
Melody bersama Lion pergi ke tempat wisata di dataran tinggi. Mereka menaiki paralayang seperti keinginan Lion yang sangat suka berada di tempat tinggi.
Melody terus menutup mata karena gadis itu benar-benar merasa takut ketika dirinya bersama Lion terbang tinggi di udara.
"Ini sangat seru kan, Melon?" Tanya Lion yang berada di belakang Melody di dalam paralayang. Suaranya agak besar karena deruan angin sangat kencang menerpa mereka. "Jangan menutup matamu, lihat pemandangan di bawah."
"Aku ingin turun, Lion!!" Seru Melody dengan sangat takut dengan mata yang tertutup. "Bagaimana kalau aku jatuh? Aku takut!!"
Mendengar perkataan Melody, Lion tertawa.
"Tenang saja, kau bersamaku. Aku tidak akan membiarkan kau jatuh." Jawab Lion dengan tawa.
Setelah beberapa lama mereka terbang di atas dengan paralayang, Lion dan Melody turun. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat karena menahan rasa takutnya, bahkan jantungnya masih saja berdegup kencang.
"Tahu begitu aku tidak akan mengajakmu." Ucap Lion memicingkan matanya pada Melody yang terlihat masih ketakutan. "Kalau begitu kita pulang sekarang saja."
"Pulang?" Tatap Melody terkejut. "Kenapa cepat sekali?"
"Kenapa? Kau tidak ingin pulang?" Tanya Lion yang masih melepas atribut paralayangnya.
"Datang sejauh ini dan langsung pulang? Hah, tahu begitu benar katamu. Aku tidak ikut tadi. Lebih lama di dalam perjalanan menuju tempat ini dari pada kita di sini." Jawab Melody sambil berjalan pergi meninggalkan Lion.
Lion hanya tertawa kecil sambil berlari menyusul Melody.
"Kalau begitu ayo kita offroad?!" Seru Lion. "Tapi kau jangan takut dan meminta pulang ya."
Pada akhirnya mereka berdua kembali menikmati liburan mereka dengan menaiki sebuah kendaran yang dirancang khusus untuk segala medan. Mereka menaiki motor beroda empat atau yang disebut All-Terrain Vehicle (ATV). Melaju menjelajahi rute yang berbatu hingga melawati sungai buatan dan masuk ke dalam terowongan.
Lagi-lagi Melody merasa ketakutan ketika menaiki kendaraan itu, berbeda dengan Lion yang tampak senang. Gadis itu hanya berpegangan pada Lion yang mengendarai roda empat itu dengan terus memeluk pemuda tersebut dari belakang.
"Lion, aku tidak mau ikut lagi denganmu." Seru Melody yang merasa takut dan sedikit sakit di badannya saat kendaraan mereka menghantam bebatuan yang mereka lewati. "Kau hanya menyiksaku."
"Dasar Melon penakut." Ujar Lion dengan penuh tawa. "Setelah beberapa kali pasti kau akan tidak takut lagi."
"Bagaimana kalau aku jatuh?" Melody semakin erat memeluk Lion karena saat ini mereka melewati derasnya air sungai.
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu jatuh lagi seperti waktu dulu kita naik sepeda." Jawab Lion tanpa sadar memegang tangan Melody yang memeluknya namun segera ia melepaskannya.
Melody yang menyadarinya tersenyum sambil membenamkan wajahnya ke punggung Lion. Gadis itu merasa sangat senang hari ini.
"Pinggangku akan remuk kalau kau terus begitukan." Seru Lion.
Melody tidak mau menggubrisnya, dan malah semakin menyesap punggung Lion dengan lengan yang semakin erat memeluk pemuda itu.
Setelah lelah bermain, mereka berdua makan malam di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat wisata mereka. Melody merasa amat sangat lelah saat ini.
"Badanku jadi sakit semua." Keluh Melody yang duduk berhadapan dengan Lion. Mereka sedang menunggu pesanan makan malam.
"Jalanan sangat macet." Ujar Lion yang sedang membuka maps memperhatikan rute perjalanan mereka untuk kembali pulang.
"Kita menginap saja." Ujar Melody tanpa menatap pada Lion.
Lion melirik pada gadis dihadapannya. Namun dirinya lebih memilih untuk pulang tanpa perlu menginap.
"Tidak masalah kalau macet." Jawab Lion meletakkan handphone-nya dan menyeruput minuman yang baru saja di antar ke meja mereka.
Sehabis makan mereka berdua segera berjalan masuk ke dalam mobil. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Lion kembali membuka maps untuk rute pulang dan memasangnya di tengah-tengah mobil dengan holder.
"Macet sekali." Ucap Melody yang memperhatikan maps tersebut di layar handphone Lion. "Estimasi sampai lima jam? Itu lama sekali. Bangunkan aku saat sampai ya. Sekarang aku akan tidur dulu. Badanku masih sangat sakit dan aku sudah sangat mengantuk."
