
Perkataan Lion mengenai Niko yang hendak pergi ke Rusia membuat Melody sangat terkejut. Dirinya memang sempat melupakan mengenai Niko dan rencana pertunangan mereka hari ini.
"Niko membatalkan acara pertunangan dan sekarang dirinya akan bersiap-siap kembali ke Rusia." Tambah Lion setelah melihat Melody tampak terkejut dengan ucapannya.
"Lion, aku ingin menemui Niko." Ucap Melody dan membuat Lion menunduk karena dia merasa Melody ingin menghentikan Niko. "Aku ingin minta maaf padanya."
Lion kembali mengangkat kepalanya dan menatap Melody.
"Aku harus minta maaf padanya." Ulang Melody dengan menahan tangisnya.
Lion melajukan motornya dengan sangat cepat menuju tempat di mana Niko memarkirkan Jet Pribadi keluarganya. Melody yang pergi bersama dengan pemuda itu berpegangan erat pada Lion dengan memeluknya.
Melody terus saja mengeluarkan air matanya memikirkan bagaimana perasaan Niko saat ini. Gadis itu tahu kalau pastinya saat ini Niko sangat bersedih dengan semua keputusannya yang membatalkan pertunangan tepat di hari ini. Hari yang sudah lama dinantikan oleh pemuda malang itu.
Ketika sampai di tempat yang mereka tuju, Lion bersama Melody bergegas menuju lapangan di mana pesawat-pesawat pribadi terparkir.
Mereka berdua melihat Niko berjalan hendak menuju sebuah pesawat yang merupakan pesawat milik keluarganya bersama dengan Nausha, sedangkan kedua orang tuanya baru saja masuk ke dalam pesawat.
"NIKO." Panggil Melody dengan sangat keras agar Niko yang berjalan cukup jauh mendengarnya.
Pemuda yang dijuluki vampir Rusia itu menghentikan langkahnya dan dengan perlahan berbalik melihat pada Melody dan Lion.
Melody berlari mendekati Niko yang hanya menatapnya dengan wajah datar namun siapapun yang melihatnya akan tahu kalau dirinya menahan rasa sedihnya saat ini.
"Niko, maafkan aku." Ucap Melody saat sampai dihadapan pemuda yang selalu memakai mantel panjang itu. "Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk meminta maaf padamu. Aku sudah sangat keterlaluan hingga kau yang membatalkan semuanya."
Niko menyunggingkan sebuah senyum pada gadis yang berdiri di jarak dua meter darinya itu. Sebuah senyuman yang dirinya usahakan dengan mengesampingkan perasaan bersedih hatinya saat ini.
"Tidak perlu minta maaf. Sejujurnya aku sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini." Jawab Niko menatap lekat Melody. "Selama ini aku hanya mencoba untuk membuat ketiga kakakmu hidup dengan tidak tenang. Dan aku rasa aku tidak perlu melanjutkannya lagi. Jadi tidak perlu meminta maaf—"
"Aku tahu kau bersedih Niko." Ujar Melody. "Kau adalah pria yang baik, kau bukan orang seperti itu. Siapapun tahu saat bersama denganmu lebih lama dan aku pun tahu itu. Kau hanya menyembunyikannya selama ini."
Niko berdecak pada perkataan Melody. Yang dikatakan gadis itu memang benar namun pemuda itu tidak mungkin menunjukan rasa sedihnya pada Melody. Ya, setidaknya Niko ingin pergi tanpa bersedih, dirinya terus memaksa agar terlihat semua hal yang terjadi tidak membuatnya sedikitpun bersedih bahkan dia ingin memperlihatkan pada siapapun jika semua itu bukanlah sesuatu yang penting untuknya.
"Niko maafkan aku. Kau boleh membenciku sekarang agar kau baik-baik saja. Agar saat di sana kau tidak bersedih." Ujar Melody dengan menangis.
Niko tertawa mendengarnya.
"Ya, aku akan membencimu mulai saat ini, itu akan mudah karena bahkan kita belum berteman jadi itu akan lebih mudah aku membencimu." Jawab Niko.
Melody berjalan maju dan memeluk Niko untuk salam perpisahan. Pemuda itu mendekap Melody dengan perasaan bersedihnya. Setelah ini semuanya berakhir mereka akan berpisah dan tidak memiliki hubungan apapun, sehingga Niko harus merelakan dirinya patah hati dan kembali bernasib malang.
Melody melepaskan cincin yang diberikan Niko padanya dan menaruhnya di genggangam tangan kiri Niko yang memakai sarung tangan.
"Sekarang selain renang aku tidak memiliki hal lain yang aku suka." Ucap Niko sambil memandang cincin yang ada di genggangam tangan kirinya. "Aku akan mencari apa yang aku suka saat di Rusia, dan aku tidak akan melepaskannya lagi."
Melody tersenyum mendengarnya dengan perasaan yang lega. Namun tiba-tiba Niko mengecup kening gadis itu.
