
Setelah mengetahui kalau Ketiga Musketeers dan Mona sudah pergi. Lion dengan bantuan tongkatnya berjalan ke rumah Melody. Dirinya berniat langsung datang ke rumah itu dulu baru setelahnya akan meminta Melody keluar dari kamarnya.
Namun ketika dirinya membuka pintu, dia langsung melihat gadis itu yang hendak menuruni tangga.
Mereka berdua menjadi sama-sama terkejut karena tidak mengiranya. Akan tetapi Lion langsung memulas sebuah senyum pada Melody sambil duduk di sofa tunggal di ruang tamu.
Melihat kehadiran Lion, membuat Melody merasa senang. Dia jadi tidak harus mencari alasan untuknya yang ingin menemui pemuda tersebut.
"Kenapa berdiri saja? Ayo duduk!!" Seru Lion.
Melody segera duduk di sofa tiga seat yang ada di serong kanan Lion. Entah karena apa jantungnya menjadi berdegup kencang saat ini. Kakek memang ada di kamarnya tetapi saat ini mereka hanya berdua saja di rumah.
Padahal seharusnya tidak masalah karena kemarin pun mereka berdua berada dalam satu ruangan ketika Melody menemani Lion di rumah sakit. Tapi keadaan saat inilah yang membuatnya menjadi lebih menegangkan hingga membuat Melody berdegup kencang.
"Ada apa? Kau ingin menemuiku?" Tanya Melody menahan debaran jantungnya.
"Kau itu tidak tahu berterima kasih, Melon!!" Ujar Lion. "Kau belum mengatakan tentang audisinya! Ceritakan padaku apa yang terjadi! Pasti kau membuat ulah kan?!"
"Itu benar." Jawab Melody tidak berani menoleh pada Lion. "Mereka bertanya padaku kenapa tidak menggunakan gitar yang disediakan dan memakai gitarku sendiri."
"Aku sudah tahu kau pasti akan membuat masalah." Ucap Lion. "Lalu aku dengar mereka menyuruhmu untuk bersenandung lagu ciptaanmu yang belum ada liriknya, apa benar?" Tanya Lion dengan pandangan lurus ke depan. "Bisa tidak kau juga memperdengarkannya padaku?"
"Apa?" Melody menoleh pada Lion.
Lion juga menoleh padanya.
"Selama ini aku hanya mendengarmu bernyanyi di kamar dan di café dan itu semua kau lakukan bukan untukku. Jadi sekali ini saja bersenandunglah untukku." Pinta Lion mengatupkan bibirnya.
Mendengar kata-kata Lion membuat Melody tidak bisa menolak. Dia mengambil gitar miliknya yang diletakan tidak jauh dari piano di bawah tangga lalu mulai memetiknya, dan bersenandung karena gadis itu belum menemukan lirik yang cocok untuk lagu tersebut. Ketika selesai Lion hanya menatap Melody saja.
"Kenapa menatapku? Seharusnya kau bertepuk tangan!!" Ucap Melody.
"Aku yakin kalau kau akan lulus audisi." Ujar Lion menatap Melody. "Apa kau mau berjanji padaku kalau kau akan memperdengarkan lagu itu lengkap dengan liriknya padaku ketika aku datang kembali?"
Melody menarik pandangannya dari tatapan Lion.
"Lion, aku—"
"Ada yang menyuruhku untuk tidak berjanji apapun jadi aku tidak akan berjanji padamu kalau aku akan kembali." Sambar Lion kembali melihat ke depan. "Tapi jika kau berjanji padaku maka suatu hari nanti aku akan menagih janji itu padamu." Lanjut Lion. "Dan lagi kenapa kau menutup tirai jendela kamarmu? Apa kau sudah lupa dengan perjanjian kita?" Lion kembali menatap Melody dengan tatapan kesalnya. "Kau sudah kalah, Melon! Jadi aku minta kau memberiku kantong doraemon!!"
