MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
141. PELUKAN HANGAT SANG PANGERAN



Melody memperhatikan sesuatu yang ada di atas meja belajarnya. Sebelumnya dia tidak menyadari kalau ada benda itu di sana. Sepucuk surat. Gadis itu membaca tulisan yang ada di luar Kekasihku Tersayang. Itu membuatnya tahu kalau itu adalah surat dari Tasya untuk Athos, kakaknya. Tadi malam Melody juga melihat Tasya duduk di meja belajarnya sebelum tidur bersama dengannya.


"Kak Ato, dimana kak Tasya?" Tanya Melody saat masuk ke kamar Athos dengan menyembunyikan surat dari Tasya di balik tubuhnya. "Apa dia tidak menginap lagi?"


Athos tidak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyumnya pada adiknya.


"Aku pikir dia akan menginap lama di sini karena akhirnya kalian bisa bersama, kan?"


"Apa yang kau sembunyikan, Melo?" Tanya Athos yang mengetahui sejak awal adik perempuannya itu menyembunyikan sesuatu.


"Sepertinya ini dari kak Tasya untukmu." Melody menyodorkan surat yang dia temukan di atas meja belajarnya.


Sepeninggalan adiknya, Athos segera membuka sepucuk surat yang dituliskan Tasya untuknya. Athos jadi berpikir kalau kekasihnya itu pun tahu kalau dirinya akan meminta Tasya pulang sehingga Tasya menuliskan surat ini untuknya.


Seorang wanita malang bertemu dengan seorang pangeran tampan yang baik hati. Dalam kesedihannya wanita itu melihat sang pangeran menolongnya sebanyak tiga kali, dan tanpa sadar wanita malang itu memberikan sebuah pelukan pada sang pangeran. Walaupun wanita itu mengatakan itu adalah pelukan sebagai ucapan terimakasih tetapi yang sebenarnya bagi wanita itu, pelukan tersebut adalah pelukan hangat dari sang pangeran untuknya.


Wanita itu tidak pernah mengira kalau akhirnya dirinya bisa bersama dengan sang pangeran. Pangeran dengan segala kesempurnaannya menerima wanita itu dengan semua kekurangannya. Untuk wanita itu, itu adalah kesempurnaan di dalam hidupnya.


Ketika wanita itu harus menerima kenyataan untuk tak lagi bersama sang pangeran, maka kesempurnaan di dalam hidupnya pun menghilang membuat diri wanita itu kembali menjadi wanita malang.


Setelah membaca surat yang ditinggalkan Tasya untuknya, Athos menahan rasa emosional kesedihannya. Dia ingin segera menghubungi Tasya namun perjanjiannya dengan ayah gadis itu pun melarang mereka berkomunikasi. Dia hanya bisa menunggu sampai pertemuan terakhir mereka nanti sebelum Tasya pergi ke Inggris.


"Apa aku boleh masuk?" Terdengar suara Mona dari luar.


"Ya, masuk saja, aku sudah menunggumu." Jawab Athos.


Mona masuk dengan membawa laptop yang dia letakan ke meja dan langsung duduk di kursi.


"Kau sudah minum obat?" Tanya Mona. "Tasya meneleponku dan ingin aku memastikannya."


Athos hanya tersenyum menjawab perkataan Mona yang menyebut nama Tasya.


"Bagaimana ujianmu tadi? Apa ada yang sulit?" Tanya Mona menoleh pada Athos yang duduk bersandar di tumpukan bantal.


"Satu-satunya kesulitanku hanyalah duduk terlalu lama." Jawab Athos. "Aku yakin nilaiku sempurna."


"Baguslah kalau begitu." Ucap Mona. "Sebaiknya kita mulai saja. Omzet dari keenam cabang aku rasa sudah mulai membaik sekarang. Walaupun untuk profit belum mengalami kenaikan yang signifikan tapi jika kau ingin menambah cabang lagi, aku rasa bisa."


"Tidak, untuk sementara aku tidak akan membuka cabang lagi karena aku akan mulai fokus dengan bisnis baruku." Ujar Athos.


"Bisnis baru? Bisnis apa?" Tatap Mona.


"Itu alasan aku memanggilmu." Ujar Athos. "Aku sudah tahu mengenaimu dari Lion. Kau biasa merias dan menata gaya para artis kan? Kau pasti juga mengenal beberapa orang di dunia hiburan. Aku membutuhkan bantuanmu sebelum memulai bisnis baruku."


"Bantuanku untuk apa?"


"Oto akan terjun ke dunia hiburan. Dia akan menjadi seorang bintang. Aku ingin kau membantunya dalam segala hal. Kenalkan dia pada produser atau sutradara, pilih yang terbaik jangan terima tawaran jika project tersebut tidak sebanding dengan wajah Oto. Dia hanya akan menerima tawaran untuk project besar yang bisa cepat mengangkat karirnya. Kau juga harus membantunya dalam merawat dirinya dan penampilannya agar selalu terlihat bersinar dari yang bersinar. Apa kau bisa?"


