
Prothos dalam perjalanan pulang bersama Widia. Karena jalanan macet mereka berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minuman.
"Biar aku saja yang turun membelinya." Ujar Widia langsung keluar dari mobil dan memasuki minimarket yang terlihat ramai.
Prothos keluar dari mobil untuk mencari udara segar sambil meregangkan tubuhnya. Sudah hampir tiga jam dia menyetir tetapi karena macet parah mereka masih belum sampai dan sekarang sudah jam tujuh lewat, untung saja sebelumnya mereka makan malam dulu tadi.
Pandangan Prothos teralihkan ke sebuah toko bunga yang berada di samping minimarket. Dia menoleh pada Widia yang sedang mengantri panjang di kasir, dan dengan segera dia menghampiri toko bunga tersebut.
...***...
Aramis dan Lion bermain game bersama di kamar Lion. Sudah sangat lama mereka berdua tidak bermain game karena Aramis sibuk menyelesaikan lukisannya. Hari ini dia sudah menyelesaikannya sehingga dia punya waktu untuk bermain dengan sahabatnya itu.
"Bagaimana hasilnya? Aku juga ingin lihat." Ucap Lion dengan pandangan ke layar dimana mereka sedang bermain game sepak bola. "Anna menyukainya?"
Aramis memberikan handphone-nya yang memperlihatkan sebuah foto yang adalah gambar hasil lukisannya pada Lion.
"Entahlah, sepertinya dia tidak suka." Jawab Aramis karena Anna menangis setelah melihat hasil lukisannya. "Dia malah menangis setelah melihatnya."
Lion memperhatikan lukisan di foto tersebut. Dia mengerti kenapa Anna menangis. Pantulan siluet wanita yang ada di sungai dengan rambut panjang terurai.
"Ars." Panggil Lion masih mempertimbangkan apakah dia akan memberitahu rahasia Anna atau tidak pada sahabatnya itu.
"Kenapa?" Aramis menghentikan permainannya dan menoleh pada Lion.
"Kau serius ingin menikah dengannya?" Akhirnya Lion memutuskan untuk tidak memberitahunya saat ini. "Kenapa harus menunggu rambutnya panjang?"
"Agar dia terlihat seperti seorang wanita. Aku tidak mau dikira pasangan gay." Jawab Aramis dengan sedikit tawa.
"Mana yang lebih penting, rambutnya yang panjang atau menikah dengannya?" Tatap Lion.
"Kau ini bicara apa? Aku akan menikahinya saat rambutnya sudah panjang."
"Kau sangat bodoh, Ars." Ucap Lion kesal. "Kalian semua bodoh!! Kalian bertiga bodoh!!"
"Kenapa kau jadi kesal? Kau yang paling bodoh, tahu?!" Aramis menatap heran Lion. "Kenapa kau menyerahkan Melo pada Niko?"
"Dia bukan milikku, kenapa aku yang dibilang menyerahkannya? Kau yang menyerahkannya pada Niko, bodoh!! Semua ulahmu." Lion semakin tersulut emosi.
"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak membawa Melo ke bandara waktu itu, tapi kalau bukan karena Melo kau pasti sudah melarikan diri." Ujar Aramis.
"Seharusnya kau minta maaf pada Niko, bukan padaku!! Sudah aku peringatkan kau sebelumnya untuk tidak membiarkan musuh-musuhmu tahu mengenai adikmu, tapi kau malah membawanya ke tengah-tengah mereka!! Semua yang datang ke bandara itu musuhmu, kecuali Ivan, dan kau membawa Melo? Kau selalu bodoh, Ars!!"
"Maafkan aku."
"SUDAH AKU BILANG, MINTA MAAF PADA NIKO BUKAN PADAKU!!" Geram Lion sangat marah. "Aku tidak ada hubungannya dengan yang terjadi."
Percakapan mereka terhenti ketika pintu kamar Lion tiba-tiba terbuka, mereka berdua langsung bangkit berdiri ketika Melody muncul dan berjalan mendekati mereka.
Plakk!
Melody mendaratkan tamparannya pada pipi Lion, dan menatap Lion sangat tajam. Dia tidak memedulikan keberadaan kakaknya disana. Dia terlihat sangat kesal pada Lion.
"Kau sudah berjanji untuk tidak ikut campur masalah apapun yang terjadi pada kami berdua. Tapi hari ini kau melanggarnya. Kenapa kau menyuruh Niko datang hanya karena tahu aku sendirian di rumah? Jangan bersikap seolah-olah kau tahu apa yang aku inginkan!!" Seru Melody setelah itu berjalan keluar kamar Lion.
Lion menoleh pada Aramis yang terkejut melihat adiknya menampar Lion, sahabatnya.
"Lihatlah, sekarang adikmu sudah membenciku." Ucap Lion pada Aramis. "Setidaknya aku berhasil membuatnya seperti itu padaku."
Aramis tidak percaya pada Lion yang dengan sengaja membuat Melody sangat marah padanya hanya untuk membuat adiknya membenci diri Lion. Dia tidak habis pikir pada Lion.
"Apa yang terjadi padamu dengan Niko hingga kau seperti sekarang ini?" Tatap Aramis heran.
"Karena dia temanku."
