MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
042. SEBUAH TAMPARAN KERAS



Di dalam kamar, Anna melihat video saat Aramis membuat lukisannya. Dia menonton semuanya terlebih dahulu sebelum memotongnya menjadi sepuluh menit. Anna melihat bagaimana Aramis sangat serius ketika sedang melukis. Dia benar-benar berbeda saat sedang melukis.


Hingga akhirnya lukisannya jadi. Anna kembali melihat hasil lukisan yang terlihat indah itu, namun membuat Anna bersedih lagi. Aramis sangat ingin melihat dirinya memanjangkan rambutnya, itu membuatnya menjadi sebuah beban sekarang. Gadis itu menyembunyikan penyakitnya dari Aramis tetapi efek dari kemoterapi yang dilakukannya akan terlihat sebentar lagi. Hal itu pasti akan disadari Aramis. Namun, Anna akan berbuat sesuatu agar pemuda yang dicintainya itu tidak akan mengetahui tentang penyakitnya, walau harus membuat Aramis marah padanya. Dia sudah memutuskan untuk menyembunyikan penyakitnya karena dia yakin akan sembuh nantinya.


"Anna." Panggil Aramis dari luar kamarnya.


Anna mendengar kalau Aramis masuk ke rumahnya, namun dia tidak berniat keluar kamar karena ini sudah terlalu malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Sudah aku bilang aku akan melakukannya sendiri. Kau pulanglah, ini sudah terlalu malam." Seru Anna tidak beranjak dari tempat duduknya.


"Bagaimana dengan judulnya?" Tanya Aramis berdiri di luar pintu kamar Anna. "Kau sudah menemukannya? Mereka sudah menanyakannya."


"Aku belum terpikirkan. Sebaiknya kau sendiri yang memberinya judul." Jawab Anna.


"Apa kau tidak menyukai lukisannya?" Tanya Aramis namun tak ada jawaban dari Anna. "Baiklah, biar aku saja yang memberinya judul."


Setelah berkata demikian Aramis melangkah pergi dari rumah Anna.


Anna mengambil handphone-nya dan membuka akun sosial media, lalu mengunggah satu-satunya foto yang memenuhi akunnya tersebut dengan caption yang sama semuanya.


...***...


Melody masuk ke kamarnya dan pandangannya langsung tertuju pada luar jendela kamarnya. Kamar Lion lampunya baru saja dihidupkan, itu pertanda kalau dia sudah pulang.


Gadis itu mendekati jendela kamarnya memandang kamar Lion dengan perasaan sedikit menyesal karena perbuatannya kemarin pada Lion. Seharusnya dia tidak menamparnya, dia berpikir kalau Lion sekarang pasti mengira kalau Melody membenci dirinya. Hal itu membuat Melody menjadi bersedih sekarang.


"Aku sangat ingin membencimu." Ucap Melody dengan air mata menggenang di pelupuk mata.


Drrrtt drrrtt drrrtt!


Melody melihat handphone yang ada di genggamannya bergetar dan melihat nama 911 muncul, untuk sejenak dia berpikir kalau Lion meneleponnya namun dia tersadar kalau nama itu sudah berganti posisi menjadi Niko.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Niko saat Melody menerima teleponnya.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kau menggangguku di jam segini?" Ucap Melody membuat Niko tertawa kecil. "Ada perlu apa? Kenapa kau jadi sering meneleponku?"


"Kau hampir tidak pernah membalas pesanku jadi lebih baik aku telepon saja." Jawab Niko. "Dan lagi aku ingin sekedar mendengar suaramu. YA skuchayu po tebe (Aku merindukanmu)."


"Niko, aku tidak nyaman mendengar ucapanmu." Melody berkata terang-terangan pada pemuda yang sudah berniat menikahinya itu. Niko sering mengiriminya pesan dengan kalimat bahasa Rusia tersebut sehingga dia sudah tahu artinya.


"Melody, kenapa perkataanmu selalu seperti itu padaku?" Tanya Niko. "Apa tidak bisa kau mendengarkan apa yang aku katakan saja, dan tidak perlu menjawabnya?"


Melody terdiam mendengar perkataan Niko. Dia merasa jadi menyesal dengan perkataannya yang dingin pada pemuda itu. Niko berbeda dengan Lion, kalau Lion selalu menanggapi perkataan dingin Melody hanya dengan gumaman ringan sehingga membuat Melody merasa kalau itu tidak masalah untuk Lion, sedangkan Niko akhir-akhir ini lebih serius menanggapinya.


"Apa kau juga tidak nyaman berbicara denganku di telepon? Jika iya maka aku tidak akan meneleponmu lagi."


"Maaf, aku tidak nyaman karena tidak terbiasa mendengarkan seseorang berkata seperti itu padaku." Terang Melody berharap Niko mengerti.


