MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
087. CINTA DAN AIR MATA



"Besok kau harus sekolah, Ars." Seru Anna pada Aramis yang sedang memantau pemberitaan Dion yang sudah menyerahkan diri melalui handphone-nya.


"Lion pasti berbuat sesuatu sampai dia menyerahkan diri." Ucap Aramis tidak menghiraukan perkataan Anna.


"Jangan pura-pura tidak dengar apa yang aku katakan!!"


Sejenak Aramis tetap bungkam, dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Anna meski hanya ke sekolah. Anna menjadi diam saja dengan terus menatap pemuda itu dari atas ranjangnya, hingga akhirnya Aramis mengalihkan pandangannya yang semula pada handphone menjadi menatap Anna.


"Tolong biarkan aku bersamamu sampai kau pergi." Pinta Aramis. "Saat kau pergi aku akan kembali sekolah dan mati-matian belajar untuk ujian kelulusan, tapi aku mohon jangan meminta aku ke sekolah atau meninggalkanmu selagi kau masih bersamaku."


Anna memikirkan perkataan Aramis yang terlihat sangat memohon padanya, lalu setelah itu tersenyum lebar untuk memberikan jawaban seperti yang diinginkan Aramis.


"Kali ini nilaimu harus jauh lebih bagus. Karena aku masih bersamamu aku akan membantumu bela—"


Aramis langsung meraup bibir Anna dengan bibirnya sebelum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya.


"Aku sangat merindukanmu bahkan ketika kau berada di hadapanku, Anna. " Ucap Aramis dan sekali lagi mencium gadis yang akan pergi meninggalkannya.


...***...


Sepulangnya Niko dari rumah Melody sehabis makan malam, Leo ayah Melody hendak membahas mengenai rencana Niko pada putrinya itu. Sebelum berbicara pada Niko lagi, dia ingin tahu mengenai perasaan dan tanggapan Melody pada pemuda itu.


"Melo, ketiga kakakmu kemungkinan tidak akan sekolah beberapa hari ini, lusa ayah juga harus mempersiapkan pameran yang akan dilaksanakan sekitar bulan depan. Aku sudah meminta Niko agar dia mengantar dan menjemputmu ke sekolah selama kakak-kakakmu tidak sekolah." Ujar Leo.


"Iya, aku tadi juga sudah dengar ayah." Jawab Melody yang duduk di hadapan ayahnya di meja makan.


"Mengenai rencana Niko yang ingin bertunangan denganmu dan menikah, apa kau serius menyetujuinya? Kau masih sangat muda. Ayah takut kau akan menyesal."


"Walau menyesal aku akan tetap menjalaninya, ayah." Jawab Melody dengan menundukan kepalanya. "Niko sangat ingin menikah denganku, aku sudah menyetujuinya juga. Ayah juga bilang kalau akan selalu menyetujui semua keputusan kami, karena itu untuk hal ini aku ingin ayah menyetujuinya juga."


"Apa kau sangat mencintai Niko hingga menyetujuinya juga?"


Pertanyaan ayahnya membuat Melody menatap Leo sejenak namun kembali menundukan kepalanya lagi.


"Aku pernah mendengar kalau lebih baik hidup bersama orang yang mencintaimu dari pada hidup bersama orang yang kau cintai." Ucap Melody menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan hal tersebut. "Jadi aku pikir aku akan bahagia bersama Niko."


"Tapi hal yang kau bilang itu tak sepenuhnya benar Melo. Kau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang sebenarnya bersama orang yang tidak kau cintai. Alangkah lebih bahagia jika hidup bersama dengan saling mencintai." Ujar Leo mencoba menyadarkan putrinya. "Kau juga baru kenal dengan Niko, ayah sangat khawatir jika saat ini kalian hanya—"


"Ayah tidak perlu khawatir pada hal itu." Potong Melody dengan meremas tangannya yang tergenggam untuk menahan rasa sedihnya. "Ayah juga tidak perlu khawatir, karena aku juga mendengar rasa cinta akan tumbuh disaat kebersamaan terjalin dengan baik. Aku hanya membutuhkan waktu untuk merasakan hal itu. Niko orang yang baik, dan aku berusaha membuka hati untuknya karena itu pasti tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk membuatku mencintainya."


Leo membuang napas dalam-dalam mendengar perkataan putri semata wayangnya. Dia tidak bisa berkata apapun. Semakin dilarang putrinya pasti akan semakin melawan, begitulah sifat keempat anaknya.


