MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
189. SANZIO BERSAUDARA



Lion terkejut ketika Melody memeluknya. Dia tidak bisa berkata apapun dalam keadaan seperti ini.


"Pergilah! Kau harus menyembuhkan kakimu." Ucap Melody membenamkan wajahnya ke punggung Lion. "Tapi kau harus kembali! Aku akan menepati janjiku, aku akan membayar hutangku padamu, tapi aku mohon kau harus datang menagihnya!! Kau tidak boleh tidak datang! Kalau kau tidak datang, aku akan menyuruh ketiga kakakku mencarimu! Mereka pasti akan mencarimu! Kau mengerti?!" Ujar Melody menangis.


Lion tidak berkata apapun, dia masih ingin mendengar perkataan gadis yang memeluknya dari belakang.


"Aku akan menunggumu hingga kau datang! Jadi datanglah dan tagih semua hutangku padamu!!" Lanjut Melody semakin erat memeluk Lion. "Aku akan menjaga hati yang kau berikan padaku, jadi kau juga harus menjaga hatiku!"


Lion melepas tongkatnya hingga jatuh ke lantai Kedua tangannya menggenggam tangan Melody yang memeluknya dari belakang. Dia menggenggam tangan gadis itu dengan erat, membuat tangan Melody lebih dekap memeluk dirinya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan kembali dan menjadi 911-mu." Jawab Lion setelah itu berbalik melihat Melody. "Sebaiknya aku pulang sekarang ya." Lion tersenyum sambil agak menjauhkan Melody dengan memegang kedua pundak gadis itu.


Melody hanya menatap Lion yang seperti ingin dirinya menjaga jarak darinya. Itu membuat gadis itu sedikit bersedih.


"Kakek, aku pergi dulu ya. Nanti saat aku kembali kita akan bermain golf seperti yang waktu itu aku bilang." Seru Lion menoleh ke lantai dua.


Dengan cepat Melody mengikuti pandangan Lion dan melihat kakeknya berdiri di pinggir pagar menatap pada mereka. Sejak awal kakeknya tersebut memang berada di sana dan Lion pun mengetahuinya.


"Pergilah sana, dan jangan kembali kalau tidak ingin kembali." Jawab kakek dengan ketus pada Lion.


Lion hanya tertawa menanggapinya. Setelah itu melihat kembali pada Melody yang juga menatapnya.


"Ingat! Jangan pernah mencium seseorang yang sedang tidak sadarkan diri." Ucap Lion menahan tawanya setelah itu berjalan keluar.


Melody tertegun mendengar ucapan Lion. Gadis itu tidak langsung menangkap maksud perkataan Lion padanya hingga dirinya tersadar kalau ternyata Lion tahu mengenainya yang mencium pemuda itu tempo hari.


Wajahnya langsung memerah karena malu. Secepatnya dia bergegas masuk ke kamar hingga tidak memedulikan kakeknya yang memperhatikan dirinya. Dengan malu Melody menghempas tubuhnya ke atas tempat tidur. Gadis itu berteriak kesal pada dirinya karena merasa sangat malu pada Lion.


"Es Melon! Es Melon!"


Terdengar suara Lion dari arah beranda kamarnya. Melody yang masih malu hanya mengintip sedikit ke jendela kamarnya. Namun sepertinya Lion tahu hal itu sehingga pemuda tersebut melambaikan tangannya dengan sebuah senyum lebar.


...***...


Mona masuk ke dalam ruangan di salah satu ruangan yang ada di cabang café The Three Musketeers yang terbesar. Ketiga pemuda langsung melihat pada kehadirannya untuk mengetahui sesuatu hal.


"Tenang saja, semuanya aman. Bocah itu masih sama seperti sebelumnya." Ujar Mona dengan handphone ada digenggamannya.


Ketiga Musketeers bernapas lega. Mereka meminta Mona untuk memantau CCTV rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Lion dan Melody saat berbicara berdua di rumah mereka. Mereka tidak ingin melihatnya langsung karena takut tersulut emosi ketika salah satu dari Lion ataupun Melody mencoba berbuat sesuatu yang akan membuat mereka bertiga marah.


"Aku pasti akan membunuhnya kalau dia menyentuh Melo." Ujar Aramis yang sedang merasa kacau karena berita mengenai Anna. Dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Aku jadi tidak ingin mengantar kepergiannya besok."


Kedua saudara kembarnya hanya tertawa, mereka juga merasakan hal yang sama seperti Aramis saat ini.


"Sewaktu mereka berdua menginap di hotel aku rasa tidak ada yang terjadi apapun juga. Itu bagus. Bocah itu tidak bisa ditandingi dalam menahan dirinya." Ujar Athos. "Aku akan pulang sekarang." Setelah itu Athos berjalan keluar ruangan.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin Lion tidak menyentuh Melo." Tanya Prothos pada Mona.


"Tapi itu benar." Jawab Mona sambil duduk di kursi yang ada dihadapan Prothos.


"Berikan, biar aku lihat rekamannya. Aku tidak percaya dia tidak melakukan apapun. Kami sudah memberikan kesempatan terakhir padanya dan dia akan pergi kemungkinan dalam waktu lama. Tidak mungkin dia tidak mencium Melo." Prothos menerima handphone yang diberikan Mona untuk melihat rekaman CCTV di rumahnya.


