MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
138. PRIA PENGECUT



Niko melingkarkan kedua tangannya pada pundak Melody dari belakang. Melody terkejut namun gadis itu mencoba bersikap biasa saja, karena dia tahu saat ini Niko hanya senang mendengar perkataannya.


"Jangan membuatku marah lagi." Ucap Niko.


Melody melepas tangan Niko yang mendekapnya dan berbalik. Gadis itu tersenyum berusaha untuk menjawab perkataan Niko.


"Jadi sekarang kau sudah tidak marah?" Tanya Melody menatap Niko yang berdiri sangat dekat dengannya.


Niko membuang napasnya dan berjalan mundur, kembali ke arah tempat tidur untuk mengambil rantai binatang kesayangannya.


"Davay, Niki! YA otvedu tebya v kletku, inache ya yego potseluyu (Ayo Niki! Aku akan membawamu ke kandang, kalau tidak aku akan menciumnya)." Ujar Niko menarik Niki turun tempat tidur dan berjalan keluar kamar. "Mainkan aku satu lagu dengan piano sebelum aku antar kau pulang." Niko menoleh pada Melody.


Melody mengangguk menjawab Niko yang sudah ada di ambang pintu.


...***...


Aramis melihat Anna yang sudah tersadar dari pengaruh bius operasi. Pemuda itu hanya berdiri di luar dan melihat gadis yang sangat dicintainya melalui jendela ruangan ICU. Dia sempat melihat saat Anna menoleh padanya, namun Anna tak berekspresi apapun. Gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat ke perawat yang sedang berbicara padanya.


"Kau benar-benar melupakan aku, Anna." Ucap Aramis.


Dengan rasa sedih, Aramis meninggalkan tempat itu dan pergi keluar dari rumah sakit menaiki taksi.


Tidak berapa lama Aramis sudah berada di suatu kawasan. Dia menyusuri pinggir sungai Spree untuk menikmati suasana pagi hari di kota Berlin. Langkahnya terhenti di pinggir pagar pembatas sungai tersebut.


Pandangannya kosong menatap ke bawah sungai. Dia bingung harus melakukan apa saat ini. Tapi Anna ingin agar dirinya kembali dan mengikuti lomba melukis untuk mendapatkan beasiswa itu. Tapi dia sangat ingin bersama dengan gadis itu di sini. Dia tidak ingin meninggalkan Anna, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan permintaan gadis yang sangat dicintainya itu.


Tanpa sadar air matanya mengalir keluar. Dengan sangat cepat pemuda itu mengusapnya.


"Air matamu adalah milikku semua." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


...***...


Prothos hanya berjalan di belakang Mona yang sibuk berbelanja mengitari supermarket dengan troli yang didorongnya. Semakin lama dirinya semakin bosan karena Mona beberapa kali kembali ke tempat yang sama untuk mengambil barang yang terlewatkan olehnya.


"Kenapa kau kembali ke sini lagi?" Seru Prothos heran. "Sudah tiga kali kita ke sini."


"Aku baru membaca barang yang ini ada di list bawah, makanya tadi tidak aku ambil." Jawab Mona sambil mengambil deterjen pakaian. "Sudah aku bilang ini akan membosankan karena kau tidak melakukan apapun."


"Maksudmu aku harus membantumu?"


"Tunggu aku di dekat meja kasir, atau sekalian ikut mengantri karena antriannya sangat panjang. Itu bisa membuat waktu lebih efisien." Ucap Mona.


"Kenapa aku harus melakukannya? Tidak mau!" Jawab Prothos.


Tanpa menjawab lagi Mona kembali memutari setiap rak yang ada di supermarket, Prothos mengikutinya sambil mengecek sosial medianya yang mendapatkan banyak sekali pesan dari para wanita. Dia hanya akan membalas pesan tersebut jika dirinya merasa ingin membalasnya dan lebih sering mengabaikannya.


"Kenapa wanita-wanita ini tidak berhenti mengirimkan pesan padaku?" Gumam Prothos masih terus melangkahkan kakinya. "Merepotkan."


Ketika Prothos mengangkat kepalanya, Mona sudah tidak ada di depannya. Tanpa sadar Prothos tertinggal oleh Mona yang berjalan lebih cepat darinya.


"Di mana dia?" Tanya Prothos bingung sambil berjalan mencari-cari Mona.


"Kak Oto."


Langkah Prothos terhenti saat mendengar suara yang dia kenal. Dia segera menoleh dan melihat sosok yang sangat tidak ingin dia temui. Gadis berkacamata yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Akhirnya kita bertemu lagi." Ujar Wilda tersenyum seperti tidak terjadi apapun di antara mereka.


