
Mona berjalan ke arah ruang tamu dan melihat Leo duduk bersama dengan Athos di sana. Gadis itu sudah rapi karena berencana mengajak Prothos ke suatu tempat hari ini.
"Apa Prothos masih di kamarnya?" Tanya Mona pada mereka yang ada di ruang tamu. "Ini sudah jam sembilan kenapa dia jadi bermalas-malasan terus. Padahal aku memintanya untuk lebih sering olahraga untuk membentuk tubuhnya."
"Kau ingin kemana, Mona?" Tanya Athos.
"Aku akan pergi ke luar kota bersama Prothos karena ada sesuatu yang harus dia selesaikan." Jawab Mona. "Kemungkinan kami akan pulang besok."
"Kalian akan menginap?" Tanya Leo.
"Tidak, kami akan melakukan perjalanan pulang pergi. Jaraknya sangat jauh karena itu akan memakan waktu lebih dari 18 jam perjalanan pulang dan pergi." Jawab Mona.
"Kenapa tidak naik pesawat saja?" Ujar Athos merasa aneh.
"Aku takut naik pesawat." Ucap Mona membuat Athos dan Leo tertawa kecil.
"Kau akan membuat Oto sangat cerewet diperjalanan nanti. Dia tidak suka berlama-lama di dalam mobil." Ujar Athos.
"Aku akan menyumpal mulutnya kalau dia banyak mengeluh. Dasar lemah." Gumam Mona hendak menaiki tangga namun langkahnya terhenti dan kembali menoleh pada Athos. "Tasya barusan meneleponku, dia memintaku mengingatkanmu untuk meminum obat."
Athos hanya diam saja mendengar ucapan Mona mengenai Tasya. Leo yang duduk di dekatnya memperhatikan ekspresi wajah Athos yang terlihat mencoba memasang wajah biasa saja.
"Kau sudah bisa berjalan kan? Apa besok mau ikut aku?" Tanya Leo.
Athos menoleh pada ayahnya dan dari tatapannya bertanya kemana ayahnya ingin mengajaknya pergi.
"Sudah lama aku tidak memancing. Temani aku memancing besok." Ucap Leo.
Mona membuka pintu kamar Prothos dan terkejut karena dugaannya salah. Dia kira kalau Prothos sedang meratapi nasibnya seperti kemarin, melainkan saat ini Prothos sedang melakukan push up.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintunya?" Seru Prothos menghentikan kegiatannya dan beranjak berdiri menghadap Mona sambil menyeka keringat di tubuhnya yang tidak memakai kaos. "Kau benar-benar sudah merasa ini rumahmu sekarang hingga sesuka hati masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Aku kira kau sedang menangis meratapi nasibmu, baru saja aku ingin menertawakanmu." Ujar Mona tidak menanggapi omongan Prothos. "Baguslah kalau kau sudah sadar sekarang. Cepat bersiap-siap, aku akan menemanimu pergi menemuinya."
"Menemui siapa?" Tanya Prothos mengerutkan dahinya.
"Bu guru." Jawab Mona membuat raut wajah Prothos berubah menjadi tampak muram. "Kau bilang kau ingin menyelesaikannya kan? Aku akan mengantarmu, aku tahu dimana dia saat ini. Wisnu bilang dia ada di rumah orang tuanya."
...***...
Ketika jam istirahat, David masuk ke atap gedung sekolah untuk menemui Lion yang sedang duduk sendirian di tembok pembatas gedung.
"Semua orang sudah tahu mengenai rencana kepergianmu Lion." Seru David berdiri di belakang Lion yang memunggunginya.
Lion tidak menjawab, dia sedang menikmati pemandangan di bawah sana. Dia tahu apa yang akan dikatakan David padanya dan untuknya itu bukan sesuatu yang ingin dia dengar karena saat ini dirinya hanya ingin sendirian.
"Ivan pasti juga sudah memberitahumu kan?" Tanya David namun Lion tetap bungkam. "Mereka semua menantikanmu pergi, orang-orang yang tidak menyukaimu menunggu kau pergi. Apa kau benar akan pergi? Apa hanya karena adiknya Ars dan Niko kau meninggalkan teman-temanmu?"
"Diamlah, Dave!!" Seru Lion tanpa menoleh. "Aku tidak peduli lagi pada mereka semua. Aku bukan siapa-siapa, mereka hanya berlebihan menganggapku selama ini. Aku juga ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan dan aku ingin pergi dari sini."
"Mereka semua takut kalau tidak akan ada yang bisa menyatukan mereka. Selama ini hanya kau yang membuat mereka bersatu." Ujar David.