"Lion juga bilang kalau Niko orang yang baik." Ujar Leo membuat Melody menatapnya. "Baiklah, jika kau sudah sangat yakin dengan keputusanmu. Ayah akan mengatakannya pada Niko kalau ayah menyetujuinya."


...***...


Tasya berdiri di luar ruang ICCU menatap ke jendela ruangan di mana Athos dirawat. Dia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir melihat pria yang dicintainya masih dalam keadaan kritis.


"Ato, aku mohon bukalah matamu, aku ada disini. Bahkan aku hanya bisa melihatmu dari balik jendela ini." Lirih Tasya.


Prothos datang menghampiri kekasih kembarannya itu, lalu memegang pundak Tasya untuk penenangkannya.


"Oto, aku ingin masuk ke dalam. Aku ingin berada di dekatnya saat ini. Dia pasti ingin agar aku berada di sisinya." Ucap Tasya menangis di pelukan Prothos. "Aku ingin masuk ke dalam dan memegang tangannya. Aku ingin menciumnya. Ato pasti sudah menungguku dan bertanya-tanya kenapa aku tidak ada di sampingnya saat ini. Aku takut Ato akan jadi membenciku karena hal itu. Aku mohon, bantu aku masuk ke dalam sana."


Tak ada yang bisa dilakukan Prothos untuk memenuhi permohonan Tasya. Dia hanya bisa membiarkan gadis yang sangat dicintai kembarannya itu menangis di pelukannya.


...***...


"Si bedebah sialan itu menyerahkan diri begitu saja." Ucap Lion berdiri sedang membidik papan dart. Hanya ada dirinya dan Ivan di rumah temannya itu.


"Dia memang pecundang." Ujar Ivan yang hanya duduk di sofa, mereka berdua berada di taman belakang rumah Ivan yang sudah menjadi basecamp mereka saat berkumpul. "Bukan kah itu bagus, Lion?"


Tiba-tiba Lion melempar anak panah ke arah Ivan, membuat temannya itu sontak terkejut namun tak bergerak sedikitpun. Anak panah yang dilempar Lion menancap ke sandaran sofa di samping kepala Ivan.


"Sialan kau, bagaimana kalau kena wajahku?" Kesal Ivan menatap Lion.


"Kau pasti melakukan sesuatu kan, Ivan?" Tatap Lion. "Seharusnya aku tidak memberi waktu 1 x 24 jam. Padahal aku sangat ingin membuatnya menderita. Kenapa kau mengacaukannya?"


"Sudahlah Lion, yang penting dia sudah menyerahkan diri. Itu bagus kan, Ato pasti juga tidak ingin membuatmu melakukan hal bodoh lagi. Biarkan dia dihukum saja."


"Sekarang aku tidak punya kesempatan membuatnya menderita, Ivan. Aku sangat ingin bermain-main dulu dengannya, kau tahu selama ini tingkah si pecundang itu seperti apa? Dia bertingkah seolah-olah tak akan ada yang bisa menyentuhnya, aku sudah muak melihatnya. Kalau bukan karena permintaan Ato, aku tidak akan mau berteman dengan si bedebah sialan itu."


"Kau sudah sering mengatakannya padaku." Jawab Ivan. "Aku hanya tidak ingin kalau kau keterlaluan karena emosi. Apalagi sampai menunjukan taringmu, itu akan membuat dirimu jadi tidak seperti biasanya. Semua teman-teman kita pasti akan merubah sikapnya padamu. Mereka tidak akan menganggapmu temannya lagi tapi mereka akan takut padamu. Itu sama saja dengan kau bertingkah seperti si bedebah sialan Dion."


Lion tertawa mendengar perkataan Ivan. Lalu duduk di sebelah Ivan.


"Kau memang teman terbaikku, Ivan." Rangkul Lion pada Ivan. "Hari ini ayo temani aku menemui Duarte, aku ingin berlatih lagi. Aku ingin menantang seseorang?"


"Menantang seseorang?" Tanya Ivan terkejut. "Siapa yang ingin kau tantang?"


"Monster yang tak terkalahkan." Jawab Lion bangkit berdiri lagi. "Kalau aku menang, aku akan memutus semua hubunganku dengannya dan dengan siapapun di keluarganya." Lion melempar anak panah dan mengenai tepat sasaran.


Ivan terkejut mendengar jawaban Lion yang terlihat sangat yakin.


...–NATZSIMO–...