MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
032. TIDAK ADA JALAN KELUAR



Kehadiran Melody membuat Lion tampak tidak senang. Dia berpikir seharusnya Melody tidak datang menemuinya di saat situasi seperti ini. Bahkan jika Niko tahu maka semua akan menjadi makin rumit nantinya.


"Astaga, kenapa aku harus mengalami ini." Gumam Lion sambil menghabiskan es krim yang ada digenggamannya. Setelah itu dia beranjak turun dan melihat Melody berjalan mendekatinya. "Ada apa? Seharusnya kau tidak menemuiku dalam situasi seperti ini?"


"Bukankah kau bilang kalau kita sebaiknya tidak saling menjauh?" Ucap Melody. Mereka berdua berdiri berjauhan di jarak lima meter. "Aku rasa tidak masalah kalau aku menemuimu seperti ini."


"Tapi situasinya tidak sedang bagus. Mereka menyangkutpautkan aku tentang kalian berdua. Kalau seperti itu terus aku akan terlihat semakin menyedihkan di mata semua orang." Jawab Lion. "Cepatlah pergi kalau tidak ada hal penting yang kau ingin katakan. Bahkan sebelumnya dulu kau tidak pernah mengganggu jam istirahatku."


"Apa tidak masalah kalau aku benar menikah dengannya?" Entah apa yang dipikirkan Melody, dia pun tidak mengerti dengan dirinya yang berani menanyakan hal itu pada Lion yang sudah terang-terangan memperlihatkan dirinya mendukung keputusan Niko itu. "Aku ingin mendengar jawabanmu langsung."


"Kau sudah sering mendengarnya. Aku sudah bosan mengatakannya, aku tidak ada hubungan dengan semua itu. Apalagi yang kurang jelas dari jawabanku?"


Melody tak menjawab. Baginya itu bukan jawaban yang ingin didengarnya. Lion hanya menghalau pertanyaannya dan bukan menjawabnya. Walaupun Lion selalu bersikap seperti tidak masalah dengan hal itu, tapi apa yang dilakukannya tetap bukanlah apa yang ditanyakan Melody. Gadis itu ingin jawaban yang jujur yang berasal dari lubuk hati pemuda yang disukainya itu. Maka dari itu dia menanyakannya langsung dan seorang diri menemuinya. Lion tidak mungkin menjawab dengan jujur jika ada orang lain, bahkan membuatnya menjawab dengan sangat jujur saat ini pun tidaklah mudah.


"Seharusnya kau sudah mengerti tanpa aku menjawabnya. Di rekaman itu pun aku sudah bilang pada Niko kalau aku selalu mendukungnya."


"Lalu apa yang kalian ucapkan menggunakan bahasa Rusia?"


Apa yang diduga Lion benar, pasti Melody akan menanyakan mengenai hal itu kepadanya saat ini. Walau sudah mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan tersebut namun dia tidak menemukan jawaban yang bagus untuk menghindarinya.


"Aku tidak akan menjawabnya." Jawab Lion. "Kau bisa menanyakannya pada orang lain, atau tanyakan saja pada Niko."


Jawaban Lion membuat Melody semakin bingung. Tidak mungkin jika dia memperdengarkan rekaman itu pada Niko, karena jika dia tahu kalau ada rekaman itu maka semua jawaban dirinya dari pertanyaan yang diajukan Niko kemarin akan ketahuan jika itu bukanlah jawaban yang berasal dari dirinya sendiri. Dan Niko pasti akan terluka kalau dia tahu dirinya dibohongi oleh gadis itu.


"Dengarkan, aku akan bersikap biasa di depan umum mulai sekarang, tapi jangan menemui aku seperti ini lagi. Aku tidak ingin Niko salah paham. Kau mengerti?"


Keheningan menyelimuti mereka saat ini. Melody yang tidak menjawab apapun menatap Lion dengan dingin. Hatinya terasa begitu sakit, walau Lion ada di hadapannya saat ini dan menatapnya namun dia terasa jauh sekali.


Secara tiba-tiba Melody melangkah mendekati Lion, Lion sempat bingung namun dia tidak bergeming dari tempatnya. Tanpa diduga Melody menjulurkan tangannya dan mengusap sisi bawah bibir kiri Lion dengan ibu jari tangan kanannya.


"Dasar bodoh!!" Ucap Melody setelah itu berjalan meninggalkan tempat itu.


Lion yang terkejut langsung memegang bibirnya dan merasakan sesuatu yang lengket dibekas usapan Melody. Dengan segera dia bercermin dengan handphone-nya. Ada bekas es krim di sekitar bibirnya.