"Tapi aku sahabatmu!!" Geram Aramis menarik baju Lion dengan kesal. "Kenapa kau lebih mendengarkannya?"
...***...
Akhirnya Prothos dan Widia sampai di depan gedung apartemen setelah menempuh perjalanan lewat tiga jam. Widia menatap Prothos sesaat dengan tatapan memancarkan rasa cintanya namun sebuah kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"Ada apa, bu guru?" Prothos menoleh pada Widia yang menatapnya lekat. "Kau ingin aku mampir sebentar?"
"Pulanglah, kau pasti lelah." Jawab Widia tersenyum.
"Bu guru, aku ingin bertanya sesuatu." Ujar Prothos. "Kenapa kau tidak pernah memanggil namaku?"
Widia menyadari dan memang iya kalau dirinya tidak pernah memanggil nama Prothos setelah mereka berdua menjalin hubungan, sekalipun tidak. Entah kenapa dia merasa tidak ingin memanggilnya dengan menggunakan namanya.
"Tidak ada alasan apapun." Senyum Widia.
Prothos melepaskan sabuk pengamannya dan mengubah posisi duduknya. Pemuda itu langsung menarik Widia untuk menciumnya. Sekuat tenaga Widia menahan air matanya saat Prothos menciumnya.
"Aku sangat mencintaimu, Widia, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Hidupku langsung tidak berjalan dengan baik saat kau marah kemarin. Terimakasih kau tidak marah lagi dan mau memaafkan kesalahanku."
Widia mencoba tersenyum agar air matanya tidak keluar. Dia juga sangat mencintai Prothos namun kata-katanya barusan membuat hatinya sangat sakit.
"Aku akan keluar sekarang." Ucap Widia langsung membuka pintu mobil dan turun.
Prothos membuka pintu mobilnya dan juga turun dari mobil.
"Tunggu sebentar, bu guru!" Seruan Prothos menghentikan langkah Widia dan berbalik.
Prothos membuka bagasi belakang mobilnya dan mengeluarkan sebuket bunga mawar dan berjalan menghampiri Widia. Widia tersenyum melihatnya.
"Sebagai ganti dari maaf, terimakasih dan aku mencintaimu, bunga mawar ini untukmu, Widia."
Widia mengambil bunga mawar tersebut dan langsung mencium Prothos. Dia mencium kekasihnya itu dengan segenap rasa cintanya pada pemuda yang sangat dicintainya itu.
"Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Widia sambil memeluk Prothos.
Untuk sesaat mereka berpelukan seolah-olah itu adalah pelukan terakhir mereka. Widia mendekap Prothos sangat erat.
...***...
Pagi-pagi sekali Prothos memasuki gedung apartemen Widia setelah berlari pagi, seperti setiap hari minggu sebelumnya. Dia sangat tidak sabar menemui kekasihnya itu dan berniat menghabiskan hari minggunya ini dengan bersama Widia.
Prothos memencet bel berkali-kali namun Widia tidak juga membukakan pintunya. Dia berpikir kalau gurunya tersebut mungkin saja masih tertidur karena saat ini masih menunjukkan jam enam kurang. Prothos langsung membuka kunci pintunya.
Hatinya terhentak ketika melihat kamar apartemen Widia sudan kosong dan barang-barangnya sudah tidak ada. Hanya ada meja bulat di mana di atasnya terdapat buket bunga mawar yang semalam Prothos berikan, dan sepucuk surat.
Prothos berjalan dengan gontai menghampiri meja tersebut. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca saat membuka sepucuk surat tersebut dengan perlahan.
Jika orang yang kau cintai mengkhianatimu maka perpisahan adalah jalan terbaik. Di dunia ini tidak ada seseorang yang berkhianat hanya sekali, tapi percayalah, pasti ada seseorang yang sama sekali tidak akan pernah berkhianat.
Aku masih sangat ingat perkataan pemuda tampan yang menghibur diriku dulu.
Kau bertanya padaku kenapa aku tidak pernah memanggil namamu? Sejak awal aku merasa ini akan terjadi sehingga aku tidak ingin namamu terukir di hatiku.
Kau terlalu bersinar untukku. Bukan cahaya matahari yang aku butuhkan, aku hanya butuh cahaya lampu temaram yang memberikan kehangatan tanpa menyakitiku. Bukan cahaya matahari yang membuatku terbakar hingga tak tersisa apapun di diriku.
Prothos tak mampu lagi membendung air matanya, dia mulai membiarkan air matanya mengalir keluar setelah mengakhiri kalimat di surat perpisahan dari kekasihnya, Widia.
Dia mengambil bunga mawar yang ada di atas meja. Saat ini Prothos benar-benar hancur, bahkan Widia pergi tidak membawa bunga pemberiannya. Itu sebagai bukti kalau tiga hal yang diucapkan dirinya semalam mendapatkan penolakan dari kekasihnya itu. Maaf, terimakasih dan aku mencintaimu.
Pemuda itu terperenyak ke lantai dan meratapi nasibnya. Dipandanginya bunga mawar dan surat yang ada di kedua tangannya.
"Kau bukan saja menghancurkan hatiku, tapi kau membawanya pergi bersama hilangnya dirimu, Widia."
...–NATZSIMO–...