"Aku akan mengatakannya lebih sering agar kau terbiasa." Ujar Niko. "Sebaiknya sekarang kau tidur. Sampai bertemu besok di sekolah. Spokoynoy nochi."


Melody menjatuhkan dirinya ke tempat tidur segera. Dia merasa Lion dan Niko sangatlah berbeda. Bersama Lion dia tidak pernah merasakan hal seperti sekarang ini.


...***...


Bel masuk berbunyi.


Melody sudah duduk di kursinya namun Niko belum juga datang. Melody tahu pasti Niko hari ini datang terlambat lagi. Melody menoleh ke jendela dan melihat mobil Niko baru saja masuk ke sekolah, dan tidak berapa lama pemuda itu berjalan santai untuk ke kelas.


"Seharusnya dia berlari." Gumam Melody yang melihat Niko sambil menghela napasnya.


"Selamat pagi semuanya." Seru guru matematika yang baru masuk kelas.


Melody merasa aneh karena seharusnya mata pelajaran pertama adalah biologi, wali kelasnya, bu guru Widia, tetapi kenapa malah guru matematika yang masuk?


"Karena ada keperluan mendadak bu guru Widia mengundurkan diri secara mendadak kemarin jumat. Jadi untuk itu aku akan menggantikannya sebagai wali kelas kalian. Untuk guru biologi pengganti sepuluh menit lagi akan datang."


Melody berpikir karena itu kakaknya sangat bersedih. Secara mendadak wali kelasnya mengundurkan diri dari sekolah, dan meninggalkan Prothos. Melody melihat ekspresi Wilda yang duduk di kursi dari ketiga, selang dua baris darinya. Dia terlihat tersenyum. Melody menjadi berpikir kalau teman sekelasnya itu senang dengan kepergian Widia.


"Selamat pagi, pak." Ucap Niko yang baru masuk ke kelas dan langsung berjalan ke tempat duduknya.


Wali kelas baru itu hanya menggelengkan kepalanya melihat Niko.


"Bagaimana tidurmu semalam? Apa mimpi indah? Pasti kau memimpikan aku 'kan?" Tanya Niko menoleh pada Melody.


Melody tidak menanggapinya dan masih sibuk dengan perhatiannya pada Wilda. Semalam kakaknya bilang kalau tampilan luar Wilda tidak sesuai dengan aslinya dan menyebutnya gadis yang menyeramkan. Seketika Melody merasakan kebencian yang bertambah pada teman sekelasnya yang tampak selalu seperti gadis polos yang pintar itu.


...***...


Jam istirahat dimulai. Prothos tidak berniat keluar dari kelasnya dan hanya melamun menatap ke langit yang terlihat dari jendela kelasnya. Saat jam pelajaran tadi dia sama sekali tidak bisa fokus dan terus memikirkan Widia. Dia sangat merindukan gadis itu saat ini.


"Kau baik-baik saja, kak?"


Prothos mengalihkan pandangannya dan melihat ke sebelah kanannya dimana Wilda berdiri dekat dengannya. Dia sama sekali tidak berharap melihat gadis itu lagi. Bahkan saat melihatnya timbul kebencian yang sangat besar di dalam dirinya pada gadis itu.


"Aku dengar bu guru mengundurkan diri, kau sudah tahu? Dia kemana kak? Apa dia meninggalkanmu?" Wilda mendekatkan wajahnya ke Prothos yang sedang duduk dan suaranya terdengar seperti bisikan. Saat ini beberapa anak di kelas itu memperhatikan mereka.


Prothos beranjak dari duduknya dan berjalan keluar secepatnya. Dia tidak ingin melihat tingkah menyebalkan Wilda lagi. Bahkan melihatnya saja membuat rasa bersalahnya pada Widia menjadi semakin besar. Mulai sekarang dia ingin menghindari gadis itu dan tidak ingin berurusan apapun dengannya.


Wilda memperhatikan murid-murid lain yang berbisik mengenainya yang ditinggal pergi Prothos. Mereka menatap Wilda dengan tatapan sinis sehingga gadis itu menjadi sangat kesal. Dengan segera dia berlari keluar mengejar Prothos yang menghindarinya untuk memperlihatkan kalau dirinya adalah kekasih Prothos pada mereka semua.


"Kak, tunggu dulu kak!!" Seru Wilda menarik lengan Prothos. "Ada yang ingin aku kata—"


Ucapannya terhenti ketika seseorang menariknya hingga menoleh ke belakang dan sebuah tamparan keras mendarat ke pipi gadis itu.


Semua murid yang menyaksikan sangat terkejut, begitu pula dengan Prothos yang sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


"Menjauhlah dari kakakku!!" Ucap Melody dingin.


...–NATZSIMO–...