"Sayangnya Lion berbeda denganmu." Seru Mona mendengus. "Sebenarnya sejak awal kakek melihat mereka dan sepertinya Lion mengetahuinya juga. Walaupun begitu aku tetap yakin dia juga tidak akan macam-macam. Adikmu malah yang memeluknya dari belakang."


"Aku yakin kalau tidak ada kakek dia pasti tidak akan menahannya." Ucap Prothos sambil menonton rekamannya.


...***...


Keesokan harinya, mata Melody terbuka. Dia melihat jam dinding menunjukan pukul tujuh pagi. Dirinya segera melonjak bangun dari tidur ketika ingat kalau tadi malam seharusnya dia berusaha tidak tidur agar bisa melihat Lion berangkat.


Melody langsung membuka jendela kamarnya dan melihat ke kamar Lion. Tirai jendela kamar Lion tetap terbuka tapi dia tahu kalau saat ini Lion sudah tidak ada disana. Dia pasti sudah pergi ke bandara. Matanya membulat ketika melihat jendela kamar Lion. Ada sebuah tulisan yang sangat besar di kaca jendela dan pintu kamar menuju beranda. Tulisan yang terbuat dari cat merah, tertulis,


Melihat pesan yang dibuat Lion untuk dirinya, membuat Melody tersenyum.


"Kau akan mati kalau tidak kembali." Ucap Melody.


Setelah itu Melody mengambil gitarnya. Dia masih memiliki waktu satu jam sebelum harus bersiap-siap ke kantor Pentatonix Management untuk menandatangani kontrak.


Gadis itu mulai memetik gitarnya dan menuliskan lirik untuk lagu yang belum dia selesaikan. Melody mendapatkan ide untuk liriknya tersebut setelah melihat pesan dari Lion.


...***...


Ketiga kakak laki-laki Melody, Athos, Prothos, dan Aramis ada di kamar yang bersebelahan dengan kamar Melody. Mereka bertiga memandang keluar jendela. Ternyata dari kamar itu juga bisa melihat ke kamar Lion karena tepat ada di sebelah kamar Melody.


"Si bodoh itu, benar-benar memalukan!" Ujar Aramis. "Dia mencoret jendelanya dengan kata-kata memalukan seperti itu."


"Seharusnya kau tidak ada di sana kemarin." Timpal Prothos kesal pada orang yang memiliki kamar di mana ketiga Musketeers berada sekarang.


"Jadi dari kamar ini juga bisa melihat ke kamar Lion, berarti selama ini kau memperhatikan mereka ya, Kek?" Tanya Athos menoleh pada kakek yang berbaring di tempat tidur.


"Ya, aku selalu memperhatikan mereka." Jawab kakek bangun dari posisi tidurnya. "Kalian juga bisa melihat adik kalian melalui pantulan kaca jendela kamar Lion. Kakek selalu menonton mereka dari balik kaca jendela hitam itu."


"Ya ampun, ternyata kakek selama ini menguping mereka." Ujar Prothos.


"Apa yang dilakukan anak itu, Kek?" Tanya Aramis menoleh pada kakek. "Apa dia pernah melakukan hal tercela seperti—"


"Jangan samakan Lion denganmu!!" Seru Athos melempar bantal pada Aramis.


"Sudah, kalian keluar sana!! Kakek mau tidur lagi!!" Seru kakek mendorong ketiga cucu laki-lakinya keluar dari kamarnya. "Kalau Lion kembali, kalian boleh menonton mereka dari kamar kakek ini. Tapi akan ada tiket menontonnya!!" Tawa kakek setelah itu menutup pintu kamarnya.


"Kenapa dia beritahu kita tentang kelebihan kamarnya disaat Lion sudah pergi?!" Ujar Prothos sambil berjalan bersama dua saudara kembarnya.


"Benar, seharusnya kakek bilang dari dulu! Tahu begitu aku akan minta tukar kamar dengan kakek." Seru Aramis. "Aku yakin sekali kalau Lion pernah mengintip Melo!!"


"Hey, sudah aku bilang kalau Lion tidak sepertimu!!" Ucap Athos sambil mendorong Aramis yang ada di belakang Prothos hingga terjatuh.


"Kenapa kau mendorongku?" Tanya Prothos kesal.


"Bukan aku, Ato yang mendorong!! Dia mendorongku!!" Kesal Aramis tersulut emosi.


Pada akhirnya mereka bertiga berkelahi satu sama lain.


Mendengar keributan di luar kamarnya, membuat Melody membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi. Dirinya tidak mengira kalau akan melihat ketiga kakaknya berkelahi lagi. Padahal sebelumnya gadis itu berpikir kalau ketiga kakak kembarnya sudah bersikap lebih dewasa saat ini namun nyatanya mereka masih sama saja.


"Kapan kalian dewasanya?" Gumam Melody sambil berjalan melewati ketiga kakaknya yang masih bersitegang.


...~THE END~...


...–NATZSIMO–...


...Terimakasih untuk yang sudah baca sejauh ini. Jika tidak ada halang rintangan jilid ketiga akan segera rilis, itu pun jika masih ada minat pembacanya. 😅🤭...


...Untuk info yuk follow IG : @natzsimo.author dan @lion.el.911 dan masuk ke grup author. ...


...Di rate ya dan jangan lupa gift serta like 🤗🤗🤗...


...Salam hangat dari author. ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...