MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
033. HARUM YANG MENGGODA



Setelah memutuskan untuk menikah dengan Niko, Melody harus mengubur mimpinya yang ingin menjadi seorang penyanyi. Dia sudah memutuskan untuk berhenti kursus vokal di tempatnya kursus. Dia merasa sedih, namun dia harus menerima konsekuensi dari keputusannya itu.


"Mel, apa ini terakhir kali kita akan bertemu?" Tanya Monik berjalan keluar dari tempat kursus mereka. "Aku jadi sangat sedih sekarang."


"Saat libur sekolah kau pun sudah harus mengikuti pelatihan menjadi idol kan, Monik?" Ucap Melody. "Kau akan sibuk sekali nantinya. Kau harus menghubungiku ya dan jangan sombong saat sudah terkenal nanti."


"Tetap saja aku yang iri padamu." Keluh Monik. "Calon suamimu setampan itu dan kaya, aku pun akan memilih menikah saja dari pada menjadi idol."


"Tidak ada yang lebih baik dari pada menggapai mimpinya sendiri." Jawab Melody merasa iri pada Monik.


"Kau serius akan menikah dengan vampir itu setelah lulus sekolah?"


"Namanya Niko, jangan panggil dia vampir lagi." Ujar Melody. "Dia sudah merencanakannya. Kami akan bertunangan saat libur kenaikan kelas."


"Bagaimana dengan Lion? Aku pikir kalian akan bersama nantinya."


Melody mengatupkan bibirnya dan menggeleng.


"Beberapa kali aku melihatnya di sekitar sini. Dan pernah satu kali setelah kau dan Niko pergi dia muncul. Saat aku tanya dia bilang sedang mencari motornya yang hilang. Jangan-jangan sekarang pun dia ada disini?" Monik celingak celinguk ke sekitar mencari Lion.


Melody hanya tersenyum melihatnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Niko yang baru saja datang dan keluar dari mobil langsung menghampiri Melody, Melody mengangguk kecil menjawabnya. "Kita pulang sekarang?"


"Aahh, kalian buat aku iri." Gumam Monik. "Mel, kita bertukar tempat bagaimana? Kau yang lulus audisi menjadi idol dan aku yang akan menikah dengannya." Tanpa basa basi Monik merangkul lengan Niko. Niko tidak bereaksi hanya menatap Monik dingin karena bingung. "Maaf... maaf..." Monik melepaskan rangkulannya.


Niko langsung membawa gitar yang dibawa Melody dan memasukannya ke mobil.


"Aku akan datang saat kalian bertunangan. Aku akan bernyanyi dan menari di acara itu. Jadi undang aku ya, Mel."


"Baiklah, aku pulang sekarang. Kita bisa bertukar kabar sesering mungkin."


Setelah itu Melody dan Niko pergi. Monik membuang napasnya karena dia merasa sangat iri dengan Melody.


"Siapa yang mau menjadi Idol kalau akan memiliki suami sekeren itu." Gumam Monik.


"Aku rasa menjadi Idol masih lebih baik." Seru Lion yang tiba-tiba muncul dari belakang Monik.


"Lion? Ya ampun ternyata benar kau ada di sini." Ujar Monik terkejut. "Sebenarnya apa tujuanmu ke sini? Kau masih mencari motormu?"


Lion menggeleng dan berjalan mendekati Monik.


"Aku datang mau meminta tanda tanganmu. Sebelum menjadi seorang Idol yang sangat terkenal aku harus memintanya dulu sekarang, saat sudah terkenal kau pasti akan sombong." Jawab Lion menyodorkan secarik kertas dan pulpen.


"Aku tidak yakin kau benar-benar ingin meminta tanda tanganku." Monik menatap Lion yang tersenyum lebar padanya setelah itu memberikan tandatangannya. "Kau ingin nomer handphone-ku juga?"


"Tidak perlu. Aku akan memintanya saat kau sudah terkenal nanti." Lion mengambil kertas dan pulpennya dari Monik. "Nanti aku akan berada di urutan terdepan saat kau konser dan dengan tandatangan ini aku akan meminta nomer handphone-mu."


"Kau tidak perlu basa-basi padaku." Gumam Monik. "Tujuanmu kesini bukan untuk hal ini. Kau ingin melihat Melody kan?"


"Ya kau benar." Jawab Lion. "Hari ini hari terakhir dia kursus kan? Hanya satu hal yang membuatku sedih dengan keputusannya untuk menikah, dia membuang mimpinya. Sejak dulu aku tahu bagaimana dia ingin menjadi seorang penyanyi. Dia sudah mempersiapkan segalanya tapi sekarang dia membuangnya begitu saja. Itu pasti sangat menyakitkan untuknya."


"Katakan itu padanya, bukan padaku!!" Seru Monik.


...***...


Di dalam perjalanan Melody bersama Niko. Melody merasakan suatu kesedihan. Dia benar-benar iri pada Monik saat ini. Dia juga ingin menggapai mimpinya seperti temannya itu. Namun Melody tak bisa berbuat apapun, tekatnya sudah bulat dan dia tidak mau menyesali keputusannya. Melody menahan air matanya agar tidak keluar saat ini


"Kau kenapa?" Tatap Niko.


