
Niko menghentikan mobilnya di parkiran suatu tempat wisata. Sebenarnya dirinya tidak punya ide bagus mengenai kemana dia membawa Melody pergi hari ini, hanya tempat itu yang terpikirkan olehnya dan karena kemungkinan Melody juga tidak akan keberatan jika pergi ke tempat itu bersamanya.
"Kebun binatang?" Tatap Melody sangat terkejut karena dirinya tidak menduga kalau Niko akan membawanya pergi menghabiskan waktu hari ini ke tempat tersebut.
"Sejujurnya tidak ada tempat yang terpikirkan olehku. Dan sepertinya hanya tempat ini yang tidak masalah untukmu." Jawab Niko.
Melody hanya bisa menatap Niko dengan bingung namun perasaannya memikirkan kalau pemuda itu hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengannya. Dirinya menjadi mengerti dan berniat untuk menikmati hari ini bersama Niko.
...***...
Liam duduk di kursi dengan kaki yang berada di atas meja di mana PC komputer Lion berada, tubuhnya bersandar ke kursi dengan santai dan saat ini dia sedang menggenggam sebuah handphone. Namun itu bukan handphone miliknya melainkan handphone milik adik sepupunya.
"Mau pakai pola sesulit apapun, aku tetap bisa membacanya, bodoh. Bahkan aku tahu semua yang ada di isi hatimu tanpa kau bilang padaku." Ucap Liam yang membuka kunci handphone Lion dengan mudahnya, padahal pola yang dibuat Lion adalah pola yang rumit.
Liam sibuk membuka sesuatu di handphone Lion untuk mencari tahu hal yang ingin dirinya ketahui.
"Kenapa harus ke sana?" Gumam Liam setelah itu meletakkan kembali handphone Lion, sebelumnya dia mengunci handphone tersebut terlebih dahulu sebelum Lion masuk sehabis mandi.
...***...
Leo duduk di sebuah kursi yang memang diperuntukkan untuk kegiatan memancing. Digenggamannya terdapat pancingan yang kailnya sudah menjuntai ke dalam sungai. Di sebelah kanannya seorang pemuda yang merupakan anak tertuanya duduk bersama dengannya, juga dengan sebuah pancingan.
Athos ikut bersama dengan Leo setelah ayahnya itu meminta dirinya untuk menemani memancing kemarin. Mereka berdua memang sering pergi memancing bersama, namun sudah lebih dari satu tahun ini mereka tidak pergi bersama karena kesibukan mereka masing-masing.
Leo menggulung kailnya karena baru saja seekor ikan memakan umpannya, lalu mengangkat pancingannya untuk meraih ikan yang ukurannya sedang tersebut. Setelah itu dimasukannya ke dalam ember yang sudah berisi beberapa ekor ikan, padahal mereka baru saja sampai di sungai tersebut satu jam yang lalu.
"Aku tahu kau pernah membawa Tasya pergi memancing. Tiga jam memancing dan kalian hanya mendapatkan satu ikan. Itu sangat payah, kau tahu itu?" Ujar Leo sesekali menoleh pada Athos yang menjadi tertawa kecil mendengar ejekannya. "Dalam hal ini kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku, anak sombong."
Athos hanya tertawa dengan menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menanggapi perkataan ayahnya tersebut.
"Kadang ada sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan walau seberusaha apapun kita coba untuk mendapatkannya. Itu lah yang disebut sesuatu yang mustahil." Leo kembali duduk di kursinya dan berbicara seperti itu dengan tatapan serius mengarah ke sungai.
Mendengar perkataan ayahnya membuat Athos terkekeh karena dirinya mengingat perkataan dari salah satu kembarannya yaitu Prothos.
Seharusnya kau tahu, ada hal yang tidak bisa kau dapatkan walau kau sudah mati-matian untuk mencapainya. Itu yang disebut hal yang mustahil.
Kalimat yang dulu pernah dikatakan Prothos ketika Prothos marah pada Athos karena masih berhubungan dengan Tasya walaupun mengetahui gadis itu sudah bertunangan. Dan kata-kata ayahnya barusan sama persis dengan perkataan Prothos tersebut. Hal itu yang membuat Athos merasakan hal yang lucu hingga membuatnya tertawa.
"Kenapa kau tertawa??" Leo tampak bingung melihat pada Athos.
"Ternyata cerewetnya Oto memang menurun darimu, ayah." Jawab Athos menahan tawanya setelah itu menarik napas dan menghelanya dari hidung. "Buatku tidak ada yang mustahil. Kata mustahil hanya digunakan untuk kalian para pesimis. Kau tahu?"
"Ya ampun, kau masih saja sombong padahal apa yang kau alami saat ini seharusnya kau merasa menyedihkan." Leo terlihat kesal pada ucapan Athos.