"Apa kau benar akan menagih semua itu padaku suatu hari nanti?" Tanya Melody.
Tiba-tiba Lion memegang tangan Melody, membuat gadis itu terkejut dan menatapnya bingung. Namun Lion merogoh saku celananya dengan tangan satunya. Dia mengeluarkan satu benda berkilau lalu memasangkannya ke tangan kiri Melody.
"Kau benar! Real Madrid tidak bisa mengalahkan Barcelona dalam El Clasico." Kata Lion sambil memakaikan sebuah gelang emas putih ke tangan Melody. "Aku membelinya dengan sisa uang kirimanku, harganya tidak terlalu mahal tapi jangan bilang pada Ars kalau aku tidak membayar taruhanku ya!!" Tatap Lion. "Lain kali aku akan mendukung Barcelona saja. Real Madrid sudah membuat aku bangkrut!!" Lion meregangkan tubuhnya, lalu setelah itu terdiam memandang ke depan. "Melon, besok aku berangkat pagi-pagi sekali. Mungkin ketika kau bangun aku sudah pergi."
Melody terdiam mendengarnya, dia menahan air matanya agar tidak mengalir keluar, tapi itu membuatnya menjadi sesak dan sulit bernapas. Dia segera menghapus air matanya tersebut sebelum Lion tahu kalau dia menangis.
"Huft, padahal kita baru saja kembali seperti dulu ya. Setelah Niko pergi, akhirnya aku kembali menjadi Petugas 911-mu, tapi aku akan berhenti lagi, jadi aku harap kau bisa menjaga dirimu." Ucap Lion. "Bagaimana kalau saat di sana aku menjadi petugas 911 saja ya?" Lion menoleh pada Melody. "Kau... apa kau menangis?" Lion memegang tangan Melody yang mencoba mengusap air matanya.
"Tidak! Aku tidak menangis!" Jawab Melody mengelak.
"Padahal kalau kau menangis aku akan merasa senang." Ucap Lion melepaskan tangan Melody. "Melon, aku yakin tidak lama lagi mimpimu akan menjadi nyata. Kau akan menjadi seorang penyanyi terkenal. Itu benar, seharusnya aku meminta tanda tanganmu dulu ya."
Lion merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah spidol merah yang dibawanya.
"Aku ingin tandatangan darimu. Bagaimana kalau kau tanda tangan di gips-ku saja?" Tatap Lion menyodorkan spidolnya pada Melody.
"Jangan aneh!" Ucap Melody, tetapi Lion menatapnya agar dia mengikuti permintaannya. Dengan enggan Melody menandatangani gips tersebut.
"Tulis sesuatu dibawahnya!!" Seru Lion. "Tulis saja, I love you, Lion (\=singa)!!" Lanjutnya dengan menggoda gadis itu.
Melody memperhatikan tulisan-tulisan yang ada di gips tersebut. Semuanya bukan kata-kata pemberi semangat. Teman-teman Lion pasti yang mencoret-coretnya.
Gadis itu menjadi bingung apa yang harus dia tuliskan. Hanya dua kata itu yang terpintas di pikirannya. Dengan segera dia menorehkan spidol merah tersebut di gips dengan dua kata, Melody 911.
Melody tidak menjawab. Gadis itu diam saja dengan tidak menatap Lion. "Aku suka. Tapi bagaimana kalau aku tambahkan sesuatu?" Lion mengambil spidol dari tangan Melody dan menambahkan gambar hati di antara Melody dan 911. Lion tersenyum melihat karyanya.
"Ke—kenapa kau menambahkan gambar itu?!" protes Melody menatap Lion. "Artinya kan jadi berbeda!!"
"Arti apa?" Tanya Lion, membuat Melody menjadi diam dan tidak berani protes.
Lion mengeluarkan sebuah kartu remi dan langsung mengacaknya.
"Saat di rumah sakit kemarin aku mempelajari sebuah trik sulap." Ujar Lion mengambil satu kartu dari deretan kartu yang ia letakan di atas meja. Dia memegang kartu tersebut tanpa melihatnya. "Ambillah satu kartu juga dan kau bisa melihatnya."
