
Aramis masuk ke kamarnya setelah kembali dari rumah sakit. Dirinya merasa sangat bersedih hari ini. Selain karena kabar mengenai kembarannya, Athos, dia juga sedih karena besok adalah hari operasi gadis yang sangat dirindukan dirinya, Anna.
Tak ada pesan ataupun telepon dari Anna sejak hari senin kemarin. Dia sangat ingin mengetahui kabar gadis itu namun dia tidak bisa menghubunginya karena Anna melarangnya. Aramis sudah berjanji kalau dia akan selalu mendengarkan perkataan gadis itu.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Pemuda itu duduk di kursi meja belajar dalam kamarnya. Dia melihat kotak kalung pemberiannya yang dikembalikan Anna. Aramis belum membuka kotak tersebut karena merasa kecewa ketika pamannya memberikan padanya.
Diambilnya kotak tersebut lalu dibuka segera. Namun Aramis bingung ketika melihat isinya. Bukan kalung pemberian dirinya yang ada di dalamnya melainkan sebuah foto dirinya yang tercetak. Foto favorit Anna, di mana wajah Aramis penuh dengan coretan, foto tersebut juga yang selalu diunggah Anna ke akun sosial medianya.
Aramis mengambilnya dan membaliknya, ada sebuah tulisan di balik foto tersebut. Tulisan yang ditorehkan dengan spidol berwarna merah, sebuah angka 607. Dia tidak mengerti maksud angka tersebut.
"Apa maksudnya angka ini?"
Handphone-nya bergetar di atas meja. Aramis langsung menjawab telepon dari sahabatnya yang meneleponnya.
"Kebetulan, aku baru saja mau meneleponmu, Lion." Ucap Aramis.
"Datanglah ke rumahku, ada yang ingin aku katakan." Ujar Lion.
Setelah itu Aramis bergegas menuju rumah Lion. Dia membuka pintu rumah sahabatnya namun dirinya sedikit terkejut ketika melihat Lion berada di dapur rumahnya dan bukan di kamar. Lion berdiri sedang memotong sesuatu, namun Aramis melihat wajah sahabatnya itu penuh dengan air mata saat ini.
"Kau menangis, Lion?" Aramis berjalan mendekati Lion yang berdiri di meja dapur.
Aramis berdiri menghadap Lion yang berdiri di belakang meja bar dapur.
"Aku sedang mengiris bawang." Jawab Lion sambil mengiris bawang merah.
"Hal konyol apa lagi yang kau lakukan?" Ucap Aramis merasa heran pada sahabatnya itu.
"Aku mulai belajar memasak, aku ingin seperti Ato yang sangat jago memasak. Aku merindukan masakannya." Jawab Lion sambil mengusap air mata yang keluar di pipinya dengan pundaknya. "Aku sudah dengar tentangnya. Aku turut berduka cita untuk keluargamu. Aku juga merasa kehilangannya."
"Diamlah, Lion!! Ato baik-baik saja!!" Seru Aramis masih tidak bisa menerima kenyataan tentang kembarannya.
Lion meletakkan pisaunya dan langsung mencuci tangannya. Lalu kembali berdiri di hadapan Aramis.
"Ars, aku akan pindah saat kenaikan kelas." Ucap Lion menatap Aramis dengan mata yang masih tersisa air matanya. "Aku akan tinggal dengan orang tuaku."
"Apa karena Melo?" Tanya Aramis.
"Mereka memintaku tinggal bersama mereka. Aku juga merindukan mereka, sudah lebih dua tahun kami tidak bertemu. Bahkan mereka tidak tahu kalau aku sudah setinggi sekarang."
Aramis diam melihat sahabatnya yang menatapnya, dia tahu air mata sahabatnya itu bukan karena dirinya mengiris bawang karena mata Lion terlihat membengkak.
"Apa kau tidak kasihan padaku, Lion?" Tanya Aramis. "Anna dan Ato meninggalkan aku, dan kau juga ingin meninggalkan aku. Kenapa kau sangat tega padaku?"
Lion menundukan kepalanya menghindari tatapan Aramis. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Mereka berdua tidak meninggalkanmu." Ucap Lion menunduk. "Hanya aku yang akan meninggalkanmu."
"Apa maksudmu?" Tanya Aramis.
Lion mengambil sesuatu di meja dapur yang ada di belakangnya dan meletakannya ke hadapan Aramis. Sebuah tiket pesawat.
"Pergilah Ars, temui Anna. Kau harus berbuat sesuatu untuk gadis yang sangat kau cintai itu. Itu tiket pesawat ke Berlin, pesawatnya berangkat besok jam enam pagi. Mungkin saat kau sampai di sana, Anna sudah selesai operasi. Kau harus menemaninya dan jangan biarkan dia sendirian. Setidaknya kau harus berusaha untuk gadis yang kau cintai agar kau tidak menyesal seperti aku." Tatap Lion.
"Bagaimana dengan Ato?"
"Tak ada yang bisa kau lakukan meski kau di sini. Takdir sudah berkehendak." Jawab Lion. "Dia tidak akan meninggalkanmu, kau harus percaya itu."
