MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
158. BERBAGI TEMPAT TIDUR



Fourth Harrison Hotel, tempat di mana Prothos dan Mona menginap. Mona mengikuti Prothos masuk ke dalam kamar hotel yang mereka sewa. Gadis itu tidak bisa berbuat apapun dan berharap Prothos memegang perkataannya yang tidak akan menyentuhnya.


"Ternyata hotel ini tidak kalah dengan Grand Hevitt Hotel milik keluarga Niko." Ucap Prothos ketika masuk ke dalam kamar hotel setelah itu berjalan ke arah kamar mandi.


"Kau mau apa?" Tanya Mona melihat Prothos.


"Mandi." Jawab Prothos singkat setelah itu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Mona melihat ke sofa yang ada di ruangan tersebut, ukuran sofa tersebut sangat kecil karena hanya satu seat, jadi tidak mungkin dirinya tidur di sana. Dia menjadi sangat bingung dimana dia akan tidur.


"Kenapa harus turun hujan sangat deras di sini?" Keluh Mona sambil duduk di sofa dan menghidupkan televisi dengan remote.


Tidak berapa lama Prothos keluar dari kamar mandi. Mona masih asyik menonton acara televisi dengan sesekali tertawa karena acara yang ditontonnya merupakan acara komedi.


"Kau tidak ingin mandi?" Tanya Prothos pada Mona yang tertawa.


Mona menahan tawanya dan menoleh pada Prothos sesaat. Pertanyaan Prothos membuatnya merasa tidak mengerti. Untuk apa pemuda itu mengatur dirinya?


"Mandilah dulu baru tidur." Ujar Prothos lagi. "Ketika tubuh kotor saat tidur, kuman penyakit akan menyerangmu dan bisa membuatmu kurang sehat ketika bangun. Aku juga tidak ingin berbagi tempat tidur dengan seseorang yang tidak mandi."


"Aku akan tidur di sini." Jawab Mona. "Kau bisa tidur di tempat tidur sendiri."


Prothos mendengus kesal mendengarnya. "Kau tidak percaya kata-kataku?" Tatap Prothos. "Aku tidak akan macam-macam pada wanita sepertimu. Jika mau aku bisa mencari wanita yang jauh lebih cantik darimu untuk bercinta denganku saat ini juga."


Mona bangkit berdiri dengan tatapan kesal pada Prothos dan langsung berjalan masuk ke kamar mandi.


"Apa maksudnya? Dia bilang begitu dengan maksud mengatai aku jelek? Astaga, dia tidak perlu mengatakannya sejelas itu." Kesal Mona ketika berada di dalam kamar mandi.


...***...


Melody yang berada di kamarnya, melihat ke arah kamar Lion yang lampunya menyala. Entah sejak kapan dia sudah lama tidak melihat lampu kamar tersebut menyala dan akhirnya sekarang menyala lagi. Pasti karena Liam ada di kamar tersebut sehingga lampunya dinyalakan lagi, itu yang dipikirkannya.


Tiba-tiba handphone gadis itu yang berada di atas meja belajar bergetar, dengan cepat dia menjawab telepon dari Niko dengan duduk di kursi.


"Kau sudah sampai, Niko?" Tanya Melody.


"Lima belas menit yang lalu aku sampai. Sekarang aku sudah berbaring di tempat tidur. Aku tidak mengganggumu, kan? Kau belum tidur, kan?" Ujar Niko merubah posisinya yang berbaring untuk melihat jam dinding yang menunjukan lewat pukul sembilan malam.


"Belum, aku masih belum mengantuk. Aku akan belajar sebentar agar mengantuk." Jawab Melody. "Kalau kau sudah mengantuk, tidurlah segera, Niko."


"Melody, besok lusa keluarga kita akan makan malam. Itu hari terakhir kita akan bertemu sebelum akhirnya kita bertunangan, kan?"


Sesaat Melody terdiam memikirkannya. Tidak terasa kalau hanya tersisa sekitar satu minggu dirinya dan Niko akan bertunangan.


"Iya Niko, ada apa?" Melody bertanya karena sepertinya ada yang ingin Niko katakan padanya.


"Bagaimana kalau besok kita pergi berjalan-jalan?" Seru Niko setelah bangkit duduk. "Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau."


"Baiklah. Kita akan kemana?"


"Entahlah, akan aku pikirkan kita akan menghabiskan waktu kemana besok." Jawab Niko dengan sebuah senyum senang mendengar Melody yang bersedia pergi dengannya. "Sekarang aku akan tidur. Besok aku akan menjemputmu. Selamat malam sayang. Aku sangat mencintaimu, Melody."