Mona yang sadar Prothos menghilang segera mencarinya dan melihat pemuda itu sedang bersama seorang gadis. Dia hanya memperhatikannya dari belakang Prothos yang jaraknya lumayan jauh.


"Apa kabar kak? Bagaimana ujianmu?" Wilda berjalan mendekati Prothos. "Aku sangat merindukanmu." Tiba-tiba Wilda memeluk Prothos yang masih mematung. "Sepertinya kau senang melihatku."


Prothos mendorong Wilda agar melepaskan pelukannya dan berjalan mundur.


"Aku rasa sekarang kita bisa berhubungan, kak. Aku sudah pindah sekolah, kau juga sudah akan lulus. Tak ada lagi bu guru. Maafkan aku kalau waktu itu aku berencana membuatmu dikeluarkan dari sekolah. Tapi itu semua karena aku mencintaimu." Ujar Wilda. "Bagaimana kak? Sepertinya kau juga sudah mempunyai handphone. Aku juga sudah mengikuti akun sosial mediamu."


"Kak, kau mau kemana?" Tanya Wilda memegang lengan Prothos. "Berapa nomer handphone-mu sekarang?"


Prothos masih terdiam melihat Mona. Dengan kesal Mona berjalan menghampiri mereka berdua sambil mengeluarkan handphone-nya.


"Kau ingin nomernya?" Tanya Mona pada Wilda. "Ini nomer handphone-nya." Mona menunjukkan layar handphone-nya pada Wilda, dia memberitahu nomer handphone Prothos.


Wilda yang bingung dengan kehadirannya menatap Mona dan menatap Prothos bergantian. Prothos masih diam saja, dia tidak berkata apapun atau pun melakukan sesuatu.


"Aku hanya bekerja padanya. Kau ingin nomer handphone-nya kan?" Tatap Mona pada Wilda. "Ini nomer handphone-nya."


Dengan senang Wilda menyimpan nomer handphone Prothos. "Baiklah kak, aku akan menghubungimu segera. Kita bisa mulai dari awal lagi." Ujar Wilda setelah itu berjalan pergi.


Prothos menatap Mona dengan kesal. Dia tidak mengerti kenapa Mona berbuat begitu, memberitahu nomer handphone-nya pada gadis yang sangat ingin dihindari dirinya.


"Kenapa kau memberitahu nomer handphone-ku padanya?" Tatap Prothos pada Mona dengan dingin.


"Kenapa? Apa kau tidak ingin memberitahu nomermu padanya?" Mona balik bertanya. "Kalau memang seperti itu, kenapa kau tidak mencegahku tadi?"


"Kau tidak tahu siapa gadis itu. Kau tidak tahu apapun jadi jangan ikut campur." Seru Prothos dengan dingin.


"Dia gadis yang sudah menghancurkan hubunganmu dengan kekasihmu kan?" Ujar Mona menatap Prothos dengan tajam.


"Kalau kau tahu kenapa kau malah memberitahu nomer handphone-ku padanya?"


"Kau sangat lucu, sekarang kau komplain padaku setelah dia tidak ada. Seharusnya kau melarangku saat aku memberi nomermu padanya tadi." Ucap Mona mendengus heran dengan tawa kecil. "Ya, kau selalu menghindar. Kau tidak berani mengambil sikap saat merasa terpojok. Kau lebih memilih menghindarinya dan membiarkan keadaan semakin buruk terjadi."


"Apa maksudmu?"


"Seharusnya kau berkata padanya untuk tidak mendekatimu jika kau tidak ingin melihatnya lagi. Tapi kau malah berbalik tanpa mengatakan apapun dan berencana pergi. Kau terlalu pengecut. Bahkan kau tidak bisa bersikap tegas pada orang yang sudah menghancurkan hubunganmu dengan gadis yang kau cintai." Ucap Mona dengan kesal. "Sejak awal sifatmu memang seperti itu, kau tidak berani melakukan apapun dan lebih memilih menghindar."


Prothos menarik tatapannya dari Mona dan langsung berjalan pergi meninggalkan gadis itu, tidak ingin melanjutkan pembicaraan tersebut.


"Benarkan apa kataku. Dia memang pengecut. Bahkan dia menghindar dari semua perkataanku barusan." Gumam Mona melihat Prothos yang berjalan pergi. "Hhuft... Kenapa aku jadi kesal seperti ini? Dia benar-benar pria pengecut."


...–NATZSIMO–...


❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤


Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih...