
Lion keluar dari toko donat dengan sebuah kotak donat yang dibawanya tanpa kantung. Handphone-nya berbunyi karena sahabatnya meneleponnya.
"Kenapa Ars? Aku masih belum tahu dimana Oto." Ujar Lion masih berdiri di depan toko donat.
"Apa mungkin dia ada di kota sebelah?" Tanya Aramis yang berada di pinggir jalan. Dia baru saja keluar dari mobil dan langsung menghubungi Lion.
"Bisa jadi seperti itu." Jawab Lion. Dia menyelipkan handphone-nya ke antara telinga kanannya dan pundaknya karena saat ini dia berusaha mengambil donat yang ada di dalam kotaknya. "Aku akan mencoba bertanya pada teman-temanku yang ada di kota-kota sebelah." Ucapan Lion tidak terdengar jelas karena Lion memasukan satu donat penuh ke mulutnya.
"Kabari aku kalau sudah dapat kabar si bodoh itu." Seru Aramis.
"Kalian semua memang bodoh, kau dan Oto sama bodohnya, tidak pernah mendengarkan kata-kataku." Ujar Lion kesal hingga mulutnya yang penuh terlihat menyemburkan donat yang dimakannya.
"Lion, aku akan menemui Niko." Ucap Aramis diujung telepon.
Seketika Lion mengerti maksud Aramis kenapa sahabatnya itu hendak menemui Niko. Tatapan Lion menjadi berubah sayu.
"Aku harus melakukannya. Saat tahu Anna sakit, aku jadi takut kehilangannya dan berpikir jika akan sangat menyakitkan jika aku hidup tanpanya. Apa yang dikatakan Melo benar, setelah aku menghancurkan mimpi Niko setidaknya aku memberikan sedikit kebahagiaan padanya." Ujar Aramis. "Aku akan membiarkan Melo bersama Niko. Aku harus melakukan itu karena aku juga berpikir apa yang terjadi pada Anna disebabkan karena dosaku pada Niko."
Lion menggigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa sedihnya mendengar keputusan Aramis. Matanya mulai berkaca-kaca. Selama ini dia menahan perasaannya karena dia tahu sahabatnya itu tidak menyetujui hubungan Melody dan Niko sehingga dirinya masih merasa baik-baik saja. Namun saat Aramis bilang akan menyetujuinya, seketika dia merasa tak ada lagi dukungan untuknya, dan itu membuat rasa sedih yang dikurungnya terlepas begitu saja.
"Ya, sebelumnya aku juga sudah bilang hanya jalan itu yang terbuka." Jawab Lion menahan napasnya agar suaranya terdengar stabil.
"Apa tidak masalah untukmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Sepertinya begitu." Jawab Lion.
"Sebaiknya kau biarkan gadis itu mendekatimu." Ujar Aramis. "Kau tidak perlu terus-menerus menghindarinya, habiskan waktumu dengannya. Kalian terlihat memiliki banyak kesamaan pasti akan mudah untuk menyukainya."
"Oke." Jawab Lion singkat setelah itu menutup telepon Aramis. Hanya kata itu yang mampu dia keluarkan dari mulutnya agar sahabatnya itu tidak mengetahui betapa sedihnya pemuda itu saat ini.
Lion berjalan dengan langkah lambat untuk menuju coffee shop dimana Mona bekerja. Tempatnya hanya selang beberapa ruko dari toko donat dimana dia membeli donat tadi.
"Kau tahu bagaimana menyakitkannya hidup tanpa orang yang dicintai tapi kau membiarkan sahabatmu harus merasakannya. Seharusnya kau bukan sahabatku, Ars." Gumam Lion dengan mata yang memerah dan wajah yang menegang karena saat ini pemuda itu menahan kesedihannya.
...***...
Aramis dan Niko bertemu di pinggir danau tempat biasa Aramis bertarung dengan orang-orang yang menantangnya. Aramis sudah mengatakan maksud dari dirinya meminta bertemu dengan Niko.
"Bisa kau ulangi apa yang barusan kau katakan?" Tatap Niko yang masih mencengkram Aramis.
"Aku akan memberikan adikku padamu." Jawab Aramis dengan memperjelas perkataannya.
Niko mengendurkan cengkramannya pada Aramis dan tertawa tidak percaya.
"Kau bicara seolah-olah adikmu tidak mau denganku. Tanpa kau memberikannya pun dia sudah setuju untuk menikah denganku." Tawa Niko melepaskan Aramis dari cengkramannya.
"Melo tahu tentang perjanjian itu, dia setuju karena ingin menebus dosaku padamu." Ucap Aramis. "Jika bukan karena hal itu dia tidak akan setuju."
Niko mulai terlihat marah. Dia tidak tahu mengenai hal tersebut sebelumnya. Memang jawaban Melody ketika dia bertanya mengenai kenapa dia setuju untuk menikah dengan dirinya terdengar klise. Jadi karena itu gadis itu menyetujui menikah dengannya, hal tersebut membuat Niko sangat marah.
