MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
135. PERTEMUAN KEDUA AYAH



Athos bersama Tasya berada di ruangan tempat Athos dirawat. Gadis itu membantu kekasihnya mengganti pakaiannya karena sebentar lagi mereka berencana pulang.


"Di rumah kamarmu ada di lantai dua, apa tidak masalah, Ato? Kau masih belum bisa berjalan." Ujar Tasya sambil membantu Athos memakai kemejanya. "Ayo kita menikah Ato, aku tidak sabar tinggal bersama denganmu."


Athos hanya tersenyum menanggapi ucapan Tasya.


"Saat tidak ingin menjawab kau selalu tersenyum, apa yang kau sembunyikan lagi dariku?" Tanya Tasya sambil mengaitkan kancing kemeja Athos. "Aku dan Dion tidak jadi menikah dan pertunangan kami batal, seharusnya itu adalah lampu hijau untuk hubungan kita."


Athos menggenggam tangan Tasya yang sedang mengaitkan kancing kemejanya membuat Tasya menatap padanya.


"Kau harus percaya padaku." Hanya kalimat itu yang terlontar dari Athos untuk menjawab semua ucapan kekasihnya.


Tasya tersenyum seperti biasanya, dan Athos langsung menariknya dalam pelukan.


"Ya ampun, aku pikir sudah siap dan kita langsung pulang, kalian malah masih bermesraan." Seru Prothos membuka pintu. "Cepatlah, sebelum siang kita sudah harus sampai di rumah."


Tasya tidak menghiraukan perkataan Prothos, gadis itu malah mencium bibir kekasihnya, saat yang bersamaan Mona masuk ke dalam ruangan, melihatnya Mona hendak keluar kembali dari ruangan itu.


"Mau kemana kau? Cepat bawa barang bawaannya!!" Seru Prothos pada Mona. "Tasya, kau tidak tahu situasi, dasar gadis mesum."


Tasya hanya tersenyum pada Prothos sambil memeluk Athos. Sedangkan Mona membawa tas besar keluar dari sana.


...***...


"Aku minta maaf karena menghubungimu sangat mendadak." Ujar Presdir yang adalah ayah Tasya.


Saat ini di hadapannya ada Leo, ayah Athos. Mereka berdua bertemu di ruangan kerja ayah Tasya di perusahaannya. Presdir duduk di meja kerjanya sedangkan Benny, asistennya berdiri dengan setia di samping kiri Presdir.


"Tidak masalah, kebetulan aku tidak ada acara pagi ini." Jawab Leo dengan senyum. "Lalu masalah apa yang akan kita bicarakan? Jujur saja, aku tidak terlalu tertarik ikut campur dalam masalah anakku."


Mendengar perkataan dari seorang ayah membuat Presdir heran hingga membuatnya tertawa, dan dibalas tawa juga oleh Leo.


"Sepertinya hubungan antara ayah dan anak di keluarga kalian sangat unik." Ucap Presdir.


"Aku tidak pernah merasa seperti itu, karena aku tidak tahu hubungan ayah dan anak di keluarga lain seperti apa." Jawab Leo.


"Bagaimana caramu membesarkan anak-anakmu?" Tanya Presdir.


"Apa? Aku rasa pertemuan ini bukan untuk mempelajari kiat-kiat aku membesarkan anak-anakku." Ujar Leo dan disambut tawa oleh Presdir dan Benny. "Sebenarnya hal apa yang membuatmu ingin menemuiku? Seperti yang tadi aku bilang, aku tidak tertarik ikut campur urusan anakku. Aku hanya akan mendukung semua yang dilakukan oleh anak-anakku, aku tidak ingin memaksa mereka untuk mengikuti kemauanku, jadi jika kau ingin mengancam aku maka kau salah orang. Aku tidak akan takut pada ancamanmu, aku tetap akan membiarkan anakku melakukan apa yang ingin dia lakukan."


"Apa seperti itu caramu membesarkan anakmu selama ini?"


"Ya, itu adalah hidupnya aku tidak berhak mengatur apapun pada dirinya. Aku rasa semua yang aku lakukan pada anak-anakku sudah tepat, mereka tidak membutuhkan diriku untuk hal apapun."


"Baru kali ini aku bertemu dengan orang tua yang mempunyai pikiran sepertimu." Ujar Presdir. "Pantas saja anakmu Athos menjadi seperti sekarang ini. Cara berpikirnya melebihi usianya."


"Itu benar. Dia anakku yang paling tidak bisa diatur. Bahkan sekalipun dia tidak pernah mendengarkan perkataanku, dan sebaliknya, aku yang selalu mendengarkan perkataannya. Bahkan kadang aku merasa seperti akulah anaknya dan bukan dia." Jawab Leo dengan tawa kecil. "Jadi sia-sia saja jika kau mengancam aku."


"Bukan mengancam, aku tidak ada niat untuk mengancam."


"Kau memanggilku ke perusahaamu dan kita berbicara di meja kerjamu, kau duduk di sana dan aku di sini. Aku rasa dari situ saja sudah tergambar niatmu yang ingin mengintimidasi aku. Bukan seperti itu?" Tatap Leo dingin.


