
Prothos masih meratapi kepergian kekasihnya, Widia. Dia duduk di atas lantai bersandar ke tempat tidurnya dengan kepala menengadah di sisi tempat tidur menatap langit-langit kamar. Sesekali bilur-bilur air mata keluar dari kedua matanya.
Kata-katanya dulu saat menghibur Widia menjadi bumerang untuknya sendiri sekarang. Widia mengambil keputusan untuk meninggalkannya yang sudah mengkhianati dirinya karena perkataannya itu dulu. Itu membuatnya menjadi membenci dirinya sendiri saat ini.
"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Gumam Prothos.
"Kak, sudah waktunya makan siang, aku bawakan makanan untuk kakak." Ujar Melody dari luar.
Prothos menghapus air matanya dan segera duduk di sisi tempat tidurnya. Dia tidak ingin adiknya melihat air matanya saat ini.
"Masuklah." Jawab Prothos.
Melody segera membuka pintu dan meletakan makanan yang dibawanya ke meja belajar lalu melihat kakaknya yang sedang mengusap-usap wajahnya.
"Kakak harus makan, kakak tidak sarapan kan tadi pagi? Nanti kau bisa sakit lagi, kak." Ucap Melody melihat kakaknya yang tampak menyedihkan itu. "Ada apa denganmu kak? Aku pikir semua sudah baik-baik saja setelah kalian pergi bersama kemarin."
Prothos menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena air matanya mulai keluar lagi mendengar perkataan Melody. Melody langsung memeluk kakaknya dengan merasakan sebuah kesedihan juga. Dia sangat mengerti dengan kakaknya yang satu itu, dia tidak sekuat seperti kedua kakaknya yang lain karena kakaknya itu memiliki hati yang lebih lembut dibanding yang lainnya.
"Melo, kali ini rasanya lebih menyakitkan." Ucap Prothos. "Tapi semua memang salah kakakmu ini, aku yang membuatnya pergi. Karena itu rasanya lebih menyakitkan."
Melody hanya mengusap-usap punggung Prothos dengan air mata yang ikut mengalir mendengar lirihan kakaknya yang menangis dipelukannya.
...***...
Athos duduk berhadapan dengan ibunya Tasya di tempat yang sama dengan terakhir kali mereka bertemu.
"Ini undangan pernikahannya." Ibu Tasya memberikan sebuah undangan pada Athos, dan segera dibuka oleh Athos. "Acaranya dua minggu lagi."
"Sepertinya Tasya belum tahu kapan acaranya." Ucap Athos.
"Ya, kami akan memberitahunya seminggu sebelum acara, saat undangan akan disebar."
"Baiklah kalau begitu." Senyum Athos.
"Kau hanya membutuhkan satu undangan? Apa yang kau rencanakan?"
"Aku hanya akan datang sendiri, tapi bukan aku yang akan menghentikan pernikahan itu karena aku tidak akan melakukan apapun." Jawab Athos penuh keyakinan.
...***...
Athos memasuki sebuah ruangan di tempat karaoke. Di ruangan tersebut terdapat sekitar lima orang pria dan lima orang wanita dimana salah satunya adalah Dion, calon suami Tasya. Dua orang penjaga yang dibayar Dion berada di dekat pintu dan langsung menyerang Athos. Athos berhasil melumpuhkannya karena saat ini dia benar-benar sangat marah.
Dion yang sedang berciuman dengan seorang wanita langsung terkejut saat melihat kehadiran Athos, begitupun dengan teman-temannya yang langsung menghentikan lagu yang sedang diputar.
"Dengarkan pecundang, aku tidak akan berbuat apapun sekarang, tapi saat kau melihatku di acara pernikahan itu, kau tidak akan bisa menghentikan aku lagi. Jadi berhati-hati lah dan pastikan kau tidak melihatku disana!!" Seru Athos dan setelah itu berjalan pergi.
...***...
"Mona, aku minta bantuanmu kali ini saja." Ujar Lion berdiri di depan meja kasir dimana Mona ada di belakang meja kasir tersebut.
Lion langsung datang ke coffee shop tersebut dengan tujuan meminta bantuan Mona untuk menangani Sandra. Sudah setengah jam dia memohon agar Mona mau membantunya, tetapi gadis itu terus menolaknya.
"Dia sangat keras kepala, aku sudah terlanjur bilang kalau sudah punya pacar padanya. Kalau tidak mengenalkan siapapun padanya dia akan terus menerorku." Ucap Lion dengan nada sedikit merengek
"Itu urusanmu, bukan urusanku. Katakan saja yang sebenarnya. Kenapa kau suka sekali berbohong?" Ujar Mona. "Sudah sana pergilah!"