"Apa kau tahu di mana aku memancing saat itu?" Athos menoleh pada ayahnya. "Di laut. Itulah kenapa aku memerlukan waktu tiga jam hanya untuk memancing satu ekor ikan. Memancing di laut lebih sulit ketimbang di sungai. Aku tidak suka dengan sesuatu hal yang terlalu mudah, ayah. Semua hal yang mustahil bagi siapapun tidak mustahil untukku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku, saat aku menginginkan sesuatu dan sulit mendapatkannya, pergilah memancing maka aku akan mengerti arti kesabaran?"
Athos mengembangkan senyum dengan mendengus sombong ke ayahnya.
"Lalu kenapa kau sekarang mengatakan hal yang berbeda? Jika memang harus menunggu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, maka aku akan menunggu dengan melakukan semua hal yang bisa aku lakukan. Kau juga pernah bilang pada kami bertiga, disaat kita menunggu dan kita merasa itu terlalu lama, bukan hal tersebut yang terlalu lama melainkan kita yang tidak sabar menunggunya. Di saat kita berusaha maka semua akan kita dapatkan dan semua akan terjadi di waktu yang tepat. Sudah aku bilang aku hanya membutuhkan dukunganmu bukan kata-kata yang pernah Oto ucapkan padaku."
"Kau memang bukan anakku, Ato." Seru Leo. "Kau dan semua saudaramu memang hanya anak ibu kalian."
...***...
"Bawakan saja makanan khas sana, Mona." Ujar Melody sedang berbicara di telepon dengan Mona.
Saat ini gadis itu dan Niko sedang berdiri di depan sebuah kandang singa di mana terdapat sepasang singa yang sedang tertidur.
Melody sedang menerima telepon dari Mona sedangkan Niko yang memakai kacamata hitam hanya berdiri diam memperhatikan singa-singa yang ada di kandangnya yang jauh itu.
"Kau sedang di rumah? Aku dan kakakmu akan langsung ke tempat pemotretannya karena jalanan sangat macet hari ini. Kemungkinan akan pulang malam." Ucap Mona yang sedang menyetir.
"Aku sedang bersama Niko, kami pergi ke kebun binatang." Jawab Melody.
"Kebun binatang? Ya ampun, hari ini sangat panas kenapa kalian ke sana? Pakailah topi agar wajahmu tidak terbakar." Seru Mona.
Melody hanya tersenyum mendengar perkataan Mona di ujung telepon.
"Baiklah kalau begitu. Jangan pulang terlalu malam, ya. Kalau bisa sebelum gelap segeralah pulang." Seru Mona langsung menutup teleponnya.
Prothos yang duduk di kursi belakang menahan tawanya mendengar perkataan Mona pada adiknya. Dia tidak mengira kalau gadis itu akan dengan cepat dekat dengan Melody yang awalnya tidak suka dengan dirinya.
"Kenapa kau tertawa?" Mona melihat ke spion pada Prothos.
"Kau melarang Melo pulang malam tapi kau sendiri bermalam dengan seorang pria di hotel." Ujar Prothos. "Ck! dasar bayi."
"Diamlah!!" Bentak Mona kesal.
Melody yang menutup telepon menoleh pada Niko yang hanya menunggunya mengakhiri teleponnya tanpa melakukan apapun.
"Maaf ya, aku berbicara ditelepon terlalu lama. Mona selalu mengatakan banyak hal ketika meneleponku." Ujar Melody.
"Tidak masalah." Niko tersenyum.
"Kenapa singa-singa itu tidur? Ini kan siang hari." Ucap Melody melihat ke arah singa yang tertidur.
"Walau bukan termasuk dalam hewan nokturnal singa memang selalu tidur di siang hari. Mereka lebih aktif di malam hari." Jawab Niko. "Sehari mereka membutuhkan lebih dari sepuluh jam waktu tidur, bahkan bisa mencapai dua puluh jam."
"Benarkah? Kenapa kau bisa mengetahui hal tersebut Niko?" Tatap Melody heran.
"Aku sangat mengenal hewan itu, bahkan aku selalu memantau gerak-geriknya sejak lama." Ujar Niko membuka kacamatanya dan menoleh pada Melody yang berdiri di sebelah kirinya.
"Kalian juga ada di sini?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang di belakang mereka. Melody dan Niko menoleh dan terkejut melihat kehadiran dua orang yang mereka kenal di sana.
"Ini sangat kebetulan sekali." Seru Liam.
Lion yang semula hanya berjalan sambil memperhatikan handphone-nya mengangkat kepalanya. Pemuda itu sama terkejutnya saat melihat pada Melody dan Niko.
...–NATZSIMO–...