Melody menggeleng namun dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sedihnya. Secepatnya dia mengambil handphone-nya dan menelepon ayahnya.


"Ayah kapan pulang?" Tanya Melody mulai dengan suara bergetar.


"Masih belum tahu kapan. Ada apa sayang?" Ujar ayah di ujung telepon.


"Ayah, cepat pulang. Aku tidak bisa menunggu ayah lebih lama lagi. Aku merindukanmu." Melody mulai menangis. "Apa bisa ayah pulang secepatnya?"


Niko tak berkata apapun, dia hanya memperhatikan Melody yang menangis saat menelepon ayahnya.


...***...


"Bagaimana ini?" Tanya Anna memperhatikan sisirnya yang dipenuhi rambutnya yang rontok.


"Anna!!" Panggil Aramis yang baru saja masuk ke dalam rumah Anna. "Kau sedang apa?"


Anna langsung memakai handuk menutupi rambutnya yang basah lalu keluar kamar melihat Aramis yang berada di bawah.


"Ada apa?" Tanya Anna.


"Aku pikir kau belum pulang. Kau sudah makan? Ini pizza untukmu, ayo kita makan bersama." Aramis langsung duduk di sofa ruang tamu. "Aku sudah lapar sekali."


"Kau yang terbaik Ars. Aku juga sudah lapar." Anna menuruni tangga dan langsung duduk di samping Aramis. "Pizza paling enak saat dimakan selagi hangat." komen Anna dengan mulut yang dipenuhi pizza.


"Besok aku rasa lukisannya akan jadi, kau datanglah saat sore aku akan memperlihatkannya padamu. Besok lusa sudah hari minggu dan aku akan mengumpulkannya. Tapi apa kau bisa membantuku mengedit video saat proses melukisnya? Video itu untuk bukti kalau lukisan itu benar-benar aku yang buat dan akan diputar jika aku menang."


"Ya, kau tenang saja, akan aku lakukan. Kau pasti akan menang. Darah pelukis nenek moyangmu sangat kental." Jawab Anna. "Aku tidak sabar melihatnya."


"Lepaskan handuk itu dari kepalamu!!" Seru Aramis.


"Kenapa? Rambutku masih basah." Anna masih sibuk makan, namun dia melihat Aramis yang terus menatapnya. Dengan segera dia melepaskan handuknya dari kepalanya. "Habiskan pizza-nya!!"


Anna menoleh pada Aramis, tatapan Aramis terlihat aneh, dengan segera Anna menggeser duduknya lebih menjauh dari pemuda itu dengan sedikit takut.


"Kau jangan macam-macam ya!!" Lirik Anna di selang dua sofa dari Aramis. Anna melempar handuknya pada Aramis. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Tiba-tiba Aramis mendekati Anna dengan sangat cepat, dan menatap Anna lekat.


"Harum shampoo yang kau pakai membuatku ingin mendekatimu." Ucap Aramis.


Wajahnya tepat di depan wajah Anna dan semakin bergerak maju hendak mencium gadis itu.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Anna mendorong Aramis sebelum sempat dia menciumnya. Dengan segera Anna mengambil handphone yang ada di atas meja. Sedangkan Aramis menatap Anna kesal karena Anna mendorongnya sangat kuat hingga dia terpental ke sofa samping.


"Maaf Anna, aku hanya terpikir menghubungimu. Apa bisa aku bicara dengan Prothos?" Suara Widia terdengar di ujung telepon.


"Apa Oto ada di rumah, Ars?" Tanya Anna.


"Ya, dia sedang belajar di kamarnya." Jawab Aramis.


Anna segera bergegas untuk menemui Prothos di kamarnya untuk memberikan teleponnya pada Prothos. Aramis mengikutinya dari belakang.


"Oto, ada yang mau bicara denganmu." Ucap Anna membuka pintu kamar Prothos dan langsung memberikan handphone miliknya setelah itu keluar.


"Siapa yang menelepon?" Tanya Aramis pada Anna saat Anna keluar dari kamar Prothos. "Apa pacarnya?"


"Kau tidak perlu tahu!!"


"Kau ini!!" Seru Aramis menyergap Anna, memeluknya dari belakang saat Anna hendak turun tangga.


Anna melihat Melody berada di bawah tangga, secara spontan Anna menyikut Aramis yang memeluknya dan segera membanting Aramis ke lantai. Aramis meringis kesakitan.


"Kenapa kau membantingku terus?" Protes Aramis kesal.


Melody yang menaiki tangga hanya menahan tawa kecil pada hal yang dilihatnya barusan dan masuk ke kamar tanpa berkata apapun. Kakaknya memeluk Anna tapi Anna malah membantingnya ke lantai. Buat dirinya yang sedang bersedih itu menjadi hiburan untuknya.


...***...


"Ada apa, Widia? Apa kau sudah berpikir dan mengambil keputusan?" Ucap Prothos dengan perasaan yang sangat takut mendengar jawaban Widia.


"Apa besok kita bisa bertemu? Datanglah pagi-pagi. Aku ingin ke kebun itu lagi bersamamu." Jawab Widia. "Kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama."


Prothos merasakan sebuah kelegaan setelah mendengar ucapan Widia. Dia bahagia saat ini.


...–NATZSIMO–...