"Ternyata kau memang ayah dari anak itu." Senyum Presdir. "Dengarlah semua yang terjadi kemarin ini jujur saja aku sudah mengiranya dan aku mengikuti semua permainan anakmu dengan baik. Tapi sayangnya ada beberapa kesalahan yang dia buat sehingga aku tetap tidak akan membiarkan putriku bersama dengan putramu."


"Sudah aku bilang, aku tidak tertarik ikut campur." Gumam Leo.


"Jadi hanya seperti itu? Ya, baiklah akan aku sampaikan padanya." Jawab Leo santai. "Seharusnya kau tidak perlu memanggilku datang ke sini dan katakan di telepon saja. Aku pasti akan langsung menyuruh putrimu pulang segera."


Presdir terdiam memperhatikan ekspresi wajah Leo yang menyunggingkan sebuah senyum simpul.


"Presdir,aku punya nasehat untukmu." Ucap Leo. "Setiap anak tidak pernah minta untuk dilahirkan, mereka terlahir karena kita yang menginginkannya sehingga bukan tugas mereka untuk mengikuti semua keinginan kita, melainkan tugas kita untuk membahagiakan mereka. Kita hanya perlu mengarahkan tanpa memaksa. Mereka pun akan mendengarkan perkataan kita ketika kita juga mendengarkan perkataan mereka. Itu kiat-kiat aku membesarkan anak-anakku."


...***...


Hanya ada Melody dan Niko saat ini di rumah. Mereka berdua sedang berada di meja makan. Melody membantu Niko dalam mengerjakan tugas sekolah yang belum dikerjakannya sedangkan besok mereka sudah masuk sekolah.


"Sepertinya kau tidak membutuhkan aku untuk menjawab soal-soalnya, Niko." Ujar Melody.


Niko tersenyum pada gadis yang duduk di depannya. "Aku tidak sebodoh itu sampai tidak bisa menjawab soal-soal yang tiga tahun ini aku pelajari."


"Kenapa tidak kau kerjakan sendiri saat di rumah? Di rumah pun kau tidak melakukan apa-apa kan? Seharusnya kau mengisi waktumu dengan mengerjakan tugas sekolah ini." Ujar Melody.


"Kalau sudah aku kerjakan, jadi tak ada alasan aku ada disini bersamamu... Dan hanya ada kita berdua... "


Perkataan Niko terdengar seperti ada maksud tertentu namun Melody mencoba bersikap santai dan tidak ingin menggubris ucapan pemuda itu. Dia juga takut jika traumanya muncul lagi.


"Kita hanya punya waktu tersisa dua minggu lagi, sebelum kedua orang tuaku datang, dan seminggu kemudian kita bertunangan. Ini sudah semakin dekat tapi entah kenapa hubungan di antara kita masih tidak banyak mengalami perubahan." Ujar Niko. "Apa kau tidak ingin ada perubahan?"


"Apa maksudnya? Hingga saat ini aku masih mencoba untuk menumbuhkan rasa cintaku padamu. Sudah aku bilang ini bukan perkara yang mudah." Jawab Melody. "Kenapa sekarang kau mempermasalahkannya lagi?"


Niko terdiam menatap pada Melody yang juga menatapnya. Saat ini entah kenapa dia pun merasa kalau dirinya menjadi lebih sensitif jika memikirkan kebenaran mengenai Melody yang tidak mencintainya. Padahal sebelumnya dia tidak memikirkan hal itu, asalkan dia dan Melody menikah dia tidak peduli dengan perasaan Melody padanya.


"Maafkan aku." Ucap Niko diiringi helaan napas. "Kau tidak perlu memikirkan perkataanku tadi."


"Niko, sebenarnya ada yang aku ingin tanyakan padamu." Ucap Melody. "Mengenai mantan tunanganmu."


"Ada apa lagi? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Aku juga sudah berjanji tidak akan mencium wanita lain. Aku selalu berusaha mendengarkan perkataanmu."


"Aku ingin tahu apa kau masih menyukai Emma atau tidak?"


Niko kembali terdiam, dia terkejut mendengar pertanyaan Melody. Dia tidak habis pikir dengan gadis itu dengan mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.


"Kalau kau masih menyukainya, aku tidak masalah, aku akan membantu—"


"Apa tujuanmu bertanya seperti itu untuk membatalkan semuanya?" Tanya Niko dingin.


"Aku tidak ingin kalau kau lebih menderita hanya karena ingin membalas perbuatan kakakku dengan melampiaskannya padaku. Itu akan semakin buruk untukmu."


"Dengar Melody, sejak awal aku tidak pernah memaksamu. Kau yang setuju untuk mengikuti kemauanku. Aku akan berhenti kalau kau memang tidak ingin." Ujar Niko dengan tatapan menahan rasa marah. "Tapi asal kau tahu, aku tidak pernah menyukai gadis lain, aku tidak pernah menyukai Emma. Kami tidak pernah benar-benar saling mencintai. Ucapanmu barusan terdengar sangat buruk mengenaiku. Membalas perbuatan kakakmu dengan melampiaskannya padamu? Jika memang seperti itu aku akan berbuat hal yang sama seperti apa yang ingin dilakukan si brengsek Felix sejak lama dan tidak menahan semuanya. Jika mau, aku bisa melakukannya lebih buruk dari itu."


Melody terdiam, begitu juga dengan Niko. Sesaat mereka berdua diam dalam keheningan hingga akhirnya Niko memilih beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Melody.


...–NATZSIMO–...