
Di sebuah ruangan yang ukurannya cukup besar terdapat beberapa alat olahraga, ruangan yang temboknya dipenuhi cermin tersebut berada di dalam rumah mewah Niko. Saat ini pemuda itu sedang berada di sana bersama teman yang sudah dianggapnya seperti saudara. Lion bersama dengan Niko sedang berolahraga bersama dengan berada di gymnasium room yang ada di dalam rumah Niko.
"Sepertinya aku harus semakin sering olahraga, akhir-akhir ini aku terlalu banyak makan." Ujar Lion sambil berbaring di Smith Machine dan berusaha mengangkat beban. "Ya ampun ini berat sekali." Gumam Lion saat hendak mengangkat barbel seberat 40 kg.
Niko yang sedang berada di Lat Pulldown Machine menoleh pada Lion dengan tawa. Berbeda dengan Lion yang berolahraga masih menggunakan kaos, sedangkan Niko melepas kaosnya memperlihatkan luka bakar di tangan kirinya, dan sebuah tato X besar tergores di punggungnya yang tegap dan bidang.
"Tanganmu sudah sembuh?" Tanya Lion beranjak bangun dan berjalan ke treadmill lalu menggunakan mesin tersebut dengan berlari agak lambat di atasnya. "Maksudku tangan kirimu yang terbakar." Lion memperjelas pertanyaannya.
"Ini tidak akan pernah sembuh, kau pasti juga tahu itu." Jawab Niko berhenti menarik alat olahraga yang sedang dipakainya lalu menghidupkan sebatang rokok. "Bahkan untuk membawa motor saja tidak mudah bagiku sekarang."
"Niko." Panggil Lion memperlambat laju treadmill hingga dirinya seperti sedang berjalan. "Kau adalah satu-satunya yang bisa mengalahkan Ars dulu. Menurutmu apa seseorang bisa mengalahkannya saat ini?"
"Itu terjadi tiga tahun lalu, saat itu dia baru menguasai dua ilmu bela diri, Karate dan Taekwondo sedangkan aku hanya menguasai Sambo dan sedikit Systema. Kedua itu bukan olahraga melainkan teknik yang diajarkan tentara Rusia, karena itu dengan mudah aku mengalahkan Ars. Tapi Ars yang sekarang dia berbeda, dia sudah belajar beberapa bela diri lainnya apalagi aku dengar dia juga belajar Krav Maga setahun yang lalu, itu merupakan teknik bela diri tentara Israel. Kemungkinannya kecil untuk seseorang mengalahkannya." Ujar Niko dengan sebatang rokok terselip di bibirnya. "Jujur saja, jika tidak ada larangan membunuh pasti dia sudah membunuh siapapun yang menantangnya dengan mudah menggunakan teknik Krav Maga. Krav Maga maupun Sambo bukanlah ilmu bela diri sekedar olahraga melainkan teknik melumpuhkan lawan dengan cara apapun. Selama ini aku belum pernah melihat Ars menggunakan teknik Krav Maga saat melawan para penantangnya."
"Benarkah seperti itu?" Tanya Lion turun dari treadmill dan melepas kaos yang digunakannya dan memperlihatkan otot-otot perut yang tidak kalah dengan milik Niko. "Ternyata mustahil mengalahkannya."
"Kalau saja tangan kiriku tidak seperti ini, aku sangat ingin melawannya di pertarungan hidup dan mati dengan menggunakan masing-masing teknik itu."
"Pertarungan hidup dan mati? Aiiishh, itu mengerikan sekali." Gumam Lion memasukan permen karet ke mulutnya. "Apa ada cara mengalahkannya?" Lion berdiri di hadapan Niko.
"Ada apa, Lion? Kenapa kau bertanya seolah-olah kau ingin mengalahkannya?" Tanya Niko curiga.
Lion tersenyum pada Niko.
"Kau benar, aku berniat untuk menantangnya hari sabtu ini." Jawab Lion dengan serius. "Aku akan membalaskan dendammu padanya dalam pertarungan hidup dan mati seperti yang kau bilang tadi."
...***...
Dokter yang merawat Athos menghampiri Prothos yang berada di luar ruangan tempatnya biasa menunggu kembarannya itu. Prothos selalu menunggu Athos di luar ruangan dengan setia menanti kembarannya terbangun. Setiap malam hanya tidur di kursi tunggu yang tak memiliki sandaran dan hanya bersandar pada tembok. Prothos hanya ingin agar Athos segera bangun dari komanya.
"Jika dalam waktu tiga hari tak terjadi penurunan kondisi, maka bisa dibilang dia sudah melewati masa kritisnya, dan kami akan memindahkannya ke kamar perawatan. Tapi itu bukan berarti saudaramu akan segera bangun. Terjadi banyak kasus dimana pasien masih hidup tapi mengalami mati otak sehingga pasien tidak akan bangun lagi." Ujar dokter pada Prothos.