"Bagi mereka kau adalah akar yang menyatukan semua jaringan sekaligus menopang mereka semua. Hanya perkataanmu yang selalu mereka dengar karena itu mereka juga menganggapmu seperti pimpinan mereka." Jawab David.
Lion turun dari tembok pembatas dan membuang napas panjang menatap David dengan tatapan malas.
"Aku hanya anak kecil, bilang pada mereka semua jangan menganggapku berlebihan lagi." Ujar Lion sambil berjalan melewati David menuju pintu.
"Lion, sebaiknya kau juga berhati-hati, seperti yang dikatakan Ivan, semua orang yang tidak menyukaimu bersatu dan sepertinya mereka merencanakan sesuatu sebelum kepergianmu." Seru David.
"Tidak ada yang bisa mereka lakukan padaku." Gumam Lion dengan wajah kesal sambil berjalan keluar dari sana.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka sebelumnya kalau bocah yang terlihat bodoh sepertinya memiliki banyak pengaruh bagi banyak orang." Ucap David.
...***...
"Lion." Panggil Karen ketika Lion melewati depan kelasnya saat pemuda itu hendak kembali ke dalam kelasnya. "Aku ingin membicarakan sesuatu."
Sejenak Lion tampak bingung pada Karen karena tidak biasanya gadis itu berbicara dengan tatapan serius di depan banyak orang yang saat ini sedang memperhatikan mereka. Dia juga tidak tahu hal apa yang ingin dibicarakan Karen padanya.
"Mengenai hal apa? Pulang nanti kita bisa berbicara." Jawab Lion dengan suara pelan karena tidak ingin siapapun mendengarkan.
"Tidak, sekarang saja. Sebenarnya aku bukannya ingin berbicara padamu." Seru Karen yang berdiri di hadapan Lion dijarak tiga meter. "Aku hanya ingin memberitahu pada semua orang kalau sebenarnya kita tidak berpacaran."
Lion terkejut mendengar perkataan Karen yang didengar murid lainnya. Karen berkata seperti itu dengan sangat sengaja, padahal gadis itu sudah berjanji padanya jika mereka akan berpura-pura berpacaran hingga nanti dirinya pergi setelah ujian kenaikan kelas.
Semua orang mendengar apa yang dikatakan Karen barusan. Tak ada yang bisa dilakukan Lion saat ini karena semua orang sudah terlanjur mendengarkan perkataan Karen mengenai hubungan mereka yang hanya berpura-pura.
Sejenak mereka berdua saling melihat dengan berhadapan sedangkan bisikan-bisikan mulai terdengar di sekeliling mereka.
"Maaf Lion, aku tidak bisa membantumu lagi. Aku harus mengatakannya pada semua agar aku tidak terlihat menyedihkan jika kau pergi nanti." Ujar Karen.
Lion bisa menerima perkataan Karen, karena jika dirinya pergi saat kenaikan kelas maka akan membuat tanda tanya besar mengenai hubungan mereka. Jika mereka benar-benar berpacaran tidak mungkin dirinya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Karen. Hal itu bisa membuat Karen menjadi gadis menyedihkan karena ditinggal oleh dirinya.
"Ya, kau benar. Selama ini kita memang tidak berpacaran. Aku dan kau hanya berteman." Jawab Lion mencoba tersenyum.
"Kalau begitu katakan disini juga apa alasanmu memintaku untuk berpura-pura berpacaran denganmu?!" Seru Karen.
Lion menoleh dan melihat Melody yang berdiri di depan kelas menatap padanya. Gadis itu baru saja datang ketika Rinka memanggilnya setelah banyak murid berkumpul untuk mendengar perbincangan Lion dan Karen di depan kelas mereka.
Lion mengerti kenapa Karen memintanya mengatakan alasan mereka berdua berpura-pura berpacaran. Karen ingin agar dirinya mengatakan hal yang sebenarnya mengenai tujuannya yang tidak ingin mengganggu hubungan Melody dan Niko. Namun jika dia mengatakannya itu akan membuat semuanya menjadi kembali kacau.
"Katakan Lion!!" Seru Karen. "Kenapa kau diam saja?"
Karen mendesak Lion untuk segera mengatakan alasannya. Lion juga tidak ingin membuat Karen menjadi gadis yang tampak menyedihkan kalau dia mengakui ada gadis lain yang dirinya suka. Tetapi dia harus menjawabnya sekarang.
"Karena aku gay." Ucap Lion.
...–NATZSIMO–...