"Niko benar-benar sangat malang, seharusnya dia tidak mencintai wanita sepertiku." Ucap Melody mengusap air matanya dengan jemari tangan kanannya.


Melody bangkit berdiri untuk melihat ke arah kamar Lion. Namun dia terkejut ketika melihat Liam berdiri melihatnya di beranda kamar.


"Halo Melody." Liam melambaikan tangannya dengan sebuah senyum ceria.


Secepatnya Melody menutup tirai jendela kamarnya yang tidak pernah dirinya tutup selama ini. Dan segera kembali duduk di kursi dengan perasaan malu karena baru saja dirinya ketahuan berniat melihat kamar Lion.


Lion yang ada di balik pintu menuju beranda di kamarnya melihat Melody juga. Namun pemuda itu tidak bereaksi apapun.


...***...


Mona keluar dari kamar mandi dan lampu kamar tersebut sudah dipadamkan oleh Prothos. Saat ini pemuda itu sudah berbaring di tempat tidur. Sedikit membuat gadis itu bingung harus bagaimana.


"Kau sudah tidur?" Akhirnya Mona memberanikan dirinya bertanya seperti itu.


Tidak ada jawaban dari Prothos dan sedikitpun pemuda itu tidak bergeming dari posisinya yang tertidur memunggungi arah Mona. Sejenak Mona terdiam untuk mengambil langkah, memberanikan dirinya naik ke tempat tidur.


Gadis itu menoleh ke arah Prothos yang sudah tertidur di sampingnya. Dia yakin kalau Prothos sudah tertidur. Dengan segera dirinyapun berbaring untuk segera tidur juga.


Akan tetapi kebiasaannya yang tertidur dengan lampu yang menyala membuat Mona tidak bisa memejamkan matanya di ruangan yang gelap tersebut. Ditambah keberadaan Prothos yang berbaring di sampingnya, membuat dirinya terus tegang dan tidak bisa rileks.


Bahkan dirinya saat ini merasa sangat kedinginan karena pendingin ruangan yang hidup berada di suhu terendah. Dia tidak ingin menambah suhunya karena pasti Prothos menyetelnya seperti itu. Tetapi dirinya juga tidak bisa memakai selimut karena Prothos memakainya. Mona tidak ingin berada di dalam selimut yang sama dengan Prothos.


Gadis itu mengubah posisi tidurnya beberapa kali untuk mencoba mencari kenyamanan. Namun tetap tidak bisa.


Tiba-tiba Prothos beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah saklar lampu, menghidupkan lampunya. Mona menjadi terkejut ketika pemuda itu melakukannya hingga dia segera beranjak duduk.


"Kau tidak bisa tidur karena lampunya menyala kan? Kenapa kau tidak menghidupkannya saja?" Tatap Prothos dengan tatapan kesal, berdiri di depan tempat tidur. "Kau terus saja bergerak dan membuat aku jadi terbangun."


Mendengar perkataan Prothos membuat Mona terkejut. Jadi karena dirinya Prothos terbangun dari tidurnya.


"Maafkan aku." Jawab Mona.


"Kau bisa memakai selimutnya." Ujar Prothos berjalan kembali ke tempat tidur dan menyingkirkan selimut dari tempatnya. "Jangan berpikiran yang macam-macam! Aku tidak akan berbuat apapun padamu karena aku sudah sangat lelah." Lanjut Prothos sambil berbaring.


Mona mengambil selimutnya dan langsung kembali berbaring. Dirinya jadi merasa sedikit bersalah karena membangunkan tidur Prothos tadi.


...***...


Prothos membuka mata ketika dia merasa sesuatu menimpanya. Dia mendengus tidak habis pikir karena yang terjadi adalah Mona tertidur memeluknya tanpa sadar. Bahkan gadis itu tertidur dengan posisi yang kacau karena bantal yang dipakainya sudah berada di bawah dan sebagian selimut terurai di lantai juga.


"Astaga, sekarang malah dia yang menyentuhku." Prothos sedikit kesal sambil mendorong wajah Mona yang dekat di pandangannya, dan berusaha menggeser gadis yang masih pulas itu agar menjauh darinya. "Cara tidurnya seperti bukan seorang wanita."


Prothos langsung turun dari tempat tidur dan mengambil handphone-nya yang ada di atas meja samping tempat tidur. Saat ini baru jam empat pagi. Pemuda itu langsung berjalan keluar dari kamar hotel tersebut.


...–NATZSIMO–...