"Baiklah." Jawab Aramis. "Lion, apa kau tahu arti dari angka 607? Anna menuliskan angka itu di balik foto ini." Aramis menunjukan tulisan tersebut pada Lion.
"Itu kode dari kalimat Aku Merindukanmu. Dia merindukanmu, itu juga yang sering dia katakan padaku kalau dia sangat merindukanmu, karena itu aku ingin kau menemuinya." Ujar Lion.
"Aku minta maaf, Lion. Selama ini kau selalu membantuku pada banyak hal, tapi sekalipun aku tidak pernah melakukan apapun untukmu. Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu untuk masalahmu." Ucap Aramis.
"Tidak, sejak awal seharusnya aku mendengarkan perkataanmu. Seharusnya aku tidak perlu memiliki banyak teman, dan seharusnya aku tidak menganggap hubungan pertemanan sama pentingnya dengan hubungan yang lainnya. Kau selalu mengatakan punya banyak teman merepotkan, kau selalu berkata seperti itu padaku, aku saja yang selalu tidak mendengarkan perkataanmu. Aku terlalu asyik dengan hubungan pertemanan yang aku jalin dengan mereka semua hingga tidak pernah memedulikan hubungan yang lainnya. Ketika aku menyadarinya aku sudah kehilangan hubungan itu. Maafkan aku jika sebelumnya aku selalu menyalahkanmu untuk kesalahan yang aku buat sendiri. Itu semua bukan salahmu melainkan karena keegoisanku."
Lion membuang napas setelahnya. Dia mengubah raut wajahnya dan mencoba untuk tersenyum pada sahabatnya itu, walau Aramis tahu itu hanya senyum untuk menutupi kesedihannya.
"Sampaikan salamku pada Anna. Aku berharap dia benar-benar melupakan semua perkataanku kemarin." Senyum Lion.
Aramis membuka pintu kamar Melody tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Melody yang duduk di meja belajarnya menoleh pada kehadirannya. Saat ini gadis itu masih menangisi tentang keadaan Athos.
"Sudahlah Melo, kau jangan menangis terus. Tak ada yang bisa kita lakukan lagi." Ujar Aramis berdiri di dekat Melody yang menatapnya.
"Tidak bisa kak, aku tidak bisa menghentikan air mataku saat mengingat kak Ato." Jawab Melody mulai mengeluarkan air matanya lagi. "Aku tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya. Aku sangat merindukan kak Ato, kak."
"Kita semua tidak bisa menerimanya. Tapi kita tidak bisa berbuat apapun meski tidak bisa menerimanya." Ujar Aramis. "Besok aku akan pergi ke Jerman untuk menemui Anna."
Melody menghapus air matanya mendengar perkataan Aramis, sambil memutar duduknya karena Aramis duduk di sisi tempat tidur saat ini.
"Melo, Lion berniat pindah saat kenaikan kelas. Dia akan tinggal dengan orang tuanya." Ujar Aramis. "Aku tidak bisa menghentikannya."
Melody terdiam karena bingung harus menjawab apa. Dia berpikir setelah bertunangan dengan Niko, dirinya juga akan pindah ke Rusia sehingga kepindahan Lion tidak akan membawa pengaruh apapun padanya. Namun mendengarnya hatinya tetap saja tidak rela, akan tetapi tak ada yang bisa dirinya lakukan lagi.
"Hentikan dia, Melo." Ucap Aramis. "Aku mohon padamu." Wajah Aramis menunjukan keseriusannya dalam memohon pada adik perempuannya itu.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan, kak." Jawab Melody. "Dia pasti memiliki alasan kenapa ingin pindah. Kau tidak perlu melarangnya lagi."
"Melo, aku mohon hentikan dia." Aramis berbicara dengan sepenuh hatinya. "Jangan bertunangan dengan Niko."
"Jangan mulai lagi, kak. Sebelumnya kau sudah setuju." Ujar Melody. "Keluarlah, aku ingin tidur."
"Melo, aku mohon padamu, jangan bertunangan dengan Niko, dan hentikan kepergian Lion."
"Dengarlah kak!! Ada tiga hal yang tidak akan aku lakukan walaupun aku ingin. Yang pertama, aku tidak akan membatalkan pertunangan dan pernikahanku dengan Niko karena alasan apapun. Kedua, aku tidak akan menghentikan kepergian Lion karena aku tidak mendapatkan alasan apapun untuk menghentikannya. Dan ketiga, Aku tidak akan melakukan kedua hal itu meski kau memohon padaku." Seru Melody dengan air mata yang mengalir.
Aramis hanya bisa mematung mendengar jawaban Melody yang terdengar sangat penuh penekanan.
...–NATZSIMO–...
Yuk baca kisah kakek buyut keluarga Sanzio alias keluarganya Melody dan Musketeers di "Penebus Dosa Sang Mafia".
Sifat turunan keluarga Sanzio yang melekat bawaan dari nenek buyutnya keluarga Mafia Italia, Vivian Zeta La Nostra dan sifat bucinnya Musketeers turun dari kakek buyutnya Vernon Sanzio.
...----------------...
Baca cerita author yang lain juga ya.
Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.
❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤
Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......