"Apa itu berarti sebenarnya dia sudah meninggal?" Tanya Prothos dengan ragu mengatakannya.
Pada waktu yang bersamaan Aramis datang dan langsung ikut menyimak. Prothos menoleh pada kembarannya itu dengan rasa takut pada kemungkinan terburuk pada kembaran tertuanya—Athos.
"Seseorang dikatakan meninggal ketika mengalami henti jantung. Tapi kami memiliki ketakutan karena kemarin dia mengalami henti jantung beberapa saat sehingga ada kemungkinan suplai darah atau oksigen ke otak terhenti yang menyebabkan jaringan otak pun mati atau tidak berfungsi. Kami akan melakukan tes untuk mengetahui apakah dia mengalami mati otak atau tidak setelah tak ada lagi penurunan kondisi."
"Tidak, dia tidak mengalami mati otak. Dia akan bangun." Ujar Aramis.
"Kami juga berharap seperti itu. Sebagai dokter kami hanya akan memberitahu kemungkinan terburuk saja tetapi semua tergantung dari diri pasien sendiri. Berharap saja tidak ada penurunan kondisi lagi sehingga kami bisa melakukan tes untuk tahu apakah saudara kembar kalian mengalami mati otak atau tidak. Tes tersebut hanya bisa dilakukan setelah kondisinya benar-benar bagus karena kami akan mencoba melepas alat-alat medis yang membuatnya masih bernapas dan membuat jantungnya masih berdetak." Terang sang dokter. "Sebaiknya kalian tidak perlu menunggu di sini, kami akan mengabari jika terjadi sesuatu pada saudara kalian. Beristirahatlah dan berharap yang terbaik untuk saudara kalian." Setelah berkata demikian dokter tersebut langsung berjalan pergi.
"Ada apa?" Tanya Tasya yang baru saja tiba dan berdiri tidak jauh dari Prothos dan Aramis. "Ato baik-baik saja kan?" Tasya melangkahkan kakinya dengan perlahan.
Kedua kembaran kekasihnya itu tidak langsung menjawab. Hal itu membuat Tasya menjadi takut. Gadis itu terus menatap Prothos dan Aramis meminta jawaban mereka.
"Ato, baik-baik saja kan?" Ulang Tasya.
"Iya, dia baik-baik saja." Jawab Prothos tersenyum pada Tasya, menyembunyikan rasa sedihnya untuk kemungkinan terburuk yang dikatakan dokter barusan. "Berdoalah kalau Ato tidak mengalami penurunan kondisi selama tiga hari ini. Jika selama itu dia baik-baik saja, Ato akan dipindahkan ke kamar perawatan. Kau bisa bersama dengannya saat dia sudah dipindahkan, Tasya. Kau bisa menemani Ato di sampingnya."
"Oto..." Ucap Aramis agar Prothos menceritakan pada Tasya mengenai kemungkinan Athos mengalami mati otak.
Prothos hanya menggeleng pada Aramis. Dia tidak ingin memberitahu Tasya mengenai hal yang akan membuat gadis itu semakin bersedih. Setidaknya untuk saat ini kekasih kembarannya itu tidak terlalu bersedih lagi.
...***...
"Tidurlah yang nyenyak dan bangun saat rasa mengantukmu hilang, Ato." Ucap Prothos pada kembarannya melalui jendela.
Menjelang tengah malam kedua Musketeers mengikuti saran dokter yang menyuruh mereka pulang untuk beristirahat. Ayah mereka menyambut mereka dengan kondisi wajah yang juga tidak terlalu baik karena sebelumnya dirinya diberitahu mengenai kabar tersebut.
"Kalian istirahatlah, kalian pasti sangat lelah." Seru Leo saat melihat Prothos dan Aramis masuk.
"Maaf ayah, seharusnya kami mencegahnya untuk tidak datang ke acara itu." Ujar Prothos pada ayahnya.
"Bukan salah kalian. Dia juga memintaku untuk membiarkannya ke pernikahan itu, bahkan dia memintaku untuk mendukungnya." Jawab Leo dengan mata berkaca-kaca. "Kalian tenang saja, dia selalu sombong dengan semua kemampuannya, itu karena memang saudara kalian itu memiliki kemampuan yang tidak biasa, karena itu kali ini pun dia akan sombong saat bangun nanti."
"Itu benar, dia yang terbaik dari kami. Dia pasti akan segera bangun dan menyombongkan dirinya lagi pada kita." Ujar Aramis dengan kepala yang tertunduk.
"Ya, dia akan membuat aku kesal dengan kata-kata angkuhnya lagi." Jawab Leo dengan air mata.
...–NATZSIMO–...
Kamus Author :
Sambo adalah singkatan dari SAMozashchita Bez Oruzhiya bukan Fredy Sambo ya. 😁😅
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.
Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.
Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.
Terimakasih...