramis.


"Kau harus melupakan aku." Ucap Anna. "Kau harus terus melanjutkan hidupmu, dan carilah harimau betina lainnya." Anna menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena mengatakan hal itu membuatnya sangat bersedih.


"Tidak, aku yakin kau akan datang lagi padaku. Aku yakin kau akan sembuh dan menemuiku setelahnya." Aramis segera mendekati Anna dan menatapnya lekat. "Kau itu adalah anjingku, kau anjing yang setia padaku." Senyum Aramis memegang leher Anna dengan kedua tangannya. Memegang kalung pemberiannya yang selalu dipakai Anna.


"Aku pasti akan merindukanmu, Ars." Peluk Anna. "Bahkan sekarang aku sudah merindukanmu walau saat memelukmu."


...***...


Anna melihat dirinya di depan cermin dengan sebuah gaun pengantin dan rambutnya yang panjang terurai. Membuat dirinya tersenyum pada pantulan cermin tersebut.


"Anna..." Panggil Aramis.


Anna menoleh ke belakang untuk melihat Aramis yang memanggilnya, Aramis memakai pakaian pengantin berwarna hitam menatap Anna dengan tersenyum.


Namun tiba-tiba Anna membuka matanya.


Anna tersentak bangun dan tersadar kalau semua itu hanya sebuah mimpi. Hal itu membuatnya menjadi bersedih.


"Ada apa?" Tanya Aramis yang tertidur di sebelah kanan Anna dan masih memeluknya.


Semalam mereka berdua menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol banyak hal karena tidak ingin melewati malam terakhir mereka dengan tidur, namun tanpa sadar mereka berdua terlelap bersama di tempat tidur Anna.


"Aku bermimpi indah." Senyum Anna pada Aramis yang wajahnya sangat dekat di tatapannya. "Aku yakin suatu saat mimpi itu menjadi nyata."


Aramis menarik tubuh Anna yang berada di pelukannya menjadi semakin mendekapnya.


"Semua mimpi indah memang akan menjadi nyata." Jawab Aramis tersenyum dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Anna. Ujung hidung mereka bersentuhan. "Tidurlah lagi, ini terlalu pagi untuk kita bangun. Aku masih ingin tidur bersamamu."


Anna mendorong wajah Aramis yang menempel pada wajahnya, dan menatapnya untuk menceritakan isi mimpinya.


"Aku melihat diriku di cermin. Aku memakai gaun pengantin yang sangat indah dan rambutku terurai panjang, lalu kau memanggilku. Kau sangat tampan di mimpiku dengan jas pengantin yang kau kenakan, kau tersenyum padaku. Dalam mimpi itu kita akan menikah, Ars."


"Kalau begitu kita menikah hari ini saja." Jawab Aramis tersenyum simpul.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......