
Aramis bangun dari tidurnya, dia membuka mata dan menyadari kalau semalam dia tertidur saat belajar. Saat ini dirinya berada di kamar Anna. Saat tengah malam dia berpindah dari kamarnya ke rumah Anna untuk belajar di kamar wanita yang sangat dirindukannya itu.
Hari ini hari pertama ujian kelulusan. Dia benar-benar mendengarkan ucapan Anna dengan terus belajar sejak kemarin.
Sebuah pesan masuk di handphone-nya.
Semangat bodoh, jangan sampai kau mengacaukan ujiannya!
Sebuah senyuman tersungging dibibir pemuda itu ketika membaca pesan dari Anna. Akhirnya Anna mengirimkan sebuah pesan padanya. Setelah paman Ronald bilang agar Aramis tidak menghubungi Anna, Anna juga berhenti menghubunginya. Pemuda itu menahan rasa rindunya pada gadis itu beberapa hari ini.
...***...
Prothos berada di meja makan sedang memakan sereal dengan susu kotak sebagai sarapan paginya ketika Aramis masuk.
"Sepertinya kau sudah siap ujian, Ars." Ujar Prothos saat Aramis mengambil buah-buahan di kulkas dan duduk di hadapan Prothos.
"Aku rasa aku bisa mengerjakan soal dengan baik hari ini. Aku bahkan sudah tidak sabar melihat soalnya." Jawab Aramis sambil mengunyah pisang. "Apa aku harus memberikan contekan padamu? Aku akan mengirimnya lewat kontak batin kita."
Prothos tertawa mendengar gurauan kembarannya.
"Aku sudah tidak peduli dengan nilaiku." Ujar Prothos.
"Ya, aku bisa melihatnya. Setelah lama tidak masuk sekolah, bahkan kau sudah berhenti belajar juga. Padahal kapanpun biasanya kau selalu belajar. Ayah akan marah jika semua rencana yang kau bilang tempo hari padanya tidak sesuai dengan kenyataan. Ayah dan paman tidak akan mentorerirnya."
"Akan aku terima konsekuensinya." Jawab Prothos. "Anna akan di operasi dalam minggu ini, kau bisa menemaninya setelah ujian."
"Dia tidak mau aku menemaninya, bahkan dia meminta agar aku berhenti menghubunginya. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis aneh itu. Aku jadi semakin takut kalau dia akan benar-benar melupakan aku."
"Dia tidak akan melupakanmu. Walau dia melupakanmu dia pasti akan segera mengingatmu karena kau ada di hatinya. Yang hilang hanya sesuatu yang ada di kepalanya, bukan di hatinya."
"Kau benar, Oto. Aku sedikit tenang mendengar ucapanmu." Senyum Aramis.
"Hari ini dokter akan memeriksa Ato mengenai kemungkinan dia mengalami mati otak. Semalam aku menemui ayah di rumah sakit. Ternyata Ato juga sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ. Jika Ato didiagnosa mengalami mati otak, dokter akan meminta persetujuan ayah untuk mendonorkan organnya." Ucap Prothos dengan raut wajah sedih.
"Tidak! Aku tidak menyetujuinya. Walau dia benar-benar mengalami mati otak, aku tidak ingin ayah menyetujuinya. Ato akan bangun, dia akan sembuh. Kita hanya harus menunggu selama apapun!!"
"Dengan organ Ato yang didonorkan pada pasien lain, Ato tetap hidup, Ars. Bahkan dia menyelamatkan beberapa orang sekaligus, dia memberikan kehidupan pada mereka. Ato tahu itu, karena itu dia mendaftarkan dirinya tiga bulan lalu sebagai pendonor organ untuk kemungkinan terburuk."
"Sekali lagi kau tidak yakin padanya, Oto?! Kau sangat keterlaluan!! Aku akan bilang ayah untuk tidak menyetujui hal gila itu!! Ato akan sembuh!!" Seru Aramis kesal.
Prothos hanya mengusap sudut matanya karena air mata mulai keluar saat dirinya harus menerima kemungkinan terburuk pada kembarannya.
...***...
Lion yang baru saja keluar dari rumah sakit langsung menemui teman-temannya di pabrik tua biasa mereka berkumpul untuk sebuah pertemuan.
Sikap Lion berbeda dengan sebelumnya. Kalau biasanya dia selalu menunjukan wajah bodoh dengan senyum dan tawa bodohnya, kali ini tidak. Di hadapan semua teman-temannya yang berjumlah ratusan orang yang mengelilinginya tatapan Lion menajam dan dingin, bahkan tak ada suara ketika dia memasuki tempat itu. Padahal setiap kali dia masuk dan melihat semua temannya dirinya biasa memanggil semua nama temannya itu seperti sedang mengabsen mereka.