Dengan sangat tajam Niko menatap Aramis yang terlihat tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Bahkan kau tidak akan bisa berbuat apapun lagi ketika aku sudah menikahi adikmu." Ujar Niko dengan kekesalan sehingga yang dikatakannya menjadi sebuah ancaman. "Kau memberikannya padaku untuk menebus dosamu, itu berarti kalau adikmu akan sepenuhnya menjadi milikku. Aku akan membuatnya menjauh dari kalian semua, dan aku akan berbuat sesukaku padanya!!"
"Apa yang kau katakan?" Geram Aramis tersulut emosi.
"Sudah aku katakan, kau tidak bisa menarik lagi semua ucapanmu." Ujar Niko tersenyum mengejek. "Aku akan membawanya ke Rusia segera mungkin, agar kau tidak bisa melihat apa yang akan aku lakukan padanya."
Niko langsung berjalan pergi menuju mobilnya yang di parkir cukup jauh dari sana meninggalkan Aramis yang tidak bisa berbuat apapun pada dirinya lagi.
Dengan kesal Niko menendang mobilnya setelah mendengar kenyataan kalau Melody sebenarnya tahu tentang perjanjiannya dengan Aramis dan hal itu yang membuat gadis itu setuju untuk menikah dengan dirinya. Niko menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya untuk meredamkan rasa kesalnya dan berbalik melihat ke arah Aramis yang berada di jarak sekitar seratus meter darinya.
Sekitar sepuluh orang preman berjalan ke arah Aramis yang duduk di pinggir danau. Belum sempat Aramis memikirkan perkataan Niko padanya tadi, kehadiran preman-preman itu mengalihkan pikirannya.
"Sepertinya ini memang tempat favoritmu." Seru seorang preman.
Aramis menoleh dan melihat preman-preman yang dulu berkelahi dengannya di tempat itu mendatanginya lagi, dan dengan jumlah yang bertambah. Satu orang pimpinan preman itu membawa pisau yang merupakan sebuah belati. Aramis segera berdiri untuk menyambut kehadiran mereka. Meski sebenarnya saat ini dirinya sedang tidak ingin berkelahi tetapi hal ini di luar perkiraannya.
"Baiklah, maju saja, aku akan menghadapi kalian lagi." Seru Aramis mau tidak mau.
Para preman itu langsung maju menyerang Aramis, hanya si pemimpin yang membawa pisau tidak ikut menyerang.
Aramis kalah jumlah, walau dia masih belum tumbang. Dia bisa terus berdiri saat lawannya menjatuhkannya. Dia juga bisa menghindar pada serangan-serangan mereka. Tubuh dan wajahnya sudah babak belur, dia mencoba melarikan diri dari sana karena tahu pertarungan melawan preman berbeda dengan pertarungannya dengan sesama pelajar. Hanya kematian yang akan menghentikan pertarungan melawan para preman.
Namun untuk melarikan diri kali ini sangat sulit. Aramis terkenal dengan kemampuan berlarinya yang cepat, tetapi staminanya sudah habis karena dihabiskan melawan para preman itu. Seharusnya dia segera melarikan diri tidak lama setelah berkelahi dengan mereka, akan tetapi sejak tadi dia tidak melakukannya.
"Kau butuh bantuan atau aku harus menonton saja?" Tiba-tiba Niko berjalan mendekat saat Aramis jatuh tersungkur. Dia tertawa melihat Aramis yang sudah hampir tak bisa bangun.
Para preman melihat kehadiran Niko dengan sedikit takut karena penampilan Niko terlihat tidak seperti orang biasa di mata mereka.
"Jangan ikut campur atau kau juga akan merasakan hal yang sama dengannya?!" Seru pimpinan preman yang membawa pisau. Dia berdiri di jarak yang cukup dekat dengan Niko.
Niko tertawa mendengarnya, lalu mengeluarkan tangan kirinya yang memakai sarung tangan kulit hitam dan menjulurkannya ke arah preman itu.
"Aku suka pertarungan hidup dan mati." Ujar Niko tersenyum.
Preman yang lain berhenti menyerang Aramis dan memperhatikan pimpinannya dengan Niko. Sedangkan Aramis mencoba bangun dengan susah payah karena sudah babak belur saat ini.
"Kau tunggu apa lagi?" Tanya Niko yang masih menjulurkan tangan kirinya ke preman yang membawa pisau.
Preman itu langsung maju ke arah Niko dan mengarahkan pisaunya pada pemuda itu, namun bukannya menyingkir, Niko malah menghalau pisau tersebut dengan tangan kirinya.
Semua terkejut begitu juga dengan preman yang mengarahkan pisau pada Niko saat pisau tersebut menancap ke telapak tangan kiri pemuda yang dijuluki vampir berdarah dingin itu.
...–NATZSIMO–...