"Aku membebaskanmu." Ucap Niko memulas sebuah senyum sambil memegang wajah Melody.
Melody berjalan mundur ketika Niko melihat ke arah belakangnya, melihat pada Lion yang sejak tadi hanya berdiam diri melihat mereka berdua berbicara.
Lion berjalan mendekat pada Niko dan ketika sampai Niko langsung mendaratkan pukulannya pada wajah Lion sebanyak dua kali. Lion menerimanya dan tidak membalas walau hal itu membuat sisi bibirnya sobek.
"Maafkan aku, seharusnya sejak awal aku menolaknya." Jawab Lion sekali lagi Niko melancarkan tinjunya pada Lion.
Niko tertawa melihat pada Lion. Untuknya pemuda itu sangatlah membuatnya heran. Namun dirinya memang sudah mengenal bagaimana sifat Lion yang tidak pernah melanggar semua perkataannya sendiri. Hal itu yang membuat Lion tidak mungkin menolak permintaannya waktu itu.
"Katakan pada sahabatmu, mungkin saja aku akan datang kembali untuk meminta hal yang lainnya. Ah, sepertinya aku akan kembali lima tahun lagi. Itu juga berlaku untukmu Lion." Seru Niko dengan tatapan tajam pada Lion.
"Ya, kembalilah. Karena sepertinya aku sudah terbebas dari sumpah itu, aku tidak akan lagi melepaskan apapun yang aku miliki." Jawab Lion dengan sebuah senyum.
Lion tahu kalau Niko bertaruh dengan Liam dengan perjanjian jika Niko kalah maka dirinya harus menghapus sumpah yang dulu Lion ucapkan pada dirinya. Dan Niko sudah kalah dari taruhan tersebut karena Lion datang mencari Melody kemarin dan melanggar kesepakatannya dengan Niko yang mengatakan tidak akan berbuat apapun.
"Lima tahun lagi, aku akan menjadi diriku yang sebenarnya, Niko." Lanjut Lion.
"Ya, itu bagus. Tapi asal tahu saja, aku masih menganggapmu saudaraku." Seru Niko berbalik walau masih menoleh pada Lion. "Krome togo, ya tvoy pervyy potseluy, a ne ta devushka (Selain itu aku adalah ciuman pertamamu, bukan gadis itu)." Lanjut Niko dengan tawa kecil sambil melangkah pergi setelahnya.
Lion mendengus mendengar kalimat terakhir Niko. Dia langsung berbalik dan melihat pada Melody yang berdiri di jarak sekitar sepuluh meter juga melihat padanya.
Dengan langkah cepat Niko berjalan menuju pesawat di mana kedua orang tuanya dan Nausha sudah berada di dalamnya. Ketika dirinya hendak menaiki tangga, Niko membuka genggaman tangan kirinya yang membawa cincin yang dikembalikan Melody, dan membiarkan cincin itu terjatuh ke tanah. Pemuda itu membuang cincin tersebut.
Secepatnya Niko masuk ke dalam pesawat dengan perasaan kembali bersedih. Dirinya duduk di sebuah kursi dan langsung memasang headphone ke telinganya untuk mendengarkan salah satu lagu kesukaannya yang dalam bahasa Rusia.
"YA ne boyus' tebya poteryat' Ved' ty nikogda ne byla moyey." Ucap Niko mengulangi sebait lirik dari lagu yang di dengarnya.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi."
Terdengar suara seseorang yang membuat Niko membuka headphone dan menoleh ke kursi belakang di mana Nausha duduk.
"Aku menumpang hingga Moskow ya." Senyum Liam yang duduk di kursi samping Nausha. "Aku datang untuk menghiburmu, ya tentunya juga ingin memastikanmu sampai dengan selamat di Rusia."
Niko mendengus mendengar perkataan kakak sepupu Lion tersebut. Dirinya tidak ingin menanggapi perkataannya.
"Aku tidak takut kehilanganmu, karena kau tidak pernah menjadi milikku." Ucap Liam. "Benar itu kan arti dari yang diucapkannya tadi?" Tanya Liam pada Nausha yang tersenyum menjawabnya.
"Kau tidak perlu mengikutiku, aku akan memegang omonganku dan tidak akan kembali sebelum batas waktu lima tahun yang kau berikan padaku." Ujar Niko sambil memasang kembali headphone ke telinganya.
Liam memeluk Niko dari belakang dan memberikan kecupannya ke pipi kanan pada pemuda yang tampak biasa saja dengan perlakuannya tersebut.
"YA tebya lyublyu." Bisik Liam.
Do svidaniya, Melody. Batin Niko sambil memandang ke luar jendela pesawat yang baru saja lepas landas.
...–NATZSIMO–...
Credit Song :
Lagu HammAli & Navai - YA tebya sam pridumal.
...****************...
Scene terakhir dari Niko—karakter favorit author.
Kita doakan semoga Niko nggak jadi sadboy selamanya 🤭