Melody merasa bingung namun gadis itu mengambil satu kartu seperti yang diminta Lion padanya.
"Apa kau tahu permainan kartu setan?" Tanya Lion. "Anggap saja kartu yang kau pegang adalah kartu setan. Dan aku akan menebaknya karena aku sangat yakin kartu yang aku ambil adalah pasangan dari kartu itu."
"Ya, tebak saja." Jawab Melody.
"AS diamond." Ujar Lion. "Kartu yang ada padamu adalah AS diamond. Perlihatkan padaku."
Melody membalik kartu tersebut dan memang benar kalau kartu yang diambil Melody adalah AS Diamond. Gadis itu menunjukkan wajahnya yang terkejut.
"Baiklah, Karena kau sudah memberikan hatimu padaku aku juga akan memberikan hatiku padamu." Seru Lion sambil membalik kartu yang ada di tangannya. Sebuah kartu AS hati."
Melody terkesima karena kartu AS hati itu pasangan dari kartu miliknya AS diamond.
"Sebenarnya ini bukan trik sulap. Sejak dulu saat dalam undian apapun kita memang selalu mendapatkan sesuatu yang membuat kita selalu bersama, kan?" Senyum Lion setelahnya mendesis. "Ambillah." Lion memberikan kartu AS hati itu pada Melody.
"Kartu ini akan aku simpan!!" Ucap Melody menerimanya.
"Hey, seharusnya kau bilang hatimu akan aku simpan! Sudah aku bilangkan aku memberikan hatiku bukan kartu!!"
"Tapi ini hanya kartu!" Ujar Melody tidak mau kalah. "Kalau ingin memberikan hatimu, keluarkan hatimu sekarang!" Tatap Melody kesal pada Lion.
"Kalau begitu kau juga keluarkan hatimu!"
"Memangnya aku bilang ingin memberikan hatiku padamu? Itu kau sendirikan yang gambar! Bukan aku!!" Seru Melody semakin kesal.
Tiba-tiba Lion tertawa dan membuat Melody merasa aneh.
"Kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?"
Lion menahan tawanya dan kembali menatap lurus ke depan. Kita selalu bertengkar seperti ini. Tak ada yang mau mengalah. Saat aku tidak ada pasti kau akan merindukan aku!!
"Itu tidak mungkin!!" Ucap Melody menundukan kepala. "Kau yang akan merindukan aku!! Saat disana jangan hubungi aku!"
"Kenapa?"
"Karena aku akan membuatmu sangat merindukan aku!!" Jawab Melody cepat dan menoleh pada Lion. "Aku tidak akan menjawab kalau kau menghubungiku!!"
"Jadi begitu. Baik, kita lihat siapa yang akan menang. Aku akan membuatmu sangat merindukan aku! Aku tidak akan menghubungimu! Jadi jangan menyesal sudah menantangku!!" Seru Lion.
Mereka berdua kembali terdiam untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba Lion mengambil tongkatnya yang diletakan di samping sofa dan bangkit berdiri.
"Sebaiknya aku pulang sebelum kakak-kakakmu pulang." Ujar Lion berbalik ke arah pintu.
Melody mengangkat kepala, melihat Lion yang mulai memegang kenop pintu. Saat ini dia tidak ingin Lion pergi. Jika Lion keluar dari rumahnya, itu berarti dia akan berpisah dengannya. Melody tidak ingin itu terjadi. Dia masih ingin bersama-sama dengannya.
Melody beranjak dari duduknya. Dia sudah tidak peduli pada apapun, melihat punggung Lion membuatnya tidak ingin percaya kalau mereka akan berpisah hingga waktu yang tidak dapat di tentukan. Setidaknya sekarang dia masih mempunyai kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada Lion.
Dengan cepat Melody memeluk punggung Lion.
...–NATZSIMO–...