
Melody yang baru pulang menaiki tangga dengan kakinya yang masih terasa sedikit sakit hingga membuatnya berjalan terseok-seok. Ketika dia ada di atas tangga, Athos baru saja keluar dari kamarnya.
"Kak Ato mau kemana?" Tanya Melody melihat Athos yang berjalan tanpa bantuan siapapun. "Kakak sudah baik-baik saja?"
"Ya, seperti kakak sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan." Jawab Athos pada Melody yang menghampirinya. "Ada apa dengan kakimu?"
"Saat olahraga tadi kakiku terkilir. Dimana Mona, kak?' Tanya Melody.
"Dia sedang pergi dengan Oto." Jawab Athos. "Kau melihat Ars? Handphone-nya tidak bisa dihubungi."
"Mungkin sedang di rumah kak Anna, saat berada disana pasti dia mematikan handphone-nya. Pasti saat ini sedang melukis." Ucap Melody. "Mau aku panggilkan?"
Setelah berganti pakaian Melody mendatangi rumah Anna untuk menghampiri kakaknya yang berada di sana. Aramis memang sedang berada di sana dan juga sedang melukis seperti dugaan Melody.
"Ada apa? Jangan menggangguku saat aku ada di sini." Seru Aramis saat membuka pintu untuk Melody.
"Kak Ars, sedang melukis?" Melody berjalan masuk dan melihat sebuah kanvas berdiri dengan sebuah gambar yang hampir jadi.
Gambar tersebut adalah seorang pria yang berdiri di pinggir sungai yang diambil dari belakang. Pria itu berdiri dengan sebuah koper berada di sampingnya.
"Lain kali kau bisa menjadikan aku model lukisanmu kak." Senyum Melody pada Aramis yang sedang meminum air mineral di botol. "Kau membuat tato?" Melody memegang lengan kiri kakaknya dan memperhatikan tato yang baru dibuat Aramis.
"Ada apa kesini?" Tanya Aramis tidak ingin menjawabnya.
"Kak Ato mencarimu." Jawab Melody. "Tato-mu terlihat norak kak. Seharusnya kau membuatnya dengan gambar wajah kak Anna."
"Cerewet!!" Ujar Aramis dengan sedikit malu karena adiknya menggodanya. "Aku akan datang setengah jam lagi, bilang begitu pada Ato. Sana keluar!!"
"Baiklah." Melody berjalan ke arah pintu.
"Ada apa dengan kakimu?" Aramis memperhatikan cara jalan adiknya yang terseok-seok.
"Hanya terkilir saat olahraga tadi." Melody membuka pintu dan langsung ke luar.
Aramis menatap tato yang baru dibuatnya di lengan kirinya. A&A. Dia memulas senyum di wajahnya dengan kembali mengambil kuasnya dan melanjutkan kegiatan melukisnya.
Melody yang berjalan keluar dari rumah Anna bertemu dengan Lion yang melintas di depannya. Lion yang melihat Melody mencoba terus berjalan tanpa menoleh lagi ke arah gadis itu walau sebenarnya dia ingin menanyakan kondisi kakinya karena Melody masih tidak berjalan dengan normal.
"Lion..." Panggil Melody saat Lion sudah melintasinya.
Lion berhenti berjalan dan berbalik menghadap Melody tanpa kata.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Melody berharap Lion akan menjawabnya dengan mengatakan sesuatu.
Namun Lion hanya menganggukan kepalanya dan langsung berbalik untuk berjalan menuju rumahnya.
"Lion!!" Panggil Melody lagi. Gadis itu merasa Lion sudah sangat berubah saat ini.
Lion berhenti namun tidak berbalik menghadapnya maupun menoleh.
"Kenapa sekarang kau semakin berubah? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya Melody. "Aku sudah mengikuti semua perkataanmu, tapi kenapa kau bersikap dingin padaku? Tidak, bahkan kau sudah bukan lagi Lion yang dulu. Semua anak di kelas juga berkata seperti itu."
Dengan kesal Lion membuang napasnya dan berbalik menghadap Melody yang berdiri di jarak lima meter darinya.
"Bagaimana aku sekarang seharusnya bukan menjadi urusan siapapun. Tidak ada yang ingin aku katakan padamu mengenai alasan aku seperti sekarang." Jawab Lion.
"Ya, baiklah. Maafkan aku kalau aku mengkritikmu." Ucap Melody setelah itu berjalan memasuki halaman rumahnya.