Melody memasang sabuk pengaman dan menurunkan jok tempatnya duduk untuk ambil posisi tidur. Badannya semua terasa sangat sakit saat ini karena ketika menaiki ATV rute yang dilalui sangat terjal sehingga terjadi hentakan-hentakan yang membuat tubuhnya menjadi sakit.
"Melon bangun!"
Suara Lion yang membangunkan Melody membuat gadis itu membuka matanya. Pandangannya masih tidak terlalu jelas dan rasa mengantuk masih terasa saat ini.
"Akhirnya kita sampai. Aku tidak nyaman tidur di mobil." Ucap Melody sambil mencoba membenarkan pandangannya. Gadis itu langsung melihat layar handphone-nya untuk mencari tahu jam berapa saat ini. "Jam sebelas?" Melody tampak terkejut dan langsung melihat ke sesekelilingnya.
"Aku juga sudah sangat lelah. Sudah dua jam tapi kita baru maju lima kilometer. Barusan aku menghubungi temanku dan kebetulan dia sedang berada di hotel ini. Kita menginap di sini saja dulu."
Melody keluar mobil mengikuti Lion. Gadis itu terlihat senang karena akhirnya mereka menginap dan tidak langsung pulang.
"Lion." Panggil seorang pria bertubuh besar menyambut kedatangan Lion dengan memeluknya saat Lion dan Melody masuk ke dalam hotel dan berada di lobby.
Melihatnya, Melody sedikit takut karena pria itu memiliki tubuh yang tinggi dengan otot-otot yang besar, menyerupai atlet gulat. Karena itu Melody lebih memilih duduk di sofa tunggu.
"Apa kabar Emmet?" Tanya Lion. "Terakhir kali kau tidak ada di acara ulang tahun calon kakak iparmu, kan? Padahal aku ingin bertemu denganmu."
"Aku sedang bertanding di Australia waktu itu." Jawab Emmet. "Ambillah, ini kunci kamar kalian, kebetulan president suite room hari ini kosong. Kalian bisa memakainya." Pria itu memberikan sebuah kunci pada Lion.
Lion tertawa mendengar perkataan Emmet.
"Sepertinya nasib Niko benar-benar sangat malang." Bisik Emmet pada Lion setelah melirik ke arah Melody.
"Berikan aku dua kamar standar saja." Ujar Lion sambil menolak kunci akses president suite room yang disodorkan padanya.
"Hah, kau ini. Apa kau yakin? Aku tidak akan memberitahu siapapun." Bisik Emmet lagi.
"Ya, mau kau beritahu siapapun juga tidak masalah Emmet. Cepatlah, aku sudah sangat mengantuk." Seru Lion.
Emmet si pemilik hotel tersebut meminta resepsionis untuk mengambilkan dua kunci akses kamar yang diminta Lion.
"Kau memang anak baik." Ujar Emmet sambil memberikan dua kartu sebagai kunci akses kamar.
"Hhmm!! Kau harus terus mengingat hal itu." Jawab Lion dengan sebuah senyum sambil berbalik hendak memanggil Melody yang duduk di sofa tunggu.
"Lion, kunci connecting door-nya?" Tanya Emmet memperlihatkan sebuah kunci lainnya pada Lion.
Lion tidak menggubrisnya dan hanya berjalan dengan tawa kecil.
Mereka berdua berjalan mencari nomer kamar mereka yang bersebelahan setelah keluar dari lift.
Lion membukakan pintu kamar untuk Melody dan memberikan kartu aksesnya pada gadis itu.
"Tidurlah, sehabis sarapan besok kita akan langsung pulang." Ucap Lion yang berdiri di depan pintu kamar Melody bersama gadis itu. "Aku sudah memberitahu ayahmu kalau kita pulang besok."
"Ya, baiklah." Jawab Melody.
"Selamat malam."
"Lion." Panggil Melody saat Lion hendak berjalan menuju kamarnya.
Lion berhenti dan berbalik melihat pada Melody, tiba-tiba gadis itu mendekati dirinya dan wajahnya mendekat pada Lion hendak menciumnya.
Hik!
Sebelum Melody mencium Lion, gadis itu malah menjadi cegukan, hal itu membuatnya malu. Tatapannya menjadi bingung bercampur malu pada Lion yang juga menatapnya sangat dekat, sehingga dirinya langsung berlari memasuki kamarnya dan menutup pintu.
"Ya ampun, apa yang aku lakukan? Kenapa aku ingin menciumnya? Dan kenapa juga aku cegukan?" Kesal Melody pada dirinya sambil menjatuhkan diri telungkup di atas tempat tidur.
Hik!
Sekali lagi Melody cegukan dan membuatnya semakin kesal karena malu.
Sedangkan Lion yang berjalan masuk ke kamarnya menjadi tertawa kecil dengan apa yang terjadi.
"Hah, dia benar-benar adik mereka." Gumam Lion dengan tawa.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa minta vote dan rate bintang limanya ya.