"Aku rasa itu tidak sulit untuknya, asalkan sifat aslinya tidak terlihat dia pasti akan cepat terkenal bahkan sekarang pun dia sudah terkenal." Jawab Mona. "Tapi apa maksudmu dengan aku membantunya dalam segala hal? Bagaimana dengan pekerjaanku di rumah ini dan cafe?"


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu." Seru Athos. "Aku ingin kau menjadi manager sekaligus asisten pribadi Oto. Untuk pembagiannya 70-30, bagaimana?"


"60-40." Tawar Mona.


"Dengan 70-30, aku rasa itu sudah banyak karena pasti Oto akan mendapatkan kontrak dengan nilai besar." Ujar Athos. "Begini saja, jika dalam satu bulan ini Oto mendapatkan project dengan minimal nilai seratus juta, kau bisa mengambil semuanya untukmu."


"Deal." Jawab Mona.


Athos tertawa mendengarnya. "Aku rasa kau bisa diandalkan dalam hal negosiasi."


"Kau tenang saja, aku pernah kuliah jurusan ekonomi, mottoku mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran seminimal mungkin." Ucap Mona. "Dan kapan aku bisa merubah dirinya?"


"Besok lusa, kau sudah bisa melakukannya. Buat dia sesempurna mungkin dengan penampilannya dan kalau perlu kau bisa menciptakan image tertentu pada dirinya."


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan muncul Prothos di ambang pintu.


"Sejak kapan kau pulang?" Tanya Prothos pada Mona. "Ini sudah malam, sedang apa kau di sini?"


Mona melihat jam tangannya yang menunjukan pukul sepuluh malam lebih.


"Bukannya kau bilang jam tidurmu jam sepuluh malam? Kenapa sekarang belum tidur?" Ujar Mona sambil beranjak berdiri dan membawa laptopnya kembali. "Baiklah, pembicaraan sudah selesai."


Mona langsung berjalan keluar kamar.


"Buatkan aku susu." Seru Prothos pada Mona yang sudah berada di tangga, turun ke lantai satu. "Kalian membicarakan apa?" Tanya Prothos pada Athos.


Athos hanya tersenyum simpul. Prothos tahu jika seperti itu kembarannya itu tidak akan menjawabnya.


Dengan segera Prothos menuruni tangga menuju meja makan dan duduk menunggu Mona yang sedang membuatkannya susu.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Prothos menoleh pada Mona yang memunggunginya. "Apa rahasia? Rahasia apa antara kau dan Ato?"


"Kau juga akan tahu nanti." Jawab Mona.


"Ya kalau begitu beritahu sekarang."


"Aku akan berhenti bekerja. Ato memecatku barusan." Ucap Mona.


"Apa? Kenapa dia memecatmu?" Tanya Prothos terkejut. "Kenapa dia tidak bilang padaku tadi?"


Tiba-tiba handphone Mona bergetar. Gadis itu mengambil handphone-nya dari dalam saku celana yang dipakainya dan melihat nama yang meneleponnya.


"Juan?" Tanya Mona merasa heran karena seorang aktor terkenal sedang naik daun menghubunginya sendiri di jam segini.


"Halo, ada apa Juan?" Tanya Mona menjawab telepon. "Apa ada sesuatu yang tertinggal atau terbawa olehku?"


Prothos terus memperhatikan Mona yang terlihat menerima sebuah telepon dari seorang aktor yang diidolakan gadis itu.


"Aneh sekali. Kenapa dia sendiri yang menghubungiku?" Gumam Mona setelah menutup telepon.


"Ada apa?"


Mona menoleh ke arah Prothos karena gadis itu sempat tidak sadar kalau ada Prothos di sana.


"Besok aku harus kerja sampingan lagi." Jawab Mona.


"Kami sudah menggajimu dengan sangat cukup. Seharusnya kau tidak mengambil pekerjaan sampingan lagi!!" Seru Prothos.


"Tidak mungkin aku menolaknya, karena mereka memintaku untuk merias Juan." Ucap Mona sambil berjalan membawa segelas susu dan meletakkannya di hadapan Prothos. "Sepertinya ini juga akan menjadi yang terakhir."


"Apa maksudmu?"


"Nanti kau bisa mencuci gelasnya sendiri, kan?" Ujar Mona berjalan meninggalkan meja makan ke arah kamarnya.


"Kenapa aku harus mencucinya sendiri?" Seru Prothos melihat pada Mona.


"Taruh saja di sana kalau begitu."


"Seharusnya dia menemaniku sebentar meminum susu ini." Gumam Prothos kesal.


...–NATZSIMO–...