Lion masih memperhatikan cara berjalan gadis itu dan berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak mendekati Melody untuk membantunya berjalan. Kalau perlu dia ingin sekali membawanya masuk dengan menggendongnya. Dia menahannya dan segera masuk ke dalam rumah agar dia tidak melakukan hal tersebut.
...***...
Prothos dan Mona yang berada di restoran Italia baru saja menghabiskan makanan mereka. Seperti biasa semua mata para wanita pengunjung restoran tersebut menatap pada ketampanan Prothos. Bahkan beberapa berbisik dan mengenal dirinya kalau dia adalah Prothos dari Musketeers.
"Akhir minggu ini kau akan melakukan pemotretan sebagai model merek pakaian. Sebaiknya kau berolahraga lebih sering untuk membentuk tubuhmu." Ujar Mona dengan pandangan ke layar handphone-nya dan memasukan potongan nugget ke mulutnya.
"Tubuhku sudah terbentuk dengan baik, aku tidak perlu membentuknya lagi. Kau pun tahu itu kan?" Ujar Prothos.
"Itu bagus kalo begitu. Aku tidak pernah memperhatikan tubuhmu selama ini." Jawab Mona masih menatap layar handphone-nya. "Oh iya, berikan akun sosial mediamu padaku."
"Apa? Kenapa aku harus memberikannya padamu?"
Mona menoleh pada Prothos. "Aku akan menjadi admin akunmu itu. Aku tidak ingin kau menggoda para gadis yang mengirim pesan padamu."
"Astaga, kenapa sekarang kau jadi sangat menyebalkan."
"Aku tidak akan melarangmu jika ingin menemui para wanita tapi jangan menggunakan akun sosial mediamu. Kau bisa membuat akun pribadi yang sifatnya rahasia atau menghubungi mereka dengan menelponnya."
Dengan kesal Prothos mengeluarkan handphone-nya, saat yang bersamaan muncul sebuah nomer asing yang meneleponnya. Sesaat Prothos melihat nomer tersebut sebelum mengangkatnya.
"Kak Oto, ini aku Wilda." Suara Wilda terdengar di ujung telepon.
Prothos hanya terdiam mendengarnya sedangkan Mona melihat ekspresi Prothos yang berubah dan dapat menebak siapa yang meneleponnya.
"Aku akan memberimu alamat apartemen-ku, kapanpun kau bisa menemuiku, kak." Ucap Wilda setelah itu menutup teleponnya.
Tak berapa lama muncul sebuah pesan dari Wilda yang memberitahukan alamat apartemen-nya. Prothos tidak tertarik, dan langsung menyodorkan handphone-nya pada Mona.
"Sekarang kau saja yang memegang handphone itu. Aku tidak akan menggunakan handphone lagi." Ujar Prothos.
Mona mengambilnya dengan menatap Prothos lalu dibukanya pesan tadi dari Wilda. Gadis itu kembali menatap Prothos dan meletakan handphone itu di meja hadapan Prothos.
"Kau juga harus menyelesaikannya sebelum kau memulai semuanya." Seru Mona. "Jangan masalah pribadimu mengganggu pekerjaanmu nantinya. Kau mengerti?"
Tanpa kata Prothos bangkit berdiri dan berjalan keluar restoran tersebut tanpa membawa handphone miliknya. Telepon dari Wilda sudah merusak mood-nya dalam sekejap. Raut wajahnya langsung berubah drastis dan sikapnya menjadi tidak bersemangat membuat auranya meredup. Bahkan saat ini dia kembali teringat mengenai mantan kekasihnya yang masih dirinya cintai, Widia.
Prothos masuk ke dalam mobil duduk dibelakang dengan sangat tidak bersemangat. Rasanya dia ingin segera pulang dan beristirahat.
Tidak berapa lama Mona masuk ke mobil dan duduk di kursi setir. Gadis itu melihat Prothos melalui kaca spion di depan. Dia sudah bisa menebak dengan tingkah Prothos karena saat ini gadis itu sudah sangat mengerti mengenai pemuda tersebut.
"Kau harus menyelesaikannya, bahkan dengan mantan kekasihmu. Kau selalu seperti sekarang jika mengingatnya. Itu akan mempengaruhi mood-mu dalam bekerja nantinya." Ucap Mona.
Prothos tidak menjawab, dia hanya menutup matanya dan bersandar ke jok mobil.
"Dasar payah." Gumam Mona kesal sambil menjalankan mobilnya.
...–NATZSIMO–...