"Aku malas dengar ocehanmu. Jangan ganggu aku yang sedang bekerja." Seru Mona.
"Lion!!" Panggil Sandra yang baru saja masuk. "Kau sudah datang?"
Lion menatap Sandra yang duduk dihadapannya saat ini sambil menggigit jari telunjuk tangan kanannya. Dia masih memutar otaknya untuk mencari cara untuk menghindari Sandra.
"Aku tahu kau pasti berbohong saat bilang kau sudah punya pacar lagi." Ucap Sandra dengan senyum. "Sudahlah Lion, bagaimana kalau kita—"
"Sandra, aku gay." Potong Lion membuat Sandra terperangah mendengar ucapan Lion. "Sebenarnya aku menyukai pria sejak dulu. Aku juga tidak berpacaran dengan adiknya Musketeers, dia hanya membantuku saja dulu biar kau tidak menggangguku terus."
"Kau bercanda, Lion." Sandra sangat terkejut mendengarnya namun dia tidak begitu saja langsung percaya. "Kau berkata begitu biar aku berhenti mengganggumu kan?"
"Tidak, aku serius menyukai sesama pria. Makanya aku tidak pernah tertarik pada seorang wanita manapun." Jawab Lion dengan wajah serius. "Jadi aku tidak bisa bersama denganmu."
"Aku tidak percaya."
"Kau boleh mengecek handphone-ku, apa ada nama seorang wanita di sana?" Lion meletakan handphone-nya yang sudah terbuka di hadapan Sandra.
Sandra mulai melihatnya dengan teliti, memang benar tak ada nama wanita di sana.
"Bisa saja kau mengganti namanya dengan nama pria." Sandra masih tidak mau mempercayainya.
"Kau bisa menelepon secara acak beberapa nomer untuk memastikannya."
Tanpa pikir panjang Sandra mengikuti perkataan Lion. Lima orang yang di telepon Sandra memang semuanya ada pria tidak ada satu pun wanita.
"Telepon lagi saja sampai kau puas."
Sandra menatap Lion kesal dan meletakan handphone-nya dengan agak kasar. Dia sangat tidak mengira kalau pemuda yang disukainya seorang gay. Tanpa berkata apapun lagi Sandra langsung bergegas keluar dari sana.
"Dia benar-benar sangat keras kepala." Gumam Lion setelah itu tertawa puas dengan apa yang baru dilakukannya.
"Kau sangat berlebihan, Lion." Seru Mona yang sejak awal mendengar semuanya. "Kau menipunya sampai segitunya."
"Aku tidak menyukainya itu yang terbaik buat dia." Jawab Lion sambil membuka permen lolipop dan memasukan ke mulutnya. "Kalau aku yang tidak menyukainya lalu menerimanya maka aku berlaku tidak adil padanya."
Mona berjalan mendekat ke meja Lion dan duduk di hadapannya.
"Lalu kalau kau menyukainya tapi memintanya bersama orang yang tidak disukainya berapa orang yang dapat perlakuan tidak adil karena kau?" Sindir Mona.
Lion mengerti kalau Mona saat ini sedang membicarakan dirinya, Melody dan Niko.
"Tidak ada. Itu semua sudah keputusan mereka tanpa paksaan dari siapapun." Jawab Lion tersenyum mencoba bersikap biasa saja.
"Gadis tadi juga tanpa paksaan ingin mendekatimu. Jadi kau mau bilang jika kau menerimanya, yang tidak dapat perlakuan adil itu adalah kau? Begitu?" Tanya Mona dengan sangat tajam. "Lalu bagaimana dengan Melody? Dia tidak menyukai Niko tapi karena paksaan darimu dia mau menikah dengan Niko."
"Aku tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan dia yang ingin menikah dengan Niko." Sanggah Lion. "Aku juga tidak memaksanya sejak awal."
"Karena dia kecewa padamu bodoh makanya dia mau menerimanya di awal." Jawab Mona terlihat kesal. "Kau ini memang bodoh, teman-temanmu yang datang ke sini selalu membahas kebodohanmu itu. Mereka tidak berani berkata apapun padamu, tapi aku sangat kesal sekarang karena tingkah bodohmu itu!! Kenapa kau tidak mau mengakui saja kalau kau menyukai Melody? Niko pasti juga akan mengerti dan mundur."
"Tidak semudah itu." Ucap Lion. "Dan aku juga tidak menyukainya. Aku gay."
...–NATZSIMO–...