"Arrrggghhh... kau sangat memalukan, Lion." Geram Lion pada dirinya sendiri sambil menendang tembok dan membuatnya meringis kesakitan.


...***...


"Kak Oto." Panggil Melody menghentikan Prothos yang mencoba mengejar Widia.


Prothos menoleh pada Melody yang melihatnya, namun di belakang Melody, Wilda berdiri menatapnya dan hendak mendekati Prothos.


"Ayo kita pulang, Melo." Ucap Prothos yang berada di jarak tidak terlalu jauh dari Melody. Dia berniat menghindar dari Wilda.


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Wilda melewati Melody dan hendak mendekati Prothos.


Melihatnya Melody bergegas menyambar lengan kakaknya dan menarik Prothos menjauhi teman sekelasnya itu. Melody sudah tahu apa yang terjadi. Widia wali kelasnya adalah kekasih kakaknya dan bukan Wilda teman sekelasnya. Dengan kabar yang beredar mengenai Wilda dan kakaknya membuat Melody tidak menyukai teman sekelasnya itu, karena bagi Melody Wilda memanfaatkan kakaknya, Prothos dengan rumor yang beredar tersebut.


Wilda terdiam saat Melody membawa Prothos pergi. Dalam lubuk hatinya dia sangat kesal saat ini. Dia melihat ketika Prothos hendak mengejar Widia tadi. Dia merasa Widia mengabaikan kata-katanya, dan itu membuatnya menjadi sangat marah sekarang.


...***...


Widia keluar dari ruang guru dengan membawa tasnya, hendak pulang. Namun Wilda yang berdiri di depan pintu membuat Widia sedikit gusar karena membuatnya teringat dengan ancaman muridnya itu kemarin.


Di balik kacamata yang dipakainya, Wilda menatap Widia dengan kesal. Dia sangat marah pada wali kelasnya tersebut, karena dia merasa Prothos mengabaikannya karena keberadaan Widia, dan sepertinya Widia tidak takut dengan ancamannya. Mereka berdua berada di dalam kelas yang sudah kosong karena jam pelajaran sudah usai sehingga tak ada lagi para murid di kelas.


"Ini bagaimana bu guru? Kak Oto mengabaikan aku." ucap Wilda. "Aku sangat sedih, dia tidak membiarkan aku mendekatinya."


Widia menunggu apa yang ingin diucapkan Wilda padanya. Dia hanya diam dengan membungkam mulutnya karena sudah tahu tujuan Wilda mau berbicara dengannya.


"Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi pada kak Oto sekarang. Karena bu guru dia jadi tidak mendengarkan aku sama sekali. Bu, apa kau tidak mendengar perkataanku? Aku tidak ingin dia sampai dikeluarkan dari sekolah. Apa kau tahu apa yang harus kau lakukan agar kak Oto tidak dikeluarkan dari sekolah? Bu guru juga tidak ingin kan kalau itu sampai terjadi? Tapi aku juga tidak ingin kalau dia terus mengabaikan aku karena ada bu guru di sini. Jadi hanya bu guru yang bisa berbuat sesuatu agar kak Oto tidak dikeluarkan dari sekolah dan tidak mengabaikan aku lagi. Aku mohon padamu bu. Biarkan aku bersama dengannya."


Pelupuk mata Widia sudah tergenang air. Dia ingin memaafkan perbuatan Prothos yang mengkhianati dirinya karena sudah tidur dengan Wilda, tetapi ancaman muridnya itu membuatnya tidak bisa melakukannya. Widia jadi merasa bersalah pada Prothos karena tidak benar-benar mempercayai ucapannya mengenai gadis polos yang ada di hadapannya sekarang. Jika saja kemarin dia percaya dan tidak terprovokasi dengan ucapan Wilda yang mengatakan tentang ciuman itu, pasti Prothos sudah bisa menangani gadis itu hingga lulus nanti dan Wilda tidak semarah ini hingga mengancamnya. Namun rasa cintanya pada Prothos membuat dirinya sangat cemburu kemarin hingga dia mengambil keputusan yang salah dan Prothos berbuat satu kesalahan fatal karenanya.


Widia menyesali semua yang terjadi. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi, dia tidak ingin Prothos sampai dikeluarkan dari sekolah sebelum dia lulus. Semua hal itu terus berkecamuk dalam hatinya.


"Aku tidak bisa menunggu sampai minggu depan, bu. Melihat kak Oto yang mengabaikan aku membuatku sangat sedih. Bu guru, harus melakukan sesuatu secepatnya."


...–NATZSIMO–...