Penampilan Lion juga berubah, dia tidak lagi memakai pakaian serba putih dan mengubahnya menjadi serba hitam. Itu pula yang membuat teman-temannya merasa Lion tidak seperti biasanya. Keadaan menjadi dingin dari biasanya.
"Dengarkan kata-kataku!! Aku tidak akan membiarkan siapapun melanggarnya, aku akan langsung menganggap siapapun sebagai musuh jika membuat kesalahan!!" Seru Lion dengan dingin. "Aku akan melarang siapapun yang ingin menantang Ars. Kalian semua tidak aku ijinkan menantangnya."
"Kami sudah tahu, Lion." Sahut salah seorang temannya. "Kami pun tidak akan menantangnya lagi, Ivan sudah menjelaskan sebelumnya pada kami."
Lion menoleh pada Ivan yang memandangnya.
"Kau pun akan mengganti posisi Ars pada Niko kan? Kami siap menantang Niko, sejujurnya banyak dari kami juga tidak menyukainya. Kami malah berharap kau memutus pertemananmu dengannya. Setelah dia memanfaatkanmu, kau masih menganggapnya teman. Kau terlalu baik padanya."
Perkataan seorang teman Lion mendapat persetujuan dari yang lainnya.
"Tampaknya Niko sudah menjadikanmu boneka, Lion." Seru Ryan.
"Ryan, kau bukan lagi temanku." Ujar Lion.
Dalam sekejap beberapa orang dari mereka menoleh tajam pada Ryan dengan senyum yang terlihat seperti seringaian para pemangsa.
"Maafkan, Aku." Ucap Ryan langsung kembali duduk karena takut melihat beberapa orang yang langsung siap mengincarnya.
"Seperti kataku, kalian bisa menantang Niko dari sekarang." Ucap Lion.
Tiba-tiba pintu pabrik tua yang tertutup itu terbuka dan muncul seorang pemuda berkulit pucat dengan warna mata hazel, yang dijuluki vampir dari Rusia. Beberapa orang yang menghalangi jalannya menyingkir ketika Niko hendak menghampiri Lion, di tengah-tengah mereka semua. Terdengat bisikan-bisikan dari siapapun mengenai kehadirannya itu.
Niko memasang tatapan tajam dan dingin pada semua yang melihatnya.
"Kalian bisa menantangku kapanpun, tapi aku hanya akan meladeni pertarungan hidup dan mati." Seru Niko dengan seringai vampir ciri khasnya.
Seketika keadaan hening dan tak ada suara. Kehadiran Niko dan perkataannya membuat siapapun tidak berani berkata apapun. Sifat dan sikap Niko yang sudah terkenal nekat dan tidak takut pada apapun membuat mereka semua takut. Niko sudah terkenal dengan kesadisannya karena keluarganya mampu menutupi semua perbuatannya. Orang Rusia terkenal dengan berdarah dingin dan itu mengalir dalam darah Niko, membuatnya menjadi sosok yang mengerikan buat semua yang ada di sana. Selama ini rumus pertemanan Lion yang melindungi siapapun dari tindak tanduk Niko.
"Aku menyetujui syarat yang diajukannya." Jawab Lion setelah itu berjalan pergi dari tempat tersebut meninggalkan teman-temannya.
"Aku tidak akan segan menghabisi siapapun." Tatap Niko sangat tajam. "Jadi siapa yang ingin menantangku pertama?"
...***...
Lion membuang napas ketika berada di luar pabrik tua, dan melihat matahari siang yang sangat terik hari ini.
"Semua benar-benar menjadi tidak menyenangkan sekarang." Seru Ivan yang berdiri di belakang Lion. "Tak akan ada yang berani menantang vampir berdarah dingin itu. Ini menjadi kacau semenjak kau bertindak bodoh Lion. Tak akan ada lagi pertarungan."
"Bukannya itu bagus? Itu yang aku mau." Jawab Lion masih memunggungi Ivan. "Awalnya malah aku ingin menghentikan semuanya. Tadinya aku berencana menghapus rumus pertemanan yang menyatukan mereka semua, tapi aku yakin kalau itu aku lakukan maka akan terjadi tawuran pada mereka semua. Kau lihatkan saat aku bilang Ryan bukan lagi temanku? Beberapa dari mereka sudah langsung mengincarnya. Dan bisa saja orang di luar sana melakukan hal yang sama padanya seperti pada Mario. Itu juga akan terjadi pada semuanya."
"Seharusnya aku tidak bilang pada semuanya saat kau ingin pergi waktu itu. Seharusnya aku tidak memberitahu Niko juga." Ujar Ivan berjalan ke hadapan Lion. "Sekarang kau berubah, bahkan cara berpakaianmu pun berubah." Ivan mengomentari Lion yang tidak lagi memakai pakaian serba putih dan menjadi serba hitam.
"Aku bukan lagi anak baik." Jawab Lion berjalan pergi. "Real Madrid juga selalu membuat aku kecewa."
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......